Tetangga Ku Super Ganteng

Tetangga Ku Super Ganteng
Teka teki


__ADS_3

cia berangkat menuju toko dengan motornya, ia tidak ingin berfikiran negatif. karna ia percaya dengan orang yang sudah bekerja dengannya sampa sejauh ini. sampai toko, suasana sudah tenang namun saat cia masuk, ia melihat nisa seperti gelisah. seperti sedang menutupi sesuatu, antara takut tapi ia juga bingung. cia menyadari itu tapi ia tak mau membuat nisa tertekan.


"ada apa?" tanya cia


"ada beberapa barang yang hilang mba" jawab lisa


"apa saja yang hilang?" tanya cia lagi


"ada beberapa potong baju terbaru kita mba yang mau di display, juga beberapa sepatu kulit yang baru dikirim dari tempat produksi" jawab adel


"baiklah, tidak usah dipikirkan. mungkin nisa salah mendata atau kita kurang hati hati. semoga kedepan tidak terjadi hal seperti ini lagi"


"ayo lanjut kerja"


tanpa cia sadari, mia dan adel melempar senyuman tak terlihat. cia turun menuju lantai bawah.


"nisa nanti pulang duluan ya, tolong kerumahku dulu. bilang teman temanmu kalau kamu mau ketemu ibumu yang pulang kampung dan sudah saya izinkan" titah cia


"baik mba"


"saya pulang dulu"


sebelum pulang, cia mampir ke kedai kopi dekat taman untuk menenangkan pikirannya. setelah memesan kopi favoritnya, cia mencari tempat duduk yang dekat dengan kolam ikan. cia duduk memikirkan masalah ini. karna sebenarnya tidak satu dua kali cia sadar hal ini namun cia tak cukup bukti untuk menuduh.


saat cia sedang menikmati kopi juga pikirannya, seseorang terlihat mendekati meja cia.


"hey cia" sapa orang tersebut


"eh mas brian?"


"ngapain bengong? mikirin apa?"


"gakpapa kok mas" jawab cia dengan senyum terpaksa


"oh yaudah kalo gitu. mas pesan minum bentar"


cia hanya m3ngangguk kemudian kembali melamun. brian bukan tak sadar atau tak peka. namun ia tak cukup nyali untuk bertanya lebih masalah cia, walaupun sudah dekat namun tidak sampai sedekat itu. brian kembali duduk didepan cia


"kalo ada yang dipikirin ngomong aja, siapa tau mas bisa bantu"


"mas, mau tanya deh"


"tanya apa hm?"


"mas kalo udah percaya sama orang trus dikhianatin gimana?"


"ya tinggalin aja, ngapain kamu masih percaya dan masih baik sama dia. dia aja toxic buat kamu"


"tapi mereka udah kerja sama cia lama mas"


"ya itu konsekuensi, dia kerja kamu kasih kepercayaan ke dia kok malah dia manfaatin kebaikanmu" jelas brian


"eh bentar, kamu ngomongin karyawan kamu ya?"


"ehh emmm, i iya mas hehe"


"gakpapa lagi gak usah kasian. orang kaya gitu emang harus tau mana benar mana salah. kamu buka toko buat cari untung bukan kasih peluang mereka buat main curang ci"


"iya sih mas, cuma aku gatau gimana caranya ngomong ke mereka. mana mungkin aku tuduh tanpa bukti mas?"

__ADS_1


"bentar deh mas boleh liat foto karyawan kamu gak?"


"buat apa mas?"


"liat aja sih boleh kan?"


"bentar" cia merogoh tas slempangnya untuk mengambil ponsel kemudian mencari foto karyawannya saat berfoto bersama didepan toko


"ini mas" cia menujukkan foto karyawannya


"aku tau siapa dalang dari masalahmu"


" maksud mas?"


brian membuka ponselnya mencari rekaman waktu itu dan cia mendengarkannya. betapa kagetnya cia saat mendengar jelas siapa dibalik suara twrsebut


"astaga, mas boleh kirim rekaman ke ponselku?"


"bisa, apa benar mereka karyawanmu?"


"iya mas mereka memang benar karyawanku"


"sudahlah, manusia biasa seperti ini. dikasih hati malah seenaknya. semua keputusan ada dikamu. kamu mau negur atau memecat mereka itu hakmu. pikirkqn baik baik"


"mas balik dulu ya. banyak doa dikasih sabar biar ambil keputusan gak gegabah"


cia menjawab dwngan senyumannya.


cia pulang kerumah kemudian langsung masuk ke dalam rumah. ayah yang sedang membaca koran di teras heran


"tumben cia diem aja"


cia kekamar untuk mandi kemudian memakai kaos oversize miliknya dan hotpants hitam. entah mengapa cia ingin menemui ayahnya. ia turun menuju teras sekalian menunggu nisa


"ada apa?"


