
Hari-hari mendekati keberangkatan Wina ke Palestina semakin dekat. Di ruang tamu apartemennya, dia duduk di antara tumpukan pakaian dan barang-barang yang sedang dia siapkan. Di sudut ruangan, Marmut, kucing peliharaannya, melompat ke atas meja dan duduk di depannya.
Wina merasa cemas dan terbebani oleh berita konflik yang terus berlanjut. Suasana hatinya terguncang oleh gambaran kekerasan dan kehancuran yang diperlihatkan oleh media. Saat dia merenung, dia merasa air mata menitik perlahan di pipinya.
Marmut, dengan kepekaan yang khas hewan peliharaan, merasa perubahan suasana hati Wina. Dia mendekat dan mulai menggosok-gosokkan kepala di tangan Wina, mencoba memberikan dukungan dan kenyamanan. Wina tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca dan membelai lembut kepala Marmut.
"Peliharaanku yang setia, apa yang akan aku lakukan tanpa dirimu?" bisik Wina pada Marmut. Kucing itu menanggapi dengan purr lembut, seolah-olah memahami perasaan Wina.
Beberapa saat kemudian, Wina mendengar suara di luar jendela apartemennya. Dia melihat ke luar dan melihat pemandangan matahari terbenam yang indah. Langit diwarnai dengan warna oranye dan merah muda, menciptakan suasana yang menenangkan.
Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan masuklah ibunya, Maria. Dia menggenggam secangkir teh hangat dalam gelas kaca dan duduk di samping Wina.
"Mengapa kau duduk di sini sendiri, Sayang?" tanya Maria.
Wina menjawab, "Saya merasa begitu terbebani oleh semuanya, Ibu. Gambaran kekerasan dan penderitaan di Palestina begitu mencekam. Saya merasa hampir tidak sanggup."
Maria memberikan secangkir teh kepada Wina dan berkata, "Saya mengerti, Nak. Situasinya sangat sulit. Tapi ingatlah, tindakanmu adalah langkah positif untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kau akan menjadi cahaya dalam kegelapan."
Wina menggenggam cangkir teh hangat itu dan meniupnya perlahan. "Saya berharap bisa membuat perbedaan, Ibu."
Maria tersenyum dan menjawab, "Aku yakin kau akan melakukannya."
Wina merasa lebih tenang setelah berbicara dengan ibunya. Dia merenung sejenak tentang mengapa dia memutuskan untuk pergi ke Palestina dan bagaimana dia berencana untuk memberikan bantuan yang dia butuhkan.
Sambil masih duduk di meja, Marmut melompat ke pangkuannya lagi dan mencari perhatian. Wina memeluk kucingnya dengan lembut, merasa gratega terhadap kehadiran yang setia.
Beberapa hari kemudian, Wina terus mempersiapkan diri untuk perjalanan yang akan datang. Dia berbicara dengan teman-temannya dan membagikan rencananya untuk membantu penduduk Palestina. Mereka memberinya dukungan dan semangat yang diperlukan.
Sementara waktu, Wina juga mempelajari bahasa Arab, membaca buku tentang sejarah Palestina, dan memahami budayanya. Semua persiapan ini membantunya merasa lebih siap menghadapi tantangan yang akan dia hadapi di lapangan.
__ADS_1
Ketika hari keberangkatan semakin mendekat, Wina merasa percaya diri dan yakin bahwa dia sedang mengikuti panggilan kemanusiaan yang sejati. Dia tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi dengan dukungan dari keluarganya dan kesetiaan Marmut, dia siap untuk melangkah maju dan menjadi bagian dari upaya membantu mereka yang membutuhkan.
Hari-hari yang menjelang keberangkatan Wina semakin dekat, dan ruang tamu apartemennya dipenuhi dengan koper, pakaian, dan barang-barang yang akan dia bawa ke Palestina. Meskipun dia telah melakukan persiapan dengan cermat, ada perasaan campuran di dalam dirinya: antara gugup dan tekad. Dia duduk di tengah tumpukan barang-barang, mencoba menentukan apa yang perlu dia bawa dan apa yang harus ditinggalkan.
