The Bitter Three

The Bitter Three
Rayuan Gombal


__ADS_3

Sepeningggal Raka dari hotel, Susan duduk di pangkuan David dan memicingkan mata menatap pria itu dengan curiga.


"Sayang,"


"Ya?"


"Apakah kamu menyadap ponselku?"


David terkekeh, "Dipikir mau nyadap ponsel orang lain semudah itu?"


"Lah itu yang barusan kamu bilang ke Raka?"


"Aku cuma mau jahil sedikit, nggak seru kalau terlalu mudah,"


"Heeeem," Susan mencubit pipi David dengan gemas. "Padahal lebih baik kamu lepaskan saja secepatnya, agar kamu bisa kumiliki seutuhnya,"


"Aku harus benar-benar yakin melepas mereka ke orang yang tepat. Suleyman sangat menjaga Hanifah dan Alwa. Kalau mereka sampai celaka saat ditanganku, bisa jadi aku akan kena azab,"


"Hooo," desis Susan sambil mengusap dagunya sambil berpikir.


"Kamu tadi telanjang di depan Raka," sahut David muram.


"Iya,"


"Semudah itu kamu memperlihatkan tubuh kamu ke orang lain?"


"Itu hanya Raka,"


"Dia juga laki-laki,"


"Dia tidak tertarik padaku,"


"Bagaimana kamu bisa yakin?"


"Dari pandangan matanya,"


"Ck!" Decak David kesal. "Mulai sekarang hanya aku yang bisa melihat tubuhmu. Atau aku juga akan telanjang kemana-mana. Bisa-bisa saingan kamu tambah banyak!"


"Ish, ish, ish ... Okeeeee! Itu terakhir kalinya!" Gerutu Susan. "Ribet amat sih!"


"Bukannya ribet, tapi kamu itu udah jadi istri aku. Pahami dong konsep berumah tangga," dengus David.


Susan beranjak ke arah bar untuk membuat kopi, sambil matanya tak lepas dari suaminya. "Sebenarnya, berumah tangga tidak ada dalam agendaku. Kamu pasti sudah memperkirakan hal ini kan?"


Kepala David menengadah menatap langit-langit kamar. "Iya aku mengerti. Kamu wanita bebas,"


"Tapi," Susan menyeduh cangkir kopinya dengan air panas, "Yang membuat aku bertahan sampai sekarang, karena entah bagaimana, semakin lama aku semakin terbiasa hidup bersama kamu. Aku pernah menyendiri seharian, entah itu ke spa, ke club, ke restoran sendirian seperti dulu, ternyata aku malah merindukan kamu dan dua istri bawel kamu itu,"


"Oh ya?" David menoleh dengan wajah kaget.


Susan mengangguk singkat, "Walaupun sebagian besar makan bersama kita isinya pertengkaran dan bullyan dariku ke Wawa dan Ipah, tapi saat aku makan sendiri rasanya malah nggak enak,"


"Kamu lagi sakit, kali," desis David sambil terkekeh.


"Sialan kamu! Aku lagi curhat nih!" Gerutu Susan.


"Jadi bagaimana?" tanya David.


"Bagaimana apanya?"


"Jadi cerai nggak?"


"Ngajak berantem kamu ya!?"


"Hehe, dasar wanita bar-bar. Apa-apa nge-gas!" David terkekeh sambil menyalakan tv.

__ADS_1


-----***-----


Menjelang sore, setelah beraktifitas dengan berbagai pekerjaan, Hanifah beristirahat sejenak di salah satu meja makan di bagian belakang dekat ruang istirahat karyawan.


Sembari menikmati pasta yang dibuatkan khusus oleh Pak Jaya, Chef di cafe, sebagai ucapan terimakasih telah membantunya mengerjakan konsep produk baru, Hanifah mengutak atik ponselnya.


Sementara Galuh pulang sebentar untuk memeriksa keadaan si kembar dan beristirahat sejenak.


Sayup-sayup, di keheningan, Hanifah mendengar suara karyawan mengobrol di ruang ganti.


