Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Mengibarkan bendera perang


__ADS_3

Eps. 20


Kini Arga telah berada di teras. Dengan Arga yang hanya memakai kaos oblong, sambil menunggu kedatangan istrinya, dia sedikit merapikan ujung ujung kumisnya dengan menatap ke arah cermin kecil yang ia genggam.


"Mas, sudah disiapkan ya," tertawa kecil.


"Nunggui kamu lama banget sayang. Cepat kemari!" menepuk-nepuk bangku panjang di sampingnya.


Jihan meletakkan handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambut setelah membersihkan badannya.


"Sini alat cukurnya.''


Arga langsung memberikan alat tersebut pada Jihan. Dan memposisikan diri agar sang istri dapat dengan mudah mencukur kumisnya.


''Ihh mas tangannya diam dong! Jangan usil deh,'' kata Jihan saat tangan Arga bergelayutan di pinggangnya. Wajahnya sedikit di dongakkan.


Arga cengengesan saja. ''Hati-hati ya sayang, awas kena kulitku.''


Jihan masih fokus mengerok perlahan kumis sang suami.


''Iya iya, pokoknya mas jangan ganggu aku, tangannya diam yaa..''


Alhasil tangan itu pun diam. Mata Arga mengikuti gerak-gerik istrinya. Terkadang juga dia tersenyum, saat Jihan sangat fokus hingga tanpa sadar ikut memajukan bibirnya seolah ikut hanyut dalam kegiatannya.


"Istriku yang menggemaskan." Batin Arga.


Tiba-tiba ide jahil muncul di otak Jihan. Dia sengaja menurunkan alat cukur itu pura-pura mencukur bagian dibawah jenggot tepatnya di leher Arga.


"Sayang!!" berkata dengan geram.


"Apasih mas?" menjawab dengan cengengesan.


Semakin usil Jihan menyentuh nyentuh jakun sang suami.


''Mas ini apa ya, sakit gak kalau aku tonjok, hahaha.'' Jihan bercandaan.


Tanpa dia tahu sebenarnya jakun juga termasuk titik rangsang pria, jika salah menyentuhnya pada sebagian pria maka akan memberikan dampak rangsangan pada pria.


Arga menelan salivanya.


"Sayang jangan pegang pegang sembarangan!" Menahan gejolak.


"Pegang apa sih mas? Aku hanya sedikit gemas melihat jakun mu, lucu yaa ternyata. Hahaha.''


Tangannya mengelus leher Arga.


Jihan benar-benar tidak sadar jika sedang perlahan masuk ke dalam lubang harimau 🐅.


''Cukup sayang, aku .. aku pergi ke kamar mandi sebentar,'' Arga menyekal tangan Jihan.


''Loh mas? ini kan belum selesai.''


Arga segera berdiri, ''Nanti, aku selesaikan sendiri.'' Kemudian berlalu pergi meninggalkan Jihan yang masih diam dengan seribu tanya.

__ADS_1


''Dasar mas Arga ini tidak jelas. Tadi maksa maksa buat cukurkan, huhh.'' Dirinya jadi kesal sendiri.


Arga memilih mengalah, jika terus meladeni istri polos yang mesum ini, dia takut tidak dapat mengontrol dirinya sendiri untuk melahap istrinya.


''Sabar Ga, tidak boleh sembarang. Dia masih datang bulan. Tahan lah...'' Meratapi nasibnya sendiri saat sudah masuk kedalam kamar mandi.


Kemudian segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin di pagi hari itu.


Jihan masih duduk di teras sembari merasakan hangatnya sinar mentari pagi yang menyengat kulitnya. Memang panas matahari di waktu pagi memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Bisa memperkuat imun tubuh agar terhindar dari virus penyakit.


Sembari mengeringkan rambutnya yang panjang dengan handuk, Jihan terlihat sangat menikmati hawa sejuk lagi ini.


Ingatannya meng-recall kejadian semalam, tentang bagaimana Arga merawatnya. Bahkan pagi ini dia sama sekali tidak merasa nyeri haid lagi.


Tak lama kemudian, seorang wanita yang dia kenal dan sangat menyebalkan melintas di depan pekarangan rumahnya. Dia adalah Mutia, janda kembang yang genit, tetangga sebelah rumahnya yang juga menyebalkan.


''Ekhem,, pagi-pagi rambutnya udah basah aja dek. Awas nanti kecolongan, masih sekolah lho,'' berkata mengejek.


''Ciih ikut campur terus,, masih pagi udah ada polusi udara aja. Merusak suasana,'' geram Jihan.


Kemudian menjawab dengan lantang, ''Ada masalah apa ya tan emangnya? kayak gak tau aja, namanya sudah bersuami,'' memasang wajah tersipu. ''Lagian kalaupun kecolongan juga aku udah punya suami kok.''


''Cih, sok manis." lirih Mutia. ''Dan manggil aku apa? Tante? bocah sialan."


Jihan melirik judes, ''Apa urusannya memang aku mau keramas kapan pun. Bukan urusanmu kali.'' Bergumam sendiri.


Selain keluarga dekat Jihan dan Arga, tetangga dekat disekitar komplek Jihan sebagian sudah mengetahui jika dia dan Arga sudah menjadi suami istri. Hanya saja tetangga yang lain tidak se kepo Mutia ini. Yang sangat senang mengurusi hidup orang lain.


