Tetesan Pertama Air Wudhu Wina

Tetesan Pertama Air Wudhu Wina
Penghargaan dan Pengakuan


__ADS_3

Wina kembali ke Indonesia dengan perasaan campur aduk. Meskipun telah pulang ke rumah, ingatannya masih terisi dengan pengalaman di Palestina. Kedatangannya di bandara disambut oleh suhu tropis yang panas dan keramaian ibu kota Jakarta yang begitu kontras dengan kenyataan di Timur Tengah.


Ibunya, Ibu Siti, yang selalu merindukannya, melingkari lehernya dengan erat dan berkata, "Kamu telah melakukan hal yang sangat besar, Nak. Kami bangga padamu." Wina merasa hangat di dalam pelukan ibunya dan membiarkan air mata tumpah di pipinya.


Ketika ia kembali ke apartemennya, teman-teman dekatnya sudah menunggu di sana. Mereka mengadakan pesta kecil sambutan dengan makanan Indonesia kesukaan Wina, nasi goreng dan sate ayam. Mereka bercerita tentang apa yang telah terjadi selama dia pergi dan bagaimana mereka merindukannya.


"Kalian adalah teman-teman terbaik," kata Wina dengan tersenyum. "Saya tidak akan bisa melewati semuanya tanpa dukungan kalian."


Tidak lama kemudian, Wina menerima panggilan telepon yang tidak terduga dari teman kuliahnya, Rizky. Dia berbicara dengan antusias, "Hai, Wina! Aku hanya melihat berita tentang penghargaanmu sebagai relawan terbaik di Palestina. Itu sungguh mengagumkan!"


Wina tersenyum mendengar ucapan Rizky. "Terima kasih, Rizky. Itu adalah pengalaman yang sangat berarti bagi saya."


Malam berikutnya, Wina menerima pesan singkat dari Dr. Layla di Palestina. "Saya bangga menjadi bagian dari perjalanan Anda, Wina. Penghargaan ini juga adalah bukti penghargaan untuk kerja keras seluruh tim medis kita di sana. Semoga kita bisa terus berkolaborasi dalam misi kemanusiaan."


Selang beberapa hari, Wina menerima undangan resmi untuk menghadiri sebuah upacara penghargaan yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi kemanusiaan ternama di Jakarta. Saat acara tersebut tiba, Wina berpakaian anggun dalam gaun merah marun yang diberikan oleh ibunya.


Acara itu diadakan di sebuah hotel mewah yang dihiasi dengan tanaman tropis, menciptakan suasana yang sejuk dan alami. Lampu-lampu yang lembut menerangi ruangan, dan suasana penuh kehangatan mendominasi ruangannya.

__ADS_1


Wina duduk di antara tokoh-tokoh penting dari dunia kemanusiaan, termasuk perwakilan dari Kementerian Luar Negeri dan beberapa donatur besar. Ketika namanya diumumkan sebagai penerima penghargaan, ia merasa hatinya berdebar kencang.


Dalam pidato penerimaannya, Wina berbicara dengan penuh emosi tentang pengalamannya di Palestina dan betapa pentingnya bantuan kemanusiaan dalam situasi konflik. Ia berterima kasih kepada keluarganya, teman-temannya, dan tim medis di Palestina yang telah mendukungnya.


Setelah acara selesai, banyak orang datang untuk berbicara dengan Wina. Ia berbagi cerita dengan mereka, menjawab pertanyaan tentang situasi di Palestina, dan merasa bangga dapat memberikan pandangan pribadi tentang pentingnya solidaritas dan kemanusiaan di dunia yang terus berkonflik.


Tidak lama kemudian, Dr. Layla menelepon Wina dari Palestina untuk mengucapkan selamat. "Kami semua sangat bangga padamu, Wina," kata Dr. Layla dengan suara penuh kebanggaan. "Kamu adalah inspirasi bagi banyak orang, termasuk saya."


Dalam minggu-minggu berikutnya, Wina terus menerima undangan untuk berbicara di berbagai acara kemanusiaan dan seminar tentang konflik di Timur Tengah. Dia merasa terinspirasi untuk melanjutkan upayanya dalam meningkatkan kesadaran global tentang masalah kemanusiaan dan konflik di seluruh dunia.


