
Wina adalah seorang gadis yang telah mencapai usia remaja, tetapi hidupnya terasa sangat berbeda dari kebanyakan remaja lainnya. Dia lahir dari keluarga Muslim, dengan orang tua yang memiliki kekayaan berlimpah. Namun, meskipun memiliki Islam sebagai agama resminya di KTP, agama ini hanyalah label formal dalam hidup mereka.
Orang tuanya, yang merupakan pengusaha kaya, tidak pernah mengajarkan kepadanya tentang praktik-praktik agama, terutama shalat. Orang tuanya hanya sholat saat mereka sempat. Wina hanya tahu tentang teori shalat dari pelajaran agama di sekolah, tapi tidak pernah melakukannya.
Sehari-hari, Wina sering berkumpul dengan teman-temannya yang juga berasal dari keluarga kaya. Mereka sering berbicara tentang hal-hal duniawi, seperti pakaian, tas, dan mobil mewah. Kehidupan mereka penuh dengan pesta, pertemuan sosial, dan hiburan yang mahal. Mereka jarang memikirkan agama atau nilai-nilai spiritual.
Suatu hari, Wina dan teman-temannya sedang duduk di sebuah kafe mewah di pusat perbelanjaan. Mereka sedang asyik berbicara tentang rencana liburan mereka ke luar negeri dan berapa banyak uang yang akan mereka habiskan untuk berbelanja selama perjalanan. Wina mencoba tersenyum dan ikut dalam percakapan mereka, tetapi dalam hatinya, dia merasa ada yang kurang.
Azan berkumandang dengan merdu, menyambut waktu shalat Dhuhur yang telah tiba. Suara azan itu terdengar dari pengeras yang terpasang di menara surau kecil yang berdiri di seberang jalan dari kafe tempat Wina dan teman-temannya duduk. Tiba-tiba, suasana di sekitar mereka berubah.
Dari jendela kafe, mereka bisa melihat bagaimana orang-orang mulai berbondong-bondong menuju surau itu. Beberapa orang berjalan cepat sambil membawa sajadah mereka, sementara yang lain berlari-lari kecil untuk tidak ketinggalan waktu shalat. Beberapa anak-anak kecil bahkan berlarian dengan riang menuju surau, seakan-akan mereka menantikan momen ini dengan gembira.
Pemandangan itu, entah kenapa, membuat hati Wina terenyuh. Dia merasa ada sesuatu yang sangat istimewa dalam momen ini. Semakin banyak orang yang bergerak menuju surau, semakin mendalam perasaannya. Seakan-akan ada sebuah panggilan yang begitu kuat dalam hatinya, meskipun dia belum sepenuhnya memahaminya.
Subuh itu, biasanya Wina masih tertidur lelap, entah mengapa dia terbangun. Wina duduk di tepi tempat tidur di kamarnya yang sepi. Pakaian tidurnya yang longgar telah digantungkan di pintu lemari, dan dia duduk dengan canggung di atas lantai yang sejuk. Dia merasa ada yang berbeda dalam dirinya pagi ini, seperti ada suatu dorongan dalam dirinya yang membuatnya ingin melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
Dia menatap lantai dengan ekspresi penuh pertimbangan. Tiba-tiba, dia merasa seperti ada yang menariknya untuk berdiri. Hatinya berdebar-debar ketika dia berusaha bangkit. Wina bergerak menuju kamar mandi dengan langkah ragu-ragu. Air melimpah ada di sana, seperti yang sudah dia lihat begitu sering dalam hidupnya. Tetapi pagi ini, itu adalah sesuatu yang berbeda baginya.
__ADS_1
Dia mencuci kedua tangannya dengan hati-hati, menggigil sedikit saat air yang sejuk mengalir di antara jemarinya. Setelah selesai mencuci tangan, dia mengambil lalu berkumur. Tetapi saat itu juga, ketika tetesan pertama air itu menyentuh bibirnya, Wina tidak dapat menahan perasaan yang meluap dari dalam hatinya.
Air wudhu itu seperti menyentuh sebuah titik sensitif dalam dirinya. Saat pertama-tama merasakannya, dia merasakan kelembutan, kehadiran, dan rasa damai yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia merasa dirinya tersentuh oleh sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri. Air wudhu yang mengalir di tangannya, juga di dalam kumuran mulutnya seolah-olah membuka mata batinnya, mengingatkannya pada keagungan Allah yang maha Kuasa.
Belum sempat melanjutkan rukun wudhu selanjutnya, Wina mulai menangis, tidak dapat menahan tangisannya yang mendalam. Tangisannya penuh dengan campuran rasa penyesalan, kerinduan, dan keinginan untuk mendekatkan diri pada Allah. Dia merasa malu dan bersalah karena selama ini dia tidak pernah melaksanakan shalat, tidak pernah mencari ilmu agama, dan tidak pernah memahami makna sejati dari Islam.
Tetapi di saat yang sama, tangisannya juga mengandung harapan dan tekad yang baru. Dia merasa bahwa pagi ini adalah awal dari perubahan dalam hidupnya. Dia ingin belajar, ingin memahami, dan ingin mendalami agamanya. Dia ingin menjalani hidup yang lebih bermakna dan mendekatkan diri pada Allah.
