The Bitter Three

The Bitter Three
Akhir Cerita


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Hanifah mengetuk kamar Alwa dengan hati-hati.


Agak lama sampai menunggu si empunya kamar membukakan pintu. Suatu hal yang wajar karena kemarin Hanifah memang bersikap menyebalkan.


Alwa, dengan muram mengintip dan menatap Hanifah dengan sinis. “Lagi nggak mood berantem, aku janda dan hidupku berantakan, sedang dalam masa iddah jadi belum bisa menikah lagi, aib masyarakat dan dibuang suami, kurang seksi kurang cantik, kurang pintar membawa diri,” dengus Alwa menyindir habis-habisan Hanifah.


Hanifah menunduk, geli tapi sedih.


“Alwa, aku minta maaf,”


“Nggak ada yang perlu dimaafkan, toh kamu nanti juga bikin musuh lagi, buat apa dimaafkan sekarang?”


“Memaafkan itu wajib loh judulnya,”


“Mau ceramah juga? Sana ikutan pengajian,”


“Iyaaaa, aku minta maaf atas perkataanku tadi malam. Aku saat itu sedang shock karena ketinggalan berita,”


Alwa menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Lalu membuka pintu kamarnya dengan lebar. “Terus Kak Hani mau bagaimana?”


“Temenin relaksasi yuk? Berdua saja, aku baru saja disogok biar nggak comel,” Hanifah mengangkat kartu debit milik Susan. Mata Alwa memicing menatap kartu berwarna hitam itu, lalu melihat nama yang tertera di sana. Sesaat pandangannya langsung berbinar.


“Waw, sogokan yang sangat berkelas!” Seru Alwa, “Ayo ngopi cantik!”


“Yuk!”


“Eh, aku kayaknya mau pinjam tas mahal Mbak Susan dulu buat ke mall,” Alwa menyambar teleponnya dan menghubungi Susan. Lalu berbicara sejenak dengan Susan dari seberang telepon. Sementara Hanifah searching tempat ngopi yang cozy di mall yang kemarin ia dan Galuh datangi.


“Ayo kak, kita pilih tas!” desis Alwa, tampaknya izin sudah diberikan.


Saat mereka mengagumi jajaran koleksi mahal Susan di kamar mewahnya, Hanifah bersenandung perlahan.


“Lagi seneng Kak? Ada apa?”


“Baru saja dapat pencerahan. Hihi,”


“Pasti dari Mbak Susan ya?”


“Dari siapa lagi, aku diejeknya habis-habisan,” Hanifah mencebik.


“Mbak Susan itu ... bagaikan kakak yang tak pernah kita miliki ya, jahat tapi baik,”


“Iya, Dek. Sampai sekarang aku saja bingung mau anggap dia apa, hehe. Lebih sesuai kalau dia itu BOSS kita kali ya,”


“Iya, Iya, Boss Susan,”


“Hehe,”


“Hehe,”


“Aku ke wc dulu ya,” Kata Alwa sambil beranjak dan berjalan menuju ke arah kamar mandi Susan.


Namun tidak berapa lama, wanita keluar lagi di kamar mandi.


“Cepet Dek?” tanya Hanifah heran.


Alwa mengangkat alat tes kehamilan yang jumlahnya lebih dari satu, dari berbagai merek. Semuanya menunjukkan tanda positif hamil. Hanifah ternganga melihatnya.


“Mbak Susan nggak bilang ke kita, Mas David juga diam saja,”


“Hem, kalau ini masih diletakkan di kamar mandi, kemungkinan Mbak Susan belum bilang siapa-siapa, Dek. Mungkin ia ingin Mas David yang pertama tahu mengenai kondisinya, atau ada hal yang memang ia pertimbangkan,”


“Bisa jadi, Kak. Apa kita harus menanyakannya ke Mbak Susan?”


Tapi Hanifah menggeleng, “Tidak usah dulu Dek, itu hak Mbak Susan. Tapi aku punya ide untuk memberikan selamat,” Hanifah menyeringai.


-----***----


“Ngapain kamu di kantorku, David?” gumam Susan sambil mencibir.


David dengan santai duduk di atas kursi mewah Susan sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


“Mau peluk kamu, biasa,” sahutnya. Peluk yang dimaksud David di sini, sudah pasti bukan sekedar peluk biasa.


