
Wina tiba di klinik medis di Palestina dalam keadaan penasaran dan penuh semangat. Dia melihat sekelilingnya, mencari tahu cara kerja tim medis di tengah konflik. Tempat ini dipenuhi dengan aktivitas, suara-suara yang berkisar dari pasien yang merintih hingga percakapan antara dokter dan perawat yang berfokus pada pelayanan medis. Klinik medis tersebut terletak di daerah yang tenang, di antara reruntuhan bangunan yang pernah berdiri dengan megah.
Wina mendekati rekan-rekan barunya dan berbincang dengan mereka. Mereka memberitahunya bahwa dokter-dokter yang bekerja di sini datang dari berbagai negara, termasuk Palestina, untuk memberikan perawatan medis kepada warga yang terkena dampak konflik. Wina merasa terinspirasi oleh semangat solidaritas ini.
Saat dia mengamati tugas-tugas medis yang sedang berlangsung, mata Wina tertuju pada seorang dokter Palestina yang menarik perhatiannya. Dr. Layla, seorang wanita berpenampilan tegas dengan tatapan tajam dan kehadiran yang mendalam, terlihat sibuk memberikan instruksi kepada perawat di sekitarnya. Wina tidak bisa menghindari perasaan kagum terhadap keberanian dan pengetahuan medis Dr. Layla dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan ini.
Wina mendekati Dr. Layla dengan penuh rasa hormat. "Ibu, saya ingin belajar dari Anda. Saya ingin berkontribusi semaksimal mungkin di sini dan membantu pasien yang membutuhkan," ucapnya dengan penuh semangat.
Dr. Layla tersenyum dan melihat ke arah Wina. "Anda seorang relawan baru, bukan? Saya senang melihat semangat Anda," katanya. "Namun, situasi di sini sangat berbahaya, dan saya akan mengajarkan Anda segala sesuatu yang perlu Anda ketahui agar Anda bisa membantu tanpa merisikokan diri."
Wina merasa lega mendengar persetujuan Dr. Layla. Mereka mulai berbicara tentang rencana pelatihan yang akan dilakukan. Wina ingin fokus pada penanganan luka-luka dan perawatan pertama, karena itu adalah bidang yang memegang peran penting dalam situasi konflik seperti ini.
Selama beberapa minggu berikutnya, Wina menjadi bayangan Dr. Layla. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama, berbicara tentang berbagai kasus medis yang datang ke klinik, dan mengevaluasi perawatan yang diberikan kepada pasien. Wina sangat terkesan oleh pengetahuan dan keterampilan medis Dr. Layla. Dia belajar bagaimana merawat luka tembak, memasang perban, dan memberikan pertolongan pertama dalam situasi darurat.
Suasana di klinik medis terkadang sangat tegang. Pasien-pasien datang dengan luka-luka serius, dan para dokter harus bekerja dengan cepat dan efisien untuk menyelamatkan nyawa mereka. Wina melihat bagaimana Dr. Layla tetap tenang dan fokus dalam situasi-situasi genting ini, dan itu memberinya inspirasi.
Pada suatu sore yang tenang, ketika langit senja diwarnai dengan nuansa merah dan jingga, Wina memutuskan untuk mendekati Dr. Layla dengan pertanyaan yang selama ini telah mengganjal pikirannya. Dia ingin tahu lebih banyak tentang latar belakang Dr. Layla dan hubungannya dengan keluarganya sendiri. Suara angin sepoi-sepoi datang dari luar, menambahkan kehadiran suasana yang tenang pada momen ini.
Wina mengambil nafas dalam-dalam dan dengan hati-hati mengucapkan pertanyaannya. "Dr. Layla, saya telah mendengar bahwa keluarga ayah saya memiliki sejarah panjang di Palestina. Apakah Anda mungkin mengenal mereka?"
Dr. Layla menoleh dan melihat ke arah Wina, matanya penuh pertimbangan. "Wina, apa nama keluarga ayah Anda?" tanyanya dengan suara yang penuh rasa ingin tahu.
Wina menjawab dengan lembut, "Nama keluarga ayah saya adalah Al-Mansur."
__ADS_1
Dr. Layla tersenyum pahit. "Al-Mansur... Apakah nama ayah Anda Ibrahim Al-Mansur?"
Wina terkejut. "Ya, benar. Bagaimana Anda tahu nama ayah saya?"
Dr. Layla mengangguk. "Ibrahim dan saya adalah teman masa kecil. Kami tumbuh bersama di sini, bermain dan belajar bersama. Tapi kemudian, ketika kami dewasa, ia meninggalkan Palestina untuk mengejar mimpinya di Indonesia."
Wina merasa campur aduk oleh penemuan ini. Ia merasa lebih dekat dengan Palestina daripada yang pernah ia bayangkan. "Apakah Anda pernah bertemu dengan ayah saya setelah dia pergi?"
Dr. Layla menggelengkan kepala. "Tidak, kami tidak pernah bertemu lagi setelah ia pergi. Tapi aku tahu bahwa ia adalah seorang pejuang dan memiliki mimpi besar untuk membantu orang-orang, seperti yang Anda lakukan sekarang."
