
Wina duduk di ruang tamu rumahnya, menunggu dengan tegang. Hari ini adalah hari pertemuan pertamanya dengan Pak Surya, pria yang dijodohkan oleh ayahnya untuk menjadi calon suaminya. Wina merasa canggung dan tidak yakin tentang apa yang harus dia katakan atau bagaimana dia harus bertindak. Kedua orangtuanya berusaha memberinya semangat, mengatakan betapa besar keuntungan finansial yang akan didapat keluarga mereka jika pernikahan ini terjadi.
Ketika pintu depan rumah mereka akhirnya terbuka, Wina melihat seorang pria berumur lebih tua dengan tampilan yang rapi dan karismatik memasuki rumah. Ini adalah Pak Surya, seorang CEO kaya yang dihormati dalam dunia bisnis. Dia tersenyum ramah kepada Wina dan keluarganya, mengucapkan salam dengan sopan.
"Salam kenal, Wina," ucapnya dengan suara yang tenang dan penuh percaya diri.
Wina menjawab salam dengan hati-hati, "Salam kenal, Pak Surya. Terima kasih telah datang."
Mereka duduk di ruang tamu, suasana terasa tegang. Ayah Wina mencoba memulai percakapan dengan berbicara tentang bisnis dan prestasi Pak Surya. Dia berbicara tentang seberapa sukses Pak Surya dalam mengelola perusahaannya dan bagaimana itu akan memberikan keuntungan besar bagi keluarga mereka jika pernikahan ini terjadi.
Wina mencoba untuk tetap mendengarkan dengan baik, meskipun pikirannya melayang ke pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dalam benaknya. Apakah pernikahan ini benar-benar yang terbaik untuknya? Apakah dia siap untuk menikahi pria yang jauh lebih tua darinya?
Pak Surya juga mencoba membuat suasana menjadi lebih nyaman. Dia berbicara tentang minatnya dalam seni dan budaya, mencoba menemukan titik-titik kesamaan antara dirinya dan Wina. Namun, suasana tetap canggung, dan Wina merasa seperti dia tenggelam dalam pertemuan yang penuh tekanan ini.
Setelah beberapa jam percakapan yang canggung, pertemuan itu akhirnya berakhir. Pak Surya berterima kasih kepada keluarga Wina atas keramahan mereka dan berjanji untuk berbicara lebih lanjut tentang rencana pernikahan ini. Setelah dia pergi, Wina merasa semakin bingung dan cemas tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Dia berjalan ke kamarnya dan duduk di atas tempat tidurnya, merenung dalam. Dia tidak tahu harus berbuat apa, dan pertanyaan-pertanyaan tentang pernikahan ini terus bergelayut di benaknya. Kedekatannya dengan Allah adalah satu-satunya tempat di mana dia merasa dapat mencari petunjuk dan kekuatan untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti ini. Wina memutuskan untuk berdoa dan memohon petunjuk dari-Nya. Dalam keheningan kamarnya, dia mencari kehadiran Allah, berharap agar bisa menemukan jawaban atas kebingungannya yang mendalam.
Setelah pintu kamarnya tertutup rapat, Wina duduk di atas tempat tidurnya yang nyaman. Dia merasa tegang dan bingung setelah pertemuan pertamanya dengan Pak Surya. Pertanyaan-pertanyaan tentang pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya menghantuinya.
Mata Wina terpejam, dan dia mulai merenung dalam-dalam. Dia merasa bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk berbicara dengan Allah. Dalam keheningan kamarnya, dia merenungkan tentang hidupnya dan pertemuan dengan Pak Surya.
"Ya Allah," gumamnya dengan suara lembut, "Aku tahu bahwa Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu. Engkau mengetahui perasaan dan keraguanku saat ini. Aku tidak tahu apakah pernikahan yang dijodohkan oleh ayahku adalah jalan yang terbaik bagiku. Aku mencari petunjuk-Mu, Ya Allah. Bimbinglah aku dalam membuat keputusan yang tepat."
Wina merasa kedekatannya dengan Allah semakin dalam saat dia berbicara dalam doanya. Dia merasa bahwa saat ini adalah momen ketika dia merasa berbicara langsung dengan Sang Pencipta. Suasana kamarnya menjadi penuh dengan ketenangan, dan dia merasa bahwa Allah mendengarkan setiap kata yang dia ucapkan.
