
Sementara itu, bagaimana dengan Hanifah dan Galuh?
Kita flashback kembali, ke kejadian saat mereka kencan.
Dua sejoli berjalan beriringan, menelusuri selasar gedung mall sambil menikmati angin sore yang sepoi. Mall model pallazzo yang indah besutan Developer Yudha Mas Building, di bawah naungan Yudha Mas Corp terasa mewah dan nyaman.
Namun, Hanifah merasa gugup. Baru kali ini ia memasuki mall sebesar ini.
Dengan terperangah ia memperhatikan sekelilingnya.
Mall ini jauh lebih mewah dibandingkan yang berada di bawah kantor Susan. Interior bergaya klasik dan lantai marmer dengan motif yang belum pernah dilihat Hanifah sebelumnya, bagaikan batu akik dalam bentuk lebar.
“Ini salah satu mall milik Pak David, Mbak Hani belum pernah ke sini?” Galuh bertanya karena merasa aneh dengan tingkah Hanifah.
“Eh? Belum Mas, Mas David tidak pernah mengizinkan kami pergi sendiri,”
Galuh mengangguk mengerti. “Kalau begitu, kita keliling sampai puas ya, makannya setelah Ashar saja bagaimana? Sementara kita beli camilan saja dulu. Mushola di sini juga luas sekali, loh,” kata Galuh.
“Ya Mas,” Hanifah dengan kikuk menyejajarkan langkahnya ke sebelah Galuh, namun pria itu hanya menatapnya tanpa melanjutkan perjalanannya.
“Kenapa Mas?” tanya Hanifah.
“Boleh saya gandeng tangannya?”
“Eh?” Hanifah mengangkat alis tebalnya dengan wajah yang semakin jengah. Sekali lagi, kalau ditanya yang semacam ini, ia lambat merespon. Jadi Galuh yang mengangkat tangan besarnya lalu menengadahkannya untuk menerima tangan Hanifah. Biar nanti Hanifah sendiri yang memutuskan mau meletakkan tangannya di atas telapak Galuh atau tidak.
Entah kekuatan dari mana, mungkin juga ambiance dari suasana Mall, Hanifah tanpa pikir panjang seperti biasanya meletakkan jemari mungilnya ke tangan Galuh. Pengertiannya, ‘titip Hanifah’ itu berarti sudah satu paket dengan adegan seperti ini.
Akhirnya Galuh berjalan sambil menggandeng tangan Hanifah.
Gandeng?
Astagaaaa! Pekik Hanifah dalam hati.
Tangan Galuh, hangat dan besar. Sedikit kasar namun maskulin.
Ini tidak boleh! Seharusnya tidak boleh! Apa yang merasukinya tadi? Mereka adalah orang lain! Batin Hanifah takut-takut.
Tapi, kok ... bukannya malah melepaskan pegangannya, Hanifah malah semakin erat menggandeng Galuh?
“Ada yang mau dibeli, Mbak?” tanya Galuh.
“Heh?” Hanifah mengangkat wajahnya karena kaget tiba-tiba ditanya, “Eeeeh, tidak ada, saya sudah merasa cukup,”
“Oh ya? Saya naik gaji loh ini, kan baru saja dipromosikan menggantikan Bu Susan,”
“Kebutuhan Vini dan Vici masih banyak, Mas,”
Galuh mengangguk setuju dengan kalimat Hanifah barusan. Ia senang karena Hanifah begitu perhatian kepada si kembar.
“Kalau ada yang diinginkan, jangan sungkan-sungkan ya,” kata Galuh sambil menyusupkan jemarinya ke sela-sela jari lembut Hanifah.
Wajah Hanifah memerah karena malu.
Sekitar satu jam mereka berkeliling di Mall, Galuh mengajaknya berputar kembali ke arah palazzo dan berhenti di depan sebuah restoran.
“Kita makan di sini tak apa-apa?” tanya Galuh sambil menunjuk sebuah restoran Jepang di hadapan mereka. Rasanya tempat ini terlalu eksklusif untuk gaya pakaian Hanifah, wanita itu langsung mengerut karena tidak percaya diri. Ia bersembunyi di balik tubuh tinggi Galuh saat memasuki restoran itu, berharap tidak terlihat pengunjung lain.
