Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Selamat Pagi


__ADS_3

Eps. 19


Flashback dua bulan sebelumnya berakhir.


Sekarang kita kembali ke masa sekarang pada kehidupan rumah tangga Jihan dan mas Arga.


Setelah semalaman dipeluk oleh sang suami, sambil tangannya tak henti-henti mengelus perut Jihan. Membuat gadis itu bisa tidur dengan nyenyak tanpa rasa nyeri haid yang hebat seperti sebelumnya.


Pagi ini adalah hari minggu, Arga tidak pergi bekerja begitupun Jihan juga tidak pergi sekolah. Pasangan itu masih lelap dalam tidurnya, dengan Arga yang memeluk Jihan dari belakang.


Lima belas menit kemudian..


Jihan mengerjapkan mata, masih merasakan nyaman saat Arga mendekapnya dari belakang. Jihan membalikkan tubuh menatap sang suami.


"Tampan sekali sih mas ganteng ku, hehe."


Tangannya membelai lembut pipi Arga, kemudian menyusuri area sekitar mulut, terlihat kumis dan sedikit brewok tumbuh di sana. Jihan jadi terkekeh sendiri, membayangkan kumis itu yang selalu membuatnya kegelian saat di cumbu sang suami.


Merasa terganggu dengan tangan yang menusuk-nusuk pipinya, Arga membuka mata perlahan.


"Hmm sayang, Selamat pagi," tersenyum kemudian mengecup kening istrinya. "Sedang apa?" belum tersadar sepenuhnya.


"Apa aku membangunkan Mas, ya?" Tanya nya polos. Padahal memang benar.


"Tidak hanya membangun aku, tapi dia juga," tangannya meraih tangan jihan dan menuntun nya menyentuh sesuatu di bawah sana.


"Maass!!"


Arga tertawa ringan, "Mangkannya jangan suka mengganggu sesuatu yang sedang tertidur."


"Sesuatu apanya sih mas? Jangan bicara yang ambigu dong."


"Yang tadi kamu pegang itu, apa? Hahaha."


Malas meladeni sang suami, yang pagi-pagi sudah berbuat mesum. Jihan memilih bangkit dari tempat tidur.


"Ehh,, mau kemana sayang?" tanya Arga.

__ADS_1


"Bangunlah mas, memangnya mau apa lagi?" Sudah bangun namun tangannya di tarik oleh Arga.


"Ini kan Minggu, tidurlah sebentar lagi!."


"Sudah siang mas, memangnya mas gak lapar?" menyingkirkan tangan Arga yang mulai bergerak sesuka hati.


"Tapi perut mu? Apa masih sakit?" Nada khawatir, tangannya menyentuh perut sang istri.


Jihan tersenyum, "Sudah baikan kok mas, terimakasih ya.. berkat mas aku jadi baik-baik saja."


Arga menyandarkan tubuh di pinggir ranjang.


"Hanya ucapan terimakasih saja? Hadiahnya mana?"


Jihan tertawa, "Mas ini ada ada aja deh, memang merawat orang sakit masih meminta imbalan?"


"Bukan imbalan sayang, tapi hadiah. Ayo berikan!" mengerucutkan bibir.


Jihan menggeleng-gelengkan kepala, "Memang mas mau hadiah apa sih?"


Arga menyodorkan bibirnya, "Ini, kasih di sini hadiahnya?"


Arga menyentuh nyentuh bibirnya, "Morning Kiss."


"Haha astaga mas, mas Arga ini ada ada saja deh, tidak mau ah."


"Loh menolak ya? Kamu ini tidak mau bertanggung jawab sayang?''


"Bertanggung jawab apa? Memang aku salah apa coba?" Menyedekap kedua tangannya di dada.


Arga semakin gemas dengan tingkahnya Jihan. Dia pun menarik tubuh sang istri sampai-sampai jatuh kedalam pelukannya. Mata Jihan dan Arga saling bertatapan penuh cinta.


"Kamu ini istri licik, ya! Sudah berani membangunkan kami berdua tapi tidak mau bertanggung jawab."


Jihan menahan gelak tawanya, sampai wajahnya memerah.


"Ihh mas jangan aneh aneh ya,, aku sedang tidak bisa mengurus kalian. Mas jangan bicara mengada-ngada deh."

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu, pokoknya beri aku hadiah. Kalau kamu tidak mau, aku saja yang beri." Tetap keukeuh.


Arga langsung menyosor wajah sang istri seperti angsa yang mengintai musuhnya.


Jihan terkekeh geli, merasakan rambut-rambut tipis yang tumbuh di sekitaran wajah Arga.


"Mas cukup. Hahaha geli sekali kumis nya. Cukup mas. Hahaha!"


Arga menghentikan aksinya, dan memeluk erat tubuh Jihan.


''Bagaimana? Beri aku hadiah atau aku cium lagi?''


Mas Arga,, plis jangan manja seperti ini. Jantungku tidak kuat menahan debaran nya.


"Iya iya mas, nanti aku beri tapi cukur dulu ya kumis nya. Aku geli tau."


"Siapa suruh kamu nyapu nya gak bersih, mangkanya aku berewokan," Balasnya dengan nada kesal.


Jihan malah tertawa terbahak-bahak.


"Mas Arga ini kok bisa sih? Hahahaha jangan mengada-ada cerita, ya!"


''Kalau gak percaya coba tanya mama atau ibu sana,'' Sambil bergelayut manja di pundak Jihan.


''Masss! sudah jangan seperti itu. Aku mau bersih-bersih dulu, mas bangun."


Jihan menyingkirkan tangan Arga pada tubuhnya.


''Tapi janji, setelah cukur kumis beri aku hadiah ya."


''Cukur dulu mass!" masih keukeuh.


"Tapi aku lagi mager, sayang." Bertingkah manja sembari menempelkan wajah ke bahu Jihan.


"Kalau begitu mas bangun dulu, tunggu di teras nanti aku bantu cukurkan, oke.'' Mengelus pipi Arga.


Mungkin kalau aku bersikap manis mas Arga gak rewel, lebih baik pakai cara halus saja.

__ADS_1


''Oke aku tunggu ya,,"


__ADS_2