The Bitter Three

The Bitter Three
Lagi-Lagi Rencana Licik


__ADS_3

"Aku boleh nggak ikutan?" desis Alwa ragu.


"Kamu istrinya David, bukan? Atau mau resign saja sana!"


"Ih bukan gitu kali Mbak Susaaaaan, tapi aku merasa aku tahu kenyataan yang mana pun kok nggak akan membawa faedah ya, malah bikin pusing nanti,"


"Bagaimana nanti kalau kamu sudah capek-capek dandan, kamu malah tetap dicuekin?"


"Eh, hemm... Lebih muhasabah saja akunya," Alwa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia sekali lagi bingung.


"Duduklah Alwa, ini menarik kok," kata Susan.


Alwa menurut walau enggan. Ia kembali duduk.


"Pertanyaan pertama untuk Abi David Yudha," desis Susan.


Semua tegang bagaikan mengikuti kuis bertaruh nyawa.


"Siapa yang pertama merebut keperjakaan kamu?"


"Hah?" dengus David.


Wajah Alwa dan Hanifah langsung merah. Ini hal memalukan, tapi mereka juga ingin tahu.


"Aku tahu dari penyelidikan kecil kalau kehidupan kamu di Amerika cukup liar, David. Sampai Papa kamu bersikeras akan menarik kamu kembali ke Indonesia dan meminta Suleyman membujuk kamu,"


"Siapa sih yang menyebarkan hal ini," gerutu David.


"Ya Papa kamu cerita ke Papaku lah, siapa lagi!" Susan terkekeh. "Kudengar lagi, yang membuat kamu tidak bisa diganggu adalah karena mereka tidak berani membuat kamu tersinggung, karena kamu donatur terbesar bagi kegiatan amal mereka. Kalau kamu menarik donasi, mereka mau ngasih makan orang-orang itu pakai apa?"


"Ya Ampun, kamu diam-diam stalker aku ya," gumam David.


Ia tidak suka kalau kegiatan sedekahnya diketahui orang lain. Dan ya betul, dia adalah penunjang terbesar di yayasan amal Papanya, juga promotor utama kegiatan berdakwah Suleyman.


"Makanya aku langsung menjuluki kamu Pak Sultan. Jadi David, siapa yang merebut keperjakaan kamu?" Susan mengulang pertanyaannya.


"Kamu duluan," kata David ke Susan.


"Kenapa jadi aku?!" Protes Susan.


"Agar aku lebih nyaman membuka diri,"


"Hem," Wanita itu mencibir. Namun karena keingintahuannya begitu besar, ia pun menyerah. "Aku kehilangan keperawanan saat berusia 16 tahun," Susan membuka rahasianya.


Semua diam. Usia Susan saat itu adalah usia saat Alwa dan Hanifah dirudapaksa. Otomatis Alwa dan Hanifah langsung teringat masa lalu mereka.


"Saat itu jaman aku SMA, open BO ke pria kaya sedang booming. Aku mendapatkan 2 milyar untuk keperawananku. Aku belikan emas batangan, masih kusimpan sampai sekarang," kata Susan.


David mencibir, "Kamu beneran parah," gumamnya tidak senang.


"Keperawanan bukan hal penting bagiku," desis Susan.


"Lalu apa hal penting bagimu?"


"Hal penting bagiku saat ini? KEBEBASAN," gumam Susan.


"Selamat ya, kamu sedang bermimpi. Aku tidak akan melepaskanmu, seburuk-buruknya diri kamu," kata David.


"Jadi, siapa yang merebut keperjakaan kamu?"


"Kamu,"


Semua diam.


"Apa?" Desis Susan.


"Kamu yang merebut keperjakaanku," desis David.


Semua diam lagi, berusaha flashback siapa tahu ada yang terlewat. Nihil.


"KAPAN DAVID?!" seru Susan. "Kita bahkan belum bercinta yang benar-benar masuk, kecuali pe**s kamu masuk ke mulutku tadi malam!"


Alwa langsung berdzikir.


Hanifah pusing.


David berdecak, "Mulut kamu dijaga dong, tampang cantik tapi bicaranya kampungan," gerutu Susan


"Hooo ini kamu yang sesungguhnya hah? Sepedas ini gaya bicara kamu, hah? Hem! Lanjutkan saja tuan besar, kapan kita pernah bertemu?!"


