Tetesan Pertama Air Wudhu Wina

Tetesan Pertama Air Wudhu Wina
Bergabung dengan Tim Medis


__ADS_3

Pagi tiba dengan kecerahan sinar matahari yang menyinari markas tim medis di Palestina. Wina merasa semangat dan siap untuk memulai tugas pertamanya sebagai relawan dalam misi kemanusiaan ini. Dia mengenakan seragam medis lengkap dan merapihkan dirinya sebelum bergabung dengan anggota tim lainnya di area pertemuan.


Wina tiba di area pertemuan, di mana anggota tim medis telah berkumpul. Mereka berdiri dalam formasi bulatan, dengan Dr. Layla di tengah sebagai pemimpin tim medis.


Dr. Layla: "Selamat pagi, semuanya. Hari ini adalah hari penting dalam misi kemanusiaan kita. Kami memiliki anggota baru, Wina, yang akan membantu kita dalam memberikan bantuan medis kepada warga Palestina yang membutuhkan. Mari sambut dia dengan hangat."


Anggota tim medis memberikan tepuk tangan dan senyuman selamat datang kepada Wina. Dia merasa diterima dengan baik dan merasa semakin termotivasi untuk memberikan yang terbaik.


Wina: "Terima kasih semuanya. Saya sangat senang bisa bergabung dengan tim ini dan memberikan bantuan kepada warga Palestina."


Dr. Layla kemudian memberikan penjelasan singkat tentang tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota tim. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok, termasuk yang akan bekerja di klinik medis sementara, yang akan melakukan misi medis darurat ke daerah terdampak, dan yang akan memberikan pendidikan kesehatan kepada warga.


Setelah penjelasan selesai, Wina bergabung dengan kelompok yang akan bekerja di klinik medis sementara. Mereka bersiap untuk pergi ke klinik tersebut, yang berlokasi di daerah yang sangat terdampak konflik.


Saat mereka tiba di klinik medis, suasana di sana sangat berbeda dengan markas tim medis. Wina melihat antrian panjang warga Palestina yang menunggu untuk mendapatkan perawatan medis. Beberapa dari mereka terlihat lemah dan terluka, sedangkan yang lain membawa anak-anak kecil dalam gendongan.


Dalam klinik, Wina bertemu dengan perawat Palestina bernama Rima. Rima memberikan informasi lebih rinci tentang tugas yang akan dilakukan Wina di klinik.


Rima: "Hari ini, kita akan memberikan perawatan pertama kepada pasien. Wina, kamu akan membantu saya dalam memberikan perawatan luka-luka ringan. Ini akan menjadi pengalaman yang berharga untukmu."


Wina mengangguk dan merasa siap untuk tugasnya. Mereka mulai bekerja dengan penuh perhatian, membersihkan luka-luka dan memberikan obat-obatan yang dibutuhkan kepada pasien. Wina berbicara dengan beberapa pasien, mencoba memberikan sedikit kenyamanan dengan senyuman dan kata-kata penyemangat.


Saat berbicara dengan seorang wanita Palestina yang sedang menunggu untuk diperiksa, Wina mendengar cerita pribadi yang mengharukan. Wanita itu, bernama Fatima, menceritakan tentang bagaimana keluarganya terpaksa mengungsi dari rumah mereka dan hidup di tenda-tenda sementara. Fatima memiliki dua anak kecil yang perlu perawatan medis.


Wina: "Kami akan melakukan yang terbaik untuk membantu Anda dan anak-anak Anda, Fatima. Anda tidak sendirian dalam perjuangan ini."

__ADS_1


Fatima tersenyum tulus dan mengucapkan terima kasih kepada Wina. Pertemuan itu meninggalkan kesan mendalam pada Wina dan membuatnya semakin termotivasi untuk memberikan bantuan kepada warga Palestina.


Di tengah-tengah keseharian yang sibuk di klinik, Wina dan anggota tim medis lainnya berbicara satu sama lain dengan antusiasme dan semangat. Mereka berbagi pengalaman, belajar satu sama lain, dan menciptakan ikatan yang erat.


Saat hari berakhir, mereka kembali ke markas tim medis dengan perasaan lega karena telah memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan kepada warga Palestina. Wina merasa bahwa dia sudah menjadi bagian dari tim medis ini dan bersama-sama mereka dapat mencapai banyak hal dalam upaya kemanusiaan mereka.


