Tetesan Pertama Air Wudhu Wina

Tetesan Pertama Air Wudhu Wina
Godaan Lama


__ADS_3

Sorotan bulan purnama menerangi jalanan yang sepi. Wina berjalan sendirian, langkahnya mantap dan doa-doa yang halus terlintas di bibirnya. Dia baru saja meninggalkan masjid setelah menunaikan shalat Isya. Kain hijaunya melambai lembut dalam angin sepoi malam, dan wajahnya dipancarkan ketenangan. Namun, dalam keheningan malam, suasana hatinya jauh dari tenang.


Di kejauhan, kilatan cahaya neon dan musik berdentum-dentum mengisi udara. Itu adalah pesta malam yang besar yang diadakan oleh teman-teman lamanya, teman-teman yang masih terjebak dalam lingkaran gaya hidup duniawi. Mereka merasa bingung dan tidak mengerti perubahan mendalam yang telah dialami oleh Wina. Mereka merasa harus membawanya kembali ke jalan yang pernah mereka tempuh bersama.


"Hey, Wina!" teriak salah satu teman lamanya, Kevin, sambil melayangkan senyum nakal saat Wina berjalan melewati klub malam itu. "Kenapa kamu tidak bergabung dengan kami? Malam ini akan sangat seru!"


Wina menghentikan langkahnya dan melihat ke arah klub yang bercahaya. Dia tahu bahwa tawaran itu penuh godaan, dan keputusannya untuk menolak harus tetap teguh. "Terima kasih, Kevin, tapi saya harus menolak. Saya memiliki prinsip yang harus saya pertahankan."


Kevin hanya menggelengkan kepala dan menjawab dengan nada merendah, "Kamu berubah, Wina. Kamu tidak lagi seperti dulu."


Wina tidak merespon dan melanjutkan langkahnya menuju rumahnya, meninggalkan Kevin dan teman-teman lamanya di belakangnya. Namun, godaan itu tidak berhenti begitu saja.


Ketika dia hampir sampai di rumahnya, sebuah mobil mewah berhenti di sampingnya. Jendela turun, dan suara lembut salah satu teman lamanya, Lisa, terdengar. "Wina, tunggu sebentar. Kami hanya ingin berbicara."


Wina berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju. Dia mendekati mobil Lisa, dan pintu mobil dibuka untuknya. Dia duduk di kursi penumpang, dan Lisa mulai berbicara dengan hati-hati, "Kamu tahu, Wina, kami merindukanmu. Kami merasa seperti kamu telah meninggalkan kami."


Wina menatap Lisa dengan tegas. "Saya belum pernah meninggalkan kalian. Saya hanya memilih untuk menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai agama saya sekarang."


Lisa tersenyum dan menjawab, "Tapi, Wina, lihatlah di sekitar kita. Pesta ini begitu menyenangkan. Kita bisa kembali seperti dulu, seperti keluarga."


Wina menggigit bibirnya, merasa tergoda oleh rayuan Lisa. Namun, dia ingat pesan dari guru agamanya yang selalu mengingatkannya untuk menjaga integritasnya. "Saya berterima kasih atas undangannya, Lisa, tetapi saya harus pergi."


Lisa menghela nafas dan mengantarkan Wina kembali ke jalan depan rumahnya. "Kamu selalu berbeda sekarang, Wina. Kamu tidak lagi menjadi bagian dari kami."


Wina meninggalkan mobil dan melihat Lisa yang masih duduk di dalamnya. Dia merasakan kekosongan dalam hatinya, tetapi dia tahu bahwa mempertahankan prinsip-prinsipnya adalah yang paling penting. Dengan langkah mantap, dia masuk ke dalam rumah, merasa lega karena telah mengatasi godaan lama yang menghampirinya.

__ADS_1


Pertemuan mereka berdua diadakan di kafe kecil yang tersembunyi di sudut kota. Lisa telah mengundang Wina untuk bertemu, dan suasana kafe itu sepi dan nyaman. Cahaya lampu gantung yang lembut memberikan cahaya redup, menciptakan atmosfer yang hangat dan intim. Wina duduk di salah satu sudut meja yang lembut, menunggu dengan perasaan cemas.


Tidak lama kemudian, pintu kafe terbuka dan Lisa masuk dengan senyum manis di wajahnya. Dia mengenakan pakaian yang modis dan mewah, sangat berbeda dengan busana sederhana yang biasa dikenakan Wina. Lisa mendekati meja dengan langkah gemulai dan duduk di depan Wina. "Hai, Wina," sapanya ramah.


Wina tersenyum lembut, tetapi ekspresi wajahnya menunjukkan keteguhan hatinya. "Hai, Lisa."


Mereka duduk diam sejenak, mencoba mengevaluasi perasaan masing-masing. Suasana kafe yang tenang hanya terganggu oleh suara pelanggan yang berbicara dengan pelan dan mesin kopi yang berdentum-dentum di belakang konter.


Lisa akhirnya memecah keheningan. "Wina, kamu tahu aku sangat merindukanmu, kan? Aku merasa seperti kita telah kehilangan sesuatu yang begitu spesial dalam persahabatan kita."


Wina mengangguk, tetapi matanya tetap fokus pada Lisa. Dia tahu bahwa Lisa adalah teman yang pernah sangat dekat dengannya, dan dia merasa sedih atas perubahan dalam hubungan mereka. Namun, dia juga tahu bahwa dia harus menjaga integritasnya.


Lisa melanjutkan, "Kamu ingat dulu bagaimana kita bersama-sama mengejar kesenangan dunia? Itu begitu menyenangkan, Wina. Kita bisa kembali menjadi seperti dulu, mengisi hidup kita dengan kebahagiaan dan kegembiraan."


