Tetesan Pertama Air Wudhu Wina

Tetesan Pertama Air Wudhu Wina
Ketika Wina Bertanya pada Allah


__ADS_3

Wina merasa bahwa langkah selanjutnya dalam perjalanannya adalah mencari nasehat dari seseorang yang lebih berpengetahuan tentang agama. Dia memutuskan untuk berbicara dengan Ustadzah Farida, seorang tokoh agama yang dia percayai dan hormati. Wina telah menghadiri kuliah-kuliah agama yang diselenggarakan oleh ustadzah ini sejak lama, dan dia merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk mencari wawasan lebih lanjut tentang pernikahan yang dijodohkan ayahnya.


Suatu pagi, Wina pergi ke masjid tempat Ustadzah Farida mengajar. Meskipun masih awal hari, matahari sudah bersinar terang dan cuaca cerah. Suasana alam di sekitar masjid ini selalu membuatnya merasa tenang dan dekat dengan Allah. Dia berdoa dalam hati agar mendapatkan petunjuk yang jelas dari Ustadzah Farida.


Ketika dia tiba di masjid, dia melihat Ustadzah Farida sedang memberikan ceramah kepada sekelompok wanita. Wina menunggu dengan sabar hingga ceramah selesai. Setelah semua wanita meninggalkan tempat itu, dia mendekati Ustadzah Farida dengan hormat.


"Assalamualaikum, Ustadzah Farida," sapa Wina dengan lembut.


"Waalaikumsalam, Wina," ujar Ustadzah Farida dengan senyum ramah. "Apa yang bisa saya bantu?"


Wina memaparkan situasi dan kebingungannya terkait rencana pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya. Dia ingin tahu apakah pernikahan tersebut sejalan dengan nilai-nilai agama Islam dan apakah itu merupakan langkah yang benar dalam perjalanan hidupnya.


Ustadzah Farida mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian. Setelah Wina selesai berbicara, ustadzah ini menjawab dengan bijaksana, "Wina, pernikahan adalah bagian penting dalam agama Islam. Namun, dalam Islam, pernikahan harus didasarkan pada cinta, saling pengertian, dan kesetaraan antara suami dan istri. Sementara pernikahan yang dijodohkan oleh orang tua dapat menjadi pilihan yang baik dalam beberapa kasus, penting untuk memastikan bahwa itu dilakukan dengan kesepakatan dan kebahagiaan dari kedua belah pihak."


Ustadzah Farida melanjutkan, "Hal terpenting adalah bahwa pernikahanmu harus sejalan dengan keinginanmu dan nilai-nilai agama. Jika merasa bahwa ini adalah jalan yang benar, maka pertimbangkan untuk memberikan kesempatan pada pernikahan ini. Namun, jika merasa bahwa ini tidak sesuai dengan nilai-nilai agama atau perasaanmu, kamu juga memiliki hak untuk menolaknya dengan baik."

__ADS_1


Wina merasa lega mendengar nasehat bijaksana dari Ustadzah Farida. Dia merasa bahwa pertemuan ini memberinya pemahaman yang lebih dalam tentang pernikahan dalam Islam dan memberinya kekuatan untuk membuat keputusan yang tepat. Setelah berbicara lebih lanjut dengan ustadzah ini, Wina merasa bahwa dia memiliki dasar yang kuat untuk mengejar perjalanan spiritualnya dengan lebih yakin.


Malam itu, Wina duduk di kamar kecilnya dengan cahaya lembut dari lampu tidurnya yang memancar redup. Dia merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk berbicara secara pribadi dengan Allah, tanpa gangguan dari dunia luar. Sebelumnya, dia telah merencanakan momen ini dan mempersiapkan hatinya untuk menghadap Allah dengan rendah hati.


Dia duduk di atas sajadahnya dan mulai merenung dalam-dalam. Dalam keheningan kamarnya, dia merasa hadirnya Allah yang begitu dekat. Dia mulai berbicara dengan lembut dalam hatinya.


"Allah yang Maha Kuasa," gumamnya, "Aku tahu bahwa Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu. Engkau adalah satu-satunya yang dapat memberikan petunjuk yang benar. Aku mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam benakku. Tolong, berikan aku petunjuk-Mu yang jelas."


