
Hari pertama Cia dan Brian jadian sangatlah membahagiakan. Cia pulang bersama orang tuanya karna nanti Brian akan menjemputnya untuk bertemu mama Irene.
Sesampainya di mobil,
"gimana?" tanya ibu
"apanya bu?" sahut Cia
"ya Brian lah masa ayah" jawab ibu
" ya gak gimana gimana, kok kayaknya ga adanyang kaget sih ibu sama ayah?" tanya Cia penasaran
"ya gak kagetlah, orang nak Brian sudah minta izin sama ayah ibu kerumah" sahut ayah
"emang iya yah? kapan?"
"pas kamu main kerumah Mela, dia kerumah kan malemnya ketemu kamu. pas itu dia minta izin mau lebih dekat sama kamu. ya kalo ayah sih setuju aja, yang penting kuliah selesai, kerja mah bisa dipikir barengan. ya kan bu?"
"iya ayah benar, lagian keliatannya nak Brian serius kok sama kamu. dia gak main main. orangnya sopan juga. Ibu sih setuju aja tinggal gimana kamu yang ngejalanin aja" ucap ibu
"emm, Cia tuh bingung bu, yah. Cia suka sama mas Brian tapi Cia takut ditolak sama keluarga mas Brian soalnya beritanya itu keluarga mereka dari konglomerat disini yah"
"kalo masalah itu biar Brian yang berjuang, dan kamu dukung dia dari belakang. lagian kalo jodoh, walaupun beda kasta tetep ketemu kok" jelas ayah
"iya yah" jawab cia akhirnya
Mereka melajukan mobilnya pulang kerumah.
Nino
Setelah mengantar perempuan tadi pulang, Nino kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya yang terbengkalai.
"lucu juga cewek tadi, cantik lagi"
"tapi judes banget" Nino bermonolog di perjalanan menuju kantor
"ah apaan sih malah mikirin cewek. kerjaan tuh noooo kerjainnn" Nino memukul kepalanya sendiri agar tersadar
Dikantor, Nino menuju ruangannya yang berada di samping ruangan Brian. Ia malah tidak begitu fokus karna memikirkan perempuan tadi.
Tanpa Nino sadari, Brian telah masuk ruangannya dan memandang Nino bingung
"kamu kenapa senyum senyum?" tanya Brian
"astaga tuan, maaf saya melamun jadi senyum senyum sendiri tanpa sadar" kilah Nino
"halah kamu pasti lagi mikirin cewek kan?"
"tidak tuan"
"lagian gak papa ko No, daripada punya asisten jomblo nanti nungguin saya pacaran trus ngebayangin mending kamu punya pacar juga No" ucap Brian sambil tersenyum teringat Cia
"baru juga jadian udah sebucin ini si bos. gimana kalo jadi nikah" batin nino
__ADS_1
"kamu ngebatin saya ya No?" tanya Brian dengan nada dinginnya
"ah enggak kok tuan maaf"
"yaudah nanti kerjaan kamu kirim email saya aja. saya mau ke mansion dulu nemuin mama"
"baik tuan"
Akhirnya Brian keluar ruangan Nino dan ia bisa bernafas lega karna hampir ketahuan memikirkan perempuan yang mengganggu konsentrasinya.
Brian
Brian melajukan Pajero nya menuju mansion untuk mengabari mamanya bahwa hari ini ia akan membawa calon istri pilihannya. Namun, sayang mama irene sedang mengunjungi kerabat orangtuanya di luar negeri. Brian sedikit kecewa namun ia berfikir masih ada hari lain, nanti ketika mamanya pulang, ia akan segera mengenalkan Cia. Brian langsung menelfon Cia
"halo mas?"
"halo ci, gini mas mau ngabarin kalo mamanya mas lagi keluar negeri, belum tau pulangnya kapan. jadi hari ini acara kerumah mas diundur dulu gakpapa kan?"
"gak papa kok mas, bisa diganti hari lain"
" yaudah, maaf ya. tapi nanti mas mau main kerumah. jalan jalan aja gimana"
"jalan kemana mas?"
"ya kemanalah terserah kamu, mas ngikut"
"yaudah nanti mas jemput aja"
"iya siapp udah dulu ya, mas mau balik"
telpon pun tertutup. Brian mendengar nada bicara Cia yang kecewa karena ia tidak jadi bertemu dengan mama irene. Namun, Brian nanti juga akan menjelaskan lagi agar tidak ada kesalahpahaman.
Cia
Cia baru selesai mandi kemudian menerima telfon dari kekasih nya. Cia sedikit kecewa karna hari ini tidak jadi bertemu dengan mama Brian. Tak hanya karna harapannya untuk lekas mendapat restu jadi tertunda, namun ia juga takut mama Brian tak menerimanya masuk di keluarga Brian karna statusnya yang biasa saja.