Mereka duduk bersama di tengah ruangan yang tenang, berbagi kenangan tentang ayah Wina. Wina merasa bahwa hubungannya dengan Palestina sekarang lebih mendalam lagi. Dia merasa lebih dekat dengan Dr. Layla, yang merupakan sepotong dari masa kecil ayahnya yang pernah ada di Palestina.
Sementara cahaya senja semakin memudar, Wina dan Dr. Layla meneruskan obrolan mereka tentang masa kecil dan kenangan bersama ayah Wina. Mereka saling berbagi cerita dan tawa, menciptakan ikatan yang lebih kuat di antara mereka. Suara angin yang bertiup di luar memberikan sentuhan keajaiban pada momen tersebut, mengingatkan mereka akan kekuatan persahabatan dan keteguhan dalam menghadapi cobaan yang datang.
Suatu sore yang cerah, Wina dan Dr. Layla tengah bersama-sama merawat seorang pasien laki-laki yang terluka parah di pergelangan tangan dan kakinya akibat serangan bom. Mereka bekerja dengan tekun untuk membersihkan luka-lukanya dan memasang perban dengan hati-hati. Wina sedang mendengarkan dengan seksama saat Dr. Layla memberikan instruksi tentang perawatan yang diberikan.
Tiba-tiba, suara pasien tersebut memanggil Dr. Layla dengan suara yang terdengar lemah. "Dokter Layla... Al-Mansur... Tolong..." kata pasien tersebut dengan napas tersengal-sengal.
Wina terkejut. Dia mengenali nama keluarga yang disebut oleh pasien. Itu adalah nama keluarga ayahnya, yang telah dia dengar sebelumnya dari Dr. Layla.
Dr. Layla juga terkejut, dan matanya memancarkan ketidakpercayaan. "Al-Mansur? Apa yang Anda katakan?"
Pasien tersebut meraih tangan Dr. Layla dengan susah payah, mencoba menyampaikan pesan pentingnya. "Ibrahim... Al-Mansur... putri... Indonesia... Wina..."
__ADS_1
Wina berdiri di samping Dr. Layla, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Pasien tersebut tampaknya ingin memberikan pesan tentang keluarga Al-Mansur yang seakan-akan merujuk pada ayahnya, Ibrahim, dan kepada dirinya, Wina. Pertemuan ini terasa seperti takdir yang merangkulnya.
Dr. Layla menatap dengan mata berkaca-kaca pada pasien tersebut. "Anda kenal mereka, bukan?" tanyanya dengan penuh harap.
Pasien tersebut mengangguk dengan sekuat tenaganya, mencoba memberikan konfirmasi bahwa dia mengenal keluarga Al-Mansur.
Wina tak bisa menahan keingintahuannya lagi. "Dr. Layla, siapa dia? Bagaimana dia tahu keluarga ayah saya?"
Dr. Layla terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara dengan lembut. "Dia adalah teman lama ayahmu, Wina. Nama dia Mustafa. Mereka tumbuh bersama di kampung ini."
Wina hampir tak bisa mempercayai apa yang dia dengar. Dia merasa terhubung dengan masa lalu ayahnya, dengan orang-orang dan tempat yang pernah menjadi bagian dari hidupnya. "Apakah dia bisa memberi tahu saya lebih banyak tentang ayah saya?"
Dr. Layla mendekatkan diri ke Mustafa dan bertanya dengan hati-hati, "Mustafa, bisakah Anda berbicara lebih lanjut tentang Ibrahim Al-Mansur, tentang masa lalu mereka bersama?"
Mustafa mengangguk dengan lambat, berusaha untuk berkisah meskipun dengan susah payah. Dia menceritakan tentang masa kecil mereka, tentang petualangan dan kenangan bersama ayah Wina. Mereka pernah bermain bersama di tanah Palestina ini, mengejar mimpi mereka sendiri, dan berbagi harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Wina mendengarkan dengan penuh rasa haru dan empati. Dia merasa mendapatkan lebih banyak wawasan tentang ayahnya, yang selama ini hanya dikenal lewat cerita dan kenangan keluarga. Mustafa menceritakan bahwa ayahnya selalu bermimpi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, bahkan jika itu berarti harus pergi jauh ke Indonesia.
Seiring cerita Mustafa berlanjut, suasana di ruangan itu penuh dengan kehangatan dan pengertian. Wina merasa bahwa pertemuan ini adalah anugerah, sebuah jalan untuk lebih mendekat dengan ayahnya meskipun dia sudah tiada. Bagi Wina, Mustafa bukan hanya seorang teman lama ayahnya, tapi juga sepotong masa kecil ayahnya yang selama ini dia rindukan.
Saat Mustafa selesai bercerita, Wina meraih tangan Dr. Layla dengan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Dr. Layla, dan terima kasih, Mustafa. Pertemuan ini sangat berarti bagi saya."
Dr. Layla tersenyum. "Kita semua adalah satu keluarga di sini, Wina. Dan keluarga selalu merayakan momen-momen seperti ini."
__ADS_1
Dalam momen ini, Wina merasa bahwa dia tidak hanya mendapatkan pengetahuan medis dan pengalaman bantuan kemanusiaan, tetapi juga warisan keluarga yang lebih dalam. Bagi Wina, Palestina bukan hanya tempat di mana ayahnya berasal, tetapi juga tempat di mana dia menemukan kembali bagian dari sejarah keluarganya yang telah hilang begitu lama.