
Wina duduk di kamarnya yang sederhana, dengan kedua kakinya bersila di atas karpet yang lembut. Lampu meja kecil di depannya menghadirkan cahaya temaram, menciptakan aura yang tenang di dalam ruangan. Sesaat sebelum dia memulai zikirnya, dia merenung sejenak, membiarkan pikirannya merayap ke dalam kerumitan hidupnya yang semakin kompleks.
Kamar Wina dipenuhi oleh atmosfer keheningan yang hampir suci. Dinding-dindingnya dihiasi dengan kaligrafi indah yang menggambarkan ayat-ayat Quran. Di sudut kamar, ada rak penuh dengan buku-buku agama, termasuk beberapa tafsir dan karya-karya ulama terkemuka. Semua barang-barang itu menciptakan lingkungan yang khusuk, tempat di mana Wina merasa dekat dengan Allah.
Dia menatap sebentar pada tasbih yang dipegangnya, menghitung setiap pergerakan yang dilakukannya saat berzikir. Tatapan matanya lembut, dan bibirnya bergerak dengan pelan ketika dia mulai mengucapkan nama-nama Allah. Wina tidak hanya mengucapkan kata-kata, tapi juga merenungkan maknanya. Baginya, zikir adalah saat-saat khusyuk ketika dia bisa berbicara langsung dengan Sang Pencipta.
Saat suara zikirnya mengisi kamar, Wina merasa kedamaian merayap ke dalam hatinya. Dia melupakan sejenak semua masalah dunia dan hanya fokus pada kehadiran Allah. Pada saat seperti ini, tidak ada yang bisa mengganggu ketenangannya. Pikirannya tidak lagi terpecah antara tugas-tugas kampus, perencanaan pernikahan, atau kekhawatirannya tentang masa depan.
Tiba-tiba, suara adzan dari luar masuk melalui jendela kamar Wina. Dia menghentikan zikirnya sejenak untuk mendengarkan panggilan shalat yang merdu. Itu adalah waktu shalat Maghrib. Sejenak dia membiarkan suara adzan itu mengalir ke dalam dirinya, mengingatkannya akan kewajiban sebagai seorang Muslim.
Setelah adzan berakhir, Wina melanjutkan zikirnya. Dia merasa bahwa dalam zikir inilah dia menemukan kedekatan yang hakiki dengan Allah. Itu adalah saat-saat di mana dia bisa merasa begitu dekat dengan Sang Pencipta, saat-saat ketika dia merenungkan makna hidupnya dan mencari petunjuk-Nya.
Beberapa saat kemudian, suara zikirnya perlahan-lahan mereda. Wina membuka matanya dan menatap buku Quran yang terbuka di atas meja. Dia merasa terhubung dengan Allah dan merasa bahwa dia telah menemukan sedikit kedamaian dalam hening yang dia ciptakan di dalam kamar ini.
Tiba-tiba, ponselnya berdering, memecah keheningan yang baru saja diciptakan. Dia mengambil ponselnya dan melihat pesan dari teman-temannya yang merencanakan kejutan ulang tahunnya. Mereka ingin mengundangnya ke restoran malam ini untuk merayakan bersama. Wina tersenyum dan merasa bersyukur atas teman-teman yang peduli dengannya.
__ADS_1
Dia menjawab pesan tersebut dengan singkat, "Tentu, aku akan datang." Namun, di dalam hatinya, dia tahu bahwa meskipun ada perayaan di dunia, dia akan selalu mencari kedamaian sejati dalam zikir dan hubungannya dengan Allah.
Wina duduk kembali di tengah kamarnya yang tenang, menghadap meja kecil tempat dia biasanya berzikir. Cahaya lembut dari lampu meja terus menyinari wajahnya yang penuh ketenangan. Wina melanjutkan zikirnya dengan suara yang pelan, setiap kata yang diucapkannya adalah bukti ketulusan hatinya dalam mencari Allah.
Suara zikir Wina terdengar merdu di dalam ruangan. Setiap kalimat yang diucapkannya adalah ungkapan rasa syukur, pengabdian, dan cinta kepada Sang Pencipta. Dia merenung tentang bagaimana perjalanan spiritualnya telah membantu dia menjalin kekuatan yang mendalam dalam menghadapi cobaan di kampus dan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam keheningan kamar, dia merenung tentang tantangan yang dia hadapi selama ini. Studi di perguruan tinggi terkemuka tidaklah mudah, dan sering kali dia harus menghadapi tekanan dari tugas dan ujian. Namun, dia percaya bahwa Allah selalu bersamanya, memberinya kekuatan untuk terus maju.
