The Bitter Three

The Bitter Three
Persiapan Kencan


__ADS_3

Hanifah terbangun pukul 11 siang karena mendengar notifikasi pesan singkat dari ponselnya. Ia menyipitkan mata untuk melihat layar ponsel dan tertegun sesaat.


Ternyata dari Galuh.


Pria itu mengiriminya pesan singkat.


"Saya boleh ajak kamu makan siang?" Begitu tanya pria itu.


Pipi Hanifah langsung bersemu merah. Namun ia tidak segera membalas pesan Galuh. Otaknya langsung berpikir dan akhirnya jarinya ragu untuk menjawab.


Bukannya ia tidak ingin. Tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ini jelas-jelas ajakan kencan. Hanifah merasa ia tidak memiliki pakaian yang pantas untuk digunakan saat berjalan bersama Galuh.


Juga,


Rasa gemetar apa ini?


Jantungnya berdetak cepat dan jemarinya berasa kaku. Ia ingin mengetik 'oke mas' tapi kenapa rasanya sulit sekali.


Apakah ia perlu izin David untuk berjalan bersama Galuh? Saat ini hari Senin, biasanya orang dikantor sedang sibuk-sibuknya. Hanifah tidak enak kalau mengganggu David hanya untuk minta izin makan siang bersama Galuh.


Tapi,


Duh, aku jawab apa? Hati ini merasa dunia sangat indah, apakah aku akan bisa makan dengan enak kalau menerima ajakan Mas Galuh? Ini saja perutku serasa diaduk! Batin Hanifah gugup.


Lalu muncul lagi notifikasi pesan singkat dari Galuh.


"Saya sudah izin Pak David untuk ajak kamu ya,"


Pesan itu disertai screen shoot isi percakapan antara Galuh dan David.


Lega rasanya hati Hanifah. Ia sudah mendapat restu dari David. Ternyata Galuh cukup gentle untuk mengetahui porsinya.


Sekali lagi ia membaca balasan David untuk Galuh.


Oke, silahkan. Tolong jaga Hanifah untuk saya.


Begitu isi pesan balasan dari David ke Galuh.


"Iiihhhh," seru Hanifah sambil membenamkan wajahnya ke bantal. Ia terlalu senang!


Astaga, aku berlebihan sekali! Pikir Hanifah


Namun wanita itu menyadari, inikah rasanya berkencan dengan orang yang benar-benar disukai?


Saat berjalan bersama David di tempat umum ia tidak pernah merasa sesenang sampai mual seperti ini. David memang memperlakukannya dengan lembut, tapi auranya terasa tak nyaman. Dingin dan cuek. Acara jalan-jalan yang seharusnya menyenangkan malah menjadi acara segan-seganan.


Bagaimana dengan Galuh?

__ADS_1


"Baik, Mas. Saya siap-siap dulu," akhirnya begitu balas Hanifah.


"Setelah Dzuhur saya jemput ya. Kita mungkin akan ke Mall, saya mau ajak ke restoran Jepang, sekalian cari referensi menu baru," ketik Galuh.


Hanifah mengangguk puas dengan pesan singkat dari Galuh.


Dulu David dan Suleyman biasanya hanya bilang 'lihat saja nanti' kalau ditanya mengenai lokasi.


Tapi Galuh memberitahukannya di awal. Bahwa restoran yang akan mereka kunjungi berada di dalam mall. Jadi Hanifah bisa lebih menyesuaikan pakaian dan dandanannya.


Apa yang akan ia pakai kali ini? Kemarin saat ia mengenakan baju dengan model casual, Galuh memujinya. Sepertinya pria itu menyukai wanita yang bergaya praktis.


Lalu tiba-tiba pikiran Hanifah melayang, ke sosok Susan. Menyebalkan memang, tapi hal itu terjadi secara otomatis.


Galuh yang dingin bisa terpikat dengan Susan yang provokatif.


Hanifah mengakui kalau gaya Susan, walaupun terbuka dan terlihat tidak pantas, seksi dan terlihat tidak nyaman, bahkan sebagai sesama wanita Hanifah risih melihat Susan berkali-kali menaikkan belahan dadanya, menurunkan roknya agar pantynya tidak terlihat, atau berjalan dengan hati-hati karena hak tingginya sangat lancip dan takut terselip, namun entah bagaimana semua itu terasa pas di diri Susan.


Apakah Galuh menyukai wanita dengan gaya modern dan bebas menjadi diri sendiri? Tahu apa yang dimau, memahami diri sepenuhnya dan yang paling penting, mencintai diri sendiri? Susan memang kelewat narsis sebenarnya. Tapi wanita itu selalu berdalih, mulailah dengan mencintai diri sendiri selanjutnya kau akan bisa mencintai orang lain dengan natural tanpa tekanan.


