The Bitter Three

The Bitter Three
Rasa Yang Terlanjur Terjalin


__ADS_3

Alwa diam dulu.


Otaknya menelaah dengan logika beberapa saat.


Lalu wanita itu menggelengkan kepalanya sambil berdecak prihatin, "Mas Raka lagi sakit ya? Gara-gara kedinginan kali ya? Makanya pake baju Mas, apa mau saya kerokin?" tanya Alwa.


"Hah? Saya sehat-sehat saja, kok Mbak,"


"Lah itu sakitnya sampai ke otak, pakai melamar saya segala,"


Raka mencibir sambil meraih kaos oblong dan celana pendek bahan jeansnya, dan mengenakannya.


Terdengar bersin Alwa lagi.


"Mbak, walaupun Bu Susan julid, sudahlah pakai saja piyamanya. Sudah terkontaminasi iler saya juga kok," dengus Raka.


"Iyaaa iyaaa," gumam Alwa sambi menyambar sarung dan setelan piyama celana berlengan panjang warna abu-abu itu.


Raka pun membalik badannya sambil lanjut menikmati kopinya sambil menghadap jendela.


"Mas Raka tinggal sendirian?"


"Nggak kok, ada yang nemenin,"


"Hah? Siapa mas? Waduh saya lagi ganti baju pula!"


"Itu ada Bang Ruwo di pojok, sama Jeng Coak di balik plafon, hehe,"


"Siapa?" tanya Alwa meminta pengulangan.


"Genderuwo dan kecoak,"


Sebuah bantal melayang ke Raka, diiringi suara terbahak Raka yang senang melihat Alwa kalut.


"Ukhti masa takut setan, sih," ejek Raka. Pria itu meraih bantal dari lantai dan reflek berbalik untuk melemparnya kembali ke atas sofa di samping Alwa.


Dan dia melihat Alwa setengah telanjang. Rambut hitamnya yang basah terurai dan pakaian dalamnya berwarna hitam, kontras dengan kulit cerahnya. Wanita itu sedang dalam kondisi membuka kancing piyama yang akan dia kenakan.


Raka menarik napas panjang, lalu berbalik kembali sebelum ketahuan kalau ia khilaf.


Lalu memijat kepalanya.


Kenapa, Ya Allah?


Kenapa dari sekian banyak wanita seksi yang berseliweran di hidupku, aku malah tertarik dengan yang ini?!


Apa aku memiliki kelainan, jadi pebinor?!


Bukankah masih banyak wanita lain yang serupa dengan Mbak Alwa tapi masih single, menunggu di ta'aruf?!


Lagi-lagi pikiran dan batin Raka berkecamuk dengan sengit.


Sial!


Kalau begini sih daripada nggak bisa tidur ...


"Jadi gimana Mbak? Buat nemenin saya ke nikahan adik saya saja kok, di Kampung Lestari. Soalnya ibu angkat saya begah melihat saya sendiri terus,"


"Memangnya nggak ada wanita lain selain saya?"


"Cari yang ukhti susah, ngeliat saya bertato dan cengengesan malah pada kabur,"

__ADS_1


"Saya sudah bersuami Mas, Lagipula itu kan jatuhnya berbohong,"


"Kalau begitu saya mintakan izin Pak David ya,"


"Enggak ah mas, saya lagi galau kalau masalah dia,"


"Apa sekalian saja saya minta dia untuk menalak Mbak alwa?"


"Hah?!"


"Kan kita jadi nggak usah pura-pura,"


"Eh! Bentar bentar bentar bentar!!" seru Alwa panik dan menghampiri Raka, lalu berdiri di hadapan pria itu.


Namun Raka malah terbahak karena cara Alwa memasang sarung di kepalanya jadi seperti ninja beneran, "Mbak Alwa mau nyolong tv? Gayanya meyakinkan banget sih Mbaaaaak,"


"Ya kan ini sarung, bahannya kaku tapi licin! Mana nggak ada peniti pula!" Omel Alwa.


"Iyaaa jilbabnya saya taruh di mesin cuci dulu yaaa, ada pengering otomatisnya,"


"Hah? Mas Raka mesin cucinya ada pengering, tapi kenapa masih tinggal di kontrakan satu pintu sih Mas? Mana kumuh di dalam gang pula,"


"Soalnya di sini ramai Mbak. Saya nggak suka yang rumahnya besar-besar seperti di komplek, tetangga nggak saling kenal, nggak bisa ngobrol sana-sini, tukang sayur nggak lewat depan rumah, kalo ngadain selametan susah ngundangnya," Raka menyeringai.


"Iya ya, dulu waktu kecil banyak jajanan lewat depan rumah di kampung. Kalo di Jakarta rumah Abi besar dan didaerah elit, jadi mau beli sayur ato jajan harus pakai mobil," Alwa mengangguk setuju.


"Balik ke topik awal," Raka mengingatkan.