Saat duduk di meja dekat jendela dan makanan sudah dihidangkan, barulah mereka bisa mengobrol dengan santai.
“Mbak Hani, boleh tanya hal pribadi?” tanya Galuh.
“Ya Mas?”
“Sewaktu Mbak Hani dinikahkan Pak David, apa yang sebenarnya kamu pikirkan?’
Hani menatap Galuh dengan muram.
“Hem, saya berpikir kalau itu sudah seharusnya,” jawab Hanifah.
“Begitu? Apa tidak kepikiran untuk hidup sendiri saja?”
__ADS_1
“Waktu dinikahi oleh Abi Suleyman, kami baru saja 17 tahun, Mas. Belum mengerti apa pun. Kalau orang desa, apalagi korban rudapaksa seperti kami, menikah itu adalah jalan satu-satunya untuk mengembalikan kehormatan kami dan keluarga. Dan paradigma itu bertahan sampai sekarang. Jadi saat dinikahkan kembali dengan mas David yang secara keuangan dia lebih mapan dari Abi Suleyman, saya pun oke-oke saja asalkan masyarakat tidak menghakimi,”
“Di desa masih ada keluarga?”
“Sebenarnya masih Mas, kerabat Bapak dan Ibu kami, tapi sejak kami mengalami gangguan mental mereka memutuskan tali silaturahmi. Kami sepenuhnya berada di bawah naungan Departemen Sosial. Bedua saja, hanya saya dan Alwa,”
“Tapi kalian kan sekarang sudah sehat kembali, mereka tidak menghubungi lagi?”
“Tidak, Mas. Keluarga kami tidak berpatokan pada harta, tapi pada kehormatan. Masyarakat di sana beranggapan kalau kami sampai mengalami pemerkosaan, jadi kamilah yang salah. Entah itu karena tingkah kami yang dianggap genit, suka memancing birahi, atau gaya pakain kami yang vulgar,”
“Mbak Hani dan Mbak Alwa memang begitu?”
“Demi Allah, tidak Mas! Kami ini berpakaian menggunakan hijab karena pakaian sehari-hari kami ya seragam sekolah dari Madrasah Tsanawiyah (MTs). Kalaupun pakai daster ya lungsuran dari ibu saya yang lengannya panjang-panjang dan kedodoran. Lagi pula kami diperkosa setelah ... setelah kami memergoki kedua orang tua kami dibunuh. Keempatnya meninggal,” cerita ini bagaikan membuka luka lama bagi Hanifah.
“Jadi menikah itu adalah jalan keluar?”
“Ya Mas, untuk kehormatan. Dengan menikah, anggapannya ada yang mengurus kami,”
“Hem, jadi kalau sekarang menjadi janda, hal itu juga dianggap aib?”
“Begitulah, walaupun ada masa iddah. Karena itu, saya memutuskan untuk mandiri. Agar saya memiliki kesibukan dan teralihkan dari pikiran buruk saat menyandang status janda itu. Terus terang saja Mas Galuh, menjadi Janda Cerai Hidup di kampung kami, disamakan dengan wanita naka ... sudahlah," Hanifah tidak melanjutkan kalimatnya karena terdengar menyakitkan.
“Itu anggapan yang salah,”
“Memangnya saya bisa melawan omongannya tetangga, Mas?”
Galuh menghela napas prihatin.
“Mas Galuh, saat ini saya memang sudah hidup di kota besar. Dimana budayanya berbeda 180 derajat dari di kampung. Wanita di sini menyandang status janda dan single parent bisa hidup dengan bangga karena dianggap wanita kuat, mandiri dan hebat. Tapi Mas, yang namanya doktrin sudah ditanamkan di otak saya dan Alwa sedari kecil. Apalagi doktrin toxic seperti itu, sangat susah dihilangkan dari otak kami, kecuali kami gila dan hilang ingatan. Jadi mohon mengerti kalau saya belum siap dengan keadaan itu. Saya tetap takut kalau Mas David menceraikan saya,”
“Mbak Hani, saya ingin menjadikan kamu istri saya,"
“Berdoa saja Mas, siapa tahu kita berjodoh. Karena terus terang, saya trauma dengan pernikahan,”
Mereka terdiam beberapa saat sampai Galuh menggenggam tangan Hanifah sekali lagi, berusaha menenangkannya.
