
cia pulang kerumah dengan perasaan gundah. otaknya tak berhenti memikirkan brian. namun didalam hatinya ada rasa takut, takut kejadian 3 tahun silam kembali menimpanya. saat ia sudah jatuh hati dengan sungguh sungguh, ternyata hanya dianggap lelucon. apalagi brian yang terlihat sudah matang dibanding cia membuat cia semakin ragu.
disaat yang sama. brian dirumah malah tengah memikirkan kata kata sang mama yang memintanya untuk segera menikah. sebenarnya sikap mama irene sangat wajar sebagai orang tua. usia yang semakin tua membuat mama irene sering kesepian, ia ingin brian segera menikah dan menimang cucu agar suasana mansion kembali ramai. sikap mama irene yang sedikit berlebihan sebenarnya bermaksud untuk tujuan baik kehidupan anak anaknya. anna yang memasuki kehidupan kuliah membuatnya sibuk melakukan kegiatan kampus.
"argghhhhh, mama kira mencari istri semudah itu" brian bermonolog menumpahkan kekesalannya
tak lama berbicara sendiri, brian mulai mengantuk dan tidur.
keesokan harinya, brian telah bersiap. hari senin adalah awal minggu yang seharusnya dimulai dengan semangat membara selepas libur. namun berbeda dengan brian, ia terlihat sedikit kusut karna memikirkan perkataan mamanya. ia keluar menuju tempat memarkirkan mobilnya di garasi rumah. menghidupkan mesin kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan rata rata membelah kemacetan jalan kota pagi ini.
sesampainya dikantor, semua karyawan brian terlihat menunduk saat sang presdir datang. brian segera menuju lift khusus. belum sampai lift, nino sudah didepan brian untuk memencet tombol lift.
"selamat pagi pak" sapa nino
"ya, apa kegiatanku hari ini?" tanya brian
"hari ini anda ada rapat dengan pemegang saham, kemudian ada pertemuan dengan perusahaan dari luar negeri pukul 2 siang pak" jelas nino
brian hanya menjawab dengan mengangguk
"ck, si bos kalo udah keliatan dingin plus muram gini pasti endingnya ke klub lagi nih" batin nino
marahari mulai tenggelam diperaduannya, menampilkan sinar jingga di langit sore ini. brian telah selesai berkutat dengan pekerjaannya, ia berniat ke klub untuk menenangkan pikirannya. brian keluar dari ruangan menuju parkir khusus petinggi perusahaan kemudian keluar kantor menuju klub yang biasa ia singgahi.
sampai disana ia memesan minuman beralkohol yang biasa ia teguk ketika banyak masalah, toleransinya terhadap alkohol yang sangat tinggi membuat brian tak akan teler walaupun minum banyak.
"lagi banyak masalah bro?" tanya bartender yang biasa melayani brian
" iyalah, biasanya gue kesini juga pas pusing gini. kalo gak mending gue tidur dirumah, ngisi tenaga buat ngadepin idup besok haha" jawab brian asal
" yaudah bro , enjoy"
__ADS_1
dikejauhan ia seperti melihat bayangan cia masuk ke room vip. namun ia menepis pikirannya. mana mungkin anak baik baik seperti cia masuk ke klub begini, apalagi masuk ke room vip. namun ia melihat dengan jelas bahwa itu cia membawa paperbag, kemudian membuntuti cia. tak lama, terdengar suara pecahan gelas dari dalam room tersebut, brian langsung masuk dan betapa terkejutnya. melihat cia yang dilecehkan seorang pria dengan keadaan menangis. tak berpikir panjang, brian langsung menghajar pria tersebut.
"brengsekkkk" pekik brian kemudian tak berhenti menghajar pria tersebut
"siapa lo? ngapain ikut campur urusan gue?" seru pria itu yang ternyata adalah aldo
"gue? gue pacarnya sekarang kenapa? kenapa lo gangguin pacar gue dasar b*jingan" brian langsung meninju bagian pipi aldo yang sebenarnya sudah sangat babak belur
dilihatnya aldo sudah terkapar dan tidak bisa bangun lagi, brian mengajak cia keluar klub. didalam mobil masih dalam keadaan sunyi namun terdengar sayup sayup suara cia yang menangis dalam diamnya. ia begitu malu, bertemu pria yang membuat hatinya berdebar namun dalam keadaan memprihatinkan.
