Tetesan Pertama Air Wudhu Wina

Tetesan Pertama Air Wudhu Wina
Pertemuan Kedua dengan Calon Suami


__ADS_3

Cahaya senja mulai memancar dari jendela-jendela kafe mewah yang tenang di pusat kota. Wina duduk di meja yang nyaman, menatap gelas minuman yang masih penuh dengan teh hangatnya. Tangannya sedikit gemetar karena rasa gugup. Hari itu adalah pertemuan keduanya dengan Pak Surya, seorang pria berusia 50 tahun yang telah dijodohkan dengannya oleh ayahnya.


Sebagai seorang remaja berusia 19 tahun, Wina merasa sangat canggung menghadapi situasi ini. Dia masih muda dan penuh impian, sedangkan Pak Surya adalah seorang pria yang telah menjalani hidupnya dengan segala keberhasilan dan pengalaman yang dimilikinya. Dengan berbusana sopan dan rambut yang tertata rapi, Wina berusaha untuk tampil sebaik mungkin di hadapan pria yang akan menjadi suaminya.


Seketika, pintu kafe terbuka, dan seorang pria tampan dengan dasi yang terikat rapi masuk. Dia memiliki tatapan tegas dan karisma yang mengesankan. Pak Surya, sang CEO kaya, dengan tenang mendekati meja Wina. Tatapan mereka bertemu, dan dia tersenyum dengan ramah.


"Assalaamu'alaikum, Wina," sapanya dengan suara yang tenang.


Wina sedikit gemetar ketika dia menjawab, "Wa'alaikumsalam, Pak Surya."


Mereka saling memberi isyarat tangan dengan lembut, dan Wina merasa keriuhan dalam hatinya. Ini adalah pertemuan kedua mereka, dan suasana hatinya penuh dengan ketidakpastian.


Mereka duduk di kursi yang nyaman, dan pelayan kafe segera datang untuk mengambil pesanan mereka. Sambil menunggu minuman mereka datang, Wina mencoba untuk memulai percakapan.


"Bagaimana keadaan hari ini, Pak Surya?" tanyanya, mencoba untuk membuat percakapan terasa lebih santai.


Pak Surya tersenyum dan mulai berbicara tentang cuaca dan perkembangan kota. Dia mencoba menjaga percakapan tetap ringan, mungkin menyadari ketegangan yang dirasakan oleh Wina.


Wina, sementara itu, merenung dalam hati. Dia merasa jauh dari zona nyamannya, namun dia ingat bahwa di tengah segala ketidakpastian ini, dia harus tetap dekat dengan Allah. Dalam hatinya, dia berdoa agar Allah memberikan kekuatan padanya untuk menjalani percakapan ini dengan bijak.


Ketika minuman mereka tiba, mereka mulai berbicara tentang minat dan hobi mereka. Wina bercerita tentang studi di perguruan tinggi dan bagaimana dia sangat tertarik pada agama dan spiritualitas. Pak Surya mendengarkan dengan penuh perhatian, dan mereka mulai menemukan titik-titik kesamaan dalam minat mereka.

__ADS_1


"Agama dan spiritualitas juga penting bagi saya," ujar Pak Surya dengan lembut. "Saya percaya bahwa hidup memiliki dimensi yang lebih dalam daripada sekadar kesuksesan materi. Kita mungkin memiliki banyak hal untuk dibahas."


Wina merasa sedikit lega mendengar kata-kata Pak Surya. Mereka berdua mungkin memiliki perbedaan usia yang signifikan, tetapi sepertinya ada titik persamaan dalam nilai-nilai mereka.


Pertemuan kedua ini berjalan dengan cukup baik, dan mereka berdua merasa bahwa mereka telah membuat kemajuan dalam memahami satu sama lain. Meskipun Wina masih merasa canggung, dia mulai merasa bahwa Pak Surya adalah pria yang baik dan terbuka. Baginya, menjaga kedekatan dengan Allah adalah kunci untuk menjalani pernikahan yang bahagia dan bermakna, dan dia berdoa agar Allah memberikan petunjuk dalam perjalanan hidupnya yang baru ini.


Mereka duduk di meja yang sama, menikmati minuman mereka yang telah datang. Wina memandang menu kafe, mencari topik pembicaraan selanjutnya. Kemudian, Pak Surya bertanya dengan lembut, "Wina, bagaimana dengan impian dan aspirasimu dalam hidup? Apa yang ingin kamu capai?"


Wina menatap mata Pak Surya dengan tulus, merasa sedikit gugup namun berusaha menjawab dengan jujur. "Saya ingin memahami agama saya dengan lebih dalam dan menjalani kehidupan yang bermakna. Saya ingin mengabdi kepada Allah dan memberikan dampak positif pada dunia ini."


Pak Surya mendengarkan dengan penuh perhatian, dan matanya memancarkan rasa kagum. "Itu adalah impian yang mulia, Wina. Saya sangat menghormati keteguhan hatimu. Agama dan spiritualitas adalah aspek penting dalam hidup. Bagaimana kamu menjalani perjalanan ini?"


Wina merasa senang bahwa Pak Surya tertarik pada apa yang dia ceritakan. "Saya mencoba untuk membaca banyak buku tentang agama dan berbicara dengan orang-orang yang lebih berpengalaman. Saya juga berusaha menjalankan praktik-praktik agama, seperti berzikir dan berdoa setiap hari. Itu adalah momen-momen ketika saya merasa dekat dengan Allah."


