
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat ketika Wina tiba di kampus barunya. Kampus ini terletak di sebuah kota kecil yang dikelilingi oleh pepohonan hijau yang lebat dan perbukitan yang menawan. Suasana alam yang asri dan tenang langsung menyambut kedatangannya. Dia merasa begitu terkesan dengan kecantikan alam sekitar kampus ini.
Wina berjalan menuju gedung utama kampus dengan ranselnya yang berisi barang-barang pribadinya. Dia merasa degupan jantungnya semakin kencang karena semangat dan harapannya yang tumbuh saat ini. Ini adalah awal dari perjalanan barunya, dan dia sangat bersemangat untuk menjalani pengalaman kuliah di perguruan tinggi terkemuka ini.
Setelah tiba di gedung utama kampus, dia disambut oleh panitia orientasi yang ramah. Mereka mengenakan kaos kampus dan tersenyum hangat saat menyambut mahasiswa baru. Sebuah spanduk besar dengan kata-kata "Selamat Datang di Kampus Baru!" menghiasi pintu masuk gedung.
"Selamat datang!" kata seorang dari panitia orientasi, seorang mahasiswa senior yang bernama Fadil. "Saya Fadil, dan saya akan menjadi salah satu panitia orientasi Anda. Kami sangat senang Anda bergabung dengan kami."
Wina tersenyum dan menjawab, "Saya Wina, senang bertemu dengan Anda, Fadil."
Fadil kemudian memberikan pengenalan singkat tentang kampus, program akademik, dan berbagai kegiatan sosial yang akan diadakan selama masa orientasi. Wina mendengarkan dengan seksama, mencatat informasi yang penting dalam buklet orientasi yang diberikan oleh panitia.
Setelah pengenalan selesai, para mahasiswa baru diarahkan untuk mengikuti tur singkat kampus. Wina mengikuti kelompoknya, yang dipimpin oleh seorang mahasiswa senior yang bernama Sarah. Mereka berjalan melalui lorong-lorong kampus yang hijau dan melihat fasilitas-fasilitas yang tersedia, termasuk perpustakaan, ruang kuliah, dan pusat kegiatan mahasiswa.
Saat mereka berjalan, Wina mendengar percakapan antar teman sekelasnya yang sedang bertukar pengalaman tentang apa yang mereka harapkan dari perguruan tinggi ini. Dia juga bergabung dalam obrolan ringan dengan beberapa mahasiswa lain yang memiliki minat yang sama dengannya.
Saat tur berakhir, mereka kembali ke gedung utama untuk menghadiri acara penyambutan resmi. Di dalam auditorium, mahasiswa baru duduk dengan antusiasme. Ada salam hangat dari rektor dan beberapa dosen senior yang memberikan nasihat kepada para mahasiswa baru tentang bagaimana menjalani kehidupan kampus dengan bijak.
Wina merasa terinspirasi oleh kata-kata dosen-dosen senior tersebut. Dia merasa semakin mantap dalam tekadnya untuk menjalani kehidupan kampus yang seimbang antara studi dan spiritualitas. Setelah acara penyambutan selesai, dia kembali ke asrama bersama teman sekelasnya yang baru dia kenal, Maya. Mereka berdua merasa senang akan awal perjalanan mereka di kampus baru ini.
Saat matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat, Wina merenungkan hari yang luar biasa ini. Dia tahu bahwa tantangan akan datang, tetapi dia siap menghadapinya dengan semangat dan tekad yang baru ditemukan. Dia merasa sangat bersyukur atas kesempatan ini dan bersemangat untuk memulai perjalanan barunya di perguruan tinggi terkemuka ini.
__ADS_1
Hari kedua masa orientasi kampus, Wina masih merasa semangat. Setelah sarapan pagi di kantin kampus, dia mengikuti sesi orientasi yang berfokus pada aktivitas mahasiswa dan klub-klub kampus. Dia ingin mencari peluang untuk bergabung dengan klub yang berkaitan dengan spiritualitas dan agama.
Saat sesi tersebut berlangsung, mata Wina tertuju pada seorang mahasiswi yang duduk di sebelahnya. Gadis itu tampak tenang dan memiliki senyum ramah di wajahnya. Dia memakai jilbab dan tampaknya memiliki aura yang damai. Wina merasa tertarik untuk berbicara dengannya.
Ketika sesi orientasi berakhir, Wina dengan hati berdebar-debar menghampiri gadis itu. "Hai, saya Wina," katanya sambil tersenyum lembut.
Gadis itu, yang ternyata bernama Maya, menjawab sambutan Wina dengan senyuman. "Hai, Wina. Saya Maya. Senang bertemu denganmu."
Wina merasa bahwa mereka berdua memiliki minat yang sama dalam agama. "Apakah Anda juga memiliki minat dalam spiritualitas dan agama?" tanya Wina dengan penuh antusiasme.
Maya mengangguk. "Iya, saya sangat tertarik dengan itu. Saya senang bertemu dengan seseorang yang memiliki minat yang sama."