Wina kembali ke kamarnya dengan wudhu yang telah selesai, masih dengan air mata di matanya. Dia duduk di tepi tempat tidur dan mulai berbicara pada dirinya sendiri, "Aku tahu aku telah salah selama ini. Aku tahu aku belum menjalankan agamaku dengan benar. Tapi aku ingin memperbaiki diri. Aku ingin belajar dan mengenal Allah lebih baik. Aku ingin shalat."
Suasana alam sekitar cerita juga ikut berubah seiring perjalanan Wina dalam menjalani agamanya. Awalnya, saat dia merasa bingung dan terpisah dari Allah, alam sekitarnya terasa sepi dan suram. Namun, seiring dengan perubahan dalam dirinya, alam sekitarnya juga tampak berubah.
Saat dia meneliti lebih dalam melalui internet, dia merasa sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Namun, dia tidak tahu harus mulai dari mana. "Mungkin saya harus mencari jawabannya di sini," gumamnya kepada dirinya sendiri. Dia mengetik kata kunci 'makna wudhu dalam Islam' di mesin pencarian dan menunggu hasilnya.
Seiring berjalannya waktu, jawaban mulai muncul di layar komputernya. Artikel-artikel yang dia temukan memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang makna wudhu dalam agama Islam. Wudhu, ternyata, lebih dari sekadar ritual pembersihan fisik. Ini adalah tindakan spiritual yang melambangkan kesucian dan persiapan diri sebelum beribadah kepada Allah. Wina merasa terkesan dengan penjelasan ini.
Namun, masih ada banyak hal yang harus dia pelajari. Dia mencari artikel-artikel lain yang menjelaskan tentang shalat, salah satu ibadah utama dalam Islam. Dia membaca tentang lima waktu shalat sehari-hari, gerakan-gerakan shalat, dan pentingnya shalat dalam kehidupan seorang Muslim. Semua ini adalah informasi baru bagi Wina, dan dia merasa semakin terpikat oleh agama yang jarang dia eksplorasi sebelumnya.
__ADS_1
Tiba-tiba, pintu kamarnya perlahan terbuka, dan ibunya masuk. Meja rias di sudut kamar yang biasanya digunakan oleh ibunya untuk berdandan, kini digunakan sebagai tempat Wina untuk mencari ilmu agama. Ibunya, bernama Sarah, adalah seorang wanita cantik dan elegan yang sering terlihat sibuk dengan urusan bisnisnya.
Sarah melihat putrinya dengan mata heran. "Wina, apa yang sedang kamu lakukan?"
Wina menoleh dan tersenyum lembut. "Ibu, aku sedang mencari informasi tentang Islam dan wudhu. Aku merasa perlu memahami agama kita dengan lebih baik."
Sarah terkejut dengan keputusan putrinya, tetapi dia merasa bangga dengan niatnya. "Itu adalah langkah yang baik, sayang. Agama adalah bagian penting dari kehidupan kita. Tetapi kenapa tiba-tiba kamu tertarik?"
Wina menjelaskan pengalamannya pagi itu, bagaimana air wudhu yang menyentuhnya membuatnya merasa berbeda. Dia juga menceritakan perasaannya yang kuat tentang panggilan dalam hatinya untuk mendekatkan diri pada Allah. Sarah mendengarkan dengan penuh perhatian, merasa terharu oleh perubahan dalam putrinya.
"Sayang, aku sangat mendukungmu dalam perjalanan ini," kata Sarah dengan lembut. "Kamu tidak perlu merasa sendirian. Aku akan mencari buku-buku tentang Islam dan membantu kamu belajar lebih lanjut."
Wina tersenyum bahagia. "Terima kasih, Ibu. Aku benar-benar ingin memahami dan menjalani agama kita dengan baik."
Selama berhari-hari berikutnya, Wina dan ibunya mulai belajar bersama. Mereka membaca buku-buku agama, mendengarkan kuliah online, dan bahkan pergi ke masjid setempat untuk mengikuti kelas agama. Selama waktu ini, hubungan mereka semakin erat, dan Wina merasa bersyukur memiliki dukungan ibunya.
Suasana alam di sekitar rumah mereka mencerminkan perubahan dalam hidup Wina. Taman yang dulunya kosong dan terlantar mulai mendapatkan perawatan. Sarah dan Wina sering berjalan-jalan di taman tersebut, membicarakan agama dan makna hidup. Pepohonan yang dulunya tampak mati, sekarang mulai menghijau dan mekar dengan indah.
__ADS_1
Wina tidak hanya mendapatkan pemahaman tentang Islam, tetapi juga mendapatkan kedalaman spiritual yang membuatnya merasa lebih hidup daripada sebelumnya. Ia mulai merasakan kedekatan dengan Allah dalam setiap wudhu yang dia lakukan, dalam setiap gerakan shalat yang dia lakukan. Dan perjalanan spiritualnya masih akan berlanjut, membawanya pada petualangan yang penuh makna dan penemuan diri yang lebih dalam.