Sejauh ini hubungan Jihan dan Mutia memang tidak begitu akrab. Ada saja perselisihan diantara keduanya. Yang satu berusaha ingin menggoda suami orang, dan yang satu lagi bersikukuh menjaga suaminya agar tidak tergoda.


''Siapa bilang? barusan kami habis sentuh sentuhan kok disini. Mas arga aja sampai nagih, sekarang dia lagi membersihkan diri tuh di dalam '' puas mejawab ocehan janda bodong.


Mutia menghentakkan kakinya,sebab merasa kesal.


"Aku gak mau kalah dari anak kecil."


Seolah ingin mengibarkan bendera perang, Mutia terus saja mencari-cari celah.


Tanpa rasa malu, Mutia berjalan memasuki gerbang rumah Jihan.


"Ehh dek, kakak kasih tau ya. Dunia percintaan tidak semanis itu sayang. apalagi kamu masih kecil belum punya pengalaman, awas lho kalah sama wanita dewasa yang lebih menggoda."


Cuih! tidak tahu malu sekali ya anda ternyata. Batin Jihan.


"Haha Tante ini lucu banget ya. Yang ngerasain aku juga suami aku kok. Bukan orang lain, kalau dia puas pasti minta terus. Lajang seperti Tante mana paham, upss." Menutup bibirnya dengan gaya anggun.


"Lagian rambut aku udah basah nih pagi-pagi, tapi kok aku juga gak pernah lihat rambut Tante basah pagi-pagi?."


Mutia geram bukan kepalang, dia menggertakkan giginya.


"Bukan urusanmu! mau rambutku basah atau enggak. Jagain aja suamimu itu ya, jangan sampai aku rebut nanti kamu akan menyesal. Haha."


"Loh rebut saja kalau bisa, tanpa Tante suruh juga udah aku jagain kok dari ulat ulat gatal di luar sana."

__ADS_1


Melirik tajam ke arah Mutia.


Sialan banget nih bocah. Awas aja kamu ya!


Jihan tertawa puas dan bangga. Senyum kemenangan terukir di wajah nya.


"Sudah Tante cepat beli sayur sana, nanti keburu habis pula sayurnya."


"Ckk, suka-suka aku lah."


"Loh dibilangin kok. Untung aja mas Arga punya istri serajin aku, jadi gak perlu susahsusah kalau mau makan."


Membanggakan diri sendiri, tangan nya sambil menggulung gulung ujung rambut.


"Ku buat suami mu makan di rumahku baru tahu rasa kau," ketus Mutia.


Karena merasa amat kesal, dirinya langsung berbalik arah dan meninggalkan pekarangan rumah Jihan. Niat hati ingin menusuk nusuk bocah cilik itu dengan katakata menyakitkan, justru tidak jadi sebab dirinya sudah membuat kesal terlebih dulu.


"Pede banget sih, mas Arga gak akan pernah makan masakanmu! Bisa opname nanti mas ganteng ku itu. Lagian ngapain juga suamiku makan dirumah orang lain, aku aja pintar memuaskannya kok.''


Mutia melengos kesal. Dengan kuat membanting pintu pagar rumah Jihan.


''Loh loh,, kok ngamuk dirumah orang sih tan? nanti rusak aku minta ganti rugi lho!"


Mutia berhenti sejenak, melirik kearah pagar besi rumah Jihan. Dan satu kali lagi menutupnya dengan keras.


Bruuakkk!!


''Ganti rugi ya tinggal ganti! Kamu pikir aku gak sanggup ganti pagar rumah yang bobrok ini?''


''Ohh Tante jangan cari garagara lagi, ya!!" Jihan pun ikut kesal. Dia berdiri dari duduknya dan ingin menghampiri Mutia.


Melihat Jihan yang marah seperti itu, Mutia ketakutan. Takut jika kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi padanya. Yaitu saat dirinya genit pada mas Arga dan diketahui Jihan, gadis itu langsung menghajarnya tanpa ampun.


''Ihh serem banget lihat wanita Tarzan ngamuk, pergi aja deh.'' Mutia kabur secepat kilat.


''Heeiii! mau kemana Tan. jangan kabur lhoo! Huh dasar beraninya menggertak saja!"


Jihan benar-benar kesal, masih pagi sudah di buat jengkel dengan kelakuan wanita janda itu.


Tak lama setelahnya, Arga keluar sudah dengan berpakaian rapi dan rambut yang disisir.


''sayang? kenapa marah-marah?''


''Mas gak denger ya tadi di janda itu hampir aja ngerusak pagar rumah kita, dia bilang bobrok. Siapa coba yang gak kesal,'' masih berapi-api.


Arga tertawa, ''Hahha,, sayang. Jangan marah lagi. udah nanti kita ganti pagar nya dengan yang lebih bagus lagi, oke.''


Menghampiri istrinya dan merangkul dengan mesra.


Jihan mendongakkan kepalanya, melihat jika wajah sang suami nampak bersih dan segar.


''Mas ganteng banget sih, jadi gak marah lagi kan aku nya," mengelus wajah Arga. Merasakan jika sudah benar-benar bersih dari kumis.

__ADS_1


''Kalau begitu, kasih aku hadiahnya sekarang!" memajukan bibirnya.


__ADS_2