"Mana mungkin kamu ingat? Ada ratusan laki-laki di kehidupan kamu. Aku bahkan nggak yakin kamu sadar malam itu. Seharusnya aku keluarkan saja di dalam biar kamu hamil sekalian," gerutu David.


Susan memiringkan kepalanya sambil berusaha mengingat. Sekali lagi, tidak ada informasi mengenai hal itu di otaknya. Kalau ia bertemu pria setampan David, ia pasti akan ingat, kecuali ...


"Aku lagi mabuk malam itu. Las Vegas. Sekitar 2 tahun lalu," Seakan Susan mendapatkan pencerahan. "Aku diajak salah satu pacarku untuk traveling sekalian mengunjungi kantor cabang untuk produksi wine kami di Los Angeles. Lalu aku terpisah dengannya, kepalaku pusing. Berikutnya yang kuingat aku ada di kamar hotel, di Bellagio."


"Hem," David mencibir. "Saat aku kembali ke kamar, kamu sudah tidak ada,"


"Aku tidak mampu membayangkan aku bercinta dengan orang asing! Aku berusaha melupakan kecerobohanku! Aku bahkan sudah tidak mau menegak minuman keras lagi karena ternyata aku mudah mabuk! Dan lagi, untuk apa kamu ada di Bellagio?!"


"Bisnis," David mengernyit. "Dan jangan bilang-bilang Papaku, jangan cerita ke siapa pun aku sering ke daerah begitu. Awas kamu!"


"Jiah! Aku diancam!" seru Susan tak percaya.


"Alwa dan Hanifah, juga jangan menyebarkan aib suami kalian sendiri," sahut David.


"Eeh-eh- i-iya Abiiii, uhuk!" Alwa ketakutan namin menyindir. Hanifah hanya menggigit bibirnya dengan kuatir. Ini baru permulaan, masih banyak hal yang belum terjawab.


"Saat melihat kamu di sana, aku sebenarnya berusaha mengingat di mana aku pernah melihat kamu sebelumnya. Lalu aku ingat kalau kamu putri Pak William. Sebenarnya aku menghampiri hanya ingin menyapa. Tapi ternyata kamu menyerangku,"


"Aku menyerangmu?! Omong kosong apa lagi ini!" pekik Susan.

__ADS_1


"Kesimpulannya sih begitu," David mengangguk yakin, namun sinar matanya penuh kesan jahil. "Sejak itu aku tidak bisa melupakanmu. Aku berusaha menghubungi Papa kamu untuk mendekati kamu. Walaupun waktu itu aku sudah menikah dengan Alwa dan Hanifah, namun aku masih perjaka karena ... aku selalu menghindari malam pertama,"


"Ini gila!"


"Perasaanku tidak enak karena akan melakukannya dengan wanita yang tidak kukenal, jadi setelah menikahi Alwa dan Hanifah, aku melarikan diri ke Las Vegas dengan alasan bisnis,"


"Abi disana selama dua minggu, jadi Abi, itu jatuhnya selingkuh, loh," kata Alwa.


"Iya, maaf," Gumam David.


"Aku dari dulu banyak di suguhi wanita-wanita tanpa busana, tidak ada yang kuambil. Karena rasanya aneh kalau melakukannya dengan orang asing. Ohya, saat aku putus asa dan mulai melupakan kamu, juga karena merasa berdosa sudah mengkhianati Alwa dan Hanifah, eh malah Papa kamu yang mendekat. Dan di sinilah kamu sekarang," David menyeringai. "Memang kalau sudah jodoh nggak akan kemana,"


Susan melempar puntung rokok dari asbak ke arah David karena kesal. Pria itu menghindar sambil cengengesan senang, melihat kegalauan Susan.


"Ya sudah! Ini benar-benar tidak kusangka! Pertanyaan selanjutnya!!" seru Susan marah.


"Iya, iya," gumam David.


"Tapi bukan buat kamu," sambung Susan.


Semua menaikkan alisnya.


"Untuk Alwa dan Hanifah. Satu persatu, katakan dengan sejujur-jujurnya, apakah kalian mencintai David sebesar kalian mencintai Suleyman,"


"Itu pertanyaan yang tidak adil!" sahut Hanifah protes.


