
Eps. 27
''Mas ngapain?''
Arga diam saja dan malah berjalan santai menuju kearah Jihan.
''Mas?'' tanya Jihan lagi.
Arga terus berjalan, Jihan reflek menutup kembali piyamanya yang sudah terlepas namun tidak mengancingkannya kembali.
Saat sudah berdiri di hadapan sang istri, Arga langsung menjatuhkan wajahnya bersandar pada pundak Jihan.
''Maafkan aku sayang,'' lirihnya dibalik pundak sang istri.
Jihan diam mematung, bahkan perasaanya sulit di netralkan. Perasaan macam apa ini? Antara kesal bercampur dengan perasaan bersalah.
Jihan mengangkat tangannya untuk mengelus punggung kekar sang suami.
''Maaf sayang, seharusnya aku tidak bersikap kasar seperti itu. Aku yang salah aku minta maaf,'' ucapnya lagi. Kini tangan Arga sudah berpindah jadi melingkar pada pinggang sang istri, memeluknya dengan erat.
''Sudah mas, tidak apa-apa. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku juga salah.''
''Maafkan aku dulu, dan jangan pergi dari rumah lagi.'' Jihan membalas hanya dengan anggukan.
Mereka terdiam hingga beberapa saat saling berpelukan seolah menumpahkan penyesalan dan hanya ingin saling mengobati luka.
Kini keduanya sudah terduduk di tepi ranjang tidur. Arga terus memandangi wajah sayu Jihan. Sedikitpun tak ingin berpaling ke arah lain.
Jihan sampai di buat mati gaya. ''Sudah mas jangan melihatku seperti itu terus.''
Arga tak menanggapi ucapan Jihan, tangan nya tergerak menyentuh pipi mulus sang istri. ''Matamu sembab sayang, pasti kamu sangat sakit hati dengan perlakuanku semalam.''
Mas Arga begitu menyesal, terlihat sekali jelas pada bola matanya. Melihatmu yang seperti ini hatiku juga sakit mas.
Jihan menggeleng, ''Bukan apa-apa mas. Disini aku juga mengaku salah. Sudahi saja permasalahan ini ya, kita kembali berteman baik-baik lagi. Ini hanya salah paham kan?!"
"Iya sayang, sebenarnya aku juga punya sesuatu masalah yang menyebabkan aku melampiaskan ke kamu. Dan itu adalah hal bodoh, seharusnya aku lebih bijak lagi. Tidak menyangkut pautkan masalah ini pada rumah tangga kita."
Jihan mengernyitkan dahi, "Ada apa mas? Kenapa tidak ceritakan padaku?"
"Aku sempat terpukul saat itu, maaf ya aku tidak langsung cerita ke kamu."
Setelah membujuk beberapa saat, alhasil Arga menceritakan permasalahan pekerjaan nya pada Jihan. Awalnya ia menolak sebab tak ingin sang istri sampai tahu masalah ini. Takut jika akan menambah beban pikirannya. Terlebih sebentar lagi Jihan akan ujian sekolah.
__ADS_1
"Mass kenapa memendam semua itu sendirian? Jika itu menjadi beban pikiranmu, tidak masalah kalau mas bagi ke aku. Lain kali jangan memendam masalah apapun sendirian ya," Jihan menjadi simpati pada sang suami.
"Sama seperti mas yang melarang ku memendam masalah sendirian aku juga sama tidak mau kalau mas pendam masalah sendiri," sambungnya.
"Katanya kunci keharmonisan suatu hubungan itu adalah komunikasi yang lancar, Nah kalau sama-sama tidak mau bercerita terus kunci keharmonisan nya kemana? Iyakan?"
Arga tersenyum puas, "Istriku memang benar. Aku sangat bangga karena sayangku ini sudah menjadi lebih dewasa.''
Arga mengelus lembut pipi sang istri.
Memang benar, sebesar apapun masalah dan sekeras apapun situasinya, hanya cinta yang dapat meluluhkan.
Rasa cinta yang Jihan berikan untuk Arga, membuat pria itu merasa jika tidak ada rumah lain yang lebih nyaman selain bersama seatap dengan wanita yang ia cintai.