Saat Wina terus bekerja di klinik medis sementara, dia semakin akrab dengan rutinitas harian dan masyarakat sekitar. Meskipun kondisi klinik medis sederhana, atmosfer di dalamnya penuh dengan semangat dan kerja sama. Wina dan timnya berupaya memberikan bantuan medis seefektif mungkin kepada pasien yang datang.


Salah satu hari yang terik, ketika Wina sedang menunggu pasien berikutnya, dia melihat seorang anak laki-laki Palestina yang berusia sekitar 8 tahun berdiri di luar klinik. Anak itu memiliki mata cokelat yang cerah dan rambut gelap yang tak terkendalikan. Dia memperhatikan Wina dan tersenyum dengan ramah.


Wina tersenyum balik dan mengangguk sebagai tanda sapaan. Anak itu, yang kemudian diidentifikasi sebagai Omar, dengan ragu mendekat.


Omar: "Assalaamu'alaikum. Saya Omar."


Omar: "Saya baik. Saya senang melihat orang baru di sini."


Wina: "Saya juga senang bertemu denganmu, Omar. Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"


Omar: "Saya menunggu adik saya. Dia sakit dan ibu membawanya ke dalam klinik."


Wina merasa simpati terhadap Omar dan keadaan keluarganya. Dia melihat beberapa bola plastik berwarna-warni yang tergeletak di dekat Omar.


Wina: "Apakah kamu suka bermain bola, Omar?"


Omar: "Iya! Saya suka sekali bermain bola."

__ADS_1


Wina tersenyum dan melirik sekitar klinik medis. Dia melihat beberapa rekan sekerja yang sedang istirahat dan memutuskan untuk mencoba membuat hari Omar menjadi lebih baik.


Wina: "Bagaimana jika kita bermain bola sebentar, Omar? Saya yakin teman-teman di sini juga akan senang bergabung."


Omar melihat ke sekelilingnya dengan mata berbinar-binar. "Benarkah?"


Wina mengangguk. "Tentu, mari kita bermain bersama."


Mereka mengambil salah satu bola plastik itu dan mulai bermain di lapangan kosong di samping klinik medis. Wina dan Omar berlari-lari dan melempar bola satu sama lain. Wina melibatkan beberapa rekan sekerja yang ikut bermain, dan segera lapangan itu menjadi tempat riang gembira di tengah penderitaan yang melanda daerah itu.


Saat bermain, Wina menyadari bahwa bahasa tidak selalu menjadi penghalang. Bahkan jika mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda, senyuman, tindakan, dan bahasa tubuh cukup untuk memahami satu sama lain. Omar terlihat sangat bahagia, dan Wina merasa hangat di hatinya saat melihat senyumnya.


Saat permainan berakhir, Omar duduk di samping Wina untuk beristirahat. Mereka dikelilingi oleh pasien dan staf klinik medis yang ikut menyaksikan permainan mereka. Wina merasa terharu oleh dukungan dan keceriaan yang dihadirkan oleh sekelilingnya.


Omar: "Terima kasih sudah bermain dengan saya, Wina. Saya senang."


Wina: "Terima kasih, Omar. Saya juga senang bisa bermain denganmu. Semoga adikmu segera sembuh."


Beberapa saat kemudian, ibu Omar keluar dari klinik medis dengan adik kecilnya yang terlihat lebih baik. Mereka bergandengan tangan, dan Omar segera berlari mendekati mereka dengan senyuman bahagia.


Ibu Omar: "Terima kasih, Wina. Kamu sudah memberikan kebahagiaan pada Omar. Kami sangat berterima kasih."


Wina merasa senang bisa memberikan kebahagiaan pada keluarga Omar dan mengingat bagaimana permainan bola sederhana bisa membawa senyum pada wajah seorang anak di tengah-tengah kondisi yang sulit. Dia merasa bahwa di tengah konflik dan penderitaan, masih ada ruang untuk kebahagiaan dan persahabatan.


Saat matahari mulai tenggelam dan waktu untuk pulang, Wina merasa bahwa pertemuannya dengan Omar telah menciptakan ikatan pertemanan yang tulus, dan dia berharap bisa melanjutkan bermain bola dengan Omar di lain waktu.

__ADS_1


__ADS_2