"Saya juga ingin dengar," kata David mendukung Susan.


"Loh, kita semua sedikit banyak, tahu perasaan David," sahut Susan. "Tapi saya malah penasaran dengan perasaan sebenarnya kalian berdua. Kalian seakan boneka yang tidak memiliki hati, menjalani hari demi hari dengan monoton, melayani para Abi dengan sepenuh hati tanpa bertanya macam-macam, Kalian ini seorang istri atau hamba sahaya?"


David menopang dagunya dan mengangguk setuju dengan Susan. Mereka menunggu jawaban para istri.


Tidak disangka Hanifah dan Alwa malah tidak langsung menjawab. Mereka juga diam seakan lidah ini begitu kelu untuk berbicara.


Pertanda buruk.


Lalu ponsel Alwa berdering.


Dari Raka.


Alwa langsung mengangkatnya, bahkan tidak minta izin David dulu.


"Mas Raka! Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!" ia terlihat ceria, bahkan ucapan salamnya begitu lengkap seperti ucapan di kartu Idul Fitri. "Oh iya Mas Raka hampir sampai? Ya ampun ini kan masih jam setengah tujuh Mas, klinik belum buka kali Mas! Eh, mau ke Ancol dulu?! Banyak yang jalan-jalan. di sana? Asikk Mau! Mau! Oh kliniknya dekat Ancol, Mas? Okeee Mas! Aku tunggu!!"


David mendengus tidak senang melihatnya. "Sekalian saja kamu pacaran sama Raka, robek sekalian nama baik saya di depan jutaan umat!" sindir David.


"Hah?" Alwa langsung menyadari kesalahannya. "Eh a-anu Abi, kalau Abi tidak berkenan, aku akan langsung batalin,"


"Saya bukannya sudah bilang untuk menjaga kehormatan kamu? Tapi kelihatannya kamu sudah berencana untuk menodai diri kamu sendiri ya? Saya tidak bisa ... "


"Sudahlah David," Potong Susan. "Salah kamu nggak pernah ajak Alwa jalan-jalan. Bahkan dia tidak bisa naik lift sendiri. Dia bagaikan dalam sangkar selama ini,"


"Susan, itu bukan urusan kamu. Aku suaminya,"


Lalu David menyadari. "Aaah, aku sudah bisa mencium rencana kamu, dasar wanita licik. Kamu berniat jahat ternyata ya!"


"Ini demi harga diriku," Susan dengan cuek mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Belum tentu berhasil!"


"In syaa Allah berhasil,"


"Saat begini saja kamu sebut nama Yang Maha Kuasa," sindir David.


"Daripada tidak pernah menyebut?"


Alwa dan Hanifah menyimak obrolan sambil menolehkan kepala mereka ke kiri dan ke kanan bagaikan menonton pertandingan bulu tangkis.


"Anuuu, jadi aku boleh pergi?" tanya Alwa hati-hati, kemudian.


"Boleh pergi setelah jawab!" kata Susan dan David hampir berbarengan. Alwa jiper dan langsung duduk lagi. Serasa dimarahi sekaligus oleh ibu dan ayah mereka.


Tapi kenapa suasana menjadi akrab begini ya? Pikir Alwa. Ia lalu melirik sepupunya, Hanifah, yang masih memasang wajah cemberutnya. Suram dan penuh kebencian. Namun begitulah Hanifah sejak dulu. Saat diomeli Almarhum Abah dan Emaknya, wajah ngambeknya terasa membakar.


Ah! Alwa jadi rindu masa lalu. Rindu Emak dan Abah, rindu Bapak dan Ibu Hanifah juga. Alwa otomatis langsung membaca Al-Fatihah dalam hati untuk mereka yang lebih dulu berpulang.


"Aku tidak akan menjawab pertanyaan semacam itu, ini hanya jebakan. Mbak Susan hanya ingin menguasai Abi sendirian," kata Hanifah.


David dan Susan otomatis saling melirik. Lalu mendengus sambil tersenyum sinis.


"Ah! Begitu ternyata perasaan kamu. Sudah terjawab, terimakasih," desis Susan.


David hanya menghela napas.


"Aku tidak menjawab apa pun," Hanifah kebingungan.


"Ipah, kalau permainan membolak balik kata, memanipulasi maksud dan tujuan, kami berdua jagonya. Kami kaum pebisnis, pekerjaan kami merayu dan konsultan strategis," kata Susan.