Saat dia membongkar beberapa foto keluarga yang akan dia bawa sebagai kenang-kenangan, dia menemukan sebuah surat lama yang terselip di antara foto-foto tersebut. Surat itu berdebu dan lusuh, jelas telah berada di antara barang-barangnya selama bertahun-tahun. Dengan penasaran, dia membukanya dan mulai membaca pesan yang tertulis dalam tulisan neneknya yang indah.
Surat itu ditulis oleh neneknya, Isabella, yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Wina selalu mengagumi neneknya yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Surat itu berisi pesan inspiratif tentang kekuatan dalam solidaritas dan rasa empati.
"Kepada cucuku yang terkasih, Wina," surat itu dimulai. "Aku tahu bahwa di dalam dirimu, ada keinginan yang kuat untuk membantu dan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik. Ingatlah, kekuatan sejati bukan hanya terletak pada fisik atau kecerdasan, tetapi juga pada hati yang tulus dan empati yang mendalam."
Wina tersenyum sambil membaca kata-kata yang penuh makna itu. Neneknya selalu memiliki kata-kata bijak yang memotivasi dan menginspirasi.
Surat tersebut melanjutkan, "Ketika kau merasa ragu atau ketakutan, ingatlah bahwa ketulusan dan empatimu adalah apa yang akan membimbingmu. Solidaritas dengan sesama adalah kunci untuk merasakan rasa kebersamaan dalam perjuangan. Kau adalah sumber cahaya di tengah kegelapan, dan jangan pernah lupakan betapa pentingnya tindakan kecil yang kau lakukan dalam memberikan harapan kepada yang membutuhkan."
Wina merasa mendalam terinspirasi oleh kata-kata neneknya. Dia merenung sejenak, membiarkan pesan itu meresap ke dalam hatinya.
Sementara dia duduk di tengah tumpukan barang-barangnya, ibunya, Maria, masuk ke ruangan. Dia melihat Wina membaca surat dari neneknya dan tersenyum hangat.
Wina mengangguk. "Iya, Ibu. Kata-katanya begitu bermakna, dan aku merasa terdorong oleh pesannya."
Maria meletakkan tangannya di bahu Wina dan berkata, "Kau tahu, nenekmu selalu mendukung impian dan tekadmu. Dia akan sangat bangga melihatmu mengikuti panggilan hati ini."
Wina tersenyum pada ibunya dan menjawab, "Terima kasih, Ibu. Aku akan mencoba sebaik mungkin."
Marmut, yang telah duduk dengan tenang di samping mereka, datang untuk memberikan dukungan dengan cara yang unik. Dia melompat ke pangkuan Wina dan berbaring di sana dengan mata setengah terpejam. Wina membelai lembut bulu kucingnya, merasa nyaman dengan kehadiran yang penuh kasih sayang.
Selama beberapa hari berikutnya, Wina terus mempersiapkan diri untuk perjalanan. Dia membaca surat dari neneknya beberapa kali lagi, membiarkan kata-kata itu memberikan kekuatan dan semangat ke dalam hatinya.
Ketika hari keberangkatan akhirnya tiba, Wina merasa siap untuk menghadapi tantangan yang akan dia hadapi di Palestina. Dia tahu bahwa neneknya akan selalu hadir dalam pikirannya, memberikan dorongan dan inspirasi dalam setiap langkah yang dia ambil.
__ADS_1
Dengan dukungan dari keluarganya, kata-kata bijak neneknya, dan kesetiaan Marmut, Wina siap untuk mengikuti panggilan hati dan menjalani perubahan besar dalam hidupnya.
