
Selain menjalani studi dan menjalin persahabatan dengan berbagai teman di kampus, Wina juga aktif dalam program relawan yang diselenggarakan oleh kampusnya. Salah satu program yang sangat dia cintai adalah program pendampingan anak asuh, di mana mahasiswa membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu dalam belajar dan kehidupan sehari-hari.
Setiap Sabtu pagi, Wina datang ke pusat anak asuh, sebuah tempat yang sederhana namun penuh kasih. Anak-anak asuh yang ditemani oleh mahasiswa seperti Wina datang dari berbagai latar belakang yang sulit. Mereka adalah anak-anak yang mungkin tidak memiliki keluarga yang mampu memberi mereka dukungan penuh. Bagi mereka, waktu bersama Wina adalah momen yang dinantikan.
Pada salah satu pertemuan dengan anak asuhnya, Wina duduk bersama seorang gadis muda bernama Anisa. Anisa adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama neneknya. Wina melihat potensi besar dalam Anisa dan ingin membantu dia meraih cita-citanya.
Mereka duduk di sebuah meja belajar sederhana dengan buku-buku dan alat tulis di depan mereka. Wina membantu Anisa dengan tugas matematikanya, dan mereka berbicara tentang cita-cita Anisa untuk menjadi seorang dokter.
"Kenapa kamu ingin menjadi dokter, Anisa?" tanya Wina dengan lembut.
Anisa tersenyum dan menjawab, "Saya ingin menyembuhkan orang-orang yang sakit, seperti nenek saya yang sering sakit. Saya ingin membantu orang lain."
Wina tersentuh oleh keinginan Anisa untuk berbuat baik kepada orang lain. Dia merasa bahwa Allah hadir dalam hati Anisa yang murni dan niatnya yang tulus.
"Anisa, selalu ingat bahwa Allah akan selalu mendukungmu dalam mengejar cita-citamu," kata Wina. "Membantu orang lain adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri pada Allah. Kita semua adalah ciptaan-Nya, dan ketika kita membantu sesama, kita juga mendekatkan diri pada-Nya."
Anisa mengangguk dengan penuh semangat, dan mereka melanjutkan belajar bersama. Setiap pertemuan dengan anak asuhnya membuat Wina semakin yakin bahwa membantu sesama adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri pada Allah. Dia merasa bahwa Allah hadir dalam setiap tindakan kebaikan dan empati yang dia lakukan.
Selama perjalanan spiritualnya di perguruan tinggi, Wina semakin memahami pentingnya kasih sayang, empati, dan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari ajaran Islam. Dia merasa bahwa Allah hadir dalam setiap tindakan kebaikan dan bahwa menjalani hidup dengan memberi adalah salah satu cara terbaik untuk mendekatkan diri pada-Nya.
__ADS_1
Salah satu kelompok studi di kampus sedang berkumpul untuk mempersiapkan tugas besar mereka tentang topik "Makna Kehidupan." Diskusi ini menjadi salah satu momen yang paling mendalam selama perjalanan Wina di perguruan tinggi.
Wina dan teman-temannya duduk dalam lingkaran, di dalam ruangan dengan jendela-jendela besar yang memungkinkan sinar matahari masuk. Mereka mulai berbicara tentang berbagai pandangan tentang makna hidup.
Seorang teman, Michael, berbicara tentang kepentingan mencapai kesuksesan dalam karier. "Bagi saya, makna hidup adalah mencapai kesuksesan dan mencapai impian-impiannya. Saya ingin memiliki karier yang sukses dan meraih kebahagiaan melalui prestasi."
Teman lain, Lisa, berbicara tentang makna hidup dalam konteks hubungan sosial. "Bagi saya, makna hidup adalah tentang menciptakan ikatan yang kuat dengan orang-orang yang kita cintai. Hubungan kita dengan keluarga, teman, dan pasangan adalah yang paling penting."
Kemudian, giliran Wina untuk berbicara. Dia merasa bahwa inilah saatnya untuk berbicara tentang iman dan keyakinannya. "Saya ingin berbicara tentang bagaimana Allah adalah sumber makna dalam hidup saya. Selama perjalanan saya di perguruan tinggi ini, saya telah mendekat pada Allah dan memahami lebih dalam tentang tujuan hidup. Bagi saya, makna hidup adalah menjalani hidup sesuai dengan ajaran agama saya, Islam. Saya percaya bahwa Allah menciptakan kita untuk mengenal-Nya, menjalani hidup yang baik, dan membantu sesama."
Diskusi ini memicu pertanyaan-pertanyaan mendalam dari teman-teman Wina. Mereka ingin tahu lebih banyak tentang keyakinan Wina dan bagaimana agama memainkan peran dalam hidupnya.
