
Di sebuah sore yang cerah di kota metropolitan, cahaya matahari menyinari apartemen mungil Wina. Keheningan seketika terpecah ketika Wina duduk di depan televisi yang besar, mata terpaku pada berita yang tengah disiarkan tentang eskalasi konflik di Palestina. Suara reporter yang serius mengisi ruangan, menciptakan atmosfer tegang.
"Wina, kau melihat ini?" tanya ibunya, Maria, yang duduk di ruang keluarga sambil membawa secangkir teh.
Wina mengangguk, tidak mengalihkan pandangannya dari layar televisi. "Iya, Ibu. Ini sangat mengerikan."
Sebuah gambaran kota Gaza yang hancur dan wajah-wajah terluka yang muncul di layar membuat Wina merasa tak tahan. Suasana emosi yang tegang juga tercermin dalam ekspresi wajahnya. Dia mencoba menahan air mata yang hampir saja jatuh.
Maria duduk di sampingnya dan meletakkan tangannya di bahu Wina dengan lembut. "Ini adalah situasi yang sangat sulit, Nak. Bagaimana kamu merasa?"
Wina menarik nafas dalam-dalam sejenak sebelum menjawab, "Saya merasa terpanggil untuk melakukan sesuatu, Ibu. Ini bukan hal yang bisa kita abaikan."
Tiba-tiba, kucing kesayangan Wina, Marmut, melompat ke pangkuannya dan mulai menggeliat dengan penuh kasih sayang. Wina menyentuh lembut kepala Marmut dan tersenyum sedikit, merasa sedikit lebih tenang.
Maria dengan lembut berkata, "Kau selalu memiliki hati yang baik, Nak. Apa yang ingin kau lakukan?"
Wina menghentikan sentuhan pada Marmut dan menatap ibunya. "Saya melihat iklan tentang sebuah acara amal yang akan diadakan di kota ini. Mereka mencari relawan untuk membantu di daerah konflik. Mungkin saya bisa ikut."
Maria memahami kerinduan anaknya untuk bertindak. "Itu adalah ide yang baik, Wina. Tetapi kau harus sangat berhati-hati. Situasi di sana sangat berbahaya."
Wina mengangguk. "Saya tahu, Ibu. Tapi saya merasa tidak bisa hanya duduk di sini dan tidak melakukan apa-apa."
Beberapa jam kemudian, setelah berbicara dengan teman-temannya yang memberinya dukungan penuh, Wina mencari tahu lebih banyak tentang organisasi kemanusiaan yang akan mengadakan acara amal. Dia menemukan bahwa acara itu akan memberikan pelatihan khusus kepada para relawan, termasuk pelatihan pertolongan pertama dan bagaimana menghadapi situasi yang penuh tekanan.
Sementara Wina terus mendalami rencananya, langit di luar mulai berubah warna menjadi oranye keemasan saat matahari terbenam. Malam telah tiba dan Wina merasa semakin mantap dalam keputusannya.
Tak lama kemudian, Marmut menghampiri dan bergelung di pangkuannya. Saat dia membelai bulu lembut kucingnya, dia berbicara pelan pada Marmut, "Kau tahu, Marmut, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi aku merasa ini adalah panggilan hatiku. Aku harus mencoba melakukan sesuatu untuk membantu."
Marmut pura-pura mengantuk di pangkuannya, seolah-olah mengerti kata-kata Wina. Wina tersenyum dan memeluk Marmut dengan lembut, merasa hening dalam tekadnya untuk menjalani perubahan besar dalam hidupnya.
__ADS_1
Dengan cinta dan dukungan dari keluarganya serta kesetiaan dari Marmut, Wina siap untuk memulai perjalanan barunya sebagai seorang relawan dalam misi kemanusiaan di Palestina. Bagaimana perjalanannya akan berlanjut dan bagaimana pengaruhnya dalam konflik yang melibatkan dua bangsa yang terlibat, hanya waktu yang akan memberi tahu.
