The Bitter Three

The Bitter Three
Another Guy


__ADS_3

Sementara itu,


Hanifah dengan takjud mengagumi suasana yang sedang terjadi di Coffee Shop tempatnya bekerja. Suasana yang biasanya tenang dan santai dengan pengunjung yang kalem, kali ini sangat ramai dan riuh.


Terlebih, berita kalau Galuh mewarisi sebagian besar saham Amethys Grup sudah tersebar, dan dalam semalam ia menjadi konglomerat dadakan. Ditambah wajahnya yang tampan langsung menjadikannya pusat perhatian. Moment ini memang sengaja digunakan Galuh untuk mempromosikan cafenya.


Karena, jabatan yang sekarang ia sandang tidak akan bertahan lama, sifatnya sementara saja sampai David perlahan mengambil alih semuanya, jadi dia harus mencari jalan lain untuk mencari nafkah. Diantaranya dengan menjual franchise dari cafenya ini, mumpung ia sedang diatas angin.


Dalam sekejab investor dari berbagai kota dan luar negeri berdatangan. Harapannya, kalau Coffee Shopnya terkenal, ia masih mendapatkan penghasilan setelah resign terhormat dari Amethys Grup.


Walaupun ia telah lama bekerja dibawah kepemimpinan Susan, namun ia tidak ingin bekerja di bawah kepemimpinan David. Seribu satu alasan dalam benaknya.


Diantaranya, ia tidak ingin David tahu hubungannya dengan Susan adalah mantan. Juga, ia tidak ingin berakrab-akrab dengan pria yang menghalalkan segala cara untuk bisnisnya.


Dua alasan dari seribu, sudah cukup mewakilkannya untuk hidup sederhana namun tenang, bersama Vini dan Vici.


Jadi, saat Galuh sibuk tebar pesona di depan wartawan untuk meluluhkan hati para investor baru, Hanifah bersibuk ria di area meja snack yang keadaannya lumayan kacau.


Tidak ada yang mengenalnya sebagai istri seorang David Yudha kecuali dua agen yang disewa sebagai tukang cuci piring dan staff bagian saus. Mereka pun sedang sibuk saat ini.


Jarang ada yang mengenal Hanifah, hal itu karena saat keluar rumah Hanifah selalu mengenakan cadarnya. Namun sekarang ia harus melepas cadarnya untuk sementara, sampai situasi terkendali. Akibatnya, sejak ia memperlihatkan wajah cantiknya di depan umum, beberapa orang mulai menaruh perhatian padanya.


Memang, wajah wanita yang tersembunyi di balik cadar itu sangat menarik sebenarnya. Cantik dan elegan, dengan mata bulat yang lentik dan alis tebal alami, bibir tipis merekah dan pipi kemerahan.


"Permisi," sebuah suara mengagetkan Hanifah. Saat itu Hanifah sedang mengatur croisant isi ham di atas meja prasmanan smabil sembari membersihkan remahan yang tercecer, "Bisa minta lagi Equilnya?" tanya suara bariton itu.


Hanifah menoleh dan mendongak.


Wah, sosok yang sangat mempesona. Pria yang menegurnya ini, sekilas wajahnya keturunan Arab, dengan rahang tegas dan brewok yang tercukup rapi. Mata yang menatap Hanifah dengan teduh dan terkesan malas-malasan, namun sebenarnya sedang menelisik dengan seksama.


Hanifah mengernyit.


Apa tadi yang pria ini minta? Equil? Botol kaca berisi air mineral mahal itu ada di meja samping Hanifah. Seharusnya pria itu bisa dengan mudah meraihnya tanpa meminta bantuan Hanifah.


Tapi sudahlah,


Orang kaya memang lebih suka dilayani.

__ADS_1


Jadi Hanifah meraih Equil, melap botolnya dengan tissue bersih, dan membukanya dengan alat pembuka tutup botol yang tersedia di atas meja.


Lalu menyerahkannya ke pria itu.


Tiba-tiba tubuhnya limbung.


Pria itu menarik tangan Hanifah saat dikira akan meraih botol Equil itu!


Hanifah pun terjerebab membentur dadanya yang bidang.


"Kamu salah satu istri David Yudha, iya kan?" bisik pria itu. "Istri pertamanya, iya?" tanyanya lagi.


Hanifah memucat.


"Bagaimana istri seorang dari 12 Naga bisa bekerja di cafe kecil sebagai pelayan? Sulit dipercaya! Apa David tahu hal ini?" tanya pria itu lagi.


"Ah ..." Hanifah tidak berani bicara sepatah kata pun. Ia tidak mengenal pria ini. Dan astaga! Posisi mereka saat ini begitu dekatnya!


Juga bagaimana pria ini tahu siapa Hanifah? Seharusnya hal itu tidak diketahui orang lain!


