The Bitter Three

The Bitter Three
Pencerahan dari Susan


__ADS_3

Susan memicingkan matanya sambil menatap cawan berisi air kekuningan di closet di depannya.


Ia menggenggam alat tes kehamilan yang dibeli paling murah.


Di dekatnya ada 3 alat tes lain, dari yang katanya terakurat, sampai termahal.


Kenapa ia malah gugup ya?


Kan tinggal dicelupkan saja, ada yang diteteskan sana.


Lalu Susan menunduk, menarik napas panjang.


Oke, memang masih terlalu dini karena ia baru saja selesai haid. Tapi David menumpahkan banyak sper-ma di rahimnya, belum intensitas bercinta mereka yang penuh pelampiasan sejak Susan selesai haid.


Kalau melihat Susan, David cenderung agresif. Ia melakukannya di mana saja, di kondisi apa pun, bahkan sampai nekat ke kantor saat Susan tengah meeting, menemuinya sebentar hanya untuk menyalurkan birahinya. Setelah itu kembali ke kantornya sendiri dengan senyum di wajahnya.


Baru kali ini Susan bertemu pria dengan nafsu seksual setinggi itu.


Pagi ini saja, sudah berapa kali mereka mengalami pelepasan. Kenapa tidak ada bosan-bosannya? Dan selain David, Susan pun semakin hari semakin menyadari kalau David adalah partner yang seimbang untuknya. Suami hanya status, yang penting apakah sanubari Susan menerima David sebagai belahan jiwa.


Dan setelah aktivitas pagi ini, saat David pergi ke makam Suleyman, Susan pun membeli alat tes kehamilan karena merasakan perbedaan di dirinya yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


"Fuhh!" Susan membulatkan tekadnya dan menceburkan alat pertama ke cawan.


Ditunggu beberapa detik, air kencingnya mulai naik ke atas perlahan.


Garis pertama muncul.


Hm,


Susan menunggu dengan sabar.


Garis kedua pun muncul, garisnya tegas.


"Hem," gumamnya.


Lalu Susan membalik lagi kemasan, untuk membaca aturan pakai siapa tahu ada yang dilewatkannya di awal.


-----***-----


Hanifah mondar-mandir di ruang tv sambil berkacak pinggang.


Sungguh ia menyesal kemarin membentak Alwa. Wanita itu sampai tidak ingin menemuinya hari ini.


Iya, Hanifah tahu ia salah. Hanifah sebenarnya hanya merasa shock, terkejut karena terlalu tiba-tiba.


Tapi, syarat David terlalu berat untuknya.


Hanifah tidak cukup percaya diri akan mendapatkan calon suami yang pas, walaupun ia sedang dekat dengan Galuh. Ia butuh waktu untuk sendiri.


Hanifah, terus terang saja, ingin hidup bebas.

__ADS_1


Seperti Susan.


Bebas menikmati hidupnya, kariernya, masa mudanya, bisa pergi kemana pun dia mau tanpa izin, bisa eksplore kuliner di berbagai daerah, bisa mengurus hidupnya sendiri.


Kalau ia bersuami, kemungkinan hidupnya tidak jauh berbeda dengan saat ini.


Di lain pihak, ia takut akan embel-embel 'janda muda' di dirinya.


Jadi, ia pun bingung harus bicara dengan siapa.


"Duuuuh," keluhnya.


"Merengut melulu, sana ke salon. Relaksasi, theraphy, fitnes, daripada di rumah misuh-misuh bikin aura gelap,"


Susan keluar dari kamar, sudah dengan berpakaian style ke kantor.


Hanifah menimpalinya dengan dengusan.


"Kalau menyesal, sana ajak Alwa ke spa. Dia lagi suka merawat diri," Susan merogoh tasnya dan mengeluarkan kartu berwarna hitam. Lalu mengulurkannya ke Hanifah.


"Aku bisa bayar spa sendiri," sahut Hanifah.


"Kamu butuh tabungan buat nyicil rumah, gaji kamu simpan saja. Untuk senang-senang itu urusan saya," kata Susan.


"Nyicil ... rumah?" Hanifah mengernyit.


Susan mengangguk, "Katanya mau tinggal sendiri?"


"Hum," Hanifah teringat rajukan tempo hari. Yah, Susan benar sih.


"Hemat saya sih, kamu minta saja salah satu rumah yang dijual oleh Yudha Mas Building. Kalau tidak ingin terkesan nepotisme banget, kamu nego saja sama David, bayar setengah harga. Daripada kamu ngontrak rumah,"


Hanifah tertegun. Lalu buru-buru mendekati Susan. "Mbak, kok tahu?"


"Tahu apa?"


