Tetesan Pertama Air Wudhu Wina

Tetesan Pertama Air Wudhu Wina
Pertimbangan dalam Keheningan


__ADS_3

Wina duduk di kamar kecilnya yang tenang, menatap layar komputernya yang mati. Cahaya lembut lampu ruangan menyinari sudut-sudut kamar, menciptakan atmosfer yang damai. Suara langkah kaki di koridor luar bergema pelan, menciptakan suasana rumah kosnya yang biasanya tenang.


Keheningan yang mendalam menggiringnya ke dalam pemikirannya yang penuh pertimbangan. Dia merasa terjebak dalam situasi yang rumit dan kacau. Keputusan besar harus dia ambil dalam waktu dekat, tentang pernikahan yang diajukan oleh ayahnya. Pernikahan dengan Pak Surya, seorang CEO kaya yang jauh lebih tua darinya, menjadi pilihan yang tampaknya harus dia terima.


Namun, kejadian tiba-tiba di hari akad nikah itu membuat semuanya menjadi semakin rumit. Tiba-tiba saja, seorang wanita muncul dan mengaku sebagai istri sah Pak Surya. Semua rencana yang telah disusun tampak runtuh begitu saja, dan Wina merasa seperti dalam pusaran ketidakpastian.


Wina mendongak, memandang langit-langit kamarnya yang hening. "Ya Allah," gumamnya dalam hati. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku merasa terjebak di antara dua pilihan yang sulit."


Dia menutup mata sejenak, mencoba merenung. Dia ingat semua perbincangan yang telah dia miliki dengan ayahnya tentang pernikahan ini. Ayahnya mempertimbangkan keuntungan finansial yang besar yang akan dia dapatkan melalui pernikahan ini. Mereka telah berbicara tentang kemewahan dan stabilitas yang akan dia nikmati sebagai istri seorang pengusaha kaya.


Tetapi di sisi lain, ada keraguan besar dalam dirinya. Dia tidak merasa siap untuk menikah, apalagi dengan seseorang yang begitu berbeda usianya. Wina ingin menjalani hidup yang mandiri, mengejar pendidikannya, dan mengejar mimpinya. Dia juga ingin mencari cinta sejati yang tulus dan bukan hanya karena status sosial atau kekayaan.


Dia membuka mata dan menatap keluar jendela kecil di kamarnya. Bulan bersinar terang di langit, dan bintang-bintang menyala dengan gemilangnya. Keheningan malam memberinya kesempatan untuk merenung lebih dalam lagi.


Wina memutuskan untuk berdoa. Dia tahu bahwa hanya Allah yang dapat memberikan petunjuk dalam situasi ini. Dia tahu bahwa keputusan ini akan memengaruhi seluruh hidupnya. Dengan hati yang penuh kerendahan, dia memohon kepada Allah untuk memberikan petunjuk yang benar.


"Sesungguhnya, ya Allah," ucapnya dalam doanya, "aku memohon petunjuk-Mu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, tetapi aku percaya bahwa Engkau akan memberiku jalan yang benar. Bimbinglah aku, ya Allah, dalam keputusan ini."

__ADS_1


Wina merasa beban yang sedikit ringan setelah berdoa. Dia merasa bahwa dengan mengandalkan Allah, dia akan mampu menghadapi permasalahan ini. Dalam keheningan malam itu, dia tahu bahwa perjalanan hidupnya akan terus berlanjut, dan dia harus siap menghadapi apapun yang akan datang.


Wina merasa cemas dan kebingungan. Setelah merenung dalam keheningan, dia merasa perlu untuk berdoa dengan lebih dalam lagi. Dia ingin mendekatkan diri kepada Allah, Sang Pencipta, yang dia yakini akan memberikan petunjuk dalam saat-saat sulit seperti ini.


Kamar kecilnya kini tenggelam dalam kegelapan. Wina bangkit dari duduknya dan mulai menghampiri lilin yang terletak di meja kecil di sudut kamar. Dengan perlahan, dia mengambil korek api dan menyulut lilin tersebut. Cahaya lembut lilin itu mulai menyinari kamarnya, menciptakan suasana yang tenang dan hening.


Dalam kegelapan malam, Wina duduk bersila di karpet di sudut kamar, dengan mata tertuju pada nyala lilin yang menari-nari. Dia membiarkan dirinya merasakan ketenangan dalam kegelapan yang mendekapnya. Dia tahu bahwa hanya dalam keheningan ini, dia akan mendengar suara hatinya yang dalam.


