The Bitter Three

The Bitter Three
Hanifah Yang Malang


__ADS_3

David akhirnya memasuki ruang tamu menemui Susan dan Galuh.


"Kamu tidak bisa menyimpulkan secepat itu," gerutu David. Ia kurang suka rumah tangganya diurusi oleh orang lain, terutama oleh sesama pria. Hal itu dianggapnya sesuatu yang menggambarkan kalau ia tidak becus mengurusi para istrinya.


Galuh menghela napas. Ia tidak menyangka David akan ada di balik dinding pembatas. Ia hanya diam dan memutuskan untuk tidak beragumen apa pun.


Toh, ia hanya menjawab yang Susan tanyakan padanya dengan sejujurnya, melalui kacamata orang lain.


"Galuh menjawab sesuai pandangannya," Suaan membela Galuh. "Begitulah pandangan orang lain terhadap rumah tangga kamu, terima saja,"


"Sampai kapan kamu menganggapku musuh?" tanya David ke Susan.


"Sampai kamu menceraikan Wawa dan Ipah. Aku tidak setiap hari jadi musuhmu kok," kata Susan.


"Tante Susaaaaaaan!" terdengar seorang anak kecil berteriak, lalu naik ke sofa tempat Susan duduk dan memeluknya dengan erat. Susan sampai-sampai mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar anak itu tidak terkena bara rokoknya. Galuh dengan sigap mengambil rokok dari sela jemari Susan dan mematikannya di asbak.


"Viciiiii," Susan balas memeluk anak itu dengan erat.


Galuh mengernyit. Bagaimana Susan tahu kalau anak itu Vici? Si kembar saat bangun tidur, rambut mereka sama berantakannya. Bisa saja itu Vini si kriwil.


"Tante aku juga mau dipeluuuuk," Vini menarik-narik kimono Susan dengan setengah mengantuk dan mengucek matanya. Lalu dengan anteng memeluk Susan dan kembali tertidur di dada wanita itu.


"Aku tadi main kuda di Jungle land, hampir jatoh soalnya licin! Kudanya muter-muter, apa itu namanya Tante? Meri meri apa itu?! Aku lupa! Terus kita main bombomcar, Vini nabrak aku terus akhirnya kita macet nggak bisa jalan, terus kita main pesawat-pesawatan, bla bla bla bla bla," Vici menjelaskan apa yang terjadi seharian sampai 15 menit lamanya. Susan mendengarkan tanpa memotong ucapan anak itu sambil mesem-mesem dan sesekali mengangguk.


Hanifah memperhatikan si kembar sambil melipat kedua tangannya dan wajah semasam belimbing wuluh. Sementara David yang baru kali ini melihat interaksi Susan dengan anak-anak merasa terenyuh melihat Susan begitu sabar menghadapi si kembar.


"Jangan kecepatan ngomongnya Vici, nanti tersedak," Galuh kembali dari dapur sambil membawakan teh manis hangat untuk anaknya. Vici menyeruputnya seteguk, lalu kembali bercerita dengan ceriwis. Sementara Vini melanjutkan dengkurannya sambil memeluk Susan dengan erat.


Singkat cerita, hari itu Galuh pulang kembali ke rumah tanpa anak-anaknya, mereka menginap di kamar Susan. Besok pagi pria itu bilang akan kembali membawakan baju si kembar.


Tengah malam, seseorang mengetuk kamar David.


Setengah mengantuk, David membuka pintunya. Tampak Susan di depan kamarnya, menyeringai.


"Kenapa? Si kembar?" tanya David.


"Tidur pulas,"


"Hem, lalu?"


Susan maju memeluk leher David dan mencium bibir pria itu.


"Kangen," gumam wanita itu.


"Tadi kan baru bertemu, aku malah dijelek-jelekin di depan cowok lain," walaupun berbicara begitu, David tetap membalas pelukan Susan. Malah ia pakai ekstra meremas bo-kong wanita itu dengan gemas.


"Pokoknya aku kangen," Susan membelai anggota tubuh yang langsung tegang di antara kedua paha David.


"Kamu kan masih haid,"


"Masih ada tangan, mulut, dan dadaku," gumam Susan sambil memasukkan jemarinya ke dalam celana piyama David, dan mengelusnya perlahan untuk merang-sang libido pria itu.


"Hmh ... Ssshhh," gumam David sambil menggigit daun telinga Susan perlahan. Ia sangat menikmati belaian tangan Susan yang lembut, namun tidak terburu-buru. "Lanjutkan di dalam kamar," bisik pria itu setengah memohon.


"Abi!" Hanifah muncul dengan wajah memerah tanda kemarahan, sekaligus malu.


David dan Susan menghentikan aktivitas mereka yang masih di depan pintu kamar David. Mereka menoleh ke arah Hanifah dengan mimik muka heran. Heran karena Hanifah ternyata belum tidur, dan juga heran karena teguran Hanifah yang lumayan keras.


"Sekarang bukan giliran Mbak Susan! Seharusnya sekarang giliran aku," Hanifah memberanikan diri untuk meminta haknya.


