
Setelah beberapa saat, Hanifah mulai bisa mengatur napasnya. Kejadian ini terlalu tiba-tiba untuknya. Dan tanpa terduga ia menganggap Galuh dengan ...
"Mas Galuh lancang ya," desis Hanifah.
Galuh pun menaikkan alisnya.
"Saya ini masih istri orang, Mas. Setidaknya kalau untuk urusan yang seperti itu, tolong minta izin saya dulu. Saya sudah tak sudi lagi dianggap boneka, seenaknya saja dioper sana-sini," gerutu Hanifah tidak senang.
Oke, itu bukan reaksi yang Galuh harapkan.
"Apakah laki-laki jaman sekarang memang seperti itu? Kalau wanitanya kalem, jadi anggapannya bisa diapa-apakan tanpa protes? Jadi kami ini harus galak seperti Mbak Susan, menunjukan power, baru kalian ini tidak meremehkan, begitu? Capek mas, saya tak ingin berpura-pura menjadi orang lain," Hanifah sedikit melempar buket bunga di tangannya ke pangkuan Galuh.
"Saya jalan sendiri saja ke cafe. Tolong perlakukan saya seperti karyawan lain, saya sudah tidak peduli kalau Mas Galuh tidak berkenan dengan sikap saya. kalau Mas Galuh ingin saya resign, tolong beritahu saya 2 minggu sebelum hari H. Lain kali jangan diulangi lagi, saya tidak suka seenaknya dipegang-pegang," Hanifah beranjak dan masuk ke kamarnya sambil merengut.
Meninggalkan Galuh yang termangu di ruang tamu, dengan buket bunga di tangan.
Tapi,
Di dalam kamarnya, barulah pipi Hanifah tersipu merah.
Terus terang saja, ia suka dengan kejutan dari Galuh. Apalagi ini pertama kalinya dekat dengan lawan jenis begitu intens. Yah, oke, Suleyman kerap mencium pipinya. Namun itu kan suaminya sendiri.
Tapi Galuh adalah orang lain. Dan seseorang yang membuat Hanifah tertarik, tanpa paksaan siapa pun dan dari dalam hatinya sendiri.
Galuh yang tampan, kalem dan dewasa, secara perlahan telah memikat hatinya. Walaupun rasa sukanya ke Galuh belum sebesar rasa saat ia mencintai David, namun Galuh memiliki tempat sendiri di hatinya.
Kenapa ia berbicara begitu ke Galuh? Karena Hanifah sudah bertekad tidak mau lagi direndahkan. Seperti kata Susan,
Cintai dulu diri sendiri, baru setelah itu orang lain akan menyukai kamu secara otomatis karena energi positif yang ditimbulkan.
Dan itulah yang dilakukan Hanifah. Ia ingin Galuh lebih menghormatinya. Dulu memang ia wanita rendahan, orang kampung, tanpa pendidikan memadai, planga-plongo menerima saja perlakuan orang lain, termasuk menikahkannya tanpa ia sempat menolak seperti barang dagangan.
Tapi sekarang, Hanifah bertekad untuk berbeda. Perlahan, tapi tetap progres.
Dan selama David belum menalaknya, ia adalah wanita milik David. Orang yang mau menyentuhnya harus meminta izin dan menghormati suaminya.
Hanifah berdiri sambil berkacak pinggang dan mengangguk penuh percaya diri. Kini yang harus dia lakukan adalah bekerja sebaik mungkin. Ia butuh penghasilan untuk hidup mandiri.
Di tengah tekad membara, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Hanifah menghela napas merasa terganggu.
Kalau itu Galuh, ia berencana akan mengusirnya.
Namun bukan Galuh yang ia lihat di depan pintunya,
Tapi Alwa.
"Kak Hani, aku mau cerita. Aku bingung ..." kata Alwa.
Ditambah, wanita itu berwajah sendu dengan pipi bersemu merah.
Seperti wajah orang yang sedang jatuh cinta.
-----***-----
__ADS_1
Deg!
Rasanya perasaan David hari ini tak tenang.
Seharusnya ia senang Susan sudah ada dalam genggamannya.
Percintaan mereka begitu panas sampai-sampai melupakan dunia dan segala masalahnya. Mereka mencoba berbagai gaya, mereka menelusuri semua teknik orgasme, mereka berkali-kali merasakan puncak kenikmatan.
Tapi kenapa sekarang David malah galau. Seperti akan menghadapi masalah baru di dalam keluarganya.
Pria itu berdiri termangu di depan jendela sambil memandangi aktivitas lalu lintas di bawah hotel.
Sebuah tangan lembut merangkul pinggangnya, lalu memeluknya dengan hangat.
Senyum langsung terpatri di wajah tampan khas Asianya. Ia pun balas memeluk tangan itu dengan melipat kedua tangannya di atas tangan kurus itu.
Di punggungnya ia bisa merasakan kalau Susan tanpa busana. Undakan lembut dan hangat yang digesekan dengan sengaja membuat kejantanannya berdiri lagi.
Susan yang cantik, dengan segala kelakuannya yang memikat, kini menempel erat ke tubuhnya yang sudah lama haus akan belaian.
"Kenapa, sayang? Pekerjaan atau rumah?" begitu Susan bertanya. Wanita itu tampaknya mengerti kegalauan David.
Tapi David urung mengatakannya karena takut membuat Susan tersinggung dan mengacaukan suasana.
