Tetangga Jadi Rumah Tangga

Tetangga Jadi Rumah Tangga
Aku Milikmu


__ADS_3

Siapkan mental dan tahan emosi kita masuk ke part yang bikin haredang.


Salam sehat selalu untuk reader ku semua🤗


_____


Terdengar suara percikan air dari kamar mandi, panas nya hari ini setelah melakukan banyak aktivitas membuat Jihan mandi cukup lama untuk menyegarkan diri.


Sore hari ini nampak begitu damai, cuaca tidak mendung namun langit di luar sana sudah akan gelap. Pertanda siang akan berubah menjadi malam.


Cekklekk


Pintu kamar mandi terbuka, gadis itu nampak terlihat segar dengan berbalut jubah mandi. Tangganya menggosok rambut yang terurai basah dengan handuk kecil di genggaman nya.


''Sudah jam berapa ini, tumben mas Arga belum pulang,'' dia lirik jam yang tergantung di dinding rumahnya.


Tumben sekali suaminya belum pulang. Jihan mengintip sekali lagi keluar jendela, memastikan apakah sudah terlihat tanda-tanda suaminya pulang.


''Ganti baju dulu ah, paling mas Arga lagi di jalan."


Jihan masuk kedalam kamar, niat ingin segera berganti pakaian namun ketika melihat kasur besar yang nampak empuk itu membuat Jihan mengurungkan niat dan malah menjatuhkan dirinya ke atas kasur dengan sekali pantulan tubuh nya terhempas begitu saja.


''Emm.. nyamannya. Enak banget sihh.''


Dia berguling kesana kemari sambil menggeliat sesuka hati. Meluapkan perasaan lelah dan letihnya.


Tanpa sadar gadis itu banyak bergerak sehingga sedikit mengangkat jubah mandi yang ia pakai. Alhasil paha putih dan mulusnya terekspos begitu saja.


Entah sudah berapa lama Jihan tertidur bahkan sekarang langit sudah sepenuhnya gelap. Hari ini Arga lembur, sehingga pulang benar-benar telat.


Hingga waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Arga sudah pulang, memakirkan motor. Ia melihat sekitar sepi, berpikir bahwa istrinya sedang menunggu didalam.


Pintu sudah terbuka, ''Assalamu'alaikum, sayang aku pulang."


Celingukan kesana kemari tapi tidak ada orang. Lampu-lampu sudah dinyalakan tapi lampu dapur belum. Arga kedapur untuk memeriksa. Saat saklar lampu sudah dinyalakan tapi kosong tidak ada tanda-tanda istrinya.


Kini ia tahu harus menuju kemana. ''Pasti kamu kumat lagi sayang, kangen di beri hukuman ya dasar istri nakal.''


Pintu kamar terbuka, benar saja ia mendapati sang istri sedang ketiduran. Hatinya tiba-tiba bergetar jantungnya juga berdetak lebih kencang.


Melihat Jihan yang seperti ini membuat Arga sedikit bersemangat kembali.


Arga memegang pelipis nya, ''Ckk begini banget punya istri masih anak sekolahan, kok bisa dia tidur nggak pakai baju begitu. Nggak tau kalau itu mengundang bahaya kah?"


Entah sudah berapa lama Jihan tidak sadarkan diri, bahkan jubah mandi yang ia pakai saja sudah hampir terlepas dari badannya.


Munculah aksi jahilnya mas Arga. Ia ingin memberi sedikit hukuman kepada sang istri sebab tak menyapa kepulangan nya.


Arga mendekat perlahan, memperhatikan setiap inci tubuh yang terekspos itu. Tangannya kini tergerak menyentuh kaki Jihan. Ia masih ingat jika kulit istrinya ini kebal dari gelitikkan.


Mengingat itu Arga jadi tertawa, ia lanjutkan aksi nya. Dengan tangannya yang bergerak dari kaki ke arah atas, menyusuri dan mengelus setiap jengkal apa yang tangannya lewati.


Jihan menggeliat ketika tangan Arga berada di atas dada nya. Seperti merasakan sesuatu yang menggelikan.


Arga berhenti sejenak mengamati raut menggemaskan istrinya. ''Haha bagaimana bisa kamu seimut ini meski sedang tidur sih,'' menahan tawa agar tidak pecah.


Laki-laki itu mendekatkan bibirnya ke telinga Jihan, dan meniup pelan telinganya. Jihan beringsut, menyentuh telinganya. Gerakan itu membuat jubah yang ia kenakan turun sedikit dibagian atasnya sehingga pundaknya terlihat jelas di mata Arga.