"Si Hani itu siapa sih? Kok nempel terus sama Pak Galuh?"


"Waktu itu dia juga akrab sama Bu Susan,"


"Bu Susan juga salah satu investor di cafe ini kan ya?"


"Iya saat ini, katanya mau diambil alih sama Pak Indra,"


"Pak Indra juga akrab sama Hani itu,"


"Terus sekarang kenapa dia lepas cadarnya? Kayaknya kemarin ketutup banget!"


"Mungkin dia dulu cuma cari pencitraan, hahaha!"


"Hahaha!"


"Tau nggak sih gosipnya katanya dia dimadu loh, suaminya udah punya dua istri,"


"Poligami maksudnya? Kok mau yaaa?"


"Ah biasa kaum radikal aneh-aneh tingkahnya! Ya katanya Sunnah lah, ya jalan menuju jihad lah, belakangannya malah nangis-nangis sendiri!"


"Hidup nggak usah terlalu ngoyo, yang penting nggak berbuat jahat!"


Lalu keadaan langsung hening.


Hanifah menghela napas sambil lanjut membaca berita di media sosial.


Baru beberapa gigitan, hidungnya menangkap wangi parfum maskulin seseorang.


Sepertinya ia kenal wangi ini. Jenis yang suka dikenakan pria eksklusif, eksekutif muda yang terkesan sudah mencapai tingkat kemapanan tinggi.


"Assalamu'alaikum Ukhti," suara lembut seorang pria yang tanpa basa-basi permisi duduk di depannya.


Padahal baru dua suapan, gangguannya banyak sekali ya, lain kali berdoa sebelum makannya jangan cuma Bismillah, harus lengkap pakai Allahumma baarik lanaa ..., Keluh Hanifah dalam hati.


"Wa'alaikumsalam Pak Indra, belum pulang Pak?" sapa Hanifah berusaha sesopan mungkin.


"Kamu shiftnya selesai jam berapa?"


"Saya berencana ambil jam lembur Pak, karena ada produk baru,"


Indra tersenyum lembut penuh arti, namun Hanifah mengernyit waspada. Rasanya bagaikan diserang ribuan pisau dari berbagai arah. Seandainya ia bercadar, ia mungkin akan lebih pede. Ingin rasanya ia menutupi wajahnya dengan kain tebal. Tatapan Indra yang nyalang membuatnya sangat tidak nyaman.


"Produk baru itu, konsep pastry yang saya ajukan?"


"Betul Pak Indra,"


"Itu kan bisa besok-besok ngerjainnya, lagipula itu bukan tugas kamu,"


"Saya diberi kepercayaan oleh Mas Galuh,"


"Bagaimana kalau kita makan malam di Le Quartier saja? Kamu bisa sekalian belajar mengenai masakan Prancis,"


"Saya minta izin dulu sama Mas David, takutnya beliau tidak berkenan," Hanifah sebenarnya sedang berusaha menghindar. Lagipula belum tentu restoran yang Indra rekomendasikan ada label MUI-nya.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak bilang kan tidak masalah," Indra berusaha merayunya.


"Tetap saja, saya masih istrinya. Saya pergi bersama Mas Galuh saja harus seizin beliau, kok,"


"Hm," Indra mengusap dagunya yang berjambang, "Kamu setia sekali ya sama David.


"Saya doakan Pak Indra juga mendapatkan istri yang setia dan menerima bapak apa adanya, bukan ada apanya," kata Hanifah.


Indra terkekeh, "Bagaimana kalau kamu saja yang jadi istri saya?"


Senyum Hanifah langsung menghilang. Rasa pastanya seketika berubah jadi pahit.


"Saya bukan barang, Pak, main oper sana-sini. Ada alasannya kenapa saya mau dimadu sama Mas David, dan itu alasan pribadi,"


"Siapa pun tahu berbagi cinta itu tidak enak, Hanifah. Walaupun itu dengan tujuan bisnis seperti Susan. Apalagi alasan kamu hanya karena lungsuran dari Suleyman,"


"Itu bukan urusan Bapak," Hanifah meneguk teh manisnya.