David mengangkat alisnya tanda kaget. Susan malah hampir tertawa. Ia setengah tersedak.


Astaga, aneh sekali cara Hanifah menagih jadwal bercintanya. Begitu pikir Susan.


Wanita itu tahu, Hanifah sedang sangat cemburu.


Dan David, malah kehilangan moodnya seketika. Susan akhirnya menarik tangannya dari balik celana David dan mengangkat tangannya. "Oke, aku akan kembali ke kamar," kata Susan. Wanita itu kemungkinan akan meneruskan sesi tertawa terbahaknya di kamar saja, daripada Hanifah ngambek lagi.


Namun tangan David malah mencengkeram lengan Susan sehingga langkah wanita itu terhenti.


David menatap Hanifah dengan mengernyit, "Apa tidak bisa kita bicarakan lagi mengenai jadwal itu? Besok, mungkin?" tanya David ke Hanifah.

__ADS_1


"Abi tahu sendiri kalau tidak boleh menolak istri yang meminta berseng-gama. Karena pahala bagi istri sangat besar," geram Hanifah.


"Iya tapi masalahnya kalau saya lagi nggak pingin kan percuma juga, mau masuk pakai apa, coba?" gumam David.


"Saya ingin perlakuan yang sama dengan Mbak Susan, atau Abi saya anggap PAYAH dan bukan suami yang bisa menyenangkan istri,"


"Beuh!" seru Susan sambil bertepuk tangan. "Go Ipah Go!" sahut wanita itu sambil menyeringai dan menepis tangan David.


"Susan!" keluh David.


"Istri kamu kan bukan cuma aku, nikmati saja selir kamu. Aku akan tidur dengan anak-anak sampai pagi," Susan menyeringai sambil mengibaskan rambutnya.


Kenapa seakan Susan tidak peduli? Jawabannya, karena wanita itu cukup percaya diri kalau Hanifah bukan tandingannya, dan David akan kembali padanya lagi.


Sang Permaisuri juga memiliki kesibukannya sendiri.


Setelah Susan masuk ke kamarnya, keadaan menjadi hening. David benar-benar kehilangan nafsunya, dan Hanifah menatapnya dengan tekad sekuat baja.


Pria itu bahkan kehilangan ide mengenai apa yang harus dilakukannya.


"Jadi, Abi, kita akan melakukannya dimana? Di kamar Abi atau dikamar aku?" tanya Hanifah. Ada nada gemetaran di suara lembutnya.


-----***-----


Hanifah akhirnya masuk ke kamar David. Ia tampak gemetaran. Baru kali ini Hanifah berani memintanya dengan gamblang. Biasanya yang merayu dan sedikit memancing-mancing hanya Alwa.


Keadaan ini malah membuat Hanifah canggung, tidak seberani saat tadi ia menegur David, sementara David diliputi perasaan kesal karena gagal mendapatkan Susan malam ini.


Pria itu berdiri bersandar di salah satu kabinet sambil melipat kedua tangannya di dada.


Kali ini ia memutuskan untuk tidak memulai duluan. Ia akan mengamati cara Hanifah karena tadi wanita itu berani meminta. David menganggap Hanifah juga sudah berani memulai. Dan yang paling penting, sudah berani membangkang.


Ditatap lurus-lurus oleh David seperti itu membuat Hanifah makin merasa 'kecil'. Wanita itu langsung tidak percaya diri. Sumber kekuatannya tadi berasal dari perasaan cemburu. Ia tidak mengira Susan akan mundur secepat itu, bahkan menganggapnya sebuah lelucon. Tampak jelas Susan hampir saja tertawa tadi.


Hanifah kini justru merasa sangat kekanak-kanakan.


"A-a-a-abi, anuuu ma-maaf, akuuuu ... " Hanifah tidak tahu harus bicara apa.


Karena Hanifah tidak akan bisa menjadi Susan dan Susan bukan Hanifah. Mereka dua wanita berbeda yang tidak bisa dibandingkan dengan perlakuan yang berbeda pula.


Dan untuk kali ini, David terlanjur kesal dengan Hanifah.


"Buka ... buka apanya Abi?" tanya Hanifah tergagap.


"Kamu kan ingin seperti Susan? Buka semua pakaian kamu, lalu kamu bisa menari strip-tease di depan saya sekarang. Coba buat saya terangsang,"


Hanifah memucat.


Matanya terbelalak ketakutan.


Mbak Susan melakukan semuanya ke Abi? Sungguh tindakan yang sangat memalukan! Pikir wanita itu.


Namun nasi sudah menjadi bubur, Hanifah tidak mungkin menarik kembali ucapannya.


Perlahan dan dengan keraguan, Hanifah membuka jilbabnya. Rambut hitam panjangnya yang dikepang rapi baru kali ini dilihat David. Sangat indah dan berkilau sebenarnya, namun David sedang diliputi amarah. Dan lagi pria itu sedang jatuh cinta ke wanita lain.


Lalu Hanifah membuka resleting dan meloloskan gamisnya ke lantai. Tersisa bra dan pantynya yang bermodel sederhana.