"Oh iya, Mas Raka, kalau Mas Raka melamar saya karena kasihan sama saya, saya marah ya!"


"Apanya yang bisa dikasihani? Tadi nangis sedetik kemudian udah cengengesan begini,"


"Tapi hati saya tuh terluka, tahu,"


Alwa diam beberapa saat, "Dia suami saya,"


"Itu bukan jawaban,"


"Ya sudah sepantasnya suami istri saling mencintai, kan?"


Raka berdiri bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannua di dada.


"Waktu melihat Bu Susan ciuman sama Pak David, sakit hati nggak?"


"Saya sakit hati waktu Abi meninggalkan saya tanpa izin,"


"Saya tanya apa, jawabnya apa,"


Alwa mendengus sambil memalingkan wajahnya. "Memang apa sih urusan Mas Raka tanya-tanya begitu?"


"Oh," Raka sedikit tersinggung. Tapi dia hanya menghela napas, lalu duduk di sofa. "Kalau Mbak Alwa tidak mau menemani saya ya gapapa, saya bisa ajak Sisca,"


Mata bulat Alwa membesar. "Sisca? Dokter Sisca?"


Raka mengangguk, "Sekalian ajak menginap kali ya, dia sudah lama ngajak saya balikan buat jadi pacarnya lagi sih,"


"Mas," desis Alwa.


"Hm?"


"Pacaran itu nggak boleh, apalagi beda agama, hukumnya nggak sah,"

__ADS_1


"Lah ya suka-suka saya dong. Kan nikah juga belum tentu saling cinta. Rasa cinta kan bisa datang belakangan, yang penting rasa saling membutuhkan dulu,"


"Membutuhkan? Dalam hal apa? Nafsu? Memangnya nggak takut dosa?" Alwa tampaknya sewot dan tidak suka terhadap topik yang diangkat Raka, namun sebaliknya bukannya menghindar dia malah mencecar Raka.


"Paling nggak, dari hubungan fisik, seperti cium, peluk, senggama, apa lagi kalau namanya bukan saling membutuhkan? **** itu kan kebutuhan dasar manusia,"


BLUKK!!


Alwa memukul Raka dengan bantal. Lumayan kencang sampai Raka agak pusing.


Saat ingin protes, Raka mengangkat kepalanya dan melihat kondisi Alwa yang aneh.


Wajah wanita itu merah, penuh kemarahan sekaligus kesedihan. Dan matanya kembali berkaca-kaca.


"Dasar laki-laki buaya! Tukang main perempuan!" Seru Alwa.


"Kenapa marah? Bukan urusan Mbak Alwa, kan?" Raka beranjak sambil berdiri menantang Alwa.


"Ya iya! Tapi apa boleh melakukan sek-s dengan wanita yang bukan istri seperti itu?! Kalau pria lain sih saya tidak peduli!"


"Apa yang terpikir di benak Mbak Alwa waktu Pak David bilang dia ingin memperistri Bu Susan? Apa Mbak Alwa memukulnya pakai bantal juga?"


"Itu hal yang berbeda!"


"Saya dan Pak David sama-sama laki-laki. Bukankah seharusnya Mbak Alwa marah?"


"Sudah saya bilang, itu beda!"


"Jangan kuatir Mbak, walaupun nanti saya menikah dengan Sisca, kalau Mbak Alwa mau jadi istri kedua saya juga boleh,"


PLAKK!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Raka.


Panas dan perih, telinga Raka langsung berdenging namun ia masih dapat berdiri tegak. Hanya wajahnya yang bergerak.


Alwa menatapnya penuh rasa sakit hati dan terengah-engah menahan amarah. Rasanya ia ingin memaki Raka dengan kata-kata kotor.


Raka hanya menatapnya dingin. Pria itu menunggu sampai Alwa dapat menguasai dirinya.


"Saya mau pulang saja," gumam Alwa setelahnya. Ia berbalik ke arah pintu.


Tapi tangan Raka menahan pergelangan tangannya. "Hujan belum berhenti,"


"Saya tidak seharusnya ada di sini,"


"Itu benar, tapi sudah terlanjur," desis Raka sambil menarik Alwa ke dalam pelukannya.


Lalu memeluk erat wanita itu dalam dekapannya. Alwa terpekik kaget.


"Ma-Mas-Mas Raka ... "


"Aku bohong. Sisca tidak pernah ada dalam agendaku," Raka mengecup dahi Alwa.


Disertai tarikan napas wanita itu.


"Entah sejak kapan, kamu sudah merebut hatiku. Dasar bini orang," umpat Raka pelan.


"Mas ... "


Namun Alwa tidak dapat meneruskan kalimatnya. Raka menarik dagunya supaya lebih mendongak ke atas, ke arah wajah Raka.

__ADS_1


Karena selanjutnya Pria itu mencium bibir Alwa.


__ADS_2