Komentar netizen mengenai konglomerat tampan beristri tiga saja juga cukup menyakitkan telinga, itu juga salah satu dari sekian banyak sebab alasan David meminta Alwa dan Hanifah untuk mengenakan cadar kalau di tempat umum.


Lalu dalam waktu yang bersamaan, seseorang menarik Hanifah menjauh dari cengkeraman pria asing itu.


Galuh datang dengan wajah tidak senang saat melihat si pria.


Padahal baru semenit lalu, Galuh ada di depan para wartawan untuk wawancara. Rupanya pria itu langsung menjeda obrolan pentingnya dengan wartawan saat melihat Hanifah sedang bersama si pria itu.


Sontak, tingkah Galuh itu menarik perhatian orang-orang di sana dan tatapan mereka langsung tertuju ke ketiganya.


"Eh, ada bodyguardnya ya ternyata," si pria asing menyeringai.


"Pak Indra, tamu kehormatan seharusnya duduk di ruang VIP, kalau ada kebutuhan bisa panggil pelayan kami. Bapak perlu apa?" Galuh tersenyum sinis mencoba ramah. Indra adalah investor terbesarnya saat ini, jadi dia harus bersikap ramah walau terpaksa.


"Cuma perlu ini," Indra, nama si pria asing itu, mengangkat botol equilnya. "Lumayan kan bisa dilayani oleh istri David Yudha. Kapan lagi, coba?"


"Silahkan kembali ke tempat duduk Anda, Pak. Saya akan antarkan sendiri kalau bapak perlu sesuatu," terdapat nada penekanan di ucapan Galuh.

__ADS_1


Tapi Indra tidak bergeming. Tatapannya malah fokus ke Hanifah yang kini bersembunyi di balik punggung Galuh.


"David memberikan kamu pekerjaan sebagai pelayan, sedangkan istri ketiganya malah Direktur. Sebuah ketimpangan yang signifikan ya. Bagaimana kalau kamu berikan CV ke saya saja? Saya bisa menawarkan jabatan yang lebih tinggi,"


"Dia bekerja berdasarkan passionnya," bantah Galuh.


"Kenapa jadi kamu yang menjawab? Memangnya dia bisu?"


"Dia dititipkan ke saya, bukan ke Anda,"


"Sampai dititipkan ke kamu, apa itu berarti dia akan segera ditalak oleh David dan jatuh ke pelukan kamu? Ckckck, daripada kamu yang hanya pemilik cafe bukankah lebih baik ke pengusaha seperti saya?"


"Bagaimana Pak David bisa mempercayakan Anda menjaganya kalau Anda saja sampai sekarang masih main perempuan?"


"Bahkan lelaki bejat ada titik bosannya, Pak Galuh. Tetap saja kami akan mencari bidadari surga untuk masa depan dan ketenangan batin. Ah! Masa Anda tidak tahu sih, Anda sendiri dulu mengalaminya dengan Susan, akhirnya malah lengket sama Rika yang kalem, dan sekarang dia," Indra menunjuk Hanifah dengan dagunya.


Hanifah langsung menoleh ke Galuh sambil terbelalak kaget. Galuh meliriknya sekilas, lalu menghela napas menghitung tingkat kesabarannya.


Lalu pria itu mendekati Indra.


"Lu jangan bikin masalah, gue lagi mumet. Apa perlu kita tonjok-tonjokan di sini?!" bisik Galuh.


"Jangan, gue lagi pake Armani ntar kusut. Lagian tampang lo songong, banyak yang harus lu jelasin ke gue bro," Indra melirik Hanifah.


"Lu cari waktu yang pas dong!"


"Lagian gue nggak dikasih minun,"


"Lu bertahan dulu aja sama air putih, mana bisa gue suguhin vodka di depan Hanifah, bang-ke!"


"Hooo, jadi benar gara-gara si bini orang ini toh, hehehehehe," Indra terkekeh licik.


"Jangan aneh-aneh ato gue tenggelemin muka lo di bak cuci piring! Vodka di kulkas dapur, sana ambil sendiri jangan ketahuan sapa-sapa! Awas Lu mabok gue geret ke tengah jalan tol!" gerutu Galuh sambil membalik tubuh Indra dan menggiringnya kembali ke kursi tamu VIP sambil pura-pura tetap tersenyum.


"Daaah Hanifah, besok abang main ke rumah suami kamu, oke? Khehehe! AOW!!" pamit Indra. Cubitan kencang di pinggang pria itu dari Galuh.


Hanifah menatap Galuh dengan mengernyit tanda ketidaksenangannya. Lalu tanpa bicara berlalu ke balik konter.

__ADS_1


Di Coffee Shop milik Galuh memang menyediakan beberapa minuman keras, Tentunya dengan izin resmi dari lembaga terkait. Minuman itu disediakan untuk tamu yang sudah memiliki batas usia dan kelayakan yang sesuai dengan ketentuan pemerintah.


__ADS_2