
"Mas Raka, ada tamu di ruang tunggu nomer 3," kata operator saat Raka memasuki kantor dengan setumpuk bantex memenuhi tangannya. Ini jam istirahat dan dia masih sibuk. Galuh entah kemana, Susan meeting di Yudha Corp. Jadi Raka harus mengerjakan bagian keduanya.
"Hah? Bu Susan lagi di Setiabudi!" sahut Raka.
"Tamunya cari Mas Raka, waktu itu pernah datang, yang istrinya Pak David Yudha itu loh,"
Raka menghentikan langkahnya, "Istri yang keberapa?"
"Ih, mana aku tahu. Dia kan waktu itu pakai cadar. Sekarang sudah tidak pakai sih tapi aku bingung istri yang keberapa,"
"Ciri-cirinya bagaimana?"
"Heeemmm, kulit putih, mancung, ada tahi lalat di atas bibir, ramah ceria rame gimanaaa gituh,"
"Oke," Raka meletakkan semua bantex di meja operator dan tanpa basa-basi dia berlari ke arah lift untuk turun ke ruang tunggu.
"Mas Raka! Kok dokumen ditaruh di meja aku? Berantakan dong!" Omel operator.
"Tolong anterin semuanya ke meja gueeee," seru Raka dari dalam lift.
-----***-----
Secepat kilat Raka berlari ke ruang tunggu nomor 3.
Ya ampun! Pria itu tidak memikirkan hal lain kecuali wanita ini! Dari sekian banyak wanita yang dekat dengannya, dan berakhir dengan kekecewaan, sebagian besar karena Raka yang meninggalkan mereka, sosok ini membuat Raka egois.
Egois untuk memilikinya. Tidak peduli dia milik siapa.
Alwa pasti adalah tamu yang menunggunya. Tidak mungkin Hanifah.
Dan ia mendesah lega saat mengetahui kalau sosok yang dirindukannya duduk di kursi ruang meeting sambil melihat sekelilingnya dengan jengah.
Alwa menoleh saat Raka membuka pintu.
Dan tersenyum.
"Assalamu'alaikum," desis Alwa lembut.
Raka membalas sapaan Alwa dengan wajah penuh kerinduan. Sehari saja tidak bertemu rasanya seperti seabad. Dan pria itu langsung menyerang Alwa dengan pelukan. “Kangen banget,” gumam pria itu. Seenaknya saja, di tempat umum pula.
“Maaaasss, “ keluh Alwa.
“Sebentar saja, plis, aku kangen banget,” Raka tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Ia mengetahui perjuangan Alwa menemuinya sendirian. Selain ke pengajian, wanita itu hampir-hampir tidak pernah pergi sendiri. Sejak mereka dekat, Alwa mulai berani kesana-kemari sendirian.
“Nanti dilihat orang,”
“Biar saja, bikin skandal sekalian. Aku sudah nggak peduli,”
“Idih! Nanti jatohnya fitnah, Mas,” Alwa berusaha mendorong Raka. Namun sia-sia. Pria itu berdiri kokoh bagai tembok batu.
Dan tangan Alwa menyentuh sesuatu yang hangat dan keras. Otot perut Raka.
Mendesak jemari Alwa untuk bereksplorasi, menggodanya untuk menelusur.
__ADS_1
Inilah sosok pria yang sesungguhnya.
Saat mereka rindu, mereka bagai buldoser yang menghantam kanan-kiri hanya fokus ke tujuan kerinduan.
Saat mereka sayang, mereka akan berubah menjadi selimut yang lembut dan nyaman memeluk wanita dengan hati.
Saat mereka bernafsu mereka akan melupakan segalanya dan terobsesi dengan objek.
Dan saat mereka mencinta, dunia mereka akan jadi milikmu.
Asalkan, jangan sampai mereka kecewa. Dunia itu akan hancur sampai segalanya menggila.
Egois sekali sosok pria ini.
Namun membuat wanita tidak bisa meninggalkannya dan menyampingkan akal sehat, logika dan kewarasan adalah keahlian mereka.
“Mas Raka aku mau bicara, penting,” desis Alwa seketika. Suasana menjadi serius.
Raka terdiam dan melepas pelukannya.
“Oh iya, maaf ...,” desis Raka.
Namun nyatanya Alwa tidak marah. Wanita itu tersenyum lembut dan menggenggam jemari Raka, memasukkan jari lentiknya ke setiap relung jemari panjang pria itu. Lalu mengeratkan gandengannya.
Raka sekali lagi bengong.
Setiap jemari Alwa adalah listrik statis baginya. Rasa merinding langsung menyerang tengkuknya. Saraf sensor di telapaknya mengindikasikan selendang sutra yang langsung memenuhi setiap sudutnya.
“Aku sudah ditalak,” kata Alwa.
“Apa?”
“Aku sudah ditalak Abi, tadi pagi,”
“Ah!”
-----***----
Flashback tadi pagi.
“Alwa, segala yang akan kamu dengar pagi ini akan menjadi titik balik hidup kamu,” kata David saat Hanifah kembali ke kamarnya, dan hanya ada mereka berdua di meja makan.
“Abi, kok serius sekali?”
