Tetesan Pertama Air Wudhu Wina

Tetesan Pertama Air Wudhu Wina
Berbicara dengan Allah


__ADS_3

Di suatu sore yang tenang, Wina duduk bersila di kamarnya yang sederhana. Lampu kecil di sudut ruangan memancarkan cahaya yang lembut, menciptakan atmosfer yang penuh ketenangan. Di atas meja kayu kecil, ada selembar Quran yang terbuka di halaman yang dihiasi dengan kaligrafi indah.


Wina menatap halaman Quran dengan penuh kekhusyukan. Matanya terfokus pada ayat-ayat yang mengandung hikmah dan pesan dari Allah. Beberapa bulan terakhir, dia telah merenung tentang makna hidup dan hubungannya dengan pencipta yang maha kuasa. Dia merasa bahwa doa adalah jembatan yang menghubungkannya secara langsung dengan Sang Pencipta.


Dalam keheningan kamarnya, dia mulai berbicara dengan Allah. Suaranya lembut, seperti sebuah percakapan pribadi antara teman dekat. "Ya Allah," ujarnya dengan penuh ketulusan, "aku merasa sangat bersyukur atas semua yang Engkau berikan dalam hidupku. Engkau telah membimbingku melalui setiap cobaan dan rintangan."


Saat dia berbicara, ekspresi wajahnya menunjukkan kekhusyukan dan kerendahan hati. Tangannya diangkat ke udara, seolah-olah dia merasa Allah hadir di dekatnya. "Aku memohon petunjuk-Mu, Ya Allah," lanjutnya dengan suara yang semakin lembut, "agar aku dapat menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Mu. Tunjukkanlah jalan yang benar bagiku."


Sejenak, kamarnya terasa penuh dengan keheningan. Dia menunggu, meresapi momen tersebut dalam kesunyian yang dalam. Wina merasa bahwa doanya tidak hanya kata-kata, tetapi sebuah ekspresi dari hatinya yang ikhlas.


Tiba-tiba, angin sepoi-sepoi masuk melalui jendela terbuka. Rambut panjang Wina tergerai lembut oleh angin tersebut, dan dia merasa kehadiran Allah yang mengalir dalam angin yang menyegarkan itu. Dia merasa seperti ada jawaban dalam hatinya, meskipun tidak dalam bentuk kata-kata yang terucap.


Dia menutup doanya dengan tersenyum dan merasa lebih dekat dengan Allah daripada sebelumnya. Meskipun banyak cobaan yang mungkin dia hadapi di masa depan, dia merasa yakin bahwa dengan kedekatan ini, dia akan menemukan kekuatan untuk mengatasi semuanya. Wina tahu bahwa dia bisa berbicara dengan Allah kapan saja, dan Dia akan selalu mendengarkan.


Pagi itu, matahari terbit dengan gemilang, memancarkan sinarnya yang hangat di atas kampus yang indah. Wina telah datang ke taman kampus sebelum kuliah dimulai, mencari momen ketenangan di tengah kesibukannya. Dia tahu bahwa taman adalah tempat yang sempurna untuk merenung dan merasa dekat dengan ciptaan Allah.


Taman itu terletak di salah satu sudut kampus, dikelilingi oleh pepohonan tinggi yang menjulang ke langit. Wina memilih duduk di bawah pohon besar yang rindang, di tempat yang biasa dia kunjungi ketika ingin merenung. Daun-daun hijau bergetar lembut dengan sentuhan angin, dan burung-burung bernyanyi dengan gembira di cabang-cabang atas.

__ADS_1


Dia menutup mata sejenak dan menghirup aroma segar tanah basah di bawahnya. Perasaannya meresapi kedamaian yang ada di sekitarnya. Saat dia membuka mata, pandangannya tertuju pada cakrawala yang luas di depannya. Ini adalah saat yang sempurna untuk merenung tentang kebesaran Allah dan kecilnya dirinya di hadapan-Nya.


Wina merenung dalam keheningan, membiarkan pikirannya melayang jauh. Dia memikirkan alam semesta yang begitu besar dan rumit, bintang-bintang yang berkilauan di langit, dan laut yang luas dan dalam. Semuanya adalah bukti keagungan Allah yang tak terbatas.