Lalu mengangkatnya dan mencium punggung tangan wanita itu dengan lembut.
Galuh yang romantis dan lembut, perlahan membuat Hanifah melayang ke langit ketujuh. Ketakutannya langsung sirna. Di pikiran wanita itu, kenapa dari awal dia tidak bertemu dengan Galuh saja? Pria semacam ini lah yang selama ini dia harapkan dari sosok David.
Malam itu sepulangnya ia dari kencan bersama Galuh, Alwa memberitahukan kabar itu.
"Kapan?" tanya Hanifah ke Alwa.
"Tadi pagi, Kak. Saat Mas David berbicara denganku berdua saja di meja makan," kata Alwa.
"Yang aku tinggalkan kalian untuk bicara berdua saja itu?" Kenapa nada suara Hanifah malah terdengar tidak senang?
Alwa mengangguk.
“Jadi status kamu sekarang sudah menjanda, Dek?”
Alwa mengangguk lagi.
“Kamu senang?”
“Ya Kak, lebih ke lega sih Kak,”
“Kenapa?’
“Eh?”
“Hidup menjanda adalah aib, kenapa kamu senang?” Padahal tadi perasaannya sedang berbunga-bunga terhadap Galuh. Tapi kenapa terasa menyakitkan saat mendengar David sudah menalak Alwa?
“Eh?” Alwa kaget dengan sikap skeptis Hanifah. “Sejak kapan menjanda itu adalah aib, Kak? Bagaimana dengan istri yang ditinggal suaminya meninggal? Atau istri yang terpaksa menggugat cerai karena suaminya KDRT?! Tidak ada yang mengetahui usia seseorang, dan bukan keinginan kita hidup menjanda,”
“Menjanda karena cerai hidup, di masyarakat masih dihantui stigma negatif, Dek. Lagi pula sekarang kamu masih tinggal di rumah Mas David, apakah itu pantas? Setidaknya kamu minta dicerai saat kamu bisa hidup di atas kaki sendiri, Dek!”
“Tapi bukankah Kak Hani lebih parah? Kak Hani masih berstatus istri tapi sudah selingkuh dengan Mas Galuh. Setidaknya sekarang aku tidak tertekan dan tidak membebani Mas David lagi,”
Hanifah langsung emosi, “Maksud kamu apa, sih Dek?! Kakak itu bermaksud baik untuk melindungi kamu!”
__ADS_1
“Wanita yang diceraikan dalam bentuk talak raj’i, berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal selama masa iddah, jadi perkataan Kak Hani itu tidak berdasar!”
Mereka menghentikan argumen masing-masing.
Baru kali ini mereka bertengkar hebat! Sepanjang hidup mereka, Alwa dan Hanifah hidup rukun bagaikan kakak beradik. Walaupun mereka terhitung sepupu jauh, ipar ke ipar, tapi mereka hidup bertetangga sejak bayi. Almarhum Orang tua mereka pun cukup akrab.
Kini gara-gara masalah yang memang sudah diketahui ujungnya, yakni pernikahan yang hancur lebur, mereka harus bertengkar.
“Aku tidak berselingkuh,” desis Hanifah sambil terengah-engah menahan emosinya. “Aku menyukai Mas Galuh sebagai teman dekat,”
“Aku berselingkuh, jujur saja kak. Kak Hani juga tahu sendiri. Karena itu aku ditalak Mas David. Dan semua itu sudah takdir, jadi jangan protes akan hidup seseorang yang sudah diatur Illahi,” Alwa tidak mau kalah.
“Keras kepala!” geram Hanifah.
“Jutek, judes, plin-plan!” balas Alwa lagi. Membuat Hanifah terpekik tidak percaya akan kata-kata yang bisa keluar dari mulut Alwa.