Wina merenungkan pertemuan dengan Pak Surya dan segala keraguan yang menghantuinya. Dia mencari petunjuk dari Allah tentang apakah rencana pernikahan tersebut adalah jalan yang seharusnya dia ambil. Dalam doanya, dia memohon kepada Allah untuk membukakan jalan yang benar baginya.


Wina melanjutkan doanya, "Ya Allah, aku ingin mengambil keputusan yang sejalan dengan agamaku dan yang akan membuatku bahagia. Aku tahu bahwa Engkau Maha Pemurah dan Maha Pengasih. Tunjukkan padaku jalan yang benar, Ya Allah."


Momen ini adalah momen kedekatan yang sangat dalam antara Wina dan Allah. Dalam keheningan malam itu, dia merasa bahwa hatinya tersentuh oleh kehadiran-Nya. Air mata mengalir dari matanya saat dia merenungkan perjalanan spiritualnya dan bagaimana dia telah mendekat pada Allah dalam pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya.


Wina tahu bahwa meskipun mungkin tidak segera mendapatkan jawaban, doanya telah didengar oleh Allah. Dia merasa lebih tenang dan penuh keyakinan setelah momen tersebut. Dia tahu bahwa, meskipun perjalanan ini mungkin sulit, Allah akan selalu menjadi panduan dan pemimpin dalam hidupnya.

__ADS_1


Wina duduk di kamar kecilnya, memandang keluar jendela. Malam itu, langit penuh dengan bintang yang bersinar terang. Dia merasa bahwa inilah saatnya untuk membuat keputusan yang sangat sulit. Pertemuan dengan Pak Surya dan nasihat dari Ustadzah Farida telah memberinya wawasan yang lebih dalam tentang pernikahan yang dijodohkan ayahnya.


Dalam keheningan kamar itu, Wina merenungkan semua yang telah dia pelajari. Dia tahu bahwa pernikahan adalah komitmen serius dalam agama Islam, dan dia harus membuat keputusan yang akan memengaruhi seluruh hidupnya. Kedekatannya dengan Allah memberinya kekuatan untuk menghadapi situasi ini dengan kepala dingin dan hati yang tenang.


Dia merenungkan apakah pernikahan dengan Pak Surya adalah jalan yang benar baginya. Meskipun ada keuntungan finansial yang besar dalam pernikahan tersebut, dia juga menyadari bahwa pernikahan seharusnya didasarkan pada cinta, kesetaraan, dan nilai-nilai agama. Dia bertanya pada dirinya sendiri apakah dia akan bahagia dalam pernikahan yang dijodohkan oleh orang tua, terutama jika perasaannya tidak terlibat.


Wina juga berpikir tentang perjalanan spiritualnya yang telah dia jalani. Dia merasa bahwa Allah telah memberinya petunjuk dan kekuatan untuk menjalani perjalanan ini. Dia bertanya pada dirinya sendiri apakah pernikahan dengan Pak Surya akan sejalan dengan perjalanan spiritualnya atau justru akan menghalangi pertumbuhannya dalam agama.


Air mata mulai mengalir dari mata Wina saat dia merasa tertekan oleh tekanan untuk membuat keputusan. Dia berdoa dalam hati, memohon petunjuk dari Allah. Dia merasa bahwa hanya Allah yang tahu apa yang terbaik baginya, dan dia memohon agar mendapatkan petunjuk yang benar.


"Ya Allah," gumamnya dalam doanya, "tolong berikan aku petunjuk yang benar. Aku ingin membuat keputusan yang sejalan dengan agamaku dan yang akan membuatku bahagia. Aku tahu bahwa Engkau Maha Mengetahui dan Maha Pemurah. Bimbinglah aku, Ya Allah."


Wina merasa bahwa keputusannya harus didasarkan pada nilai-nilai agama, kebahagiaannya, dan perjalanan spiritualnya. Dia tahu bahwa ini adalah keputusan yang akan memengaruhi seluruh hidupnya, dan dia harus membuatnya dengan hati yang jujur dan tulus.


Setelah berdoa, Wina merasa lebih tenang. Dia tahu bahwa keputusan ini harus dia ambil dengan hati yang penuh keyakinan. Dia merasa bahwa Allah akan memberinya petunjuk yang benar dan bahwa dia akan menjalani perjalanan hidupnya sesuai dengan kehendak-Nya. Dalam keheningan malam yang tenang, Wina memutuskan untuk menghadapi situasi ini dengan kepala dingin dan hati yang tulus.

__ADS_1


__ADS_2