Glegekk


Arga menelan saliva.


''Tidur saja masih bisa menggodaku. Anak ini benar-benar.''


Arga ingin bangkit dari atas tubuh Jihan, takutnya jika terus menjahili istrinya akan berujung dia sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri.


Jihan bergeliat, ketika mendengar suara spring bad beringsut. Dengan setengah sadar dia mengucek mata. ''Mas sudah pulang belum ya?''

__ADS_1


Ketika bola mata itu telah sepenuhnya terbuka, siluet tubuh sang suami nampak dipandangannya.


''Mas arga?'' sedikit tersontak. Jihan segera membenahi jubah yang entah sudah tidak berbentuk seperti jubah mandi lagi.


Yang di panggil namanya masih diam sambil bersedekap. Menatap gadis di depannya yang terlihat kebingungan membetulkan jubah mandinya.


Hehe tidak marah kan? Iya kan, aku kan nggak salah. Kan Kan aku ketiduran.


Aku tidak tahan jika tidak menjahili gadis ini. Astaga istriku.


Jihan celingukan menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Cari apa sayang?" tanya Arga.


"Enggak mas, cuma memastikan mau liat jam ini sudah pukul berapa ya?" sambil menggaruk-garuk kepala.


Melihat kearah jendela, dan langit kok sudah gelap ya?


"Ck ckkk ckk.. Kok bisa aku punya istri nakal kayak gini ya? Sedikit jahat lagi."


Arga berjalan mendekat ke arah kasur. Sambil melepas beberapa kancing kemeja nya.


Ehhh dia mau apa? mass? kamu kok buka kemeja?


"Aku sedikit gerah." Mengatakannya tapi sambil tersenyum.


Apasih mas? Gerah ya mandi kok malah mendekat sih?


Jihan beringsut dari tempatnya, ingin bangkit. Namun pundaknya ditahan Arga agar tetap duduk.


"Kamu suka sekali ya cari masalah? Hmm?" suaranya bahkan sangat lembut di telinga Jihan.


"Tadi kamu habis ngapain sayang? Bukan menungguku pulang malah tertidur? Dan malah tidak pakai baju begini. Mau menguji kesabaran suami mu ya?"


Sudah mendorong tubuh Jihan sampai gadis itu terjerembab ke kasur. Dengan posisi tubuh Arga yang menindih diatas tubuh sang istri.


"Eeh a-aku ta-tadi habis mandi mas.. dan terlalu le-lah, jadi..." terbata-bata sebab merasa geli dengan kecupan sang suami yang sudah berpindah ke daun telinga.


"Jadi apa hmm?" masih fokus mengerjakan pekerjaannya.


"Ja-jadi a-aku nggak sengaja tidur m-maas.." bicara nya bahkan sudah setengah melantur.


Arga mengecup beberapa kali area yang menjadi favoritnya, dan semakin gemas di buat Jihan karena telinganya memerah.


"Lalu apalagi?" bertanya masih sambil mengendus lekuk leher Jihan.


Aku gak bisa konsetrasi aku nggak bisa. Tolong aku kenapa ini?


Panik panik tapi ketagihan dengan perlakuan sang suami.


"Mas jangan di posisi seperti ini, a-aku tidak bisa berpikir." Diselingi suara lenguhan.


Arga menghentikan sejenak aksinya, "Siapa yang suruh kamu berpikir? Jawab saja jangan dipikirkan." Tersenyum jahil.


"I-iya tapi posisi ini tidak nyaman mas."


Arga memicingkan senyum, "Lalu mau posisi seperti apa, hmm?"


Jihan menatap kesal pada Arga. Tapi tatapan itu justru membuat Arga semakin bersemangat.


"Kamu menatapku seperti itu, malah membuatku ingin memakanmu saja," tertawa ringan.


"Ayo katakan apa yang kamu kerjakan seharian ini sayang?" lanjutnya.


"A-aku tadi banyak tu-tugas mas."


Gadis itu kembali terbata-bata, sebab Arga melanjutkan kejahilannya. Dia mengecup pipi kiri dan pipi kanan sang istri. Sesekali kecupan itu turun ke lekuk leher lagi.

__ADS_1


Tidak, aku tidak tahan lagi. Aku bisa gila nanti.


Hampir terbuai dalam sentuhan sang suami, untung saja Jihan masih bisa tersadarkan.


