Tetesan Pertama Air Wudhu Wina

Tetesan Pertama Air Wudhu Wina
Kamp Pendidikan


__ADS_3

Matahari pagi di kamp pengungsi Palestina bersinar terang di langit biru, menciptakan siluet rumah-rumah yang hancur akibat serangan sebelumnya. Suasana pagi yang tenang itu terasa begitu indah setelah semalam yang dilalui oleh Wina, yang telah bergelut dengan pertimbangan-perhatian tentang tugasnya membantu keluarga Omar.


Wina memasuki kamp, mengenakan sarung tangan dan topi pengaman. Dia melihat beberapa orang dewasa dan anak-anak berusaha membersihkan puing-puing dan sisa-sisa yang masih tersebar di sekitar. Keluarga Omar sudah sibuk memilah material yang bisa digunakan kembali untuk membangun rumah mereka.


"Selamat pagi, Wina," kata Muhammad, ayah Omar, sambil tersenyum meski terlihat lelah. "Terima kasih atas bantuanmu. Kami sangat bersyukur ada orang sepertimu yang membantu kami melewati masa-masa sulit ini."


Wina tersenyum balik. "Tentu saja, Pak Muhammad. Saya di sini untuk membantu dan berbagi beban."


Mereka berdua bekerja keras sepanjang pagi, mengangkat batu bata, membersihkan reruntuhan, dan mencoba menyusun rencana untuk membangun kembali rumah itu. Di antara pekerjaan keras itu, mereka berbicara tentang kehidupan mereka sebelum konflik, keluarga mereka, dan mimpi mereka untuk masa depan.


Sambil berkumpul di bawah sinar matahari yang hangat, Wina bertanya pada Muhammad, "Bagaimana Omar? Dia berada di mana sekarang?"


Muhammad menghentikan sejenak pekerjaannya dan melihat ke arah tenda darurat yang digunakan keluarga mereka untuk tinggal. "Dia sedang di sana bersama teman-teman seumurnya, belajar di kamp pendidikan sementara."


Wina merasa lega mendengarnya. "Itu baik. Setidaknya dia bisa bermain dan belajar dengan anak-anak sebayanya meski situasinya sulit."


Mereka melanjutkan pekerjaan mereka, dengan matahari yang semakin tinggi di langit. Sambil membersihkan puing-puing, Wina dan Muhammad mulai merencanakan bagaimana mereka akan membangun kembali rumah itu. Mereka berbicara tentang rencana konstruksi, sumber daya yang mereka butuhkan, dan langkah-langkah yang harus diambil.

__ADS_1


Saat mereka berbicara, suara anak-anak yang bermain di sekitar kamp memenuhi udara. Wina melihat Omar yang berlari-lari kecil, bermain bola dengan teman-temannya. Dia tersenyum lebar dan mengangkat tangan ke arah Omar, yang menjawabnya dengan senyuman gembira.


Beberapa jam berlalu, dan mereka berhasil membersihkan sebagian besar puing-puing dan mempersiapkan pondasi baru.


Wina mengambil napas dalam dan melihat ke sekitar. "Kami telah melakukan pekerjaan yang baik hari ini. Kita sudah membuat kemajuan yang signifikan."


Muhammad mengangguk, mengusap keringat dari wajahnya. "Terima kasih, Wina. Kami tidak akan bisa melakukannya tanpa bantuanmu."


Mereka berdua melihat hasil kerja keras mereka, merasa lega dan puas dengan kemajuan yang telah mereka capai. Bagian pertama dari perjalanan mereka membangun kembali rumah keluarga Omar telah dimulai, dan mereka siap untuk menghadapi tantangan berikutnya.


Wina memasuki kelas, yang terdiri dari anak-anak berusia antara lima hingga dua belas tahun. Mereka duduk di karpet yang telah ditempatkan di tanah, tanpa kursi atau meja. Di papan tulis sederhana, beberapa anak-anak sudah berkumpul dan menunggu dengan antusias.


Seorang guru Palestina bernama Nour menyambut Wina dengan ramah. "Selamat datang, Wina! Kami sangat senang memiliki Anda di sini untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan Anda."


Wina tersenyum kepada Nour dan anak-anak. "Terima kasih, Nour. Saya juga senang bisa berada di sini dan berkenalan dengan semuanya."


Mereka memulai pelajaran dengan beberapa kata sapaan dan salam dalam bahasa Arab, dan anak-anak dengan antusias menjawab sambil tersenyum. Wina merasa segera merasa seperti di rumah sendiri, meskipun berada di tempat yang jauh dari tanah asalnya.

__ADS_1


Selama pelajaran, Wina mengajarkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia seperti "terima kasih" dan "salam" kepada anak-anak. Mereka dengan senang hati mencoba mengucapkannya dengan benar, dan suasana kelas menjadi penuh tawa.


Anak-anak Palestina dengan semangat menceritakan tentang kehidupan mereka sehari-hari dan perasaan mereka tentang situasi di kamp pengungsi. Mereka ingin tahu tentang Indonesia, tentang makanan, tarian, dan musiknya. Wina dengan senang hati menceritakan tentang budaya Indonesia, mencoba menggambarkan keindahan pulau-pulau, tradisi unik, dan keragaman yang ada di negaranya.


Setelah beberapa pelajaran, mereka mengadakan pertunjukan budaya, di mana anak-anak Palestina memperagakan tarian tradisional mereka, sementara Wina dan beberapa anak menunjukkan tarian Indonesia dengan musik tradisional yang dimainkan oleh salah satu pengajar di kamp.


Suasana dalam tenda pendidikan itu hangat dan ceria, meskipun mereka berada dalam situasi yang tidak pasti. Setiap anak menunjukkan keinginan untuk belajar dan tumbuh, dan Wina merasa terinspirasi oleh semangat mereka.


Pada saat istirahat, beberapa anak mengajak Wina bermain permainan tradisional Palestina. Mereka mengajarkan cara bermain dan tertawa saat Wina mencoba menangkap semua gerakan yang mereka lakukan.


Wina melihat senyum dan kebahagiaan di wajah anak-anak tersebut, dan dia merasa bahwa saat itulah dia menyadari betapa pentingnya kehidupan mereka dan upaya untuk memberikan mereka pendidikan dalam masa sulit ini.


Seiring waktu berlalu, Wina menjadi semakin dekat dengan anak-anak dan guru Nour. Mereka tidak hanya belajar satu sama lain tentang bahasa dan budaya, tetapi mereka juga membangun ikatan persahabatan yang erat di tengah-tengah konflik.


Pada akhir hari, ketika Wina meninggalkan kamp pendidikan itu, anak-anak berkumpul dan memberinya kartu ucapan terima kasih yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri. Di kartu itu mereka menulis pesan tentang harapan mereka untuk masa depan dan ungkapan terima kasih atas pelajaran yang telah mereka terima.


Wina meninggalkan kamp pendidikan sementara itu dengan hati penuh harapan, tahu bahwa meskipun situasinya sulit, pendidikan dan semangat belajar anak-anak Palestina tidak akan pernah pudar.

__ADS_1


__ADS_2