Setelah berbicara cukup lama, Maya mengajak Wina untuk pergi ke masjid kampus. "Kita bisa berdoa bersama di sana. Masjid ini adalah tempat yang indah untuk mencari ketenangan dan mendekatkan diri pada Allah."
Wina merasa senang dengan tawaran Maya. Mereka berdua berjalan menuju masjid kampus yang indah. Ketika tiba di sana, mereka melepas sepatu dan masuk ke dalam masjid. Cahaya remang-remang dari lampu gantung mengisi ruangan, menciptakan atmosfer yang tenang dan khusyuk.
Maya dan Wina berdiri bersebelahan di saf yang kosong, menghadap kiblat. Mereka berdoa dengan penuh khidmat, memohon petunjuk dan berkah dalam perjalanan mereka di kampus baru ini. Setelah selesai berdoa, mereka duduk bersila di karpet masjid, berbicara lebih lanjut tentang keyakinan agama mereka.
Selama beberapa jam, mereka berbicara tentang nilai-nilai spiritual, bagaimana menjaga iman di tengah pergaulan kampus yang beragam, dan rencana mereka untuk bergabung dalam kelompok studi keagamaan. Mereka juga merencanakan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial yang terkait dengan agama.
Ketika matahari mulai tenggelam dan azan Maghrib berkumandang, mereka berdua mengakhiri pertemuan mereka. Mereka merasa bahwa pertemuan ini adalah awal dari persahabatan yang istimewa dan mendalam. Maya menawarkan untuk mengenalkan Wina pada beberapa temannya yang juga memiliki minat dalam agama.
__ADS_1
Saat mereka berjalan keluar dari masjid, Wina merasa begitu bersyukur telah menemukan teman sejati seperti Maya di kampus ini. Dia tahu bahwa persahabatan mereka akan membantu mereka menjalani perjalanan spiritual dan akademik mereka di perguruan tinggi dengan penuh semangat dan tekad.
Hari yang cerah dan tenang menyambut kunjungan ke masjid kampus. Wina dan Maya tiba di masjid dengan hati yang penuh antusiasme. Masjid ini adalah salah satu tempat yang paling mereka nantikan sejak awal orientasi. Mereka ingin merasakan ketenangan dan kedamaian yang bisa ditemukan di dalam masjid ini.
Saat masuk ke masjid, mereka merasa terpesona oleh keindahan arsitektur dan dekorasi interior masjid. Karpet merah yang lembut meliputi seluruh lantai masjid, dan lampu gantung kristal yang cantik menggantung di langit-langit, menciptakan suasana yang tenang dan penuh cahaya.
Mereka memutuskan untuk melepas sepatu mereka dan berjalan dengan perlahan menuju karpet yang lebih dekat ke kiblat. Masjid ini masih cukup sepi karena tidak sedang digunakan untuk shalat berjamaah saat itu, sehingga mereka merasa memiliki ruang untuk merenung dan berdoa dengan tenang.
Wina duduk bersila di karpet, sementara Maya berdiri dan mulai berdoa. Mereka merasa bahwa dalam momen ini, mereka bisa merenungkan kebesaran Allah dan merasa dekat dengan-Nya. Wina merenung tentang perjalanan spiritualnya yang baru, bagaimana dia mulai mengenali Allah dengan lebih dalam dan berusaha menjalani agamanya dengan baik. Maya berdoa untuk petunjuk dan keberkahan dalam perjalanan kampus mereka.
Setelah selesai berdoa, mereka berdua duduk bersama di karpet, berbicara dengan pelan tentang perasaan mereka. "Saya merasa begitu tenang di sini," kata Wina dengan lembut. "Masjid ini adalah tempat yang indah untuk merenung dan berdoa."
Maya mengangguk setuju. "Iya, Wina. Saya merasa sama. Ini adalah tempat yang istimewa, dan saya berharap kami bisa datang ke sini secara rutin untuk menjaga spiritualitas kita selama di kampus."
Wina setuju dengan senyuman. "Saya juga berharap begitu, Maya. Kita bisa saling mendukung dalam perjalanan spiritual ini."
Mereka berdua tetap di dalam masjid untuk beberapa saat lagi, merenung dan merasakan kedamaian yang dihadirkan oleh tempat ini. Kemudian, mereka keluar dari masjid dan kembali ke pusat kampus untuk melanjutkan acara orientasi.
Selama sisa orientasi, mereka merasa semakin termotivasi untuk menjaga spiritualitas mereka di tengah kehidupan kampus yang sibuk. Mereka berencana untuk mencari kelompok studi keagamaan atau klub-klub yang terkait dengan agama untuk lebih mendalami pemahaman mereka tentang iman.
Kunjungan ke masjid kampus telah memberi mereka pengalaman yang memperkuat tekad mereka. Wina dan Maya merasa bahwa kehadiran masjid ini adalah berkah besar dalam perjalanan spiritual mereka di kampus, dan mereka berdua berjanji untuk menjaga koneksi mereka dengan tempat ini selama di perguruan tinggi.
__ADS_1