Wina masih duduk di depan televisi, terpaku pada berita konflik di Palestina yang terus berlanjut. Suasana dalam ruangan menjadi semakin tegang, dan gambar-gambar puing-puing bangunan yang hancur serta wajah-wajah warga yang menderita memberikan kesan mendalam tentang kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik tersebut.
Saat berita terus bergulir, tiba-tiba iklan yang berbeda muncul di layar. Iklan itu menampilkan anak-anak Palestina yang tersenyum, walaupun berada dalam kondisi yang sulit. Suara penyiar iklan dengan hangat berkata, "Apakah Anda ingin membuat perbedaan? Bergabunglah dengan kami dalam acara amal 'Bersama untuk Palestina' yang akan diselenggarakan oleh organisasi kemanusiaan kami."
Wina menarik perhatiannya dari berita dan beralih ke iklan ini. Gambar-gambar yang indah dari anak-anak yang tersenyum, meskipun terlihat lelah dan menderita, menggugah hatinya. Suara anak-anak yang bernyanyi dengan penuh semangat menggema di seluruh ruangan. Saat iklan berlanjut, detail acara amal tersebut dijelaskan, termasuk pelatihan dan pendidikan yang akan diberikan kepada para relawan.
"Saya harus melakukannya," gumam Wina sendiri, terinspirasi oleh gambaran anak-anak Palestina yang tak pernah kehilangan semangat.
Di sebelahnya, ayahnya, Budi, yang telah memperhatikan perubahan dalam sikap putrinya, berkata, "Ini adalah kesempatan besar, Wina. Kau bisa benar-benar berbuat sesuatu yang bermakna."
Wina memandang ayahnya dengan penuh harapannya. "Saya ingin ikut, Ayah. Saya merasa ini adalah panggilan hati saya."
Budi tersenyum bangga. "Kami akan selalu mendukungmu dalam keputusan ini."
Wina mengangguk dan menjawab, "Saya akan melakukan segala yang diperlukan untuk mempersiapkan diri, Ibu."
Marmut, kucing peliharaan kesayangan Wina, melompat ke pangkuan Wina, seolah-olah ingin memberikan dukungan dengan cara yang unik. Wina membelai Marmut dan merasa hangat dalam pelukan bulu lembutnya.
Beberapa hari kemudian, Wina mulai mencari informasi lebih lanjut tentang acara amal "Bersama untuk Palestina" dan organisasi kemanusiaan yang akan mengadakannya. Dia menemukan bahwa acara tersebut akan mencakup berbagai program, termasuk pelatihan pertolongan pertama, pengelolaan trauma, dan bantuan medis yang sangat diperlukan dalam situasi konflik.
Seiring berjalannya waktu, keputusan Wina semakin mantap. Dia memutuskan untuk mendaftar sebagai relawan dalam acara amal tersebut. Selama berhari-hari, dia berbicara dengan teman-temannya dan berbagi niatnya untuk ikut serta dalam misi kemanusiaan. Mereka memberikannya dukungan penuh, meskipun mereka juga merasa cemas mengenai keamanannya.
Wina juga mulai belajar tentang negara Palestina, budayanya, dan tantangan yang dihadapi oleh penduduk setempat. Dia merasa bahwa dengan memahami lebih dalam tentang situasi tersebut, dia akan lebih siap dalam perjalanan yang akan datang.
Ketika hari-hari berlalu dan waktu hingga acara amal semakin mendekat, Wina merasa semakin yakin bahwa ini adalah panggilan hatinya. Dia merencanakan perjalanannya ke Palestina dengan cermat dan mempersiapkan diri fisik dan mentalnya untuk tugas besar yang akan dia hadapi.
Saat dia melihat gambaran anak-anak Palestina di iklan tersebut, semangat mereka yang tak pernah pudar, dan mendengar dukungan penuh dari keluarga dan teman-teman, Wina merasa yakin bahwa dia sedang mengikuti panggilan kemanusiaan yang sejati. Ia siap untuk melakukan perubahan yang besar dalam hidupnya dan menjadi bagian dari upaya membantu mereka yang membutuhkan. Bagaimana perjalanannya akan berlanjut, dan bagaimana dia akan beradaptasi dengan realitas di lapangan, hanya waktu yang akan memberi tahu.
