
Wina duduk dengan tegang di salah satu sudut perpustakaan kampus yang sunyi. Di meja di depannya tergeletak sejumlah kertas yang telah dia isi dengan jawaban-jawaban teliti selama ujian besar yang telah dia selesaikan beberapa hari yang lalu. Jantungnya berdebar-debar seperti drum yang memukul tempo yang tak menentu. Hari ini adalah hari ketika hasil ujian besar tersebut akan diumumkan secara daring.
Sebagai mahasiswa tahun pertama di perguruan tinggi terkemuka ini, Wina selalu berusaha keras untuk mencapai prestasi terbaiknya. Dia telah menghabiskan malam-malamnya di perpustakaan, membaca dan meneliti, mempersiapkan dirinya dengan baik untuk ujian ini. Jilbabnya yang rapi melambai saat dia menjalani perjuangan akademisnya dengan tekun.
Saat akhirnya email hasil ujian masuk, Wina merasa detik-detik itu berjalan sangat lambat. Dia melirik layar laptopnya yang menampilkan kotak masuk email. Tidak ada yang lebih penting daripada email tersebut saat ini. Dengan perasaan cemas yang mendalam, dia mengklik pesan tersebut.
Isi email itu tampak kabur dalam pandangan pertama. Wina harus membacanya beberapa kali sebelum bisa memproses informasi yang ada. Namun, saat akhirnya makna kata-kata itu terungkap, rasa syukur yang mendalam memenuhi hatinya. Dia telah mendapat nilai yang sangat baik, bahkan lebih baik dari yang dia harapkan.
Wina memegang tangannya yang gemetar saat membaca kembali email tersebut. Dia merasa begitu terkejut dan bahagia, seolah-olah semua jerih payahnya telah membuahkan hasil yang luar biasa. Air mata kebahagiaan mulai mengalir di mata Wina, dan dia tidak dapat menahan senyuman yang begitu besar di wajahnya.
Tentu saja, dia ingin segera berbagi kabar baik ini dengan orang-orang yang dekat dengannya. Dia mencoba untuk menghubungi ibunya melalui panggilan video. Saat wajah ibunya muncul di layar, Wina tidak bisa menahan tangisnya.
"Ibu, aku berhasil!" serunya dengan suara yang bergetar, "Aku mendapat nilai yang sangat baik dalam ujian besar ini!"
Ibunya yang berada di rumah tersenyum bangga, "Oh, Wina, itu adalah berita yang sangat baik! Kami selalu percaya padamu. Alhamdulillah!"
Wina dan ibunya berbicara selama beberapa saat, berbagi kebahagiaan dan syukur bersama-sama. Setelah panggilan itu berakhir, Wina merasa begitu ringan, seolah-olah semua beban yang dia rasakan sepanjang ujian telah hilang.
Dia meninggalkan perpustakaan dan berjalan keluar ke taman kampus yang hijau. Matahari bersinar terang, dan pepohonan yang rindang memberikan rasa teduh. Dia duduk di salah satu bangku di taman, merenungkan momen penting ini dalam hidupnya.
__ADS_1
Wina merenung tentang bagaimana selama perjalanan akademiknya, dia selalu mencari petunjuk dan kekuatan dari Allah. Dia selalu berdoa agar Allah memberikan keberkahan pada usahanya, dan saat ini, doanya telah dijawab dengan begitu indah. Kedekatannya dengan Allah adalah sumber kekuatan dan inspirasi baginya.
Beberapa teman sekelasnya yang melintas di taman melihat senyuman yang begitu besar di wajah Wina. Mereka menyambutnya dengan hangat dan berbagi kegembiraan atas prestasinya. Wina merasa dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dan mendukungnya.
Saat matahari semakin merendah di langit, Wina merasa bahwa momen ini adalah salah satu dari banyak berkat dalam hidupnya. Dia merasa terhubung dengan Allah dengan lebih dalam lagi, dan ini adalah awal dari babak baru dalam perjalanan akademik dan spiritualnya.
Setelah menerima berita gembira tentang hasil ujiannya, Wina merasa rasa syukur yang mendalam. Dia merasa bahwa momen ini adalah waktu yang tepat untuk menguatkan hubungan spiritualnya dengan Allah. Wina tahu bahwa setiap pencapaian dalam hidupnya adalah berkat dari Yang Maha Kuasa, dan dia ingin berbicara langsung dengan-Nya.
Wina meninggalkan bangku taman dan melangkah menuju masjid kampus yang megah. Bangunan masjid itu memiliki kubah berwarna putih bersih dan menara yang menjulang tinggi, menciptakan atmosfer yang tenang dan penuh hikmat. Ketika dia tiba di pintu masjid, dia melepas sepatunya dan masuk dengan perasaan yang penuh hormat.
Sebuah permadani lembut terbentang di lantai masjid. Wina mengambil tempat di dekat mihrab, tempat dia akan sujud dan berbicara dengan Allah. Dia duduk dengan bantuan sajadah yang telah disediakan. Wina memandang sekitar, mencermati keindahan arsitektur masjid, dan merasakan kehadiran Allah di tempat ini.