"Kalau begitu jelaskan dengan bahasa yang kumengerti," kata Hanifah


Susan mendengus, "Kalau kamu benar-benar mencintai David, kamu pasti akan langsung jawab, Hanifah. Bukannya malah bilang ini pertanyaan jebakan,"


Hanifah diam sambil tetap cemberut.


Semua diam menunggu Hanifah melanjutkan argumennya.


Gantian kini David yang menghela napas panjang.


"Kalau kamu Alwa? Bagaimana perasaan kamu terhadap saya?"


"Eeemm, tapi janji tidak tersinggung ya Abi? Lalu jangan juga jadi cuekin aku,"

__ADS_1


"Saya sudah berjanji akan bertanggung jawab atas hidup kalian, hal seperti ini tidak akan mengubah hal itu," kata David.


"Ya iya lah, sekarang aku malah terseret-seret ambil bagian dari tanggung jawab, kurang enak apa kamu?!" omel Susan sambil bergumam.


"Kan kamu istriku," David tersenyum licik. Susan menatapnya malas.


Sebenarnya, di sini, yang berhati paling luas justru adalah Susan. Mau saja dia membantu David menanggung Alwa dan Hanifah, padahal normalnya seharusnya mereka tidak akur. Di bibir bilang benci ke David, namun justru yang paling banyak memberi perhatian adalah Susan.


"Aku," Alwa tampak berusaha memilih kata-kata tersopan dalam kamus di otaknya. Sementara Hanifah menatap tajam ke arah Alwa seakan mewanti-wantinya untuk tidak bicara sembarangan.


"Maaf Kak Hani, aku harus bicara yang sebenarnya. Rumah tangga semacam ini sudah tidak sehat," kata Alwa.


"Dek!" Seru Hanifah berusaha mencegah.


"Abi," Alwa tidak mengindahkan Hanifah. "Aku menyayangi Abi, juga Abi Suleyman. Bagiku kalian berdua penyelamat hidupku. Tadinya aku tidak memiliki perasaan apa pun ke Abi Suleyman. Namun cinta itu datang seiring berjalannya waktu, lewat perhatiannya, lewat kasih sayangnya, lewat rayuannya, lewat pelukannya. Abi Suleyman setiap hari berusaha meluluhkan hatiku," kata Alwa.


"Namun, maaf Abi. Kalau dengan Abi lebih ke rasa menghormati. Bukan cinta. Kadang, aku malah takut kalau berbicara demgan Abi. Saking takutnya sampai tidak berani protes macam-macam. Padahal aku bosan gaya yang itu-itu saja," kata Alwa.


Susan menyeringai geli.


David mengacak rambut hitamnya sambil tersenyum masam.


"Aku mengerti Abi berusaha sekuat tenaga untuk menjadi suami sesuai kaidah agama, termasuk tidak menolak ajakan istri karena pahala bagi kami sangat besar dan wajib hukumnya bagi suami untuk tidak menolak saat kami meminta. Namun Abi, bagaimana perasaan Abi saat itu? Kami tidak ingin memperkeruh suasana. Karena kami butuh Abi. Bukan cinta, tapi butuh," Kata Alwa.


Hanifah langsung berdiri, dan masuk ke kamarnya sambil menangis.


Namun tidak ada yang mencegahnya.


-----***-----


David mencengkeram kerah kemeja Raka sambil menyeretnya ke kebun belakang, saat Raka baru saja tiba di rumah David.


"Dengar ya berandal," desis David dengan suara rendah. "Awas kamu pegang-pegang Alwa. Mahramnya saya, tapi demi Susan, saya izinkan kalian jalan berduaan," geram David.


Raka menelan ludah.


"Baik Pak. Janji," desis Raka waspada.


"Kamu sentuh dia, kamu mati. Saya serius," kata David lagi.


"Eh, i-iya Pak," gumam Raka. Serasa minta izin calon mertua untuk membawa anaknya berkencan.


Sementara David sibuk dengan Raka dan Alwa, Susan mengetuk kamar Hanifah.


"Mau apa?" gumam Hanifah dengan wajah sembab.


"Mau bicara," Kata Susan sambil tersenyum.


"Aku sudah nggak ada hal yang mau dibicarakan," kata Hanifah.


