The Bitter Three

The Bitter Three
Sakit di Jiwa dan Raga


__ADS_3

Galuh mendapat pesan singkat dari Susan di pagi harinya. Saat itu hari minggu dan wanita itu minta izin untuk mengajak anak-anak sarapan di sebuah restoran. Mengenai urusan pakaian Vini dan Vici disebutkan disana kalau Galuh tidak perlu kuatir.


Tapi Galuh sudah setengah jalan menuju rumah David, jadi setelah memberi izin ke Susan ia pun tetap menuju rumah David sekedar meletakkan pakaian itu siapa tahu Vini dan Vici tidak merasa cocok dengan yang dibelikan Susan.


Keadaan rumah sepi pagi itu, tampaknya Susan pergi juga bersama David.


Jadi Galuh menuju kamar Susan untuk meletakkan pakaian anak-anak.


Terlihat Alwa mondar-mandir di depan kamar Hanifah dengan wajah kuatir.


Galuh pun menghampirinya.


"Assalamu'alaikum Mbak Alwa," sapa Galuh.


"Mas Galuh! Wa'alaikumsalam! Ini loh mas, em ... Kak Hani sejak subuh mengunci diri di kamar! Saya mau pergi sama Mas Raka, tapi kok rasanya kuatir ya?! Kak Hani nggak biasanya melewatkan subuh di mushola, tapi begitu saya bangunkan dia tidak menjawab,"


"Memang ada apa?"


"Saya juga kurang tahu ya mas, kemungkinan ada sesuatu terjadi tadi malam tapi saya kan tidur duluan. Abi juga tidak bicara apa pun,"


"Hem," Galuh juga tidak bisa mengira-ngira. Tapi dia dengar dari Susan akhir-akhir ini Hanifah memang dalam masa pemberontakan, begitu bahasa wanita itu menggambarkan Hanifah.


Tak berapa lama terdengar salam dari arah ruang tamu. Raka datang dengan wajah sumringah.


"Bro? Kok lu di sini?! Bosen gue ketemu lo lagi lo lagi, ah!" keluh Raka.


"Lo juga ngapain? Jemput bini orang?" sindir Galuh.


"Kan surat izin dari lakinya udah keluar bro, anggap aja gue bodyguard!"


"Jangan macem-macem lo ye, wanita terhormat perlakukan dengan hati-hati! Waspada terus Mbak Alwa, tabok aja kalo dia berani colek-colek," kata Galuh.


Alwa melirik Raka dengan canggung. Raka hanya tersenyum sok innocent.


"Saya tahu kok orang seperti apa Mas Raka. Pacarnya banyak,"


"Hem, kemarin pasti sudah ketemu Dokter Sisca ya?" tebak Galuh.


Alwa hanya menjawabnya dengan helaan napas dan cibiran.


"Dia bilang udah tobat sih mbak, soalnya terakhir memang ditampar sama Sisca. Pake hak sepatu, lancip tajam," kata Galuh.


"Tapi dia sendiri yang ngobatin gue sampe bekas lukanya hilang," gumam Raka. "Tapi masih keinget sakitnya. Makanya habis itu gue jomblo terus. Setiap ngeliat cewek seksi, keinget hantaman sepatu stiletto,"


"Mang enak, sukurin," sahut Galuh sambil menyeringai.


"Anuuu, Mas Galuh, ini bagaimana?" tanya Alwa sambil menunjuk-nunjuk kamar Hanifah.


"Hem, Mbak Alwa berangkat saja Mbak. Janjian sama salon ya?"


"Instruktur yoga," ralat Alwa.


"Oh, yang di Radio Dalam?" Tebak Galuh.


"Iya Mas,"


Raka langsung bersiul-siul sok innocent, Galuh mencibir.


"Pelatihnya juga mantannya," kaya Galuh sambil menunjuk Raka dengan dagunya.


"Banyak banget sih Mas!" seru Alwa kesal.

__ADS_1


"Lah kenapa situ yang kesel?!" sungut Raka.


"Ya kan saya malas kalau seperti kemarin, semua menatap saya sinis! Ternyata hampir semua pernah diajak pacaran! Saya dikira istrinya!" omel Alwa.