Dia mulai berbicara dengan suara yang lembut dan hati yang khusyuk, "Ya Allah, terima kasih atas semua berkat yang Engkau curahkan dalam hidupku. Engkau telah memberiku keberhasilan ini, dan aku merasa begitu bersyukur. Semua yang kulakukan adalah berkat pertolongan-Mu."
Wina merasa seolah-olah dia benar-benar berbicara dengan Allah, mengungkapkan rasa syukur, kesyukuran, dan permohonan maafnya dengan tulus. Dia merasa kedekatan dengan-Nya yang begitu mendalam, seperti dalam doa-doa itu, Allah mendengarkan setiap kata dan perasaannya.
Setelah beberapa saat berdoa, Wina merasa ada kebahagiaan dalam hatinya yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia merasa tenang dan kuat, seolah-olah semua beban dan kekhawatirannya telah diangkat oleh doanya.
Ketika Wina bangkit dari sujudnya, dia merasakan kehadiran Allah yang hangat di sekitarnya. Dia merasa dirinya lebih siap untuk menghadapi tantangan-tantangan di masa depan dan menjalani hidup yang lebih bermakna.
__ADS_1
Dia kembali memasukkan kakinya ke dalam sepatu dan keluar dari masjid. Cahaya matahari masih bersinar terang, dan pepohonan di taman kampus masih hijau dan rindang. Wina merasa bahwa langit terbuka lebar untuknya, dan dia merasa diberkahi oleh Allah untuk menjalani hidupnya dengan penuh kebahagiaan dan kepercayaan.
Setelah berbicara dengan Allah di masjid kampus, Wina merasakan keinginan yang semakin mendalam untuk memperdalam hubungannya dengan-Nya. Setiap hari, dia menyempatkan waktu untuk berdoa dan merenung di masjid, mencari kedekatan spiritual dengan Allah.
Pagi itu, matahari terbit dengan gemilang, dan Wina memutuskan untuk pergi ke masjid untuk berdoa sebelum memulai aktivitasnya di kampus. Dia mengenakan jilbabnya dengan rapi, memastikan bahwa dia tampil dengan hormat dalam hadirat Allah.
Masjid kampus itu sepi, hanya sedikit mahasiswa yang hadir untuk shalat pagi. Wina memasuki masjid dan meletakkan sajadahnya dengan lembut di permadani. Dengan hati yang khusyuk, dia berdiri menghadap kiblat dan memulai shalatnya.
Sujud pertama membuatnya merasa seperti dia telah menemukan tempat yang tepat untuk bersatu dengan Allah. Dia merasakan kedekatan yang mendalam saat dia bersujud, merenungkan keagungan-Nya. Dia membaca ayat-ayat dari Al-Quran dengan penuh khidmat, merenungkan maknanya.
Setelah shalat, Wina tetap berada di masjid, berdiam diri dan berbicara dalam doa pribadinya. Dia merasa bahwa masjid adalah tempat di mana dia bisa berbicara dengan Allah tanpa gangguan dan membagikan pikirannya, kekhawatiran, dan harapannya. Doanya lebih mendalam dan penuh makna setiap hari.
Wina juga membawa buku doa dan Al-Quran setiap kali dia pergi ke masjid. Dia membaca doa-doa yang dia pelajari dari buku tersebut, memohon petunjuk, rahmat, dan keberkahan. Dia merasa bahwa setiap kata dalam doa tersebut adalah ungkapan dari hatinya yang tulus.
Suatu hari, saat dia duduk merenung di masjid, seorang mahasiswa lain mendekatinya. Pria itu adalah seorang teman sekelasnya yang jarang dia ajak bicara sebelumnya. Dia merasa agak terkejut saat diajak berbicara.
"Maaf mengganggu, Wina," kata teman sekelasnya dengan hormat. "Aku lihat kamu sering datang ke masjid untuk berdoa. Aku juga merasa ingin mendekatkan diri pada Allah, tetapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Bisakah kamu membantuku?"
Wina tersenyum dan dengan suara yang lembut, dia berkata, "Tentu saja, aku senang bisa membantu. Mari kita belajar bersama-sama."
__ADS_1
Dari situlah, Wina dan teman sekelasnya mulai berkumpul di masjid untuk berdoa dan membaca Al-Quran bersama. Mereka belajar bersama tentang Islam, mencari makna dalam ayat-ayat Al-Quran, dan memahami tata cara berdoa. Pertemuan mereka di masjid tidak hanya memperdalam hubungan spiritual Wina, tetapi juga menghadirkan rasa persaudaraan dan solidaritas di antara mereka.
Seiring berjalannya waktu, Wina merasa bahwa hubungannya dengan Allah semakin kuat. Dia merasa bahwa doanya didengar dan bahwa Allah selalu memberinya petunjuk. Semua itu memberinya kekuatan untuk menjalani perjalanan akademik dan spiritualnya dengan penuh keyakinan. Setiap kali dia merasa tertekan atau ragu, dia tahu bahwa dia bisa datang ke masjid untuk berbicara dengan Allah dan menemukan kedamaian dalam doanya.