
Setelah berdiskusi tentang pertimbangan moral mereka, suasana di tenda medis mulai memanas. Wina, Dr. Layla, Youssef, dan Noura merasa perlu menghilangkan ketegangan dan meredakan stres yang telah menumpuk selama beberapa hari terakhir. Youssef, dengan senyum lembut di wajahnya, berkata, "Bagaimana kalau kita bermain kartu? Itu bisa menjadi cara yang baik untuk meredakan stres."
Usulan Youssef disambut dengan cepat oleh yang lainnya. Mereka merasa butuh momen santai dan hiburan yang ringan. Wina mengambil setumpuk kartu remi dari laci tenda medis dan segera mereka mulai mengatur meja lipat sederhana menjadi meja permainan kartu.
Di dalam tenda medis yang sederhana, dengan lampu baterai yang remang-remang sebagai sumber pencahayaan, mereka duduk mengelilingi meja. Dinding tenda tampak rapuh dan bergetar ketika angin bertiup di luar, mengingatkan mereka akan situasi yang mereka hadapi. Meskipun berada di dalam tenda, mereka tetap merasakan kehadiran konflik yang mengelilingi mereka.
Wina mengocok kartu dengan lembut, dan kartu itu berderit-derit dalam tangan-tangannya. "Bagaimana kita bermain poker?" kata Noura sambil tersenyum.
Mereka mulai bermain, dan dengan setiap tangan yang mereka mainkan, suasana di tenda menjadi semakin ringan. Mereka mulai bercanda dan tertawa, seolah-olah beban konflik itu hilang sejenak. Youssef mengolok-olok ketika dia memenangkan pot, dan Dr. Layla membalas dengan memenangkan beberapa tangan berikutnya.
Dalam suasananya yang santai, mereka mulai berbicara tentang kenangan yang mereka miliki bersama selama tugas mereka di Palestina. Wina mengingat saat pertama kali dia bertemu dengan Omar, anak kecil Palestina yang telah menjadi seperti adiknya sendiri. "Omar selalu berhasil membuat saya tersenyum, meskipun dalam keadaan sulit," kata Wina dengan hangat.
Noura menambahkan, "Saya ingat ketika kita semua bekerja bersama di klinik medis pertama kali. Itu adalah pengalaman yang luar biasa. Kita semua datang bersama-sama untuk tujuan yang sama, dan kita telah melalui begitu banyak bersama."
__ADS_1
Dr. Layla mengangguk, "Kami adalah tim yang kuat, dan itulah yang membuat kita bertahan. Saat kita merasa tertekan, kita selalu bisa mengandalkan satu sama lain."
Saat mereka berbicara dan berbagi kenangan, mereka juga menyadari betapa pentingnya momen-momen kecil ini di tengah-tengah kehidupan yang penuh tekanan. Mereka tidak hanya berteman sejawat, mereka adalah keluarga yang telah saling mendukung dan melindungi di tengah konflik.
Ketika permainan kartu berlanjut, Wina mengocok kartu lagi dan tersenyum. "Mungkin kita bisa melakukan sesuatu untuk anak-anak di sini nanti. Mereka juga bisa menikmati momen kebahagiaan seperti ini."
Semua orang setuju, dan mereka merencanakan untuk mengatur acara khusus untuk anak-anak di kamp pengungsi setempat dalam beberapa hari ke depan. Mereka merasa bahwa memberikan harapan dan kebahagiaan kepada anak-anak Palestina adalah bagian penting dari misi kemanusiaan mereka.
Sambil terus bermain kartu, suasana di dalam tenda medis semakin hangat. Cahaya lampu baterai menggantung rendah, menciptakan ilusi kecil dari kehangatan dan kenyamanan. Dalam permainan poker yang semakin seru, anggota tim mulai berbagi cerita tentang keluarga dan teman-teman mereka di rumah.
Youssef, dengan senyum di wajahnya, mulai menceritakan tentang putranya yang berusia tujuh tahun. "Anak saya, Ahmad, dia sangat tertarik dengan kedokteran. Setiap kali saya pulang, dia suka bermain dokter-dokteran dan mencoba memeriksa keadaan kesehatan kami semua. Dia memakai stetoskop mainannya dan mengatakan dia akan menjadi dokter seperti ayahnya suatu hari nanti."
Semua orang tertawa mendengar cerita Youssef, dan Dr. Layla bertanya, "Dan bagaimana dengan istrimu, Youssef? Bagaimana dia menangani semua ini?"
__ADS_1
Youssef mengangguk, "Dia adalah sosok yang luar biasa. Dia selalu mendukung saya dalam setiap tugas kemanusiaan yang saya lakukan. Tentu saja, dia juga merasa khawatir, tetapi dia tahu betapa pentingnya pekerjaan kita di sini."
Noura juga ikut berbagi, "Anak-anak saya selalu menulis surat dan menggambar gambar untuk saya. Mereka ingin saya pulang dengan selamat. Itu selalu mengingatkan saya mengapa kita melakukan ini."
Dr. Layla tersenyum penuh kehangatan, "Saya punya sahabat lama yang tinggal di Jerman. Kami berteman sejak kuliah dan dia selalu mendukung keputusan saya untuk bekerja di sini. Dia mengirimkan surat dan paket secara teratur. Itu adalah salah satu cara saya tetap terhubung dengan dunia di luar sini."
Wina, yang baru-baru ini bergabung dengan tim, merasa bahwa dia ingin berbagi juga. "Ketika saya memutuskan untuk menjadi relawan di Palestina, teman-teman saya di Indonesia merasa terkejut. Mereka khawatir dan bertanya-tanya mengapa saya ingin pergi ke tempat yang begitu berbahaya. Tapi saya menjelaskan kepada mereka bahwa saya merasa terpanggil untuk membantu. Mereka akhirnya mendukung keputusan saya dan mereka mengirimkan surat dan pesan mendukung yang selalu menghibur saya."
Mereka semua terdiam sejenak, merenungkan tentang bagaimana keluarga dan teman-teman mereka di rumah telah menjadi sumber dukungan dan inspirasi. Dalam momen tersebut, mereka merasa lebih dekat satu sama lain, meskipun jarak yang memisahkan mereka dari rumah.
Kemudian, Youssef mengubah suasana dengan cerita lucu tentang seorang pasien yang berpura-pura tersedak hanya untuk bisa berbicara dengan Noura, yang dia kira adalah seorang perawat cantik. Cerita ini membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak, dan suasana di tenda menjadi lebih ringan lagi.
Setelah beberapa jam bermain kartu dan berbagi cerita, mereka merasa lebih terhubung satu sama lain. Mereka merasa bahwa mereka bukan hanya rekan sejawat, tetapi juga teman sejati yang telah menjalani pengalaman yang luar biasa bersama. Meskipun berada di tengah-tengah konflik yang penuh tekanan, momen seperti ini mengingatkan mereka akan arti pentingnya kebersamaan dan dukungan satu sama lain.
__ADS_1