Wina menutup matanya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam doa. Dia berbicara dengan Allah dengan khidmat, memohon petunjuk dan kekuatan dalam menghadapi situasi yang rumit ini. Suaranya yang lembut terdengar seperti bisikan dalam kegelapan, dan setiap kata yang dia ucapkan penuh dengan ketulusan dan kerendahan hati.


Wina terus berdoa, meminta Allah untuk memberikan petunjuk yang jelas tentang langkah yang harus dia ambil. Dia mencurahkan isi hatinya dalam doa tersebut, menceritakan semua keraguannya, ketakutannya, dan kerinduannya untuk menjalani hidup yang sesuai dengan keinginannya.


Lilin terus menyala di sampingnya, menciptakan suasana yang nyaman dan tenang. Wina merasa bahwa dia tidak sendirian dalam doanya, bahwa Allah mendengarkan setiap kata yang dia sampaikan. Meskipun dia tidak mendengar suara fisik, dia merasa hubungan yang mendalam dengan Sang Pencipta.


Setelah berdoa cukup lama, Wina membuka matanya perlahan dan merasa sedikit lega. Dia merasa bahwa dia telah melepaskan beban hatinya dan memberikannya kepada Allah. Meskipun keputusan yang harus diambilnya tetap sulit, dia tahu bahwa dengan mengandalkan Allah, dia akan mampu menghadapinya.


Dia berdiri dari tempat duduknya, mematikan lilin dengan hati-hati, dan kembali berbaring di tempat tidur. Meskipun masih ada ketidakpastian di masa depan, Wina merasa bahwa dia telah menemukan kedamaian dalam doanya. Dalam kegelapan yang mendalam, dia tertidur dengan pikiran yang tenang, siap menghadapi apa pun yang akan datang.

__ADS_1


Setelah berdoa dalam kegelapan, Wina merasa perlu merenungkan firman Allah lebih dalam lagi. Dia yakin bahwa dalam Quran, dia akan menemukan petunjuk dan ketenangan yang sangat dia butuhkan dalam situasi sulit ini. Tanpa ragu, dia mengambil Quran yang selalu dia simpan di meja samping tempat tidurnya.


Wina membuka Quran dengan lembut, halaman demi halaman. Dia merasa beruntung karena memiliki Alkitab suci ini sebagai panduan dalam hidupnya. Saat dia mulai membaca, suaranya pelan dan penuh dengan penghayatan. Setiap ayat yang dia baca mengalir begitu indah, menciptakan kedamaian dalam kamarnya.


"Ya Allah," gumamnya dalam hati, "aku mencari petunjuk dalam firman-Mu. Tolong tunjukkan aku jalan yang benar."


Dia memulai membaca dari surah Al-Baqarah, salah satu surah terpanjang dalam Quran. Ayat-ayatnya yang kaya dengan hikmah dan ajaran moral mengalir dengan indahnya. Wina mendengarkan setiap kata dengan penuh perhatian, memahami pesan yang ingin disampaikan oleh Allah.


Seiring dia membaca, dia mulai merenungkan makna ayat-ayat tersebut. Dia merasa kedekatan dengan Allah yang semakin dalam. Quran bukan hanya kata-kata, tetapi sebuah panduan yang memberikan arah dalam hidupnya. Alunan ayat-ayat itu memberinya ketenangan dan harapan.


Wina membaca sepanjang malam, terlelap dalam penghormatannya kepada Allah. Dia merenungkan surah-surah yang mengajarinya tentang kebijaksanaan, keadilan, dan cinta kasih. Dia merenungkan surah-surah yang mengingatkannya akan kepentingan menjaga hati yang bersih dan rendah hati.


Pada suatu saat, ketika dia membaca surah Ar-Rahman, dia merasa begitu terharu. Ayat-ayat yang menggambarkan keindahan alam semesta dan rahmat Allah begitu kuat dan memukau. Wina merasa bahwa dia telah menemukan jawaban atas pertanyaannya yang berkutat dalam hatinya.


"Rahmat Allah meliputi segala sesuatu," ucapnya dalam hati. "Mungkin inilah petunjuk-Nya untukku."


Dia menutup Quran dengan penuh penghormatan, merasa bahwa dia telah mendapatkan ketenangan yang sangat dia cari. Dalam keheningan malam, dia merasa kuat dan siap menghadapi apapun yang akan datang. Dengan hati yang penuh rasa syukur, dia merasa bahwa Allah selalu ada di sisinya, siap membimbingnya dalam setiap langkah hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2