Susan menggigit bibirnya, “Aku sedang kurang sehat,”


Pria itu mengangkat alisnya tanda heran, “Kamu sakit?” ia langsung menghampiri Susan dan menyentuh pipi wanita itu.


“Bisa dibilang begitu,” senyum Susan terlihat lesu, membuat David mengernyit kuatir. Susan tidak biasanya menolaknya. Kalau pun sedang tidak ingin, biasanya malah David.


“Kalau mau melakukannya, tolong lebih perlahan ya, jangan pakai gaya yang aneh-aneh,” kata Susan.


“Kita ke dokter saja, yuk?”


“Nggak usah,” jawab Susan cepat.


“Kamu tidak biasanya mengeluh sakit, Susan,”


“Aku butuh istirahat saja. Bagaimana?”


David langsung kehilangan selera seksualnya, dan mengangguk. Lalu pria itu memeluk Susan. Saat itu David berpikir jangan-jangan ini hasil akumulasi kondisi selama ini, saat keadaan mulai tenang, sakit yang tadinya tertahan karena diliputi semangat menjadi datang bertubi-tubi.


Namun, kita tahu bukan itu yang terjadi, kan?


“Oh iya, selamat untuk resignnya, kamu kini IRT Full Time,” kata David.


Susan terkekeh, “Iya, ini ruangan Galuh sekarang. Besok aku sudah tidak ke kantor lagi,” Lalu wanita itu mengangkat kepalanya dan mengecup dagu David, “Apa ya yang bisa dilakukan IRT semacam aku?”


“Jadi diri kamu sendiri saja, merawat diri, hang out, belanja, ngomel-ngomel, sesuka kamu saja,”


“Kalau masalah IRT aku tidak percaya diri, Hanifah dan Alwa lebih profesional,”


“IRT bukan pekerjaan profesional,”


“Jadi?”


“Jihad,”


“Hahahahah, masuk akal. Karena menuntut waktu 24 jam 7 hari,”


“Iya, dan tanpa digaji. Nafkah sesuka suami. Begitu kan kata instagram,”


“Bisa saja kamu mengambil hatiku,”


Bibir tipis Susan menyunggingkan senyum lembut. Tanda kalau wanita itu setuju.


Sorenya saat wanita itu pulang dari kantor dengan perasaan lega, dan masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri, ia tertegun saat melihat kotak berwarna emas di atas meja riasnya.


Sambil mengernyit ia membuka tutupnya.


Isinya boneka beruang yang bahan kainnya sangat lembut, tersenyum manis kepadanya. Disertai kartu bertuliskan tangan.


Mbak Susan,


Peluk ini saat risau dengan kondisi tubuhmu ya, anggap boneka ini adalah kami berdua atau seseorang yang kamu sayangi. Walaupun perjumpaan awal kita tidak baik, tapi perlahan kami menyayangi kamu Mbak, seperti kamu diam-diam menyayangi kami.


Kamu selalu ada saat kami butuh dan selalu menyemangati kami, sudah lama kami seharusnya sadar tapi justru kami selalu berkutat dalam keegoisan kami, karena cara kamu yang nyeleneh itu.


Selamat untuk kehamilannya, kami berdua selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu.


Dari,


Adik-adik kamu yang menyebalkan.


Perlahan air mata Susan mulai turun membasahi pipinya. Tenggorokannya terasa tercekat dan aliran darah ke otaknya seakan terhenti.


Namun bibirnya menyunggingkan senyum.


-----***-----


Kenapa saat hakim mengetuk palu, seringai Alwa malah semakin lebar?


Sampai-sampai terkesan menyebalkan.


Susan menatap Alwa sambil memicingkan mata. “Hoi! Jangan takabur kamu!” dengus wanita seksi itu.


“Hehe, aku lagi seneng loh ini,” sahut Alwa.


“Baru kali ini ada perempuan dicerai malah tampangnya sumringah!” seru Susan.

__ADS_1


“Duh, jadi laper aku, makan bubur barito yuk!” ajak Alwa tidak mengindahkan Susan.


“Itu namanya menyiksa saya! Bubur barito itu nggak enak kalau nggak pakai telur kampung mentah! Saya nggak bisa makan itu sampai brojol nanti!”


“Nggak pakai telur mentah juga enak kok!”


“Kamu seneng banget ya bikin saya marah ...”