"Ya sori," gumam Raka.


"Maklum Mbak, abege, lagi pencarian jati diri," Kata Galuh.


"Yang model begini sih, udah 60 tahun juga bakalan nyari jati diri melulu!" seru Alwa kesal.


"Kecuali istrinya nanti bisa mengajarkan akidah, dia pasti takluk kok,"


"Bismillah, nanti saya bersedia bantu istrinya ngajarin," kata Alwa.


Galuh dan Raka terdiam. Serasa ada yang mengganjal tapi apa ya?


-----***-----


Jadi setelah Raka dan Alwa pergi, Galuh duduk di ruang keluarga sambil membuka ponselnya untuk sekedar mengecek sosial medianya. Ruang keluarga berada tepat di depan kamar Hanifah, dan sama seperti Alwa, Galuh juga merasa ada yang tidak beres dengan keadaan Hanifah.


Jadi pria itu memutuskan untuk menunggu Hanifah sebentar dan mengirimkan pesan singkat ke ponsel Hanifah. mereka baru saja bertukar nomor kemarin untuk sesi wawancara mengenai pekerjaan di Cafe.


Sebenarnya setelah ini, Galuh juga berniat untuk mengunjungi cafenya sekedar memeriksa persediaan barang. Ada baiknya mengajak Hanifah juga agar wanita itu bisa lebih bersemangat. Dari kemarin, pembicaraan mengenai rencana Hanifah untuk bekerja di cafe Galuh sedikit banyak membuat binar mata yang tadinya redup menjadi agak bersinar. Mumpung ini hari minggu, pelanggan cafe juga agak penuh, Hanifah diharapkan bisa mempelajari berbagai persoalan secara on the job training.


Namun setelah satu jam ditunggu, Hanifah tidak kunjung keluar kamar. Sedangkan ini sudah pukul 10.00. Menurut keterangan Alwa, sejak Subuh Hanifah tidak keluar kamar. Apakah wanita itu tidak lapar? Tidak haus? Biasanya Hanifah memasak sarapan.


Suatu keadaan yang di luar kebiasaan, membuat perasaan Galuh menjadi tidak enak.


jadi Galuh menghampiri pintu kamar Hanifah, dan mengetuk pintunya perlahan.


"Mbak Hanifah? Ini Galuh. Kamu nggak apa-apa kan Mbak?" tanya Galuh.


Tidak ada jawaban.


Tidak ada jawaban.


Galuh menjadi semakin kuatir. Pria itu menengadahkan kepalanya ke arah ventilasi di atas pintu kamar.


Terbersit di pikirannya untuk sekedar mengintip dari sana, memastikan kalau Hanifah dalam keadaan baik-baik saja. Namun Galuh masih ragu, karena Hanifah bukan siapa-siapanya, mereka berada di rumah suami Hanifah, dan yang lebih penting status Hanifah bukan muhrim dan merupakan istri orang lain. Jadi sungguh tindakan yang tidak pantas apabila Galuh ...


Sudahlah! Nekat saja dari pada aku semakin kuatir! Pikir Galuh sambil mengambil kursi makan dan memanjatnya.


Dan betapa kagetnya dia saat melihat pemandangan di dalam kamar.


Galuh secepat mungkin turun dari kursinya, mencari obeng di laci dapur, lalu mencongkel slot pintu. Dia berusaha agar tidak menarik perhatian para pelayan di rumah itu dengan kegaduhan yang ditimbulkannya.


Lalu pria itu masuk ke dalam kamar Hanifah dan memeriksa keadaan wanita itu.


Hanifah terkulai lemah di atas ranjangnya dengan keadaan tanpa busana, dan tubuhnya demam tinggi. Masih tersisa air mata di pelupuk mata dan pipinya.


Wanita itu masih sadar, namun sangat lemas.


"Mbak? Mbak Hani? Bisa dengar suara saya?" Galuh memangku tubuh lemas wanita itu sambil mengguncangkan pipinya dengan perlahan.


"Saya ingin mati saja," bisik Hanifah.


Ada apa lagi ini?! Pikir Galuh panik.


