
Ruang keluarga yang mewah itu terasa hening, selain suara getaran dari arloji mahal yang ditempatkan di dinding. Wina duduk di antara dua kursi empuk, memandang kedua orang tuanya yang duduk di seberangnya. Ibunya, seorang wanita cantik berkerudung, menatapnya dengan mata penuh kekhawatiran. Ayahnya, seorang pria yang selalu sibuk dengan bisnisnya, mengernyitkan kening, mencoba memahami perubahan besar yang telah dialami oleh putrinya.
"Kenapa kamu melakukan ini, Wina?" tanya ibunya dengan suara lirih, suara yang selalu membawa ketenangan sebelumnya. "Kamu tahu kami khawatir tentangmu."
Wina merasa perasaannya berkecamuk di dalam dirinya saat dia mencoba menjelaskan, "Ini adalah perubahan yang aku butuhkan, Mama. Aku ingin mendekatkan diri pada Allah, mengenal-Nya dengan lebih baik."
Mata ayahnya yang biasanya serius sekarang tampak penuh dengan keraguan. "Tapi ini terlalu drastis, Wina. Kamu tiba-tiba berubah begitu besar. Kami tidak mengerti."
Wina menggigit bibirnya, mencoba menemukan kata-kata yang tepat. "Ayah, Mama, selama ini aku merasa seperti ada yang hilang dalam hidupku. Kemewahan dan kesenangan materi tidak pernah bisa mengisi kekosongan itu. Aku ingin mencari makna yang lebih dalam, menggali spiritualitas dalam diriku."
Ibunya mengangguk perlahan, mencoba untuk merangkul pemikiran Wina. "Kami mengerti kamu mencari makna dalam hidupmu, tetapi apakah kamu yakin ini adalah cara yang benar?"
Wina menjawab dengan tegas, "Iya, Mama, aku yakin. Aku merasakan panggilan kuat dalam hatiku untuk menjalani hidup yang lebih bermakna. Aku ingin mencari Allah dan menjalani ajaran-Nya."
Ayahnya mendesah berat, merasa dilema antara mendukung putrinya dan khawatir akan masa depannya. "Kami tidak ingin kehilanganmu, Wina. Kami ingin yang terbaik untukmu."
Wina merasa air mata mulai menetes dari matanya saat dia menjelaskan, "Aku juga tidak ingin kehilangan kalian, Ayah, Mama. Tapi ini adalah perubahan yang aku butuhkan untuk merasa utuh, untuk merasa hidup dengan penuh makna."
Suasana dalam ruangan itu terasa tegang, tetapi ada pengertian yang dalam di antara mereka. Orang tua Wina tahu bahwa perubahan ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi putri mereka, meskipun mereka merasa cemas.
"Kami akan mencoba memahami, Wina," kata ibunya dengan suara lembut, sambil mencoba tersenyum.
Wina merasa lega mendengar dukungan awal dari orang tuanya. Namun, dia juga tahu bahwa perjalanan menuju Allah dan mendalami agamanya tidak akan mudah. Tantangan-tantangan yang lebih besar menantinya di masa depan, termasuk bagaimana dia akan menjalani hidup sehari-hari dengan pilihan hidup yang baru ini.
Konflik semakin dalam ketika Wina mencoba menjelaskan perubahan dalam hidupnya kepada orang tuanya. Mereka merasa bingung dan takut bahwa dia akan terisolasi dari dunia mereka yang materi.
__ADS_1
Ayahnya berkata dengan keras, "Kamu belum pernah serius tentang apa pun, Wina. Bagaimana mungkin kamu mengambil langkah seperti ini?"
Malam itu, ruangan keluarga yang mewah terasa seperti medan pertempuran emosi. Wina duduk tegak di kursi empuknya, sementara ibunya duduk di sofa berwarna cokelat muda dan ayahnya berdiri di depan jendela yang memandang ke taman yang tampak mati. Mereka berada dalam keheningan yang tegang, sampai akhirnya ayahnya berbalik untuk menghadap Wina.
"Aku masih tidak bisa mempercayai ini," ucap ayahnya dengan suara tajam, geram. "Kamu belum pernah serius tentang apa pun, Wina. Bagaimana mungkin kamu mengambil langkah seperti ini?"
Wina menggigit bibirnya, mencoba menahan emosinya. Dia tahu bahwa percakapan ini tidak akan mudah. "Ayah," katanya dengan lembut, "aku tahu ini terlihat tiba-tiba, tetapi ini adalah panggilan yang begitu kuat dalam hatiku. Aku merasa seperti ada yang hilang selama ini, dan aku ingin mencari makna hidup yang lebih dalam."
Ibunya yang selama ini diam, akhirnya ikut bicara dengan suara lembut. "Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak. Kami khawatir bahwa kamu akan terisolasi dari dunia ini yang kami kenal."
Wina mengangkat pandangannya, mata berkaca-kaca, dan memandang kedua orang tuanya. "Aku tidak akan terisolasi, Mama. Aku akan tetap menjalani hidup ini, tetapi dengan lebih banyak makna. Aku akan mencari Allah dan menjalani ajaran-Nya."