“Di sebelah tukang buburnya ada sate padang enak juga kok,” sahut David sambil memeriksa dokumen perceraian dengan pengacaranya. “Raka, kamu akan menikah di mana?” tanya pria itu.


“Heh? Anuuuu, di Depok, Pak. Saya mau tinggal di sana,”


“Renovasinya sudah selesai?”


“Belum,”


“Perlu kontraktor atau desain interior?”


“Aku urusan interiornya Maaaas!” dengan ceria Alwa mengangkat tangannya.


“Suka-suka Alwa saja, mau dibikin model sarang burung juga gapapa,” kata Raka.


“Kita jadi makan bubur kan?” tanya Alwa, topiknya langsung berubah.


“Telepon Hanifah dan Galuh, ajak saja mereka kesini. Vini dan Vici juga suka bubur itu,” kata Susan.


“Nggak ah, nanti malah merusak hari baikku! Kak Hani dan Mas Galuh lagi perang dingin,”


“Arghh kenapa lagi sih mereka!!” keluh Susan sambil melenggangkan kakinya keluar dari ruang sidang.


“Kamu lagi hamil jangan terlalu banyak menggerutu,” sahut David sambil menyejajarkan langkahnya dengan Susan.


Jadi, hari itu cuaca cerah dan kondisi lalu lintas ramai lancar. Sebulan setelah talak yang dijatuhkan David atas diri Alwa, akhirnya selesai sudah sidang perceraian resmi mereka di Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Kini Alwa resmi menjanda.


“Jadi, Mas Galuh tidak ingin Kak Hani tinggal sendirian di Jati Asih, karena jauh dari rumahnya. Terus Kak Hani sewot, kenapa harus mempersalahkan jarak karena di antara mereka tidak ada hubungan apa pun. Kak Hani juga bilang dia akan ke Turki dan Jepang sendirian untuk wisata kuliner. Makin marah lah Mas Galuh. Terus Kak Hani bilang kalau Mas Galuh tidak berhak marah karenna walaupun perceraian belum diresmikan negara, Tapi dia dalam masa iddah, jadi dia wanita bebas, begitu kira-kira ceritanya,” Jelas ALwa


“Bodo amat lah,” Potong Susan. “Aku mau makan dua porsi! Ayo kita jemput Vini Vici di sekolah!” Omel Susan. Alwa cekikikan.


“Kira-kira apa yang bisa menyatukan mereka berdua ya?” tanya Alwa mulai kuatir.


Tapi Susan menyunggingkan senyum liciknya. “He, tenang saja, nanti kuatur,”


David mengernyit curiga menatap Susan. Lagi-lagi senyum licik itu! Keluhnya dalam hati.


“Apa yang akan kalian berdua lakukan setelah ini?” tanya David untuk mencairkan suasana dan membuat Susan melupakan idenya akan Hanifah dan Galuh.


“Aku mau kuliah, lalu mau jadi wanita karier,” kata Alwa.


“Aku akan ikut kemana pun istriku di masa depan pergi melangkah,” kata Raka.


“Rencananya siapa istri kamu?” Pancing Alwa.


“Yang pasti bidadari tercantik di dunia ini,” Seutas senyum jahil tersungging di bibir Raka.


“Mas Raka,”


“Apa?”


“Aku nggak mau dipoligami ya!”


Semua langsung hening.


Alwa cuek saja melenggang berjalan ke arah mobil mereka.


Sementara semua menatap David, menyalahkannya karena menorehkan trauma mendalam di diri Alwa. David hanya bisa berdehem.


-----***-----


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,


Pembaca Tercinta,


Sampai sini berakhir kisah Susan dan David. Saya sebagai Author memang sudah merencanakan untuk membuat ceritanya sedikit menggantung. Sisanya biarlah imajinasi pembaca sekalian yang berbicara.


Yang jelas, Author selalu mendoakan yang terbaik bagi para pelaku poligami, baik itu si suami atau pun para istri. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak kisah poligami di negara kita tercinta. Dan ternyata jumlahnya lebih banyak dari yang tadinya Author ketahui.


Seperti cerita Author yang happy ending, Author pun berharap kisah para penyintas poligami juga selalu bahagia melalui takdir yang ditentukan Tuhan. Tetap ikhlas dan menjalani ibadah sepenuh hati, karena bagaimanapun kita ini milik Tuhan, pasti akan kembali kepadanya.

__ADS_1


Salam damai,


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,


__ADS_2