
Suatu malam di dalam rumah megah keluarga Wina, suasana senyap terasa begitu berat. Cahaya lampu gantung mewah di ruang keluarga menciptakan pantulan sinar di permukaan marmer yang halus. Wina duduk di antara orang tuanya di sofa empuk, wajahnya mencerminkan keragu-raguan yang mendalam. Hatinya penuh dengan kerinduan untuk mendalami agama yang ia miliki, tetapi dia merasa perlu untuk mengungkapkan perasaannya kepada orang tuanya.
"Ayah, Ibu," gumamnya perlahan, hampir terdengar seolah-olah suaranya akan mengganggu kedamaian ruangan. Orang tuanya, Malik dan Aisha, saling pandang, tidak tahu bagaimana mereka harus merespons.
Malik, seorang pria yang sukses dalam dunia bisnis, terlihat serius dengan jas hitamnya yang mahal. Dia jarang terlibat dalam pembicaraan tentang agama dan lebih suka fokus pada kekayaan dan kesuksesan materi. Di sisi lain, Aisha, seorang wanita yang elegan dengan jilbab yang selalu rapi, tidak terlalu terlibat dalam pembicaraan agama dan lebih suka mengikuti gaya hidup sosial yang mereka miliki.
Wina terus melanjutkan, meskipun rasa ragu masih menghantuinya. "Apakah kita pernah benar-benar berbicara tentang agama, tentang makna hidup kita? Saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup kita."
Malik menjawab dengan hati-hati, "Wina, kamu tahu bahwa kami selalu menghormati agama kita. Kami memiliki Islam di KTP kami, dan kami selalu menghadiri acara-acara keagamaan penting."
Aisha mengangguk setuju, "Kamu harus tahu, sayang, bahwa kami mencintai agama kita. Tapi hidup ini juga tentang mengejar kebahagiaan dan sukses."
Wina merasa bahwa kata-kata mereka tidak benar-benar menjawab pertanyaannya. Dia merasa semakin terisolasi dalam kehidupan yang penuh dengan kemewahan tetapi tanpa makna yang mendalam. Dia mencoba menjelaskan perasaannya yang mendalam, "Tapi Ayah, Ibu, apakah kita pernah benar-benar menjalankan ajaran agama kita sehari-hari? Apakah kita pernah benar-benar mengenal Allah?"
Malik dan Aisha berdua merasa tertegun oleh pertanyaan tajam Wina. Mereka tidak dapat menghindari ketidaknyamanan yang merayap di antara mereka. Malik melirik keluar jendela, melihat ke taman yang selalu kosong dan kurang perawatan. Pepohonan mati yang ada di taman itu terlihat menyedihkan, seperti mencerminkan kekosongan yang ada dalam diri mereka.
Aisha, yang selalu lebih peka terhadap perasaan anak-anaknya, mencoba meyakinkan Wina. "Sayang, mungkin ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk lebih mendekatkan diri pada agama kita. Mungkin kita bisa mencari cara untuk memahami dan menjalankan ajaran Islam lebih baik."
Wina merasa lega mendengar kata-kata ibunya, tetapi dia juga merasa bahwa perjalanan ini akan menjadi tantangan besar bagi keluarganya. Suasana ruangan yang awalnya terasa begitu mewah, sekarang terasa lebih berat karena pertanyaan yang belum terjawab menggantung di udara. Tapi Wina merasa bahwa dia telah meletakkan dasar untuk perubahan dalam hidupnya, dan dia tidak akan mundur.
Keesokan harinya, setelah malam yang penuh pertanyaan dari Wina, suasana di rumah keluarga itu masih terasa tegang. Malik dan Aisha merasa perlu untuk memahami lebih lanjut perubahan drastis dalam hidup putri mereka. Mereka duduk di ruang keluarga, wajah mereka mencerminkan kebingungan dan keprihatinan yang mendalam.
__ADS_1
Malik membuka percakapan dengan nada khawatir, "Aisha, kita harus mencari tahu lebih banyak tentang apa yang terjadi dengan Wina. Saya benar-benar tidak mengerti perubahannya."
Aisha mengangguk setuju, "Saya juga merasa seperti itu. Mungkin ada sesuatu yang terjadi di sekolah atau dengan teman-temannya yang kita tidak tahu."
Mereka memutuskan untuk berbicara dengan teman-teman Wina untuk mencari tahu lebih banyak tentang apa yang sedang terjadi dalam hidupnya. Mereka menghubungi beberapa teman dekat Wina yang sering datang ke rumah.
Teman pertama yang mereka hubungi adalah Sarah, sahabat Wina sejak kecil. Mereka menjemput Sarah di rumahnya dan duduk di ruang tamu mereka yang elegan. Pemandangan luar jendela menunjukkan taman yang biasanya sepi dan terbengkalai, pohon-pohon yang layu seperti mencerminkan ketidakpastian dalam keluarga itu.
Malik dengan lembut menanyakan, "Sarah, apakah kamu tahu apa yang terjadi dengan Wina? Dia berbicara tentang agama dan makna hidup, dan itu sangat berbeda dari sebelumnya."