Wina terus merenung dalam doanya, berbicara dari hati yang tulus. Dia merasa bahwa Allah adalah satu-satunya yang bisa memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya. Ketika dia mengakhiri doanya, dia merasa sedikit lebih tenang, meskipun masih penuh ketidakpastian tentang masa depannya.
Setelah beberapa lama berdoa, Wina meletakkan kepala di atas bantalnya dan merenungkan kembali pertemuan dengan Pak Surya. Dia tahu bahwa ini adalah keputusan yang sangat penting dalam hidupnya, dan dia harus mengambilnya dengan bijak. Kedekatannya dengan Allah memberinya kekuatan dan keyakinan bahwa dia akan menemukan jawaban yang tepat, meskipun mungkin butuh waktu.
Dalam keheningan malam itu, dengan bulan yang bersinar lembut melalui jendela kamarnya, Wina merasa bahwa dia telah melakukan langkah pertama menuju pemahaman yang lebih dalam tentang dirinya sendiri dan rencana Allah baginya.
__ADS_1
Wina merasa bahwa pertemuan pertamanya dengan Pak Surya telah membuka mata dan hatinya terhadap kebutuhan akan kedalaman spiritual dalam hidupnya. Dia merasa perlu untuk lebih mendalami agamanya, khususnya dalam konteks pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya. Kedekatan Wina dengan Allah semakin dalam setelahnya.
Dia mulai menghabiskan waktu ekstra untuk beribadah dan merenung. Setiap pagi dan sore, Wina mengalokasikan waktu untuk berdoa. Dia merenungkan doa-doa yang telah dia pelajari dari ayah dan ibunya, dan dia juga berbicara dengan Allah dalam bahasa hatinya sendiri, berbicara tentang perasaan dan pertanyaan dalam benaknya.
Suasana alam di sekitar rumah mereka, yang sebelumnya tampak sepi dan mati, mulai memancarkan keindahan alami yang belum pernah dia perhatikan sebelumnya. Pohon-pohon di taman keluarganya yang dulu tampak kering dan layu, sekarang mulai bersemi dengan daun-daun yang hijau dan segar. Wina merasa bahwa ada kehidupan yang baru dan bersemangat di alam sekitarnya, seiring dengan pertumbuhan spiritualnya sendiri.
Pada salah satu sore yang cerah, dia duduk di bawah pohon yang teduh di taman keluarganya. Dia membuka Quran dan mulai membaca ayat-ayat suci. Setiap kata yang dia baca memberinya kedalaman pemahaman tentang agama dan nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi dalam pernikahan. Matahari terbenam dengan lembut, menghadirkan rasa damai dalam hatinya.
Wina juga mulai mencari pemahaman yang lebih dalam tentang pernikahan dalam Islam. Dia membaca buku-buku tentang etika pernikahan, kewajiban suami istri, dan bagaimana menjalani pernikahan yang bahagia dan penuh berkah. Dia mencari panduan dan nasehat dari para ulama dan tokoh agama yang dihormati.
Kedekatannya dengan Allah memberinya ketenangan dan keyakinan. Dia merasa bahwa melalui perjalanan spiritualnya ini, dia akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menghantuinya. Dia merasa bahwa Allah adalah sahabat terbaiknya yang selalu siap mendengarkan dan memberikan petunjuk.
Saat dia berbicara dengan keluarganya tentang perjalanan spiritualnya, mereka mendukungnya sepenuh hati. Ibunya memberikan buku-buku tentang agama dan pernikahan, sementara ayahnya berbicara dengan gembira tentang nilai-nilai agama dalam hidup. Mereka merasa bangga melihat pertumbuhan spiritual Wina dan ingin membantu memfasilitasi perjalanan ini.
Wina merasa bahwa setiap langkah yang dia ambil dalam mendalami agamanya adalah langkah yang mendekatkan dia pada pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri dan kehendak Allah. Kedalaman spiritualnya memberinya ketenangan dan keyakinan bahwa dia akan menjalani perjalanan ini dengan baik, terlepas dari apa yang akan terjadi dalam hidupnya selanjutnya.
__ADS_1