Sekarang, Hanifah berpikir kalau Susan tidak memberikan kalimat omong kosong. Hanifah sudah mempraktekannya, dan ternyata semua itu benar. Galuh tidak menganggapnya remeh, malah semakin mendekat. Dan sialnya, yang mendekat bukan hanya Galuh.


Hanifah memperhatikkan dirinya di cermin.


Apa yang kurang kali ini? Ia akan melengkapinya.


Bagaimana caranya? Apalagi mereka akan pergi ke mall. Banyak wanita di sana, banyak orang. Rasanya tidak pantas kalau tidak berdandan, walaupun Hanifah sangat yakin Galuh tidak akan mempermasalahkan gaya berpakaiannya.


Jadi, apa boleh buat ...


"Assalamu'alaikum, Mas David?" Sapa Hanifah, " Apakah aku mengganggu?"


Sapaan Hanifah tidak langsung dibalas David. Dari latar belakang di seberang telepon, Hanifah bisa memperkirakan David berada di ruangan tertutup dengan banyak orang berkumpul. Mungkin semacam seminar atau konferensi.


"Wa'alaikumsalam. Ada apa? Tolong bicarakan agak cepat. Seharusnya kamu kirim WA saja kalau penting," kata David.


Benar kan, Hanifah mengganggu. Tapi sudah terlanjur menghubungi. Akan membuat kesal kalau ia tutup telepon dan bilang : tidak apa-apa. Jadi Hanifah harus maju walaupun remeh.


"Maaf, Mas. Aku tahu hal ini seharusnya haram. Tapi aku pikir dengan izin Mas David, tidak akan apa-apa. Bolehkah aku berdandan dengan make up selain di rumah, karena akan bertemu Mas Galuh dan kita mau jalan ke mall?"


"Hah?" dengus David. "Kamu menghubungi saya hanya untuk bicara itu?"


"Ya Mas. Aku tahu itu sepele. Tapi bagiku, itu dosa jariyah,"


"Ah! Benar juga," David terdengar menjeda kalimatnya. "Hanifah, untuk sekarang jangan berdandan dulu. Tidak masuk akal kalau saya memberi izin. Saya kasih kamu jalan sama Galuh saja sudah nyeleneh. Tapi kalau Galuh deengan gentle bertemu saya, face to face seperti Raka, untuk meminta kamu, baru saya bisa izinkan,"


Hanifah menghela napas. Kali ini menurutnya, David benar.

__ADS_1


"Baik, Mas. Maaf mengganggu,"


-----***-----


"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Hanifah dengan senyuman lembut saat mobil Galuh tiba di depan gerbang rumah David.


Galuh tampak tertegun melihat Hanifah, "Eh, Wa'alaikumsalam, Mbak," desis Galuh akhirnya.


Hanifah masuk ke mobil di kursi penumpang di depan, dan mengenakan sabuk pengamannya. Lalu berusaha duduk dengan santai senyaman mungkin, padahal jantungnya berdebar cepat.


Galuh tampak memperhatikannya.


"Ada apa, Mas?" tanya Hanifah.


"Kamu cantik," kata Galuh.


Duh, kenapa rasanya dunia langsung terang benderang? Batin Hanifah malu-malu.


Padahal ia tidak berdandan dan mengenakan pakaian yang biasanya saja.


"Kok bisa saya cantik hari ini? Memang biasanya bagaimana?" pancing Hanifah.


"Entahlah, seperti ada yang berbeda. Jilbab kamu bermotif,"


Ah! Hanya karena itu ternyata. Iya, ini jilbab satin dari Turki model Ottoman yang belum pernah Hanifah pakai karena tidak praktis. Hanifah lebih suka mengenakan hijab yang model bergo dan menutupi sampai ke pinggang. Kain yang saat ini Hanifah gunakan hanya menutupi sampai dada.


"Saya hanya mencoba tampil beda, karena tidak bisa berdandan. Kita mau ke mall jadi saya pikir saya harus tampil lebih modern," kata Hanifah.


"Oh, saya sih suka gaya Mbak Hani yang sekarang. Tapi sepertinya saya lebih suka kalau Mbak Hani bergaya biasa saja. Karena rasanya tak rela kalau wajah manis kamu dilihat banyak orang selain saya," kata Galuh.


Bagai tertohok rasanya! Hanifah tertegun dalam rasa penyesalan.


Ya,


Memang seharusnya berdandan biasa saja.


Karena Galuh ternyata menyukainya apa adanya.


"Mas Galuh berbicara seakan sudah jadi suami saya," gumam Hanifah.


"Hehe, itu kan harapan saya,"


"Lalu, kenapa tidak minta sendiri ke Mas David?"


Galuh diam.


Sinyal dari Hanifah.

__ADS_1


"Nanti sore saya akan minta waktu Pak David untuk bicara mengenai hal itu. Sekarang kita makan dulu,"


__ADS_2