Sarah menatap mereka dengan ekspresi bingung, "Saya juga merasa itu sangat aneh. Wina tiba-tiba menjadi sangat serius dan menghadiri kelas agama di masjid. Dia juga mulai membaca banyak buku tentang Islam."
Aisha menggantikan, "Kami ingin tahu apakah dia berbicara tentang ini kepada teman-temannya atau jika ada sesuatu yang mungkin kita lewatkan."
Malik mengangguk, merasa semakin khawatir tentang perubahan yang ada pada Wina. Setelah berbicara dengan Sarah, mereka menghubungi teman-teman Wina lainnya, tetapi hasilnya sama - tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi dengan Wina dan mengapa dia begitu berubah.
Saat mereka kembali ke rumah, mereka duduk bersama di ruang keluarga yang sama sekali tidak memberikan kenyamanan. Wajah Malik mencerminkan kebingungannya, sementara Aisha merasa cemas. Mereka merasa terjebak dalam situasi yang tidak mereka mengerti.
Malik akhirnya mengucapkan apa yang terlintas dalam pikirannya, "Aisha, mungkin kita perlu bicara dengan Wina secara langsung. Mungkin dia akan memberitahu kita apa yang sedang terjadi dalam hidupnya."
Aisha mengangguk, "Saya setuju. Kita harus mencari tahu apa yang ada dalam pikirannya dan bagaimana kita bisa mendukungnya dalam perubahan ini."
__ADS_1
Namun, dalam hati mereka berdua, pertanyaan-pertanyaan tentang perubahan dalam hidup Wina tetap tidak terjawab. Suasana di dalam rumah mereka, meskipun mewah, semakin terasa tegang dan membebani. Tapi mereka tahu bahwa mereka harus mencari jawaban untuk memahami apa yang terjadi dengan putri mereka yang semakin mendalam dalam agamanya.
Suatu sore yang cerah, ketika matahari mulai tenggelam di balik pepohonan yang mengelilingi rumah mereka, Malik dan Aisha memutuskan untuk menghadapi Wina tentang perubahan yang telah mereka perhatikan dalam hidupnya. Mereka duduk bersama di ruang keluarga yang terasa begitu elegan, tetapi saat ini suasana di dalamnya terasa tegang.
Wina, duduk di antara orang tuanya, merasa ketegangan dalam udara. Dia mencoba untuk tetap tenang dan menjelaskan perasaannya dengan jelas. "Ayah, Ibu," mulainya dengan hati-hati, "saya ingin bicara tentang apa yang terjadi dalam hidup saya belakangan ini. Saya merasa bahwa saya harus mendalami agama kami lebih dalam lagi."
Malik dan Aisha saling pandang, mereka merasa ragu dan tidak nyaman. Malik mencoba menemukan kata-kata yang tepat, "Wina, kita selalu menghormati agama kita. Kami menghadiri acara keagamaan penting dan merayakan hari-hari besar agama. Tapi mengapa kamu merasa perlu untuk mendalaminya lebih jauh lagi?"
Wina mencoba menjelaskan, "Ayah, Ibu, saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup kita. Kita hidup dalam kemewahan, tapi saya merasa kekosongan. Saya ingin tahu lebih banyak tentang Islam, tentang makna hidup kita, dan tentang cara mendekatkan diri pada Allah."
Aisha merasa cemas, "Tapi Wina, apa yang kamu cari dalam agama? Kita sudah memiliki segalanya."
Wina mencoba menjelaskan perasaannya yang mendalam, "Ibu, Ayah, saya ingin hidup ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar kemewahan dan kesenangan duniawi. Saya ingin menjalani hidup sesuai dengan ajaran agama kita."
Malik menggelengkan kepala, "Wina, kamu masih sangat muda. Mungkin ini hanya fase yang akan berlalu. Kita harus fokus pada kesuksesan materi dan memastikan kamu memiliki masa depan yang cerah."
Wina merasa kecewa dengan reaksi orang tuanya yang cenderung menghindar dari topik agama. Dia merasa seperti mereka tidak benar-benar mendengarkannya. "Tapi Ayah, Ibu, saya merasa ini adalah panggilan dalam hati saya. Saya ingin mengenal Allah lebih baik dan hidup sesuai dengan ajaran-Nya."
Pertemuan itu berlanjut dengan suasana yang semakin tegang. Wina mencoba untuk menjelaskan keinginannya dengan lebih jelas, tetapi Malik dan Aisha terus merasa cemas dan tidak yakin tentang perubahan yang dia cari.
Gerak tubuh dan mimik muka mereka mencerminkan ketidaknyamanan. Malik menatap keluar jendela, mencoba untuk merenungkan kata-kata Wina. Aisha merasakan ketidakpastian dalam dirinya, merasa sulit untuk menerima perubahan dalam hidup putrinya yang tiba-tiba.
__ADS_1
Akhirnya, Wina merasa semakin terisolasi dalam keluarga yang dia cintai tetapi tidak memahami perubahan yang dia cari. Pertemuan itu berakhir dengan suasana tegang dan ketidaknyamanan, dan ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Suasana di dalam rumah mereka yang mewah, yang seharusnya memberikan kenyamanan, sekarang terasa semakin membebani.