"Tahu keinginanku,"


"Ck!" Decak Susan sambil melambaikan tangannya. "Kamu lebih gampang ditebak dibandingkan Alwa yang haha-hehe nggak lihat kondisi, karena kamu adalah saya di masa lalu. Bedanya kamu ndeso, saya princess," sahut Susan.


"Hm, kalau begitu Mbak Susan mengerti kan kenapa aku bersikap seperti kemarin?"


"Ngerti. Saya diamkan saja, nanti juga kamu baek sendiri," kata Susan cuek.


"Huh!" Dengus Hanifah. "Sejak ada Mbak Susan, aku jadi ekspresif,"


"Lagian kenapa nggak dari dulu saja. Nyiksa diri sendiri malah marah-marah sendiri," kata Susan. "Tapi ya kamu masih abege sih, belum sepenuhnya dewasa. Baru dituntut jadi emak-emak setelah saya datang ya? Hahahahaha!"


"Terserahlah," gumam Hanifah. Tapi Susan memang benar. Ia masih dalam kondisi labil. Ia baru menginjak usia dewasa. Dan selama ini dia terkukung, tidak ada orang yang bisa ia jadikan role model bagaimana menjalani hidup.


"Mbak Susan," panggilnya.

__ADS_1


Susan yang sedang memeriksa jadwal kerjanya, menoleh padanya.


"Aku ingin bebas tapi aku takut dengan status janda," kata Hanifah. Lalu ia menjelaskan ke Susan, sama seperti kalimat yang ia jelaskan ke Galuh saat di Mall. Mengenai doktrin yang telah ditanamkan di otaknya.


"Hahahahahahahah!!!" Susan malah ngakak.


Kenapa reaksinya malah berbeda dari Galuh?! Orang lain yang normal pasti akan menatapnya dengan wajah prihatin seperti Galuh. Tapi Susan malah terkakak.


"Astagaaaa lucu bangeeet!" Seru Susan sambil menghapus air matanya. "Dagelan sebelum ke kantor, lumayan lah jadi penyemangat,"


"Aku nggak ngerti sikap Mbak Susan. Apa sih yang lucu?!" Sahut Hanifah.


"Ya kamu, lah,"


"Aku?"


"Iya. Kamu, sekali lagi ribet sendiri, toxic kok ya ditularin ke diri sendiri, aneh banget!"


"Jadi bagaimana Mbak??" Hanifah mulai sewot.


"Kamu itu sekarang tinggal di mana Hanifaaaaah?"


"Jakarta, ya aku ngerti maksudnya. Tapi otakku sudah ...,"


"Ya kalo sudah tahu keracunan (toxic) ya minum penawar dong ah! Masa kamu biarin keracunan, mati bunuh diri kamu namanya!"


"Jadi?"


"Ya beli rumah jangan di kampung kamu lah! Jangan juga kembali ke sana lagi, di sana cuma ada jajaran racun dunia. Kejawen kok dianggap serius. Kalo begitu caranya sepeninggal Rasulullah, Siti Aisyah apa kabar? Dia jadi janda tanpa anak pula, apa dia dihujat juga? Kamu sekarang tinggal di tempat yang menghargai diri kamu apa adanya. Janda is a strong woman! Kamu saja yang pikirannya sempit! Sesempit orang-orang di desa kamu!"


Rasanya Hanifah langsung pusing.


Susan terkekeh, "Sana relaksasi, ajak Alwa sekalian cari info rumah dijual milik Yudha corp. Kamu pakai supir saya, saya mau panggil Raka buat jemput,"


"Hm," Hanifah masih tertegun.


"Isi kartu itu ada 1 miliar, gunakan saja semua kalau kamu pakai untuk beli rumah secara cash. Tapi untuk pajak jual belinya kamu urus dulu NPWP. Hubungi saja notaris terdekat dari lokasi rumah itu. Anggap saja kartu itu hibah dari saya, hiburan pelipur lara atas perceraian kamu yang belum terjadi, hihi,"


"Ha?"


"Oh iya, makasih ya buat David-nya,"


"Ck, menyebalkan," desis Hanifah.


Dengan kata lain, Susan baru saja membeli David seharga 1 miliar dari Hanifah. Murah sekali harga David. Bisa-bisa pria itu mengamuk kalau tahu ia dijadikan objek jual-beli.


"Aku akan pakai semua di dalam kartu sesukaku, tapi aku nggak mau nyicil," kata Hanifah menantang Susan.


"Iya, iya pakai lah sana,"


"Terus kalau ada kekurangan, aku hubungin Mbak Susan," kata Hanifah dengan senyum jahil sambil lari ke kamarnya.

__ADS_1


"Hoi! Kenapa jadi malak sih!"


-----****-----


__ADS_2