
Eps. 24
Jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Jihan bangun dari tidurnya kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kembali lagi pada hari Senin yang sibuk untuk mengawali pagi hari. Jihan sudah harus kembali bersekolah.
Setelah membersihkan diri, Jihan menghampiri ibu di dapur. Terlihat ibu sedang membersihkan buah-buahan.
''Pagi sekali bangunnya Bu?'' berjalan menghampiri sang ibu.
''Kamu yang bangunnya kesiangan Nim,'' pandangannya tak berpindah dari buah yang ia cuci.
''Ah enggak Bu, masih pagi begini kok,'' jawabnya sembari mengambil gelas dan menuangkan air putih.
Ibu tak menggubrisnya, ''Nim, kamu mau pulang sekarang kah?''
Jihan meneguk air putih digelas hingga habis, ''Nanti dulu Bu, ada apa?''
''Kebetulan, ibu bisa minta tolong belikan sayur di warung depan gak? Yang sudah matang saja. Nanti kamu bawa pulang juga dari pada kamu masak keburu ke sekolah kan.''
Jihan mengangguk, ''Oiya Bu, mas Arga juga pasti nungguin sarapan. Ya sudah Jihan beli dulu, ya.''
Ibu menyisihkan buah buahan yang ia cuci tadi, beralih mengambil dompet diatas meja ingin mengeluarkan uang.
Namun Jihan mencegahnya, ''Pakai uang Jihan aja Bu. Itu simpan aja buat kebutuhan ibu yang lain.''
Setelah itu Jihan keluar rumah ibunya dan langsung menuju warung tempat menjual aneka macam sayuran yang sudah matang. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Hanya tunggal jalan beberapa langkah saja sudah sampai.
Di sini biasanya menyediakan beraneka ragam makanan matang yang bisa kita pilih sesuai selera setiap harinya. Maklum ini sudah jadi kebiasaan orang-orang disini jika sedang malas masak mereka akan mencari yang sudah matang saja hanya tinggal dihangatkan kembali maka sudah beres.
Jihan telah sampai, cukup ramai di sana. Terlihat banyak ibu-ibu juga membelinya.
''Memang warga Indonesia ya, ada aja yang mager masak. Sampai sayur bening aja harus di jual.''
Gumamnya ketika memilih sayur matang yang di bungkus plastik bening, banyak pilihannya mulai dari makanan berat hingga makanan yang gampang untuk dimasak seperti sayur bening, SOP, sayur asam dan lain sebagainya.
Asyik memilih sayur dan lauk, Jihan dikejutkan oleh kehadiran bu Rida yang entah dari mana tiba-tiba menepuk pundaknya.
''Dek Jihan!'' panggilnya.
Jihan menoleh, ''Eh iya? Bu Rida?"
''Tumben beli sayur masak dek? jarang-jarang saya lihat kamu ke sini?'' sembari ikut memilih sayur yang Jihan ambil.
''Ini Bu, punya ibu saya. Semalam saya nginap di sana.''
__ADS_1
''Loh iyakah? pantesan semalam saya ketemu suami kamu ke klinik sama Mutia. Kok kamu malah biarin aja? Kok tidak seperti biasanya gitu.''
Sontak penuturan Bu Rida membuat Jihan terkejut. Dia pun meminta penjelasan cerita dari Bu Rida. Mengenai apa saja yang ia ketahui. Jihan hampir termakan emosi. Namun masih mencoba menenangkan diri.
Gak mungkin mas Arga main di belakangku 'kan?
______
Jihan pulang kerumah ibunya dengan bersungut-sungut amarah. Dirinya Tak memperdulikan tatapan para tetangga yang sedari tadi memperhatikan dia dengan heran. Sudah berusaha menahan emosi namun ketika ucapan Bu Rida terngiang kembali, Jihan pun jadi tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Jihan membuka pintu rumah ibu langsung menuju dapur lalu meletakkan sayur yang telah ia beli.
Gadis itu hanya diam, matanya mulai memerah dan hatinya sangat kesal. Ibu yang habis dari halaman belakang setelah menjemur pakaian terheran-heran melihat tingkah Jihan yang sat set sat set meletakkan sayur dengan kasar dan berjalan sambil terburu-buru.
"Kamu kenapa sih Nim? Datang datang kok kelihatan kesal begitu."
"Gak papa kok Bu, aku langsung pulang ya. Sudah siang." Jawabnya datar. Namun ibu menangkap suara kesal yang tersirat di dalamnya.
Ibu memilih mengalah dan membiarkan putrinya itu pulang meskipun ia tahu jika Jihan sedang emosi. Entah apa yang memancing emosi anaknya keluar. Dia memilih untuk diam sampai Jihan tenang dan menceritakannya sendiri.
Jihan memutar ganggang pintu rumahnya, tidak di kunci. dia pun langsung menyelonong masuk begitu saja. Terlihat Arga sudah rapi dengan seragam kerja. Rambutnya tersisir rapi dan sedikit terkejut menatap kehadiran istrinya yang tiba-tiba datang dengan raut wajah tak bersahabat.
"Sayang? Ada apa?" Tanya Arga.
Istrinya tak menjawab sepatah kata pun, hanya diam kemudian berjalan kearah dapur meletakkan sayur yang ia beli tadi kemudian masuk kedalam kamar untuk berganti seragam sekolah.
"Ini tidak bisa dibiarkan jika Jihan sampai salah paham," Arga menghela nafas.
Dia ingin menunggu istrinya keluar dari kamar saja. Menurut pemahamannya jika Jihan sedang kesal lebih baik memilih mengalah daripada masalahnya semakin rumit. Ia pun menunggu sang istri sambil memindahkan sayur menatanya di meja makan.