Wina tersenyum. "Perjalanan saya dalam menjalani agama telah membawa saya pada pemahaman yang lebih dalam. Saya belajar tentang ajaran Islam, berdoa, membaca Quran, dan berbicara dengan ulama. Semua itu membantu saya merasakan kehadiran Allah dalam hidup saya. Dan ketika saya merasakan kehadiran-Nya, saya merasa bahwa hidup saya memiliki makna yang lebih dalam."
Diskusi berlanjut, dan teman-teman Wina mulai memahami lebih baik pandangannya tentang agama dan makna hidup. Beberapa dari mereka bahkan tertarik untuk belajar lebih lanjut tentang Islam.
Percakapan ini mengubah dinamika kelompok studi mereka. Mereka menjadi lebih terbuka terhadap berbagai pandangan tentang makna hidup dan belajar untuk menghormati perbedaan satu sama lain. Bagi Wina, ini adalah salah satu momen penting dalam perjalanan spiritualnya di perguruan tinggi, di mana dia merasa bahwa Allah telah memberinya kesempatan untuk berbicara tentang keyakinannya dan membantu teman-temannya untuk lebih memahami pandangannya tentang agama.
Suatu malam, setelah kelompok studi mereka selesai, Wina dan teman-temannya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang istimewa. Mereka memutuskan untuk berdoa bersama-sama meskipun mereka memiliki keyakinan agama yang berbeda. Mereka merasa bahwa doa adalah cara yang indah untuk berkomunikasi dengan Yang Maha Kuasa dan menemukan kesatuan dalam keragaman mereka.
__ADS_1
Mereka berkumpul di sebuah ruangan kecil yang nyaman, ditemani oleh cahaya lembut lampu dan aroma harum lilin yang sedang terbakar. Ruangan itu penuh dengan perasaan damai dan penghormatan terhadap berbagai keyakinan agama yang mereka miliki.
Wina duduk di sebelah temannya yang beragama Kristen, sementara teman-temannya yang lain mengelilingi mereka. Mereka membentuk lingkaran kecil dan menutup mata dalam kesunyian sejenak untuk meresapi suasana sekitar.
Kemudian, mereka memulai doa bersama. Masing-masing dari mereka berbicara dengan bahasa dan tradisi agama mereka sendiri. Wina memulai dengan doa dalam bahasa Arab, mengucapkan syukur kepada Allah atas keberadaan mereka dan memohon petunjuk-Nya dalam hidup.
Teman Kristen Wina mengikuti dengan doa dalam bahasa Inggris, mengucapkan terima kasih kepada Yesus Kristus atas kasih dan belas kasih-Nya. Kemudian, teman Hindu mereka mengucapkan mantra dalam bahasa Sanskerta, menghubungkan mereka dengan energi yang lebih besar dalam alam semesta.
Selanjutnya, teman Buddha mereka melakukan meditasi singkat dan meminta kedamaian dan pemahaman yang lebih dalam. Dan teman lainnya yang beragama Sikh mengakhiri doa dengan nyanyian shabad yang indah.
Setiap doa dan mantra diucapkan dengan penuh kehormatan dan rasa hormat. Mereka merasa bahwa meskipun keyakinan agama mereka berbeda, mereka dapat bersatu dalam rasa syukur dan rasa hormat kepada Yang Maha Kuasa.
Setelah mereka selesai berdoa, suasana ruangan terasa penuh dengan kedamaian dan kehangatan. Mereka membuka mata mereka dan saling tersenyum dengan rasa persaudaraan yang dalam.
Teman Kristen Wina, Michael, berbicara dengan penuh rasa terima kasih. "Saya merasa sangat beruntung memiliki teman-teman seperti kalian. Meskipun kita memiliki keyakinan agama yang berbeda, kita dapat bersatu dalam kebersamaan dan rasa hormat. Ini adalah pengalaman yang istimewa."
Wina menanggapi, "Saya juga merasa demikian, Michael. Ini adalah bukti bahwa Allah hadir dalam berbagai cara dalam hidup kita. Meskipun kita memiliki perbedaan dalam keyakinan, kita semua mencari hubungan yang lebih dalam dengan Yang Maha Kuasa."
Mereka semua merasa lebih dekat satu sama lain dan lebih mendalam dalam pengertian mereka tentang spiritualitas. Doa bersama ini adalah momen yang mengingatkan mereka bahwa Allah hadir dalam berbagai cara dalam hidup mereka dan bahwa persahabatan mereka adalah hadiah yang berharga.
__ADS_1