"Jangan Mbak, sebelum Tuhan sendiri yang mencabut nyawa, manusia tidak boleh membunuh dirinya untuk mati,"


"Hidup saya tidak pernah bermakna, Mas," desis Hanifah lemah.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit ya?" tanya Galuh sambil menutupi Hanifah dengan selimut dan ingin membopong tubuh Hanifah.


"Jangan, jangan sampai Abi tahu. Saya tidak ingin ke rumah sakit. Saya nggak apa-apa, hanya lecet sedikit,"


"Lecet?!" Galuh mengernyit. Lalu pria itu menutup pintu kamar Hanifah dan menyibakkan selimutnya. Tampak noda darah di atas sprai Hanifah. "Coba saya lihat!" dan Galuh hendak membuka kedua paha Hanifah.


"Mas Galuh!" tegur Hanifah sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Bagaimana saya tahu obat yang tepat kalau saya tidak melihatnya Mbak?!"


"Tapi tetap saja tidak boleh Mas!"


"Kalau tidak diobati, akan infeksi! Anggap saja saya dokter, saya akan membelikan obat yang tepat setelah saya memeriksanya,"


Lalu Hanifah menghela napas. Matanya yang bengkak juga terasa perih. Ia tidak mengenakan hijab dan rambutnya acak-acakan. Semua auratnya sudah terlihat oleh Galuh.


Sudahlah, apa boleh buat. Lagipula Hanifah tidak ingin ke rumah sakit. Ia tidak ingin David tahu.


Jadi Hanifah merenggangkan kedua pahanya.


"Astaghfirullah," desis Galuh sambil menghela napas berat.


Kewanitaan Hanifah tampak memerah dan bengkak, lalu tampak tetesan darah dari sana karena adanya lecet.


Lalu Galuh ke dapur dan mengambilkan teh manis hangat, paracetamol dan sebaskom besar air hangat.


"Minum dulu ya Mbak, saya keluar sebentar cari obat. Kemungkinan salep. Kompres bengkaknya pakai air dulu," desis Galuh.


Pria itu keluar dari kamar dan menutup pintu kamar Hanifah.


Sekitar 15 menit kemudian Galuh kembali membawakan salep dan obat minum.


Ia juga mengganti air di baskom dengan air yang lebih hangat.


"Mbak, coba dudukan bagian bawah di dalam baskom, bagian itu harus direndam air hangat dulu," desis Galuh sambil menggendong tubuh Hanifah.


Wanita itu sudah pasrah saja auratnya terlihat kemana-mana. Dan untung saja baskomnya muat ia duduki.


"Sambil makan dulu ya Mbak," Galuh memberinya sandwich dengan krim buah.


Hanifah makan dalam diam, matanya masih memandang kosong ke depan. Dia tidak ingin bercerita, Galuh pun tidak ingin mencecarnya.


"Sini mbak, duduk di handuk pelan-pelan," kata Galuh beberapa saat kemudian sambil membantu Hanifah berdiri.


Dengan telaten, Galuh mengoleskan salep khusus di area wanita Hanifah. Ada beberapa bagian yang lecet dan mengeluarkan darah. Ekspresi pria itu tidak berubah, hanya mengernyit untuk mempertajam pandangannya.


Setelah itu Galuh memeriksa bagian tubuh Hanifah yang lain. Pergelangan tangan Hanifah agak merah akibat cengkeraman sesuatu.


"Mas," gumam Hanifah sambil mengunyah sanndwichnya.


"Ya Mbak?"


"Saya ini menyedihkan ya?"


Galuh hanya menjawabnya dengan helaan napas.


"Saya sudah tidak tahu lagi harus bagaimana agar Abi berpaling ke saya," desis Hanifah. "Apakah cinta memang harus dengan pengorbanan seperti ini?"


Galuh meletakkan salepnya dan menyodorkan teh manis hangat lagi. "Cinta yang sebenarnya, tidak menyakitkan. Karena setiap insannya tidak akan tega menyakiti satu sama lain,"


Hanifah lalu menitikkan air mata. Ia menggenggam tangan Galuh dan terisak.

__ADS_1


Galuh memeluk tubuh kurus itu, dan membiarkan Hanifah menangis sepuasnya.


-----***-----


__ADS_2