
Eps. 14
"Tidak usah nak, kamu punya suami. Jadi layani dulu suamimu, utamakan ya," Papa tersenyum.
Jihan melirik ke arah sang suami. Arga menyunggingkan senyum bahagianya.
Mas Arga kenapa sih senyum-senyum begitu?
Merasa heran karena sedari tadi mas Arga terus senyum-senyum tak jelas.
Kemudian Jihan mengalihkan tangannya untuk mengambil piring dan mulai menyendok kan nasi ke piring Arga.
"Segini cukup mas?"
"Iya cukup sayang," ucapnya.
Bu nur dan pak Toha saling beradu pandang. Keduanya terlihat sedang menyembunyikan senyum juga dibalik wajah terkejutnya.
Ha? Apa mas Arga manggil sayang? Kan semalam perjanjiannya gak begitu mas!
Jihan tertawa canggung, kemudian menatap Arga dengan tatapan mata melotot kesal. Arga sedikit tergelak melihat ekspresi wajah Jihan yang bersemu merah.
Setelah itu mereka melanjutkan acara sarapan. Semua khusyuk menyantap makanan di atas piring masing-masing. Hanya terdengar dentingan sendok yang saling bergesekan dengan piring.
Tiba-tiba suara seseorang yang tak asing menggetarkan ruang makan.
"Aku pulang!" Ucap seorang bocah laki-laki yang terdengar dingin. Dia adalah Haikal, si anak bontot di keluarga Arga.
"Haikal!" Seru mama.
Semua pandangan mengarah pada sosok Haikal, si bocah dingin dan cuek. Jihan hanya melihat sekilas kemudian memalingkan pandangannya.
Akhirnya aku bertemu juga dengan bocah menyebalkan ini.
Malas untuk melihat lama ke wajah bocah yang kenyataannya sekarang menjadi adik ipar.
"Apa kabar, ma? Pa?" Haikal mencium tangan kedua orang tuanya.
"Baik sayang, kamu sendiri?" Tanya mama.
"Hmm baik," sembari menganggukkan kepala.
"Haikal mau pulang kenapa nggak kabarin papa? Kan bisa dijemput."
Sembari mempersilahkan duduk sang putra.
"Aku bisa pulang sendiri Pa, lagian aku bukan bocah TK lagi yang nggak tau jalan pulang." Balasnya dengan raut wajah datar.
Haikal masih belum tersadar jika sekarang anggota keluarganya bertambah satu, dirinya melihat sekilas ke arah sang abang.
Sedangkan Arga acuh tak acuh, beberapa waktu belakangan ini hubungannya dengan Haikal sedikit tidak baik.
Haikal duduk di kursi yang berada di seberang Arga, diirinya baru tersadar jikalau ada orang lain yang bergabung di meja makan.
Pandangan Haikal menatap datar ke arah Jihan, otaknya berusaha meng-recal kembali, siapa sosok yang duduk di seberang Arga tersebut.
"Lo? Ngapain duduk di sini?" Ketus Haikal.
Mama langsung menyahut, "Ohh Haikal. Maaf kami belum memperkenalkan anggota keluarga baru sama kamu ya nak," ucap mama sedikit ragu.
"Anggota keluarga? Maksudnya apa ini?"
Arga memotong pembicaraan mama nya.
"Sebelumnya aku ingin memperkenalkan dia terlebih dahulu, dia adalah Jihan tetangga sebelah rumah kita, pasti kamu pernah melihatnya juga kan. Dia juga kakak kelasmu di sekolah dan sekarang dia adalah istriku, kami sudah menikah."
Wajah Haikal tekejut, apa yang selama ini dia lewatkan hingga tak mengetahui hal sebesar ini.
"Menikah? Kenapa gak ada yang memberitahu ke aku?"
__ADS_1
"Bukan nggak memberitahu tapi kamu sendiri nggak peduli dengan keluargamu dan juga nggak mau tahu.," balas Arga.
Haikal berdecak kesal. Matanya menatap sinis kearah jihan.
Apaan lo ngelirik gue begitu?
''Maksud bang Arga apa bicara seperti itu?''
Arga meletakkan sendok ke piring sampai terdengar dentingan yang agak keras.
''Coba pikir, kamu punya keluarga dan rumah sendiri tapi malah tinggal di rumah orang lain.''
''Bukan orang lain, mereka sama seperti Mama dan papa,'' haikal membela om dan tante nya.
''Hei bocah! kenapa ribut seperti itu di depan orang tua. Hentikan papa tidak mau dengar kalian bertengkar lagi.''
"Kelihatanya aku memang udah gak penting lagi," Guratan wajah kesal mulai tergambar jelas di wajah Haikal.