Wina juga merenung tentang rencana pernikahannya yang mendatang. Ayahnya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang tidak begitu dikenalnya, Pak Surya. Meskipun dia mencoba untuk menerima rencana tersebut dengan hati terbuka, dia tahu bahwa ini adalah ujian yang besar dalam hidupnya. Dia merasa lega bisa melarikan diri sejenak dari pikiran-pikiran tentang pernikahan dan semua ekspektasi yang ada.
Ketika zikirnya berlanjut, Wina merenungkan bagaimana dia telah tumbuh sebagai individu sepanjang perjalanannya. Dia tidak lagi melihat tantangan sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk berkembang. Setiap kali dia merasa lemah atau bingung, dia tahu bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang selalu mendukungnya.
Beberapa saat kemudian, suara adzan Maghrib kembali mengalun dari jendela kamar Wina. Dia menghentikan zikirnya dan mendengarkan panggilan shalat. Wina tahu bahwa saat ini adalah waktu yang suci, waktu untuk berkomunikasi lebih dekat dengan Allah. Dia menutup matanya dan berdoa, memohon petunjuk dan kekuatan dalam menghadapi segala cobaan yang akan datang.
Setelah selesai berdoa, Wina membuka mata dan merasa penuh kedamaian. Dia tahu bahwa perjalanan spiritualnya telah membantunya menjalin kekuatan dari dalam, dan dia siap menghadapi apa pun yang akan datang dalam hidupnya. Dengan keyakinan dan cinta kepada Allah, dia yakin bahwa dia akan terus tumbuh dan berkembang sebagai individu yang lebih baik.
__ADS_1
Wina mengambil langkah ringan menuju rak buku di sudut kamarnya yang dihiasi dengan kaligrafi indah. Dengan lembut, dia mengambil Quran yang sudah dia kenal begitu baik. Cover berwarna cokelat tua menutupi halaman-halaman suci di dalamnya. Dengan hati yang penuh rasa hormat, dia membukanya.
Di sudut kamar yang hening, Wina duduk dengan nyaman dan merenungkan beberapa ayat awal dari Quran. Suaranya yang tenang dan merdu mengisi ruangan saat dia membaca ayat demi ayat. Setiap kata yang diucapkannya adalah ungkapan dari hati yang dipenuhi rasa hormat kepada Allah.
Wina merenungkan makna ayat-ayat yang dia baca. Dia mencoba untuk memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dan bagaimana bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-harinya. Quran adalah sumber inspirasinya, tempat dia mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya.
Sebagai seorang mahasiswa yang terlibat dalam berbagai aktivitas kampus, seringkali Wina harus menghadapi tekanan dan tantangan yang datang. Baginya, membaca Quran adalah sumber kekuatan dan inspirasi. Dia merasa bahwa ayat-ayat suci itu memberinya panduan dan dukungan dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan cobaan.
Saat dia membaca lebih dalam, suara azan Maghrib berkumandang dari masjid terdekat. Dia tahu bahwa ini adalah saat yang suci, saat untuk melanjutkan dengan shalat Maghrib. Wina menutup Quran dengan lembut dan menempatkannya kembali di raknya dengan penuh hormat.
Dia berdiri dan melakukan wudhu dengan hati-hati, mencuci kedua tangannya, wajahnya, dan kaki-kakinya. Setelah selesai, dia bersujud di sajadahnya, berdoa kepada Allah, dan memulai shalat Maghrib dengan khusyuk. Saat dia bersujud, dia merasa begitu dekat dengan Sang Pencipta.
Setelah selesai shalat, Wina merasa tenang dan penuh kedamaian. Dia merasa bahwa setiap kali dia membaca Quran dan beribadah, dia mendapatkan kekuatan untuk menjalani kehidupannya dengan penuh keyakinan dan ketenangan. Quran adalah sumber cahaya di dalam kehidupannya, membimbingnya dalam setiap langkah yang dia ambil.
Wina tahu bahwa perjalanan spiritualnya adalah perjalanan yang panjang dan penuh dengan cobaan. Namun, dia yakin bahwa dengan menjadikan Quran sebagai panduan utama dalam hidupnya, dia akan terus tumbuh sebagai individu yang lebih baik dan mendekatkan diri pada Allah.
__ADS_1