__ADS_1
Wina duduk di ruang tamu apartemennya, dikelilingi oleh beberapa teman dekatnya. Sebuah meja kopi diletakkan di tengah ruangan, di atasnya ada cangkir teh dan segelas air minum. Pada satu sisi ruangan, jendela besar memungkinkan cahaya matahari sore masuk, menciptakan suasana yang hangat meskipun mereka tengah membicarakan topik yang serius.
"Jadi, Wina, apa yang membuatmu yakin untuk pergi ke Palestina?" tanya Rani, salah satu temannya yang penasaran.
Wina menjawab dengan tekad, "Saya melihat berita dan melihat betapa mengerikannya situasi di sana. Saya merasa tidak bisa hanya menjadi penonton dan tidak melakukan apa-apa. Saya ingin memberikan bantuan, sekecil apapun, kepada mereka yang membutuhkan."
Teman lain, Irfan, mengangguk setuju. "Saya mengerti perasaanmu, Wina. Tapi, kita juga harus mempertimbangkan risikonya. Situasi di Palestina sangat tidak stabil, dan keamananmu harus menjadi prioritas."
Seketika, suasana di ruangan itu menjadi serius. Wina melihat ke wajah-wajah teman-temannya yang khawatir, dan dia menghargai perhatian mereka terhadap keputusannya.
"Eksplorasi situasi di sana cukup baik," kata Tessa, teman yang lain, "Dan apakah ada pelatihan atau persiapan khusus yang dapat kau ikuti sebelum pergi?"
Wina menjelaskan bahwa organisasi kemanusiaan yang mengadakan acara amal memiliki program pelatihan khusus untuk para relawan, termasuk pelatihan pertolongan pertama dan pengelolaan trauma. Dia juga merencanakan untuk belajar lebih banyak tentang negara Palestina, budayanya, dan tantangan yang dihadapi oleh penduduk setempat.
Temi, teman satu kampus Wina, mencoba menghadirkan sisi positif dalam percakapan, "Jika ada seseorang yang dapat mengatasi situasi ini dengan kepala dingin dan hati yang tulus, itu pasti kau, Wina. Kami yakin akan kemampuanmu."
Wina tersenyum berterima kasih pada teman-temannya. Mereka telah memberikannya dukungan moral yang sangat dia butuhkan dalam menghadapi keputusan berat ini.
Namun, Elena, teman satu kampus lainnya, masih merasa khawatir. "Wina, kita ingin kau tahu bahwa kami selalu ada untukmu. Jangan ragu untuk menghubungi kami jika kau membutuhkan bantuan atau dukungan kapan saja."
Saat Elena berbicara, Wina merasakan kehangatan persahabatan di antara mereka. Ia mengangguk dan mengucapkan terima kasih, "Terima kasih, kalian semua. Aku sangat menghargai dukungan kalian."
Mereka duduk bersama selama beberapa jam lagi, membahas detail persiapan yang perlu Wina lakukan sebelum pergi. Mereka menciptakan atmosfer yang penuh semangat dan kekhawatiran yang mendalam tentang keputusan Wina untuk pergi ke Palestina.
Di akhir pertemuan, Wina tahu bahwa keputusannya telah disokong oleh teman-temannya. Meskipun mereka memiliki ketakutan dan kekhawatiran mereka sendiri, mereka percaya bahwa Wina adalah orang yang tepat untuk mengikuti panggilan hati ini.
Saat teman-temannya mulai pulang, mereka memberikan Wina sebuah pelukan hangat dan berjanji untuk selalu mendukungnya dalam perjalanannya. Wina merasa terharu oleh cinta dan dukungan yang mereka berikan.
Ketika pintu ditutup, Wina duduk sendiri di ruang tamu, merenungkan percakapan tadi. Meskipun keputusan ini tetap berat dan penuh tantangan, dia merasa bahwa dengan dukungan teman-temannya, dia akan memiliki kekuatan dan tekad untuk melangkah maju menuju perubahan besar dalam hidupnya.
__ADS_1