Wina merasa godaan itu semakin kuat, tetapi dia tidak ingin menggoyahkan prinsipnya. Dia menatap Lisa dengan penuh keputusan. "Lisa, saya menghargai masa lalu kita bersama. Tetapi saya telah menemukan jalan hidup yang memberi makna pada saya. Saya tidak lagi mencari kesenangan dunia yang semu."


Wina merasa sedih mendengarnya. "Saya masih sama, Lisa. Hanya saja, saya lebih menghargai nilai-nilai agama dan nilai-nilai yang benar-benar penting dalam hidup."


Lisa menyipitkan mata dan berkata dengan nada mengejek, "Apakah kamu merasa lebih bahagia sekarang? Apakah hidupmu lebih baik?"


Wina menjawab dengan tegas, "Saya merasa lebih damai. Saya tahu arah hidup saya sekarang, dan itu memberi saya kebahagiaan yang sesungguhnya."


Lisa menghela nafas dan kemudian mengubah nada bicaranya. "Wina, apakah kamu merasa kesepian? Apakah kamu merasa terasing? Kami adalah teman-temanmu, dan kami merindukanmu."


Wina tersentak oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Dia merasa dilema, tetapi dia tahu dia harus tetap kuat dalam keyakinannya. "Saya tidak kesepian, Lisa. Saya memiliki teman-teman yang mendukung perubahan saya. Dan saya merasa lebih dekat dengan Allah daripada sebelumnya."

__ADS_1


Lisa merespons dengan ekspresi yang terlihat campuran antara frustrasi dan kekecewaan. "Baiklah, Wina. Kalau begitu, saya hanya ingin kamu tahu bahwa pintu selalu terbuka jika kamu ingin kembali."


Wina mengangguk, merasa berat hati karena merusak hubungan lama mereka. "Terima kasih, Lisa. Saya akan selalu menghargai kenangan kita bersama."


Setelah pertemuan yang sulit itu, Wina meninggalkan kafe dengan perasaan campuran dalam hatinya. Dia tahu bahwa dia telah menjaga prinsipnya, tetapi dia juga merasa sedih atas perubahan dalam hubungan dengan Lisa. Suasana malam yang tenang seakan menggambarkan keheningan dalam hatinya yang bergejolak.


Malam itu, Wina duduk di kamar tidurnya, memikirkan tawaran yang baru saja dia terima dari teman-teman lama. Mereka mengundangnya ke klub malam yang populer, berjanji bahwa dia hanya akan datang sebentar dan tidak akan melakukan apa pun yang melanggar ajaran agamanya. Godaan itu sangat kuat, dan pikirannya bergejolak.


Dia memutuskan untuk menerima undangan tersebut, tetapi dengan satu syarat yang harus diakui oleh teman-temannya: mereka tidak boleh memaksanya untuk minum alkohol atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip agamanya. Wina yakin bahwa dia dapat menjaga moralnya bahkan di tengah godaan.


Ketika Wina tiba di klub malam yang berkilauan, teman-temannya menyambutnya dengan riang. Mereka menyuguhkan minuman ringan dan berusaha menjadikan suasana seakan-akan tidak ada yang berubah sejak dulu. Wina merasa tergoda oleh musik yang menghentak dan tawa-tawa teman-temannya.


Kevin, salah satu teman lama Wina, mendekatinya dan berkata dengan senyum, "Kamu tahu, Wina, kami benar-benar merindukanmu. Ini akan menjadi malam yang luar biasa!"


Wina tersenyum dan menjawab, "Terima kasih, Kevin. Saya senang bisa berkumpul lagi dengan kalian."


Malam itu, Wina mencoba untuk tetap fokus pada prinsip-prinsipnya. Dia menikmati percakapan dan tawa-tawa dengan teman-temannya tanpa perlu minum alkohol. Namun, godaan datang ketika beberapa dari mereka mencoba meyakinkannya untuk mencicipi minuman beralkohol.


Lisa, yang telah berbicara dengan Wina sebelumnya, mencoba meyakinkannya, "Wina, coba deh, ini hanya sekali. Ini tidak akan merusakmu."


Wina menolak dengan tegas, "Saya minta maaf, Lisa, tetapi saya tidak bisa melakukannya. Saya akan tetap minum minuman non-alkohol."


Lisa menghela nafas dan mengangguk mengerti. "Baiklah, kita tidak akan memaksamu. Tapi setidaknya cobalah untuk bersenang-senang."


Wina merasa tekanan dari teman-temannya yang ingin melibatkannya dalam minuman dan suasana yang liar. Dia merasa terasing di antara mereka, tetapi dia tetap berpegang pada prinsipnya. Dia merasa bahwa ini adalah ujian kesetiaannya terhadap nilai-nilai agamanya.

__ADS_1


Malam berjalan, dan meskipun godaan itu kuat, Wina berhasil menjaga moralnya. Dia menikmati musik dan tawa-tawa bersama teman-temannya, tetapi dia tidak terlibat dalam perilaku yang bertentangan dengan prinsip-prinsipnya.


Ketika mereka akhirnya meninggalkan klub malam dan Wina kembali ke rumah, dia merasa lega dan bangga atas kemampuannya untuk tetap setia pada keyakinannya. Dia tahu bahwa ini hanyalah satu dari banyak ujian yang akan dia hadapi dalam perjalanan spiritualnya, tetapi dia merasa semakin kuat dan teguh dalam iman dan prinsip-prinsipnya. Suasana malam yang tenang di sekitarnya mencerminkan kedamaian yang dia rasakan dalam hatinya setelah melewati ujian kesetiaan ini.


__ADS_2