Diam seribu bahasa. Hari ini Jihan benar-benar bertekad untuk mendiami sang suami. Hatinya sangat kesal, perasaanya jadi tak karuan. Dia ingin mengalah dan mencoba bersikap biasa saja tapi moodnya benar-benar tidak begitu baik.
Apalagi ketika mengingat kembali perkataan Bu rida tadi sewaktu tidak sengaja bertemu di warung, yang mengatakan jika melihat suaminya pergi tengah malam dengan janda musuhnya dan tidak memberitahu dirinya.
''huh benar-benar ya cowok gak bisa di percaya. Bukannya cepat memberi penjelasan kamu seperti tidak menganggap aku tau tidak? Aku benci kamu mas!"
Sebenarnya apa yang diceritakan Bu Rida bukanlah kejadian yang sebenarnya. Dia pun tidak mengetahui dengan persis seperti apa kronologi nya. Bu Rida hanya tahu dari ucapan Mutia yang sudah pasti banyak mengada-ngada cerita.
Bu Rida yang notabenenya adalah ibu-ibu gemar gosip dan mudah menerima berita tanpa adanya Tabayyun, langsung saja percaya bahkan tidak segan-segan untuk menyinggungnya kepada orang yang bersangkutan.
Malam itu ketika Bu Rida bertemu Mutia di klinik, Bu Rida sempat menyapa Mutia dan sedikit berbasa-basi. Kemudian basa-basi itu berujung pertanyaan menyelidik tentang ada hubungan apa sebenarnya antara Arga dan Mutia. Hingga siasat licik jelas tergambar dari sifat Mutia yang mengatakan kebohongan tentang hubungannya dengan Arga.
Jihan jadi kesal kembali jika mengingat ucapan Bu Rida, yang mengatakan bahwa semalam mas Arga terlihat sangat peduli dengan Mutia. Bahkan rela menebas hujan demi mengantarkannya ke klinik. Dan satu lagi ketika dengan pedulinya menunggui Mutia hingga selesai berobat bahkan sampai menebuskan obat untuk janda itu.
__ADS_1
Dengan amarah yang ia tahan sendiri, Jihan menatap dirinya dari pantulan cermin. Meremas sisir yang ia pegang. Rasanya ia ingin menyikat habis wajah janda itu dengan sisir yang ia genggam.
Dan kenapa lagi mas Arga mau capek-capek ngantar wanita haram yang bukan istrinya itu pergi ke klinik. Memangnya dia tidak bisa minta tolong orang lain kah? Atau tidak bisa pesan ojek saja? Atau minta dokter yang datang kerumahnya? Kenapa harus suami orang yang dia susahkan?
Dan mas Arga juga kenapa tidak bilang? Memangnya sakitnya separah apa sampai mengabari saja tidak sempat? Sudah sekarat kah memangnya?
Paling-paling itu kena adzab karena mau menjadi wanita pelakor. Jihan tak habis pikir.
Jihan keluar dari kamarnya. Mendapati Arga sudah duduk di meja makan, bahkan sudah bantu menata sayur di atas meja. Menunggu kehadiran sang istri.
Gadis itu menatap sinis kearah sang suami. Kemudian langsung duduk di meja makan tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Satu lagi yang membuat Jihan tambah geram saat menatap suaminya, ketika Bu Rida bilang jika Arga sudah meminta ijin terlebih dahulu dengan dirinya sehingga tidak mempermasalahkan suaminya mengantar janda itu. Memang kapan coba aku pernah mengijinkannya. Mas Arga tega banget bisa sampai bohong begitu.
Apa mas lihat lihat, gak tau apa orang lagi kesal. Ingat kamu itu punya dosa besar sama istrimu sendiri!
Ketika tidak sengaja mata Jihan bersitatap dengan Arga.
Tuh kan ngapain coba malah lihat-lihat doang. Gak ngerasa bersalah sama sekali! suami watados (wajah tanpa dosa!)
Keduanya masih diam hingga berada di meja makan, Jihan mengambil piringnya sendiri, tidak seperti biasanya akan mengambilkan nasi dan lauk ke piring Arga.
Arga menghela nafas, mencoba memaklumi kelakuan istrinya yang tiba-tiba bertingkah aneh. Dia masih enggan bertanya.
Jihan melirik kesal kearah sang suami ketika melihatnya tidak mengambil nasi sendiri.
Apa sih yang dia tunggu, ambil sendiri kan bisa mas! huh aku mau marah saja jadi susah.
Dengan berat hati Jihan terpaksa mengambilkan nasi ke piring Arga. Tapi masih enggan memulai pembicaraan juga.
"Kalau melayani suami yang ikhlas sayang, ingat pahala!'' tegur Arga.
Jihan berdecak, "Ya kalau suami yang dilayani itu sopan dan bersikap baik, tentu ikhlas lah mas."
Apa maksudnya? tidak sopan dimananya aku? tanya Arga dalam hati.
"Kamu kenap sih sayang? jangan bersikap seperti ini," masih menegur dengan nada lembut.
Jihan tak memperdulikannya, justru menyendokkan nasi ke mulutnya. Mengunyahnya dengan keras dan cepat.
"Sayang!?" tegur Arga kembali.
Jihan memutar bola matanya malas, "Apasih mas? cepat makan keburu siang nanti!"
__ADS_1
Memang benar menghadapi wanita itu perlu keahlian khusus. Terlebih istrinya ini pencemburu yang susah di tebak. Tiba-tiba saja ngambek tanpa mau mengatakan dan memilih memendam segala sesuatu sendirian.
"Sayang kalau tidak bicara dimana letak kesalahan ku, gimana aku mau memperbaiki?"