"Harga diri kamu juga jatuh, kecuali hati kamu sudah mati. Saya yakin kalau kamu punya perasaan, kamu tidak ingin David dibagi-bagi. Sementara, saya jamin, saya bisa memberikan diri saya seutuhnya ke kamu,"


BRAKK!! Hanifah menekan gelas kaca teh manisnya keras-keras.


Indra sampai-sampai kaget tergerak dari duduknya.


"Pak Indra," Hanifah memaksakan senyumnya, "Seperti perasaan yang tidak bisa dibagi, cinta juga tidak bisa dipaksakan. Dan saya mengerti betul saat dipaksa, endingnya akan jadi serunyam apa. Jadi tolong jangan lebih menambah penderitaan saya,"


Indra tersenyum tipis sambil mengetuk-ngetuk meja.


"Saya terlalu cepat ya?" desis Indra.


"Pelan-pelan juga hasilnya akan sama saja,"


"Iya, seandainya saja kita bertemu lebih cepat. Sebelum hati kamu jadi milik Galuh," Indra menaikkan sudut bibirnya dengan sinis. Pria itu mencoba memancing Hanifah dengan menggunakan persepsinya sendiri. Walaupun ia benar dan telak tepat menghujam hati, namun Hanifah memutuskan tidak terpancing.


Sesuai tekad wanita itu di awal, ia saat ini bukan milik siapa-siapa. Ia milik dirinya sendiri, ia sendiri yang akan menentukan hidupnya mau dibawa kemana.


"Bertemu lebih cepat pun kalau kita bukan jodoh, hasilnya akan sama saja. Saya pun belum tentu menjadi milik Mas Galuh," kata Hanifah akhirnya.


Lalu wanita itu mencondongkan tubuhnya ke arah Indra, berbisik, meniru tingkah Susan saat sedang mengintimidasi seseorang.


"Lagipula, Pak Indra," bisik Hanifah. "Banyak wanita cantik dan pintar di sekeliling bapak, kenapa memilih wanita berhijab dan kurang pendidikan seperti saya?"


"Hem," Indra memicingkan matanya, "Terkadang ada pria seperti saya, yang ingin menghabiskan masa tua dengan tenang, dibanding harus was-was si istri umbar aurat, uang, dan menodai kehormatan dimana-mana,"


"Atau, sebenarnya Pak Indra ini hanya ingin pencitraan di depan keluarga besar? Agar semua tenang akhirnya anaknya jadi pria baik-baik," Hanifah tersenyum sinis.


Karena, seperti David suaminya sekarang, pada akhirnya yang para pria cari adalah lawan yang seimbang, baik itu di ranjang maupun di pekerjaan, istri yang mengerti permasalahan hidupnya, tempatnya mencurahkan isi hati, dibanding boneka bersahaja yang penurut dan mengabdi sepenuh hati.


Indra mendengus. Tepat sekali tebakan Hanifah.


"Kamu menarik juga ya, saya jadi merasa tertantang ingin merebut kamu dari Galuh dan David,"


Lagi-lagi Hanifah langsung cemberut.


Ia semakin risih dengan pria tampan di depannya ini. Tidak ia sangka, bersikap seperti Susan malah membuat Indra semakin bersemangat merayu.


Ini sih, sudah bisa diprediksi, tetap saja Indra setipe dengan David.


"Waktu istirahat saya sudah habis, saya mau kembali bekerja," tanpa basa-basi lagi, Hanifah beranjak sambil membereskan piring pasta dan gelas teh manisnya. Ia akan melanjutkan makan di dapur saja.


Sambil menghela napas, Hanifah memasuki dapur. Sebelumnya ia melewati ruangan Galuh.


Pria seperti Galuh, malah berbeda. Pria itu tampaknya memang serius terhadap Hanifah.


Setelah menenangkan dirinya, mungkin Hanifah akan bertanya kembali kesungguhan Galuh terhadap dirinya.

__ADS_1


__ADS_2