"Kamu butuh bicara dengan seseorang yang bisa memberi solusi. Selama ini teman curhat kamu hanya Alwa. Dan saya bukan musuh kamu,"


"Apa benar? Kok rasanya aku seperti diintimidasi,"


"Kamu tahu, saya tidak menerima penolakan. Saya akan terus mengganggu sampai kamu bilang 'iya'," kata Susan.


Hanifah menghela napas. Hal itu benar adanya. Ia memang sedang butuh bicara dengan seseorang.


Jadi Hanifah mempersilahkan Susan memasuki kamarnya yang sederhana.


Saking sederhananya sampai Susan curiga kalau Hanifah ini tidak tertarik dengan apa pun. Namun ia segera ingat kalau memasak adalah kegemaran Hanifah. Tidak mungkin menyimpan koleksi panci di dalam kamar.


"Bicaralah, saya akan menyembunyikan yang perlu disembunyikan dari David," kata Susan.


"Mbak," Hanifah mulai berbicara. "Aku butuh Abi untuk mengcover dosa-dosa yang kulakukan di dunia. Ini bukan masalah harta. Aku juga tahu kalau harta bisa dicari. Yang Mbak Susan merasa tidak masuk akal kan hal itu, masalah dosa seorang istri itu. Kalau aku tidak bersuami, yang akan menanggung dosaku adalah Bapak yang sudah meninggal. Dia sudah meninggal masa harus dibebankan dosa? Tidak adil Mbak. Jadi benar, aku butuh Abi. Lebih tepatnya, aku butuh suami," kata Hanifah.


Susan hanya diam. Dia sudah berjanji akan mendengarkan Hanifah dan tidak memotong ucapannya.


"Kenyataan kalau Abi sangat berbeda dengan Abi Suleyman masih bisa aku tahan. Aku masih bersabar. Dan sangat sadar sejak dia mempersunting Mbak Susan, Abi memiliki binar mata yang berbeda dari saat dia menatap kami. Namun tetap saja Mbak, Aku tidak mau kehilangan Abi. Walaupun harus tersiksa dengan mulut pedas Mbak Susan!"


Dan Hanifah membuang muka bagaikan anak remaja ngambek.


Susan tersenyum.


"Kalau begitu, kita akan berat sebelah dalam bersaing. Kamu bukan tandingan saya,"


"Terserah!" gerutu Hanifah.


"Mau saya ajarkan agar kita bisa seimbang?"


Mata Hanifah membesar. "Akal bulus apa lagi yang Mbak Susan pikirkan?"


"Bagi saya, nggak seru kalau saya menang telak. Bertanding harus dengan lawan yang seimbang dong!"


"Lalu?"


"David menyukai wanita pintar, serba bisa, cerdas dan nyambung kalau diajak bicara mengenai bisnis karena dia workaholic," kata Susan.


"Iya, aku juga tahu hal itu. Tapi aku hanya lulusan SMP, mana bisa diterima kerja?!"


"Saya ada lowongan pekerjaan yang membutuhkan skill memasak kamu, dan kamu juga bisa belajar bisnis dengan mengelola usaha itu," Kata Susan.


"Kalau Mbak Susan akan memberiku modal usaha, maaf aku belum bisa. Aku belum belajar soal berdagang dan hitungan akuntansi. Dan aku ragu ya, ada restoran yang mau menerima lulusan SMP sepertiku,"


"Tidak, saya tidak akan memberi kamu modal. Kamu akan memiliki atasan yang akan mengajari kamu akuntansi, berdagang, berbisnis, bertemu relasi, dan juga memasak. Masakannya bahkan lebih enak daripada kamu. Jangan tersinggung, masakan kamu enak, kualitas restoran. Tapi restoran keluarga. Kalau orang yang saya mau kenalkan ini, berkualitas Michelin. Tahu predikat itu kan?"


Hanifah terdiam, dia langsung tertarik untuk mendengarkan.


"Coba lanjutkan, Mbak,"


"Orang ini, memiliki coffee shop di daerah Tebet, selama ini dia menjalankan usahanya sembari bekerja di perusahaan saya juga. Kamu juga kenal, kok," Kata Susan.

__ADS_1


Dan sekali lagi,


Susan merayu sambil menyeringai licik.


__ADS_2