Wina duduk di lantai apartemennya, memandangi barang-barang yang sudah terkemas rapi untuk perjalanan ke Palestina. Sementara dia mencoba untuk tetap fokus dan bersemangat mengenai misi kemanusiaan yang akan dia hadapi, ada perasaan cemas dan kekhawatiran yang masih terus menghantuinya.
Marmut, kucing kesayangan Wina, duduk di dekatnya, melingkarkan ekornya di sekitar kaki Wina. Wina membungkuk dan memeluk Marmut dengan lembut, mencari kenyamanan dalam kehadiran hewan peliharaannya yang setia.
"Ibu, aku merasa begitu khawatir," kata Wina, menoleh ke ibunya yang juga duduk di sampingnya.
Maria meletakkan tangannya di bahu Wina dan berkata, "Itu adalah hal yang wajar, Sayang. Situasi di Palestina memang sulit, dan kekhawatiran adalah reaksi manusiawi. Tapi ingatlah, kau juga memiliki banyak dukungan, termasuk Marmut yang selalu ada di sampingmu."
Wina mengangguk, mengingat semua dukungan yang dia terima dari keluarganya. Dia merasa beruntung memiliki orang-orang yang peduli dengannya.
Beberapa hari kemudian, Wina duduk di kamar tidurnya, menatap kotak yang berisi barang-barang pribadinya. Dia merasa campuran antara gugup dan bersemangat. Perjalanan ke Palestina akan menjadi pengalaman yang sangat berbeda dari kehidupan sehari-harinya.
Marmut melompat ke atas tempat tidur dan duduk di sebelahnya. Kucing itu menjulurkan leher dan mulai menjilat tangan Wina dengan lembut, seolah-olah mencoba menghiburinya.
Wina tersenyum dan memeluk Marmut. "Kau tahu, Marmut, kita akan menghadapi banyak hal yang baru dan tidak terduga di sana. Tetapi kita akan melakukannya bersama-sama, bukan?"
Kucing itu merespons dengan purr yang lembut, memberikan dukungan tak terucapkan kepada pemiliknya.
Pagi hari keberangkatan tiba, dan Wina merasa sangat gugup. Barang-barangnya sudah terkemas dan siap untuk dibawa. Dia tahu bahwa perjalanan ini akan menjadi tantangan besar, tetapi dia merasa tekad dan siap untuk menghadapinya.
Keluarganya berkumpul di depan pintu apartemen untuk mengantar Wina ke bandara. Marmut duduk di pangkuan Wina, seolah-olah merasakan kepergian pemiliknya. Wina membelai kucingnya dengan lembut dan berkata, "Jangan khawatir, Marmut. Aku pasti akan kembali."
Maria memeluk Wina erat-erat, mencium keningnya. "Kau adalah anak yang luar biasa, Sayang. Kami sangat bangga padamu."
Budi, ayah Wina, menambahkan, "Ingatlah bahwa kami selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi."
Tessa dan Irfan, teman-teman Wina yang telah memberikan dukungan sepanjang perjalanan persiapan, juga hadir untuk mengucapkan selamat tinggal. Mereka memberikan Wina kartu ucapan dengan pesan yang penuh semangat dan dukungan.
__ADS_1
Seiring dengan keluarganya dan Marmut, Wina merasa memiliki dukungan yang luar biasa di belakangnya. Meskipun ada ketidakpastian di depannya, dia merasa siap untuk menghadapi tantangan ini dan membantu mereka yang membutuhkan.
Ketika dia dan Marmut berangkat menuju bandara, Wina merenungkan kekuatan hubungan yang dia miliki dengan hewan peliharaannya. Marmut selalu ada di sampingnya, memberikan kenyamanan dan dukungan dalam momen-momen yang sulit. Dengan harapan dan tekad yang kuat, dia bersiap untuk mengikuti panggilan kemanusiaan yang telah mendorongnya sepanjang perjalanan ini, dengan Marmut setia di sisinya.