Jihan yang berada di posisi canggung itu sedikit tidak enak hati merasa jika dirinya adalah pemicu dari kegaduhan ini.
"Nak, Bukan begitu maksud kami. Pernikahan ini mendadak, baru kemarin juga abangmu menikah. Jangan bicara yang tidak-tidak seperti itu." Kata mama menenangkan.
"Ckk, hal sebesar ini aku sampai tidak tau, apa masih bisa di sebut sebagai keluarga?'' Haikal menatap kesal ke arah Jihan. Seolah ingin mengibarkan bendera peperangan. "Lagian aku gak suka sama dia. Dia itu pintar mencari muka!"
Hei dasar bocah tengil, sialan kamu bicara seperti itu sama aku. Lihat saja akan ku remas mulutmu itu nanti.
"Jaga bicara Haikal!" Seru papa.
"Jangan mengatai istriku seperti itu, lebih baik tutup mulutmu!" Nada bicara Arga mulai kesal. Sedari tadi dirinya mencoba sabar namun jika menyangkut istrinya dia tidak bisa tinggal diam.
"Kenapa? Tidak terima ya? Memang betul dia seperti itu. Memangnya kalian tahu bagaimana dia di sekolah? Bermuka dua!" Haikal masih belum menutup mulutnya.
"Haikal!" Seru sang mama dengan nada ikut kesal. "Dia kakak iparmu, tolong hormati dia!"
"Untuk apa menghormati perempuan yang tidak terhormat! Aku sama sekali tidak mau menganggap dia kakak ipar!"
Jihan meremas ujung taplak meja yang terjulai ke pangkuannya.
Batin Jihan. Dirinya belum bisa angkat bicara sebab masih memaklumi kondisi ini.
Mendengar hal itu Arga pun tak terima, dia berdiri sambil menggebrak meja. Kemudian mencekam erat kerah baju yang dikenakan Haikal.
"Sudah cukup sabar aku menghadapi mu Haikal. Aku tidak bisa diam lagi jika kamu membawa bawa istriku. Ucapan mu itu tidak pernah bisa di jaga. Selalu mengatakan hal yang bodoh! Aku beri kamu keringanan. Minta maaf pada dia sekarang! Atau tidak pergi saja jangan pulang kerumah ini!"
Ancam Arga. Sorot matanya menatap tajam pada sang adik. Haikal diam saja tak bergeming. Emosi sudah menguasai dirinya, membuatnya semakin berpikir jika semua yang terjadi pada nya hati ini adalah sebab Jihan. Wanita itu lah yang terlah membuat dirinya sampai dimusuhi kakaknya. Semua pertentangan ini sebab Jihan. Pikirnya.
Kenapa bisa semarah ini mas Arga kepada Haikal? Sebenarnya ada masalah apa yang tidak aku ketahui? Bukankah seharusnya kakak beradik itu harus saling mengasihi. Bukanya berantem seperti ini dan kelihatannya ini ada dendam lama yang belum tertuntaskan. Ya meskipun sebenarnya aku sangat kesal karena mulut jabir Haikal ini.
Batin Jihan menerka-nerka sendiri.
"Arga cukup!" Papa melerai. "Kalian jangan bertengkar lagi, Haikal lebih baik minta maaf pada kakak iparmu. Ini adalah acara makan kita bersama berkumpul seperti ini. Jangan ada permusuhan."
"Mas Arga cukup, benar kata papa. Sudah tidak apa-apa wajar jika dia belum bisa menerima aku, ini semua terlalu mendadak. Beri dia waktu. Mungkin bisa menerimanya."
Jihan angkat bicara ketika tidak tahan lagi melihat satu keluarga yang ingin melakukan pertentangan.
Arga melepaskan cengkraman tangannya.
"Haikal lebih baik minta maaf, nak." Pinta mama.
Haikal menatap sinis kearah Jihan. "Tidak akan! Sampai kapanpun aku gak mau nerima dia!"
"Haikal!" Seru ayah dengan nada sedikit tunggu.
"Kalau begitu pergi saja dari sini!" Tekas Arga.
Emosi kesal semakin menguasai bocah dingin itu, sudah tau berkepribadian dingin cuek dan angkuh. Justru disudutkan oleh anggota keluarganya membuat Haikal semakin mendendam pada Jihan, si penyebab dirinya si sudut kan seperti ini.
"Cihh, hanya demi dia kalian sampai memojokkan seperti ini? Aku gak nyangka, sebelumnya kalian tidak pernah menyudutkan aku sampai seperti ini. Dan ini adalah yang terparah, oke jika itu mau kalian. Aku memilih pergi dan tidak akan kembali ke sini lagi."
__ADS_1
Haikal berdiri dari duduknya, menatap sinis Jihan.