“Itu anggapan kamu selama ini padaku, Dek?!” seru Hanifah marah.
“Loh, seharusnya Kak Hani sudah tahu dong tabiat diri sendiri, kalau Mbak Susan yang ngomong begitu, kok Kak Hani nggak marah?! Usia kita sama Kak, hanya beda beberapa bulan, kenapa aku selalu dianggap masih kecil? Aku tunjukan kalau aku bisa move on dari Mas David! Mengenai alasan kenapa beliau menalakku lebih dulu dari Kak Hani, tanyakan sendiri padanya!” seru Alwa.
Dan karena kesalnya, keburu kata-kata makian keluar dari bibirnya, Alwa pun meninggalkan Hanifah sambil menghentak - hentakan kakinya menuju kamarnya sendiri.
Tepat saat itu, David dan Susan pulang dari bekerja.
“Ada apa ribut-ribut?” tanya pria itu, “Sampai terdengar keluar. Salam saya juga lagi-lagi tidak dijawab,”
“Ah! Wa’alaikumsalam, Mas. Biasa, keributan kecil,” Hanifah terdengar muram.
“Keributan kecil? Biasa bagaimana? Kalian hampir-hampir tidak pernah bertengkar sampai saya menganggap kalian saudara kembar,” dengus David.
Hanifah duduk di sofa sambil menarik napas panjang. Ia berusaha mengendalikan emosinya.
David benar, ini pertengkaran pertamanya dengan Alwa.
“Mas, kenapa menalak Alwa?” tanya Hanifah lemah.
“Oh, masalah itu,” David duduk di salah satu sofa sambil menyilangkan kakinya dengan santai. Susan duduk di sebelahnya.
“Kami ini hidup sebatang kara Mas, tidak ada lagi kerabat yang mau mengakui kami,” kata Hanifah. “Mas David menalak Alwa, itu berarti dia akan hidup sendirian mulai sekarang,”
“Kamu yakin?” tanya David.
“Maksudnya?” Hanifah menoleh ke arah David dengan kening mengernyit.
“Alasan saya melepasnya lebih dulu karena Raka memintanya sendiri ke saya. Kalau Galuh bersedia datang ke saya, atau laki-laki lain yang meminta kamu dan ia lulus penilaian saya, saya dengan rela melepaskan kamu,”
Hanifah mengernyit. “Sekali lagi aku dianggap barang? Bisa dioper-oper ke sana kemari?” desisnya sinis.
Susan mengangguk setuju dengan pernyataan Hanifah. Kalau jadi Hanifah, dia akan ngomong begitu juga.
“Mas David, bagaimana kalau tidak ada yang meminta saya? Bagaimana kalau saya belum siap menikah lagi seperti Alwa? Saya sudah menikah dua kali, Mas! Mas David pikir bagaimana perasaan saya??”
“Jadi kamu mau bertahan dengan saya dan Susan di sini?”
“Saya sudah tidak ingin lagi menikah! Biarlah saya dengan diri saya sendiri! Saya juga tidak akan mengganggu kalian! Itu tujuan saya bekerja, saya akan hidup sendirian saja!” seru Hanifah sambil menangis.
Lalu wanita itu lari ke kamarnya dan membanting pintunya.
Brakk!!
Sampai David mengernyit karena risih mendengar bantingannya.
“Hihi,” terdengar cekikikan Susan.
“Bagaimana menurut kamu?” tanya David ke Susan. Mereka masih bisa bersikap tenang karena terbiasa akan tingkah Hanifah yang suka ngambek itu.
“Yah, Ipah benar. Aku sudah meracuninya dengan konsep womanizer, hehe,” kata Susan.
“Aku besok mau ketemu Papa untuk membicarakan Alwa,” keluh David.
"Iya, Raka sudah memaksaku untuk menandatangi form cuti mendadaknya, malam ini dia ke Kampung Lestari untuk menjemput Orang Tuanya,"
__ADS_1
"Hem, hanya ini yang bisa kulakukan untuk kebahagiaan mereka berdua,"
"Ya, aku mengerti. Kebahagiaanku juga sih," Susan menyeringai.