"pasti ada masalah"


"coba cerita ayah"


cia menceritakan masalahnya pada ayah. juga rekaman dari brian, pengakuan nisa semua ia ceritakan pada ayah.


"menurut ayah, brian benar. semua kembali di kamu, terkadang kamu tidak harus mengasihani mereka. coba lihat, karna kamu yang selalu "gapapa deh" itu mereka jadi makin seenaknya kekamu"


"tapi cia gak enak yah, apalagi cuma modal rekaman dan perasaan cia. cia gak mungkin bawa nisa di masalah ini. dia datang dari kampung. disini numpang, takutnya nanti dia dikira ngadu ke cia yah"


"kamu gak pasang cctv?"


"engga yah"


" kenapa gak pasang. padahal itu penting"


"ya soalnya menurut cia, cia percaya sama karyawan cia gak mungkin mereka melakukan hal buruk kan yah"


"namanya juga manusia ci, kita gak tau lengahnya orang. apalagi manfaatin kebaikan kita, kelonggaran kita. buat pelajaran, percaya sama orang boleh tapi tetep pakai batasan"


"iya yah"


cia masih berbincang diteras kemudian terdengar suara motor didepan gerbang

__ADS_1


"permisi"


"iya, sebentar"


cia berjalan membukakan gerbang,


"eh nisa udah dateng"


"iya mba hehe. maaf ya mba soalnya tadi masukkin barang baru dateng dulu hehw"


"iya gakpapa, ayo masuk"


"diteras aja mbak ngadem habis angkat angkat barang"


"oh yaudah, bentar ya. duduk dulu deh"


ayah cia sudah masuk rumah dari tadi, jadi nisa duduk diteras sendiri sembari menunggu cia membuat minuman. cia membawa beberapa camilan dan minuman ke teras untuk teman mengobrol


"duh mba, malah ngrepotin. semuanya dibawa keluar gini makanannya"


"ih gapapa kali, lagian jarang jarang loh kamu main kesini kan"


"iya sih mba. oiya mba kalo boleh tau kenapa ya mba cia suruh nisa kesini? nisa masih boleh kerja di tempat mba cia kan?"


"iya masih boleh kok, kenapa emang gak boleh? kan kamu gak ngapa ngapain"


"hehe iya juga sih mba"


"kamu kenapa gugup? kenapa tegang? kamu tau sesuatu?"


"eee.... gimana ya mbak ngomongnya"


"gakpapa kamu jujur aja tentang apa yang kamu tau selama ini lagian, mba juga gak akan bawa bawa kamu kok. mba udah bawa bukti. mba cuma mau tau dari kamu biar mba nggak salah ambil keputusan"


" sebenernya tuh mereka udah lama mbak kaya gini, cuma kelihatannya mereka ambil buat diri sendiri. bukan buat dijual lagi, trus lama lama manipulasi harga juga. saya bukan gak tau, malah saya diajak tapi saya gakmau mba. emak saya dikampung sakit. kalo saya kirim uang haram, gimana kondisi emak saya nanti kalo makan uang haram mba"


"lagian saya terbantu banget, dikota besar merantau bingung mau kemana tiba tiba ketemu mba cia langsung diajak kerja, padahal mba sendiri belum kenal siapa saya. saya cuma mau bales budi mba. kalo kata mereka saya munafik, enggak juga kok mba. lagian saya udah bersyukur bisa kerja, kirim uang ke emak, masih dapet bonus juga, kerja pun ga berat cuma ngangkat barang itupun ga berat, sama ngemas baju yang mau dikirim hari ini aja"


"mereka itu cuma iri sama kebaikan mba cia, kalo boleh jujur mah gaji dari mba cia sebenernya udah lebih dari cukup kok mba. mereka mungkin tamak mba. maaf ya mba, nisa baru jujur sekarang"


"gakpapa nis, mba tau kamu takut buat jujur" jawab cia dengan senyum lega nya


"mba ga marah kan? saya cuma takut mereka nuduh balik saya mba"


"ga akan kamu tenang aja, yang penting saya tau dari kamu"


"saya sama lisa diem mba, kita berdua soalnya orang susah. kalo kita ketahuan nyuri gitu, nanti kita mau kerja dimana? cari kerja pas pandemi gini susah mba. sudah syukur kerja gak panas panasan, gak kotpr kotoran, gaji juga lumayan, udah enak lah mba"


"yaudah makasih ya sudah jujur sama mba, ayo diminum dulu kwburu mwncair esnya"


"iya mba"


mereka pun mengobrol sampai petang kemudian nisa pamit pulang


janlup like, komen yaw guizeeee


maaf monoton hehe


seruuu kok ceritanyaaa tungguin yaaa

__ADS_1


__ADS_2