Ketika semua berakhir, dia mengingat kata-kata Dr. Layla, "Harapannya ada pada kita semua. Bersama, kita bisa membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik." Wina merasa teguh dalam tekadnya untuk terus berjuang demi kemanusiaan dan membawa harapan bagi mereka yang membutuhkannya di tengah kejatuhan konflik.


Suatu sore, Wina berkumpul dengan teman-temannya di sebuah kafe yang nyaman. Di tengah canda tawa dan ciuman matahari sore yang hangat, mereka membicarakan perubahan yang akan datang dalam hidup Wina.


Mira, salah satu teman dekat Wina, dengan tatapan heran, bertanya, "Wina, aku tidak pernah membayangkan bahwa kamu akan melanjutkan studi di luar negeri. Apa yang membuatmu memutuskan hal ini?"


Wina tersenyum, "Pengalaman di Palestina benar-benar mengubah pandangan saya tentang dunia dan membangkitkan minat saya dalam bidang kemanusiaan dan konflik. Saya merasa bahwa saya bisa memberikan kontribusi yang lebih besar dengan memahami lebih dalam tentang masalah ini."

__ADS_1


Dalam cahaya senja yang memerah, mereka meneruskan pembicaraan tentang perencanaan Wina. Beberapa teman mendukungnya sepenuh hati, sementara yang lain merasa cemas tentang jarak yang akan memisahkan mereka.


Beberapa hari kemudian, Wina dan ibunya duduk bersama di teras rumah mereka. Ibu Siti menunjukkan rasa cemasnya, "Wina, ini adalah langkah yang besar. Apakah kamu yakin?"


Wina menjawab, "Ibu, saya tahu ini bukan keputusan yang mudah, tetapi saya merasa bahwa ini adalah panggilan yang saya harus ikuti. Saya berjanji akan selalu tetap berhubungan dengan keluarga dan teman-teman. Dan saya akan selalu pulang saat ada kesempatan."


Mendengar kata-kata putrinya, Ibu Siti akhirnya tersenyum. "Kami selalu mendukungmu, Sayang. Kami tahu kamu akan melakukan yang terbaik."


Seiring waktu berlalu, Wina mengumpulkan berkas-berkas dan surat rekomendasi yang diperlukan untuk aplikasi studi di luar negeri. Suasana kota Jakarta yang riuh dengan bunyi klakson kendaraan dan pertukaran bisik-bisik para pejalan kaki menjadi latar belakang dari upaya kerasnya.


Wina duduk bersama ayahnya di ruang tengah rumah mereka, mengisahkan rencananya dengan penuh semangat. Ayahnya, seorang pria bijaksana yang selalu mendukung cita-cita anaknya, berkata dengan lembut, "Saya tahu kamu akan melakukan yang terbaik. Ini adalah langkah besar, tetapi saya yakin kamu bisa mengatasi semua tantangannya."


Dalam sebuah taman kota yang rindang, Wina bertemu dengan teman lamanya, Rizky, yang juga menjadi cemas tentang keputusannya. Rizky meraih tangan Wina dan berkata, "Kita akan merindukanmu, Wina. Tapi aku tahu kamu akan melakukan yang luar biasa di sana."


Wina mengangguk dan tersenyum, merasa bersyukur atas dukungan teman-teman dan keluarganya. Dia tahu perjalanan ini akan membawanya pada tantangan-tantangan yang belum pernah dia alami sebelumnya, tetapi tekadnya kuat dan semangatnya tak tergoyahkan.


Saat Wina akhirnya menerima kabar bahwa dia diterima di sebuah universitas terkemuka di Eropa untuk melanjutkan studinya dalam bidang kemanusiaan dan konflik, ia merasa campuran antara gembira dan gugup. Dia tahu bahwa masa depannya akan membawanya pada petualangan baru dan kesempatan untuk memperdalam pengetahuannya.

__ADS_1


Dalam momen keputusan ini, Wina merasa bahwa dia telah menemukan panggilannya dalam membantu masyarakat yang terkena dampak konflik. Dia siap untuk menghadapi masa depan yang tak terduga ini dengan semangat dan tekad yang kuat, siap untuk mengambil bagian dalam upaya membangun dunia yang lebih adil dan damai.


__ADS_2