"sudah tenang?" tanya brian
cia hanya menjawab dengan anggukan
" baiklah sekarang ceritakan, kenapa gadis lugu sepertimu datang ke klub?"
cia tidak bisa menjawab, lidahnya terasa kelu untuk mengucap kata.
"yasudah kalau kamu gak mau cerita gakpapa, sekarang kita pulang. tenangkan pikiranmu" tutur brian lagi
"sebenarnya........" cia memulai ceritanya
"ya?" sahut brian
"sebenarnya aku tadi kesana untuk mengantar baju pesanan kak aldo, dia menelfonku untuk mengantarkan baju perempuan untuk pacarnya yang katanya kotor ditempat itu. aku sangat senang karna ia membeli beberapa potonh dress di tokoku. namun ia meminta aku untuk mengantar sendiri, karna tadi aku ke toko diantar ayah jadi aku ke tempat itu menggunakan jasa gr*b. sampai disana aku sedikit kaget kenapa tempatnya remang remang sekali, bukan tidak tau tentang club. tapi aku berfikir aku ketempat itu hanya mengantar baju. sampaui diruangan yang dikatakan kak aldo, aku malah ditarik kepangkuannya dan.....huhuhuhu" jelas cia kemudian menangis lagi
"jadi kamu tadi dijebak? yaampun cia kenapa kamu ceroboh? harusnya kamu menitipkan barang itu pada penjaga dan tidak usah masuk" omel brian
"tapi aku gaktau mas" jawab cia sebal karna curhatannya malah ditanggapi dengan omelan
"yang sudah ayo dilupakan, untung kamu belum di apa apain walaupun kamu sudah dilecehkan. pria brengsek sepertinya memang harus mendapat pelajaran, dasar gila" maki brian
__ADS_1
brian melajukan mobilnya menuju arah pulang, sebelum itu ia mampir kw restoran untuk singgah makan sebentar.
" ayo turun makan dulu, kelihatannya kamu belum makan" ajak brian
" iya mas makasih dan maaf merepotkan"
cia dan brian berjalan beriringan seperti pasangan yang sangat serasi. stelah duduk dan memesan makanan,
"oh iya aku belum memberi kabar ayah, pasti ayah khawatir. aku kirim pesan ke ayah dulu biar ayah gak mencariku" gumam cia
stelah mengirim pesan pada ayahnya, pesanan makanan mereka datang. kemudian cia dan brian makan dalam diam karna brian sangat tidak suka saat makan malah mengobrol. selesai makan, mereka bergegas untuk pulang karna jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam.
sampai didepan rumah cia, cia melepas seat belt kemudian turun dari mobil.
"makasih ya mas sudah menyelamatkan aku, aku swngat berhutang pada mas brian. terimakasih juga buat tumpangannya juga traktiran makannya" ucap cia tulus dengan senyum manisnya
" iya sama sama, mas pulang dulu ya dahh"
cia melambaikan tangannya. karna rumah brian hanya didwpan rumahnya, ia melihat brian sampai keluar mobilnya. kemudian kembali melambaikan tangan dan masuk rumah.
dikamar, cia jadi senyum senyum sendiri mengingat brian.
"mas brian sudah seperti pangeran berkuda yang menyelamatkan aku dari si brengsek aldo itu."
mungkin sebagai tanda terimakasihnya ia akan mengantar sarapan untuk brian besok
"ide bagus, besoo aku akan mengantar sarapan untuk mas brian saja"
tak sabar menunggu hari esok hingga cia terlelap tanpa mandi terlebih dulu
penasaran besok ada apa?
__ADS_1
janlup like dan komen donggg
udah up 1000 kata ni