"Tak apa kalau masalah rumah. Aku pun kuatir sebenarnya. Karena kedua istri kamu yang lain sudah mulai mengeksplorasi dunianya,"
David mengernyit, lalu menoleh ke arah Susan.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya pria itu.
"Kamu baca semuanya?" David seakan tak percaya.
"Iya, waktu kamu di kamar mandi," Susan melepaskan pelukannya dan tersenyum getir.
David membalasnya dengan cibiran.
"He-em, iya aku sedikit melanggar privasi kamu, sori," wanita itu menyeringai. "Tapi aku memutuskan untuk melihat saja apa yang terjadi, Alwa dan Hanifah selama ini terkukung. Saat Hanifah keluar dari kurungan, ia dihadapkan pada masalah baru. Yaitu kehormatannya sebagai wanita. Aku penasaran bagaimana ia akan menanganinya secara mandiri. Ternyata dia telah menarik hati banyak orang dengan ambekannya itu. Lalu Alwa, aku agak kuatir, karena satu-satunya pria yang ia kenal hanya Raka. Sepertinya kamu harus membiarkannya terjun sendiri ke masyarakat. Mungkin menyekolahkannya supaya bersosialisasi," Susan berbicara sambil berjalan ke arah sofa di depan tv dan memasukan sebutir anggur hijau ke mulut mungilnya.
Ya, itulah yang mengganggu pikiran David. Tepat sekali.
Siapa wanita di hadapannya ini?
Seakan bisa membaca semua yang David rasakan.
Seakan mereka bagaikan sepemikiran, satu frekwensi.
Atau, seorang cenayang?
"Indra Yodhayasa mulai mendekati Hanifah," gumam David kuatir.
Susan melambaikan tangannya, "Indra hanya tidak mau kalah dengan Galuh. Hanifah levelnya terlalu tinggi untuk pemabuk dan tukang main cewek itu,"
"Dia bisa saja menyerang Hanifah,"
"Hanifah bisa melindungi dirinya sendiri, Sayang,"
__ADS_1
"Bagaimana kamu tahu?"
"Insting," jawab Susan pendek.
David mendengus meremehkan, "Kamu seakan mengenal mereka bertahun-tahun lamanya,"
Susan tersenyum penuh arti, "Aku dan kamu sudah mengenal banyak orang, David. Seperti intuisi kamu yang bekerja saat menilai seseorang. Kamu andal kalau masalah pria dan segala triknya. Aku sebaliknya, mengerti wanita dan segala kelicikan mereka, namun tidak terlalu mengerti pria. Sedikit ceroboh, bahkan. Karena itu aku merekrut Galuh dan Raka,"
"Dan apa penilaian mereka mengenai Aku?"
"Ck!" Susan berdecak sambil membuang muka berlagak ngambek, "Saat aku menginformasikan kalau kamu akan menikahiku, mereka malah langsung menyajikanku,"
David terkekeh. "Sajian utamaku," ia mengangguk setuju dengan istilah itu.
"Kata mereka : Bagus Bu! Kami dukung seribu persen. Sudah saatnya pulang main, udah maghrib bu!"
David terkakak. "Yaaah, mereka sangat mengerti kamu ya. Aku agak penasaran seperti apa hubungan kalian sebenarnya di balik semua ini, sehingga bisa saling memahami,"
Senyum Susan langsung sirna.
"Lebih baik kamu nggak tahu. Kamu sendiri paham kalau aku penuh kejutan,"
"Hem," David sedikit menelisik. Namun ia kemudian setuju dengan perkataan Susan. Daripada sakit hati lebih dalam, lebih baik ia diam. Toh, ia sudah memperhitungkan kemungkinan terburuknya.
Yang penting adalah masa depan mereka. Masa lalu hanyalah masalah hidup yang bisa diperbaiki. Jangan menambah runyam hidup dengan mengungkit-ungkit kotak pandora.
"David?" panggil Susan.
"Apa?" David menghampirinya dan duduk di pegangan sofa di samping wanita itu.
"Kamu sedang membayangkan apa?" tanya Susan.
David tidak menjawab, hanya menyeringai.
"Hem, apa fantasi tergelap kamu akan aku, sekarang?" Susan memicingkan matanya.
"Coba tebak," tantang David.
Susan menatap pria itu dengan seksama. "Dari segi gaya, kamu sebenarnya dominan dan suka memaksa. Aku bilang stop, kamu malah bergerak semakin cepat. Kamu juga suka kalau aku lemas tak berdaya,"
"Hem," David mengangguk seakan bangga dengan dirinya sendiri.
"Terakhir kamu bahkan menjambak rambutku dan mengunci kedua kakiku,"
"Itu reflek," David membela diri. Ia baru sadar kalau sudah melakukan kekerasan saat Susan menendangnya.
"Dan mendorong kepalaku sampai-sampai pistol kamu masuk semua ke tenggorokanku," tambah Susan sambil mencibir.
David berdehem.
"Jadi sekarang. Karena kita sedang membicarakan kedua asistenku yang keduanya sama-sama ganteng itu, kamu sedang membayangkan ... "
"Sudah cukup, dasar Succubus," David menarik tengkuk Susan ke arah atas dan membungkam wanita itu dengan ciuman panas.
(Dalam mitologi Yunani, Succubus adalah iblis wanita penggoda pria. Ia membunuh pria yang terpikat dengannya dengan cara menghisap energi sampai habis, kelelahan dan mati.)
__ADS_1