Gara-gara kamu aku sampai di usir sama kakakku sendiri, tunggu nanti apa yang akan kulakukan. Dasar perempuan munafik. Batin Haikal.
"Haikal mau kemana? Jangan pergi nak," cegah mama.
"Haikal duduk kembali ke tempat mu, Haikal!" Panggil papa.
Namun Haikal tak memperdulikan nya dan terus berlalu meninggalkan ruang makan.
"Arga hentikan adikmu nak, kamu sudah keterlaluan. Cepat cegah dia," mama panik. Dirinya sudah tau akan kebiasaan putranya satunya itu. Haikal tidak akan pernah main-main dengan ucapannya jika dia berkata seperti itu maka akan dilakukannya.
"Biarkan dia instrospeksi diri, biar dia belajar berpikir dewasa,'' jawab Arga kesal.
Jihan merasa tak enak hati, pagi-pagi yang seharusnya diisi oleh keharmonisan bisa sarapan bersama dengan keluarga lengkap justru berakhir seperti ini. Dan pasti Haikal sedang menyimpan dendam terhadap dirinya. Dilihat dari tabiatnya yang seperti itu sudah pasti dia berpikir negatif terhadap Jihan.
"Seharusnya kamu jangan terlalu kasar dengan Haikal nak, lihat dia benar-benar marah pada kita," ucap mama.
"Sekali-kali beri dia pelajaran Ma, dia itu sudah dewasa. Tapi masih sulit diatur. Aku nggak akan begitu jika Haikal tidak memulai duluan."
"Lagipula dia sudah keterlaluan tadi sampai membawa-bawa istriku. Aku tidak Terima dengan sikapnya."
"Memang benar nak, tapi seharusnya jangan membentak nya sekasar itu. Bahkan kamu sampai mau main tangan tadi. Pasti sekarang Haikal berpikir kalau kita tidak peduli lagi padanya."
Mama khawatir sekali, wajahnya seketika sayu.
"Kenapa tidak maafkan adikmu Ga? Papa lelah dengan perselisihan kalian. Kalian itu saudara dan kamu sebagai abang yang lebih tua harusnya memaklumi nya."
Arga diam dan duduk kembali.
Ia genggam tangan sang istri, "Maaf ya pagi ini membuatmu tidak nyaman."
Jihan tertunduk, dia balas genggaman tangan Arga. Mungkin nanti aku akan tanyakan ada konflik apa mas sama Haikal.
*****
Setelah kejadian tadi pagi kini Jihan memutuskan untuk pulang kerumah ibunya. Ingin mengetahui kondisi sang ibu.
Jihan memutar ganggang pintu yang tidak terkunci, "ibu dimana? Rumah tidak dikunci tapi sepi."
Jihan melangkahkan kaki menuju kamar sang ibu. Bayang bayang akan kenangan kelam dengan sang ayah kembali muncul. Namun Jihan menguatkan diri agar tidak larut dalam kesedihan.
"Ibu!" Seru Jihan ketika melihat ibu tengah murung di kamar sembari memeluk foto pernikahan.
"Nim? Sudah pulang, sini duduk." Ibu menepuk kasur di sampingnya.
Jihan menghampiri, "ibu tidak apa-apa kah?"
"Ibu baik-baik aja Nim," sembari menghapus sisa sisa air mata.
"Sudah makan?" Lanjut Jihan.
Ibu mengangguk, "tadi ibu sudah makan. Kamu sudah?"
"Iya sudah Bu," Jihan tersenyum.
"Bagaimana tinggal sama mas Arga? Nyaman?" Ibu meletakkan bingkai foto yang ia dekap
"Iya Bu, keluarga mas Arga baik. Tadi kami sarapan bareng," Jihan lebih memilih menutupi perdebatan dengan haikal tadi pagi. Agar ibunya tak khawatir.
"Syukurlah, ibu senang mendengarnya." Tersenyum.
"Bu, kedepannya mungkin aku akan ikut tinggal dengan suamiku. Ibu tidak apa-apa? Atau ibu mau ikut pindah sama kita."
"Tidak usah Nim, ibu masih nyaman di sini. Lagian rumah ini peninggalan ayah, jadi ibu harus menjaganya." Ibu menatap kosong pandangannya beredar menyusuri sudut ruang kamar.
Terlalu banyak kenangan yang terjadi di sini bersama almarhum suaminya, meskipun terbilang singkat. Namun mengukir kenangan yang indah memanglah sangat sulit di lupakan.
"Aku mengerti Bu," Jihan memeluk sang ibu
__ADS_1
Ibu membalas pelukannya, "kelak kalau kangen sama ibu, kalian juga bisa tinggal di sini, ya."
"Iya Bu, aku gak akan ninggalin ibu jauh jauh, aku sayang sama ibu," kemudian Jihan mengecup pipi ibunya.