Ayahnya mengepalkan tangan dengan frustrasi. "Tapi ini terlalu besar, Wina. Kami takut kamu akan tersesat."
Ibunya mencoba menenangkan situasi dengan lembut, "Kami hanya perlu waktu untuk memahami ini, Nak. Ini adalah perubahan besar dalam hidupmu."
Wina mengangguk mengerti, meskipun perasaannya campur aduk. "Aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir. Aku hanya mencoba menjalani hidup sesuai dengan apa yang aku yakini sebagai jalan yang benar."
Ayahnya masih tampak ragu. "Kamu tahu, Wina, kami mencintaimu dan hanya ingin melindungimu dari kesalahan."
Wina tersenyum lembut, mencoba menghilangkan ketegangan. "Aku tahu, Ayah. Aku merasakan cinta dan dukunganmu, bahkan jika ini adalah perubahan besar."
Suasana dalam ruangan itu masih tegang, tetapi ada sentuhan pengertian antara mereka. Wina tahu bahwa orang tuanya mencintainya dan hanya ingin yang terbaik baginya, meskipun mereka tidak sepenuhnya memahami perubahan dalam hidupnya.
"Kita akan mencari cara untuk mendukungmu, Wina," kata ibunya dengan penuh kelembutan. "Kami ingin melihatmu bahagia."
__ADS_1
Wina merasa lega mendengar kata-kata itu. Meskipun percakapan ini tidak sepenuhnya meredakan kekhawatiran orang tuanya, setidaknya mereka tidak lagi merasa terasing satu sama lain. Wina tahu bahwa perjalanan menuju Allah akan penuh dengan tantangan, tetapi dia siap menghadapinya dengan tekad dan keyakinan.
Minggu berikutnya, orang tua Wina mulai mengambil langkah untuk mencoba mengubah kembali putri mereka ke dalam gaya hidup duniawi yang biasa dia jalani. Mereka merasa bahwa dengan membawanya kembali ke pesta-pesta dan merayakan kemewahan, mereka dapat membuatnya melupakan panggilan spiritual yang baru.
Pagi itu, ibunya mendekati Wina di ruang makan, mengenakan gaun mewah berwarna emas dengan perhiasan yang berkilau. "Wina, kita akan menghadiri pesta besar malam ini. Ini adalah kesempatan bagus untukmu untuk bertemu dengan teman-teman lama dan bersenang-senang seperti dulu."
Wina mengangkat alis, merasa sedikit tidak nyaman dengan ide tersebut. "Mama, aku tidak yakin apakah aku ingin pergi. Aku sudah merasa seperti aku harus lebih fokus pada perjalanan spiritualku."
Ayahnya, yang mengenakan setelan jas mahal, bergabung dalam percakapan. "Wina, ini hanya satu malam. Kami ingin kamu merasa seperti seorang remaja normal lagi. Apa salahnya mencoba untuk bersenang-senang sebentar?"
Wina merasa dilema. Di satu sisi, dia mencintai orang tuanya dan tidak ingin membuat mereka khawatir. Di sisi lain, dia tahu bahwa perubahan dalam hidupnya adalah sesuatu yang penting baginya. Setelah pertimbangan sejenak, dia akhirnya setuju.
Pada malam pesta, mereka tiba di rumah besar yang dipenuhi dengan lampu-lampu sorot dan tamu-tamu yang berkilauan. Musik keras dan tawa riuh memenuhi udara. Wina merasa kebingungan di tengah keramaian, merindukan ketenangan yang biasanya dia temukan dalam ibadah dan refleksi spiritualnya.
Di salah satu sudut ruangan, Wina melihat beberapa teman lamanya, yang tampak begitu ceria dengan segelas sampanye di tangan. Mereka berlomba-lomba menceritakan kisah-kisah petualangan mereka yang baru-baru ini.
Salah satu temannya, Lisa, mendekati Wina dengan senyum yang lebar. "Wina! Kau benar-benar membuat kami kaget dengan perubahanmu. Tapi malam ini, kita akan membuatmu merasakan betapa menyenangkannya kehidupan seperti dulu."
Wina tersenyum sopan, meskipun dia merasa sedikit canggung. Mereka mulai memasuki dansa dan perbincangan yang banal tentang fashion, perjalanan, dan kehidupan duniawi lainnya. Namun, semakin lama malam berlangsung, semakin terasa kosong bagi Wina. Dia merindukan makna yang lebih dalam dalam hidupnya, dan kemewahan dan kesenangan duniawi ini tidak lagi memenuhi hatinya.
Ketika ibunya mendekati Wina dan menawarkan segelas sampanye, Wina menolak dengan lembut. "Terima kasih, Mama, tapi aku merasa bahwa ini bukan lagi bagian dari diriku."
Ibunya tampak sedikit kecewa, tetapi dia mengerti bahwa putrinya telah berubah. Mereka akhirnya pulang dari pesta, dan Wina merasa lega saat kembali ke kedamaian rumah mereka.
Namun, dia tahu bahwa konflik antara panggilan spiritualnya dan ekspektasi orang tuanya masih akan berlanjut. Wina harus tetap kuat dalam keyakinannya dan mencari jalan yang benar dalam perjalanan menuju Allah.
__ADS_1