Saat itu, seorang teman sekelasnya, Sarah, mendekatinya. "Hai, Wina," sapa Sarah dengan lembut. "Apa yang sedang kamu pikirkan di sini?"


Wina tersenyum dan menjawab, "Aku hanya merenung tentang kebesaran Allah, Sarah. Saat aku duduk di sini, aku merasa begitu kecil di hadapan-Nya, tapi juga merasa diberkati karena Dia menciptakan segala sesuatu dengan indah."


Sarah duduk di samping Wina, merasakan ketenangan di taman tersebut. "Aku juga merasa seperti itu kadang-kadang," kata Sarah. "Momen seperti ini membuat kita merasa begitu dekat dengan Allah, bukan?"


Saat matahari semakin tinggi di langit, Wina tahu bahwa dia harus segera kembali untuk kuliah. Namun, dia merasa penuh energi dan ketenangan setelah waktu yang dia habiskan di taman itu. Dia tahu bahwa dia akan kembali ke sana lagi suatu hari nanti untuk merasakan kedekatan dengan Allah yang begitu mendalam dalam momen-momen seperti itu.


Wina telah merasakan betapa pentingnya memberikan sedekah dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kesempatan untuk membantu sesama adalah peluang bagi dirinya untuk mendekatkan diri pada Allah dan mewujudkan ajaran-ajaran agamanya. Dia tahu bahwa kebaikan yang diberikannya kepada orang lain akan membawanya lebih dekat kepada Sang Pencipta.


Suatu hari, ketika dia sedang berjalan kembali ke asrama kampus setelah kuliah, dia melihat seorang pria tua yang duduk di tepi jalan. Pria itu tampak kelelahan dan lapar, dengan pakaian yang kumuh. Wina tidak bisa melihatnya begitu saja. Dia mendekati pria itu dengan senyum hangat.


"Pak, apa yang bisa saya bantu?" tanya Wina sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Pria itu menatap Wina dengan mata lelah, lalu mengangkat tangan gemetar. "Saya sangat lapar, Mbak," ujarnya pelan.


Wina tidak ragu-ragu. Dia membuka tasnya dan mengambil sebotol air mineral dan beberapa makanan ringan yang ada di dalamnya. "Tolong, ambil ini," kata Wina sambil memberikannya kepada pria itu.


Pria tua itu tersenyum tulus. "Terima kasih, Mbak. Allah memberkati Anda."


Wina merasa senang bisa membantu. Dia melanjutkan perjalanannya dengan hati yang hangat, merasa bahwa tindakan kecilnya itu adalah bentuk sedekah yang sederhana namun bermakna. Dia tahu bahwa Allah melihat dan menghargai tindakannya.


Selama beberapa bulan terakhir, Wina juga menjadi sukarelawan di sebuah panti asuhan di sekitar kampus. Setiap akhir pekan, dia dan sejumlah teman-temannya akan mengunjungi panti asuhan tersebut untuk menghabiskan waktu bersama anak-anak yatim piatu yang tinggal di sana. Mereka membawa mainan, buku-buku, dan makanan untuk anak-anak tersebut.


Salah satu anak perempuan di panti asuhan itu, Sarah, menjadi khususnya dekat dengan Wina. Mereka sering berbicara dan bermain bersama. Wina berusaha memberikan dukungan dan perhatian kepada anak-anak tersebut, mengajar mereka pelajaran-pelajaran yang dia pelajari dari agamanya.


Suatu hari, Sarah mendekati Wina dengan mata berbinar. "Kak Wina," katanya dengan gembira, "saya belajar surat-surat dalam Quran yang Kak Wina bawa. Saya ingin tahu lebih banyak tentang agama kita."


Wina merasa sangat bahagia mendengar ini. Dia duduk bersama Sarah dan membimbingnya dalam membaca Quran. Mereka membaca bersama dan mendiskusikan makna dari setiap ayat yang mereka baca. Wina merasa bahwa memberikan pengetahuan agama kepada Sarah adalah salah satu bentuk sedekah yang paling berarti baginya.


Dengan setiap tindakan kecil yang dia lakukan untuk membantu yang membutuhkan, Wina merasa bahwa dia semakin mendekat kepada Allah. Dia merasa bahwa sedekah adalah cara nyata untuk mempraktikkan ajaran-ajaran agamanya dan merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta.

__ADS_1


__ADS_2