Wina merasa semakin nyaman dalam percakapan ini dan merasa bahwa dia bisa berbicara terbuka dengan Pak Surya. "Apakah Anda juga memiliki impian atau aspirasi khusus dalam hidup, Pak Surya?"


Pak Surya tersenyum. "Tentu saja, saya ingin terus berkontribusi dalam dunia bisnis dan menciptakan peluang bagi banyak orang. Tapi selain itu, saya juga ingin menjalani hidup yang memiliki makna yang lebih dalam. Saya percaya bahwa kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari apa yang kita capai secara materi, tetapi juga dari bagaimana kita menjalani hidup dengan nilai-nilai yang baik."


Mereka melanjutkan percakapan tentang impian dan aspirasi mereka, menemukan bahwa meskipun usia dan latar belakang mereka berbeda, ada titik-titik persamaan dalam nilai-nilai yang mereka pegang. Wina merasa terinspirasi oleh kesuksesan dan pemikiran positif Pak Surya tentang kehidupan. Dia juga merasa senang bahwa dia dapat berbicara terbuka tentang keinginan dan impian yang mendalam dalam dirinya.


Di tengah obrolan mereka, matahari mulai meredup, dan lampu kafe yang lembut mulai menyala. Suasana kafe makin hangat, menciptakan ruang yang nyaman untuk percakapan mereka yang mendalam. Wina merasa bahwa pertemuan ini adalah langkah awal menuju pemahaman lebih lanjut tentang Pak Surya, dan dia merasa lebih dekat dengan Allah dalam segala keadaan.

__ADS_1


Wina dan Pak Surya duduk di meja yang sama dalam kafe yang semakin gelap dengan lampu remang-remang yang menciptakan atmosfer yang tenang. Wina merasa lebih nyaman berbicara tentang perjalanannya dalam memperdalam agamanya. Dia memutuskan untuk berbicara lebih jujur dengan Pak Surya tentang momen-momen ketika dia merasa dekat dengan Allah.


"Saya ingin berbicara tentang perjalanan spiritual saya, Pak Surya," kata Wina dengan lembut. "Ada momen-momen dalam hidup saya ketika saya merasa dekat dengan Allah, momen yang memberi saya kekuatan dan ketenangan."


Pak Surya mengangguk dan mendengarkan dengan penuh perhatian. "Saya senang mendengarnya, Wina. Bagi saya, perjalanan spiritual adalah bagian penting dalam hidup. Apa yang bisa kamu ceritakan?"


Wina mulai menceritakan tentang momen-momen ketika dia merasa paling dekat dengan Allah. Dia menceritakan tentang saat-saat dia berzikir di tengah malam, ketika dunia sekitarnya tenang dan hatinya merasa damai. Dia juga menceritakan tentang pengalaman berdoa, di mana dia merasa bisa mengungkapkan semua perasaannya kepada Allah.


"Ada kekuatan yang besar dalam momen-momen seperti itu," kata Wina dengan mata berbinar. "Saya merasa Allah selalu mendengarkan, dan saya tahu bahwa saya tidak pernah sendirian dalam setiap cobaan yang saya hadapi."


Pak Surya mendengarkan dengan penuh perhatian, dan ekspresi wajahnya menunjukkan rasa hormat dan penghargaan. "Saya percaya bahwa kita semua memiliki momen-momen ketika kita merasa dekat dengan Yang Maha Kuasa. Bagi saya, itu adalah momen yang membantu kita menjalani hidup dengan bijak."


Mereka berdua terus berbicara tentang pengalaman spiritual mereka. Pak Surya juga berbagi tentang momen-momen ketika dia merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Mereka menemukan banyak kesamaan dalam pengalaman-pengalaman tersebut, dan obrolan mereka semakin dalam.


Wina merasa bahwa dia telah menemukan seseorang yang dia bisa berbicara terbuka tentang perjalanan spiritualnya. Itu adalah momen yang istimewa baginya, di mana dia merasa bahwa dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut atau ketidaknyamanan.


Di tengah percakapan mereka yang mendalam, mereka melihat bahwa jam sudah menunjukkan waktu yang cukup larut. Wina merasa bahwa pertemuan ini adalah langkah yang positif dalam mengenal Pak Surya lebih baik dan memahami nilai-nilai spiritual yang mereka pegang.


Pak Surya mengucapkan terima kasih pada Wina atas percakapan yang berarti ini. "Terima kasih, Wina, atas kejujuranmu. Saya merasa terhormat bisa mendengar cerita spiritualmu. Saya harap kita bisa melanjutkan pembicaraan ini di lain waktu."


Wina tersenyum dan mengangguk. "Saya juga berharap begitu, Pak Surya. Ini adalah pertemuan yang berarti bagi saya."

__ADS_1


Mereka meninggalkan kafe dengan perasaan yang hangat dan hati yang penuh dengan pemahaman satu sama lain. Wina merasa bahwa meskipun dia masih merasa canggung dalam situasi ini, dia telah menemukan seseorang yang dia rasa bisa memahami nilai-nilai yang penting dalam hidupnya.


__ADS_2