Jihan menjatuhkan wajah Arga dalam pelukannya. Arga balas memeluk erat tubuh Jihan. "Terimakasih sayang telah memahamiku. Kelak kedepannya diantara kita akan saling terbuka. Terimakasih karena bersedia mendukungku dan menjadi sandaran ternyaman saat ku lelah dan lemah."
Arga semakin menenggelamkan wajahnya pada dada sang istri. Merasakan kehangatan di sana. Kini yang ia pikirkan adalah hanya ingin bersama dengan istrinya.
"Iya mas,, aku juga minta maaf ya.. Dan terimakasih karena mas Arga selalu menghormati aku. Kali ini benar aku yang salah paham sama mas."
Arga menggesekkan wajahnya di dada Jihan. "Bukan kamu, tapi aku yang salah sayang."
"Nggak mas, kali ini beneran aku yang salah."
Jihan menarik nafas dalam-dalam, disatu sisi merasakan geli satu sisi juga merasakan kebahagiaan.
Mas Arga kalau sudah bucin emang susah dilawan, bucin akut.
"Aku kan yang salah Yang?" pertanyaan konyol Arga.
"Tapi kali ini aku yang salah mas."
Arga menggelengkan kepalanya, "Nggak! Pokoknya aku yang salah."
"Aku!" kata Jihan.
"Aku Yang," balas arga.
"Aku!" bantah Jihan tak mau kalah.
Sebelumnya tidak mau mengakui mana yang salah mana yang benar, sekalinya sudah berbaikan malah ingin mengaku bahwa diri masing masing yang salah.
Arga menengadah ke atas menatap Jihan. "Biasanya wanita itu anti salah loh. Jangan nyesal kalau aku nggak mau ngalah. Ya sudah kamu yang salah."
__ADS_1
Tapi Jihan juga tidak terima jika disalahkan sepenuhnya, "Kok mas nyalahkan aku sih jadinya? Aku emang salah tapi mas juga ada salahnya."
Dasar betina imut.
Arga yakin jika tidak disudahi permasalahan siapa yang salah ini maka akan menimbulkan masalah lagi. Baru juga satu masalah selesai masa sudah mau buat lagi.
Ujung-ujungnya Arga pun yang harus mengalah, "Yasudah sayang iya.. yang salah itu tukang sate saja."
"Mas kok malah ganti menyalahkan tukang sate siih?"
"Iya sayang, Abangnya yang salah. Masa badannya yang gerah malah satenya yang di kipasi. Salah kan dia?"
Haha pintar juga aku mengalihkan pembicaraan ini.
"Ah ya mas benar juga. Haha kalau pada akhirnya tukang sate yang salah, kenapa kita jadi capek-capek bertengkar ya??."
Keduanya malah tertawa lepas, secepat itu memperbaiki mood dan keadaan. Seolah sudah lupa tentang pertengkaran semalam.
"Sudah sayang, perutku jadi kram kebanyakan tertawa," sembari mengelus perutnya.
"Ahahaha iya mas sudah cukup. Oke jadi kita kembali berteman kan?" Jihan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Tidak mau! Aku suamimu bukan temanmu."
Jihan mengulum senyum, "Maksudku itu TEMAN HIDUP" Jihan menekan intonasi pada kata tersebut.
"Dasar istri jahat, suka menggombal dan minggat dari rumah," Arga langsung mencubit keras pipi Jihan sampai-sampai gadis itu meringis kesakitan.
Arga langsung berdiri untuk menghindari amukan sang istri.
"Mas awas kamu ya,," Jihan ingin mengajar Arga. Namun belum juga berlari jauh tiba-tiba Arga tersrimpet sarungnya hingga mengakibatkan dirinya terjatuh.
Jihan yang terkejut jadi tak bisa mengendalikan gerakannya juga dan pada akhirnya ikut jatuh menindih tubuh sang suami.
Keduanya sempat bertatapan lama sebelum pada akhirnya tertawa terbahak-bahak.
"Kita memang konyol ya mas, hahaha"
"Aku tidak merasa konyol sayang, tapi aku merasa ada sesuatu yang kenyal sedang menindihku."
Ohh astaga, aku lupa kancing bajuku masih terbuka. Tidaakkkk......😱😱
bersambung...
__ADS_1