Segera ia mendorong dada Arga agar menjauh darinya. Kini posisi mereka sama-sama terduduk di kasur. Dengan Arga yang bersangga dengan lengannya. Sambil menatap Jihan yang mengomel kesal.


Entah apa yang diocehkan sang istri, Arga tak menghiraukannya. Justru istrinya yang sedang mengoceh sekarang ini terlihat begitu menggemaskan.


Bukannya merasa bersalah setelah mendapat ocehan dari Jihan. Arga malah tertawa kencang.


Dan itu semakin membuat sang istri kesal.


"Tau ah, mas selalu begitu. Kalau istrinya bicara nggak akan didengarkan."


Kesal setengah hati, Jihan bangkit ingin keluar kamar. Namun lagi-lagi dihentikan Arga. Pria itu menarik pelan lengan sang istri hingga tubunnya jatuh ke atas pangkuan.


"Maaf sayang, aku sangat gemas jika melihatmu sedang kesal. Haha maafkan aku yaa," tersenyum sangat dalam. Mencoba merayu dengan berbagai cara agar Jihan tidak kesal lagi.


"Tapi lain kali jangan seperti itu lagi mas. Aku kan jadi merasa nggak di hargai."


Arga tersenyum, menatap sejenak dengan dalam. Kemudian menyambar bibir sang istri yang terlihat menggoda.


Kecupan itu cukup lama, sampai Jihan tidak bisa mengatur nafasnya dengan benar.


Arga menghentikan kecupaannya. "Kedepannya jika kamu kesal lagi padaku, aku akan menggunakan cara ini untuk membujukmu."


"Apaan sih mas Arga resek. Aku nggak mau deket-deket sama mas."


Jihan mendorong tubuh Arga. Namun tenaganya tidak cukup kuat. Justru membuat dirinya sendiri yang terdorong diatas kasur.


Arga kembali menindih tubuh mungil istrinya kemudian berkata dengan sangat lembut.


"Sayang, jika aku meminta hakku sekarang. Apa boleh?" tatapan matanya begitu dalam. Jihan paham jika selama ini suaminya sudah menghargainya begitu tulus. Menahan segala gejolak yang memang harus di berikan sebab adalah hak milik sang suami.


Dan Jihan dapat melihat semua itu dimata Arga. Tatapan mata Arga yang sekarang ini tidak pernah ia lihat sebelum nya.


Mengingat kembali pesan ibunya beberapa tahun lalu ketika sedang bercanda sebelum mendiang ayahnya meninggal.


Bahwa jika sudah bersuami, kita tidak boleh menolak permintaan suami untuk memberikan haknya. Karena itu adalah dosa besar.


Apakah aku harus memberikannya sekarang? Tapi masalah sekolah?


Berpikir, dan berpikir lagi. Arga masih menanti jawabannya.


Tidak apa-apa lah, lagipula sebentar lagi aku lulus. tidak mungkin juga kan jadi secepat itu. Jikalau jadi maka sudah takdirku punya anak diumur segini. Aku yakin mas Arga akan melindungi aku dan anak kita nanti.


Dengan penuh keyakinan, Jihan menatap manik mata sang suami. Tatapan yang tulus, hangat, penuh harap, dan penuh cinta.


Jihan menggerakkan tangannya merangkul leher sang suami.


Dengan sedikit malu malu tapi mau, Jihan menganggukkan kepala mengiyakan permintaan sang suami.


"I-iya mas, aku milikmu. Lakukanlah sesuka hatimu."


Raut wajah Arga begitu bahagia dan lega. Ia sempat mengira jika Jihan akan menolaknya. Maka dia sudah menyiapkan hati dengan lapang. Tapi sebaliknya, Jihan menyetujui nya. Arga berjanji akan memperlakukan sang istri dengan lebih baik kedepannya.


"Terimakasih sayang, terimakasih banyak. Apapun yang terjadi kedepannya. Aku janji akan selalu menemanimu. Kita hadapi bersama ya."


Arga mengecup berulang kali pipi jihan. Kebahagiaan itu tidak pernah ia rasakan sebelumya.


"Tapi lakukan dengan cinta ya mass.. " pintanya sebelum benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya.


"Aku janji, akan selalu memberlakukan mu dengan penuh cinta."


Perasaan ini, perasaan yang penuh cinta. Dan pada akhirnya malam itu adalah malam pertama bagi mereka berdua.


Dibawah rembulan malam yang indah. Dan sunyinya malam yang syahdu. Mereka benar-benar bersatu. Dan saling berjanji akan menghadapi segalanya bersama.

__ADS_1


__ADS_2