Akhirnya menjelang sore, Brian datang kerumah dengan dandanan santai khas seorang lelaki yang akan berkencan. Setelah berbincang dengan ayah, Brian dan Cia akhirnya jalan jalan. Mereka memutari kota, berjalan jalan ditaman, membeli eskrim layaknya muda mudi yang sedang kasmaran. Akhirnya Brian pun mengajak Cia ke suatu tempat.
"Loh kok kesini mas?"
"ngakpapa, aman kok. mas gabakal ngapa ngapain kamu sebelum kita disahkan secara agama dan negara"
"semoga saja mas brian tidak macam macam" batin cia
Mereka naik kelantai teratas tempat unit apartemen milik Brian. Ya, mereka pergi ke apartemen Brian. dahulu, apartemen ini Brian gunakan untuk minum minum bersama temannya ketika cuti dari kuliahnya diluar nwgeri, atau sekedar mencari ketenangan. namun, karna sekarang Brian sibuk dengan pekerjaannya. juga ia sudah menempati rumah yang dibelinya tepat didepan rumah Cia. jadi apartemen ini jarang ia kunjungi. namun, malam ini Brian ingin mengajak Cia melihat pemandangan kota dari apartemennya.
Cia membuka gorden penutup kaca balkon apartemen Brian. Cia begitu takjub dapat melihat kotanya dari atas apartemen. lampu dari setiap bangunan, lampu kendaraan, serta langit yang cerah bertaburan bintang menambah keindahan malam ini. Brian mendekat kemudian memeluk Cia dari belakang. Cia sedikit kaget, namun ia menikmati pelukan Brian yang begitu menenangkan.
"suka?" tanya Brian
"banget mas" jawab Cia
"mas juga" ucap brian
__ADS_1
"juga apa?" tanya cia
"suka kamu dan pemandangannya. sangat sangat indahh" gombal Brian
"dih gombal"
"kok gombal sih"
"ya habis mas sih"
"mas kenapa coba"
"gakjadi ah."
"mas dulu juga suka disini buat cari ketenangan, buat merenung sendiri. tapi sekarang udah banyak tanggungan. mana sempat santai santai disinu tiap hari. bisa istirahat cukup aja udah syukur" jelas Brian sambil menghirup harum tubuh Cia dari pundaknya yang sedikit terkespos karna Cia memakai dress dengan model off shoulder yang simple.
"tapi mas juga harus istirahat loh. kasihan badannya. dipake kerja terus nanti drop" jawab cia dengan sedikit geli dengan perlakuan brian
"iya ciaaa"
kemudian Brian memutar badan Cia menjadi berhadapan.
"kenapa mas?"
"nggak papa ci, suka aja liat wajah kamu. cantik"
"ih mas bisa aja. mas tuh ga ada romantisnya. masa udah pacaran panggilnya ttep cia"
"trus mas enaknya panggil apa?"
"ya sayang kek, baby..." ucapan cia terpotong
Cuppp...
Brian mencium bibir Cia karna gemas dengan ocehan Cia. Cia masih mencerna kejadian barusan dan mematung ditempat. namun, Brian merasakan candu ketika mencium bibir manis Cia. Brian langsung ******* bibir Cia kembali. Kali ini cia benar benar terbuai dengan ciuman Brian yang begitu lembut. Brian benar benar menciumnya dengan perasaan tanpa nafsu, menyalurkan perasaannya yang begitu besar. Cia yang juga belum mahir berciuman mencoba membalas ciuman brian walaupun masih kaku. keduanya sama sama merasakan getaran pada hatinya. jantungnya juga berdetak tak karuan. Setelah merasakan Cia mulai kehabisan oksigen, Brian melepas ciumannya. Cia sangat canggung dan salah tingkah,
"emh mas, aku lapar bisa pesankan makan kesini, atau kita cari makan diluar?"
"makan disini saja, aku udah pesen kok tadi bentar lagi pasti sampai. selesai makan, aku anter kamu pulang"
"iya mas"
Cia masuk kedalam dan duduk di kasur kamar Brian sambil ttap melihat pemandangan dari kaca jendela. karna balkon apartemen terletak didepan kamar. Untuk menghilangkan kecanggungam antara keduanya, Brian memilih menunggu makanan diluar kamar sambil mengecek pekerjaan kantornya. Tak lama, pesanan makanan mereka pun datang. Mereka pun makan di balkon, karna balkon apartemen Brian dilengkapi meja dan kursi untuk bersantai juga makan.
"makan dulu mas" ajak cia
"iya sayang" ucap brian, cia tersenyum malu
Mereka pun makan dengan tenang
"makanannya enak mas, apalagi cakenya, manis banget. spill tokonya dong mas cia mau beli besok ah" ucap cia dengan antusias
"manis juga bibirmu" jawab brian spontan membuat wajah cia memerah bak tomat rebus
__ADS_1
Aku juga baper looo massss
janlup like komen guizeee