David tersenyum lembut dan mengelus pipi Alwa, “Telah tuntas tugas saya akan hidup kamu, tidak ada lagi yang akan saya bebankan atas kamu,”
“Mak-maksudnya, Abi?” entah kenapa Alwa langsung merasa sedih.
“Raka kemarin menemui saya dan Susan. Dia meminta kamu untuk dilepas, dan meminang kamu untuk menjadi istrinya,” kata David.
Alwa ternganga.
Nekat benar Mas Raka! Keluhnya. Namun kenapa hatinya terasa lega?
__ADS_1
“Papa saya ditunjuk pengadilan agama untuk menjadi wali sah kamu dan Hanifah, setelah saya. Hak asuh kamu ada pada beliau. Setelah ini saya harap kamu dan Raka meminta restunya juga. Dan alasan saya melepaskan kamu lebih dulu dari Hanifah adalah saya memiliki keyakinan atas Raka, bahwa dia bisa menjaga kamu,” kata David.
Alwa masih menunggu kata-kata intinya. David masih berputar-putar. Alwa rasa, saat ini David pun masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa pria itu mengambil jalan yang benar. Jalan yang seharusnya terjadi.
“Alwa, bagaimana perasaan kamu terhadap Raka? Kalau kamu ragu, saya tidak akan maju ke tahap berikutnya,”
Alwa rasanya limbung. Kepalanya langsung berkunang-kunang.
Ia tidak siap dengan keadaan ini. Begitu tiba-tiba!
Sebenarnya apa yang terjadi?
Tapi tiba-tiba bagai sesuatu yang ghaib membisikkannya, bahwa memikirkan cikal bakal sebab akibatnya nanti saja dilanjutkan. Sekarang Alwa harus fokus pada dirinya sendiri.
Apa yang dia inginkan selama ini? Apa yang diimpikannya selama ini? Kenapa dia mudah sekali membiarkan Raka memasuki hidupnya? Dan yang paling penting ... kenapa kerinduannya akan Raka melebihi suaminya sendiri?
“Abi ... “ Alwa berbicara bagai bisikan, ia belum bisa menguasai dirinya. Bahkan kini air mata mulai membasahi bola matanya. Pandangannya kabur akibat perasaan yang tumpah ruah.
“Abi, tolong bebaskan aku,” isaknya. “Dan maafkan semua kesalahanku dengan ikhlas. Aku mengaku telah berdosa akan diri Abi, tapi aku manusia biasa ...”
Alwa tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena tenggorokannya terasa tercekat. Ia seketika hanya bisa terisak dan menunduk malu, menjatuhkan air matanya ke atas meja kaca.
“Alwa, hapus air mata kamu, dan lihat ke arah saya,” desis David sambil mengulurkan tisu.
Alwa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya.
“Kemungkinan, ini saat terakhir kamu menjadi istri saya,” kata David lagi.
Tidak ada kesedihan di kalimat itu, David mengucapkannya bagaikan telah menghapalkannya sejak lama. Apakah pria itu memang berangan-angan begitu? Bahwa sebenarnya ia terbebani dengan pernikahan ini? Dan pria itu selama ini bermimpi mengucapkan kalimat sakral ini tanpa beban kepada Alwa? Apakah selama ini keberadaan Alwa adalah rajam bagi David?
Alwa menghapus air matanya dan mengangkat wajahnya. Pantas saja segala yang ia perbuat untuk menyenangkan hati David rasanya sia-sia, pria itu tetap dingin dan tidak bergeming. Responnya terhadap sikap ceria Alwa bagaikan batu, bahkan lebih parah, seperti mesin! Seringkali Alwa hanya diam sambil menangis.
“Ya Abi, aku sepertinya menyukai Mas Raka,” desis Alwa.
David mengangguk,
“Hari ini telah jatuh talak saya terhadap kamu. Mulai sekarang, kamu bukanlah lagi istri saya. Haram bagi saya untuk menyentuh kamu, karena pernikahan kita telah selesai sampai di sini,”
-----***-----
Raka bengong mendengar cerita Alwa.
“Bagaimana dengan saksi?” tanya Raka.
“Tidak ada saksi, Mas. Tapi Abi mengirimkan pesan singkat di ponsel dengan kalimat yang sama, disertai hari dan jam yang berlaku tadi pagi. Ia hari ini menunjuk pengacara perceraian dan akan mengurus legalisasinya di pengadilan agama,” Alwa menyerahkan ponselnya ke Raka agar Raka bisa membaca isi pesan singkat yang berisi kalimat talak dari David.
Raka tertawa pelan, tawa penuh kelegaan.
Lalu pria itu merogoh ponselnya sendiri dari dalam kantong.
“Halo Pak? Besok Bapak dan Mak bisa datang ke Jakarta? Iya tahu sibuk sama nikahan Juleha, bentar saja Pak. Temenin abang melamar ke rumah calon besan!"
“Hah? Anak setan! Siape yang lu hamili, Bang?!” tegur bapaknya dari seberang.
__ADS_1
“Nggak hamil, Paaaaak! Tapi kalo ngga gercep, dia bakalan diambil monyet lain! Soalnya yang mau abang lamar ini, bidadari!”
Apakah melamar seorang wanita yang sedang dalam masa iddah diperbolehkan? Mari kita simak triknya di episode berikutnya.