
Hari itu, matahari terbenam dengan cahaya jingga yang merona di langit Palestina. Wina tiba di tenda keluarga Omar, yang telah disulap menjadi ruang makan sederhana. Keluarga Omar sibuk menyiapkan hidangan khas Palestina seperti falafel, hummus, tabbouleh, dan roti pita segar. Aroma harum dari rempah-rempah dan bahan makanan memenuhi udara, menciptakan suasana yang hangat dan mengundang.
"Selamat datang, Wina!" kata Fatima, ibu Omar, sambil menyambut Wina dengan pelukan hangat. "Kami sangat senang Anda datang untuk makan malam bersama kami."
Wina tersenyum dan mengucapkan terima kasih. "Saya merasa terhormat bisa makan malam bersama keluarga Anda."
Mereka duduk di sekitar meja yang telah disiapkan dengan penuh perhatian. Muhammad mengucapkan doa ringkas sebelum mereka mulai makan, dan kemudian mereka mulai menyantap hidangan lezat yang telah disiapkan.
"Silakan, coba falafel ini," kata Muhammad sambil menawarkan sepiring falafel yang baru digoreng kepada Wina.
Wina menerima dengan senyum dan mencicipi falafel yang gurih. "Ini enak sekali! Saya tidak pernah mencoba falafel seperti ini sebelumnya."
Fatima tersenyum bangga. "Terima kasih, Wina. Saya senang Anda suka. Kami senang bisa membagikan hidangan khas Palestina dengan Anda."
Saat mereka makan bersama, mereka mulai berbagi cerita tentang pengalaman hidup mereka di tengah konflik. Muhammad menceritakan bagaimana mereka kehilangan rumah mereka selama serangan dan bagaimana mereka harus membangun kembali dari awal. Fatima mengenang saat-saat yang sulit ketika persediaan makanan dan air sangat terbatas.
Omar, anak yang ceria, juga ikut berbicara. "Kadang-kadang kami harus bersembunyi di bawah meja saat terjadi serangan udara. Tapi sekarang kami memiliki teman baru, Wina, yang selalu ada untuk melindungi kami."
Wina tersenyum pada Omar. "Kamu adalah pahlawan sejati, Omar. Dan saya sangat beruntung bisa menjadi temanmu."
Selama makan malam, cerita-cerita tersebut diiringi oleh tawa dan senyum. Mereka berbicara tentang harapan mereka untuk masa depan dan impian mereka yang tak terlupakan meskipun mereka berada dalam situasi sulit.
__ADS_1
Sebagai hidangan penutup, mereka menikmati kue basbousa manis yang disiapkan oleh Fatima. "Ini hidangan penutup favorit kami," ujar Fatima sambil tersenyum. "Saya harap Anda suka."
Wina mencicipi kue tersebut dan tersenyum. "Ini enak sekali! Saya harus belajar membuatnya suatu hari nanti."
Setelah makan malam, keluarga Omar dan Wina berkumpul di tenda mereka yang sederhana. Mereka berbagi cerita lebih banyak lagi, kali ini tentang kebahagiaan, ketahanan, dan kekuatan keluarga.
Di tengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba Omar mengambil gitar kecil yang ada di pojok tenda dan mulai memetik senar dengan lembut. Suara melodi yang ia mainkan mengisi udara dengan keindahan yang mendalam.
Wina tersentuh oleh musik yang dimainkan Omar. "Kamu sangat berbakat, Omar. Bagaimana kamu bisa memainkan musik seperti ini?"
Omar menjawab dengan senyum malu-malu. "Saya belajar dari kakak saya sebelum dia pergi untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Dia selalu mengajari saya bermain gitar."
Malam itu, mereka berbagi lebih banyak cerita dan lagu-lagu, menciptakan kenangan yang indah. Wina merasa bahwa ia telah diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Omar, dan ia merasa sangat beruntung dapat berbagi saat-saat istimewa seperti ini di tengah-tengah konflik yang menghancurkan.
Salah satu sore, setelah Wina kembali dari tugas medisnya, dia menemukan Omar bermain dengan bola tua yang telah dia temukan di antara reruntuhan. Omar melihat Wina datang dan mengajaknya bergabung.
"Wina, main sepak bola bersama saya!" kata Omar dengan senyuman cerah.
Wina tertawa dan mengangguk. "Tentu, Omar! Saya akan mencoba yang terbaik."
Mereka berdua mulai bermain sepak bola di area terbuka kamp pengungsi. Matahari perlahan turun ke horizon, menciptakan cahaya senja yang mempesona di langit Palestina. Anak-anak lain dari kamp juga bergabung dalam permainan, dan Wina merasa seolah-olah dia telah menjadi bagian dari komunitas yang luar biasa ini.
__ADS_1
"Sekarang saat yang tepat untuk berhenti sejenak," kata Wina, mengatur bola di sisi lapangan. "Omar, bisakah kamu mengajari saya beberapa kata dalam bahasa Arab? Saya ingin belajar."
Omar bersedia dan dengan senang hati menjelaskan beberapa kata dalam bahasa Arab kepada Wina. Mereka berdua duduk di rerumputan yang masih segar, sambil mengobrol dan belajar satu sama lain.
Saat matahari semakin merosot, mereka melanjutkan bermain sepak bola hingga cahaya senja memenuhi langit. Pemandangan langit yang merah jambu dan oranye menciptakan suasana yang magis, sementara tertawa dan tawa mereka memenuhi udara.
Ketika malam tiba, Wina kembali ke tenda keluarga Omar, di mana Fatima sedang menyiapkan makan malam. Makan malam kali ini adalah hidangan khas Palestina, dengan hidangan seperti makloubeh, mansaf, dan maqluba.
"Saya berharap Anda menyukainya, Wina," kata Fatima sambil menyajikan hidangan di atas meja.
Wina tersenyum dan mengucapkan terima kasih. "Saya pasti akan menyukainya. Saya sangat beruntung bisa mencoba hidangan-hidangan khas Palestina."
Makan malam kali itu diisi dengan obrolan dan cerita, seperti biasa. Mereka berbicara tentang peristiwa sehari ini dan rencana untuk besok. Omar menyatakan minatnya untuk belajar bahasa Inggris, dan Wina bersedia membantunya.
"Saya ingin belajar bahasa Inggris, Wina," kata Omar dengan penuh semangat. "Saya mendengar itu bisa membantu saya di masa depan."
Wina dengan senang hati setuju. "Tentu, Omar. Saya akan menjadi guru bahasa Inggrismu. Kita bisa memulai besok."
Malam itu, Omar dan Wina menjalani sesi pelajaran bahasa Inggris pertama mereka. Mereka mengobrol tentang kata-kata dasar, mengucapkan frasa-frasa sederhana, dan tertawa bersama-sama saat salah satu dari mereka membuat kesalahan. Hubungan mereka semakin erat, karena mereka berbagi pengetahuan dan budaya satu sama lain.
Seiring waktu berlalu, Wina dan Omar tidak hanya menjadi teman, tetapi juga menjadi guru dan murid satu sama lain. Mereka tumbuh bersama, belajar satu sama lain tentang kehidupan mereka, dan membentuk ikatan yang kuat yang melampaui perbedaan budaya dan bahasa.
__ADS_1
Setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama, mereka merasa bahwa mereka tidak hanya memberikan satu sama lain pelajaran, tetapi juga belajar tentang rasa persaudaraan, ketahanan, dan persatuan yang muncul di tengah-tengah konflik yang sulit.