David menghela napas bosan dan malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Walaupun Hanifah sebenarnya lumayan kurus, namun postur tubuhnya tidak kencang. Lalu gaya berdirinya yang canggung membuat wanita itu lebih seperti anak sekolah yang sedang disetrap di tengah halaman sekolah.


Pandangan David yang malas membuat Hanifah hampir menangis. Ia menyesal karena tadi asal bicara. Seharusnya sebelum ngotot, ia merawat tubuhnya dulu seperti Alwa. Kini ia sadar kalau tindakan Alwa yang tadinya ia anggap aneh dan sia-sia, malah sebenarnya suatu sikap untuk 'menyenangkan' suami, dan hal itu malah merupakan suatu kewajiban seorang istri.


"A-abi, apa aku harus membuka ya-ya-yang lain?" suara Hanifah terdengar gemetar.


David berdecak. Kekesalannya sudah di ubun-ubun.


"Diam di situ dan bersiap-siaplah!" kata David dengan intonasi kasar.


Tanpa diduga, David sedikit melorotkan celananya lalu mengeluarkan kejantanannya.


Hanifah menarik napas gemetar. Ia baru kali ini melihat bagian tubuh David yang itu. Hanifah langsung merasa pandangannya berkunang.

__ADS_1


David menggerakkan tangannya untuk membuat tubuhnya sendiri menegang, ia melakukannya di depan Hanifah.


Wanita itu seketika sangat ketakutan dan matanya mulai berkaca-kaca.


Saat dirasa sudah cukup keras dan siap, tentu saja David sambil membayangkan kemolekan tubuh Susan, pria itu menyambar Hanifah dan membantingnya ke ranjang.


Hanifah memekik kaget namun ia tidak mampu berbuat apa pun.


David merobek panty Hanifah lalu melemparkannya secara sembarang. Hanifah memekik sambil menangis dan meronta berusaha membebaskan diri.


David tidak peduli.


Pria itu menahan kedua tangan Hanifah ke atas kepala wanita itu. Lalu tanpa aba-aba, ia memasukkan tubuhnya ke tubuh Hanifah, dan menghentakkannya dengan kasar.


Hanifah menarik napas dan matanya terbelalak. Sakit, panas, perih, tanpa sedikit pun rasa nikmat!


Ia merasa pernah merasakan hal yang seperti ini. Ingatannya langsung melayang ke masa lampau. Ke saat ia 16 tahun, ke saat tragedi paling menyakitkan di hidupnya.


Hanya rasa sakit dan traumatis yang ia rasakan saat itu. Sama dengan saat ini.


David mencengkeram kedua pipi Hanifah. "Jangan pernah berbicara seperti itu ke saya lagi," geram David, "Saya menikahi kalian untuk melindungi diri kalian, dari semua musuh Suleyman. Saat semua keadaan sudah terkendali, saya akan melepas kalian dengan pendamping yang bisa saya percaya akan melindungi kalian seumur hidup. Karena terus terang saja, saya tidak sanggup melakukannya,"


Dan kembali, hujaman demi hujaman mendera tubuh Hanifah. David memperlakukan Hanifah sesuai permintaan wanita itu sendiri, yaitu menganggap wanita di bawahnya ini adalah Susan. Suka atau tidak suka, itulah yang akan David lakukan ke diri Susan saat wanita idamannya itu telah selesai dengan menstruasinya.


David tidak peduli seberapa kencang tangis Hanifah memohonnya untuk berhenti dan seberapa keras rontaannya. Pria itu bergerak sampai dirinya sendiri puas.


-----***-----


Susan membuka pintu dengan terkejut. Wanita itu sedang mengenakan masker bengkoangnya setelah sebelumnya menorehkan berbagai macam skincare di wajahnya.


Dia belum mengantuk dan saat ini pukul 1 dini hari. Di atas meja riasnya ada gelas kristal dan botol sparkling (wine yang tidak mengandung alkohol).


David dengan merengut muncul di depan pintu kamarnya.


"Sudah? Kok cepet?" tanya Susan.


"Sialan kamu," gerutu David, "Numpang mandi,"


Pria itu menggeser tubuh Susan ke samping dan masuk ke kamar wanita itu, langsung menuju kamar mandi Susan.


Susan mengerutkan alisnya, namun pecahan masker yang mengering malah jatuh dari dahinya.


Jadilah ia memutuskan akan menunggu David mandi dengan tenang sambil melanjutkan sesi perawatan wajahnya.


Sekitar setengah jam kemudian, saat Susan dengan seksama mencat kukunya dengan warna keemasan memakai kuas kecil, David keluar dari kamar mandi. Tampak pria itu habis berendam. Perkiraan Susan, mungkin David butuh menenangkan dirinya setelah melalui malam yang 'melelahkan'.


"Kau apakan dia sampai kamunya kelihatan kecapekan begitu?" tanya Susan penasaran.


"Kamu nggak ada cemburu-cemburunya ya?" gumam David sambil mengeringkan rambutnya.


"Aku tidak mencintaimu, untuk apa aku cemburu?"


"Jadi yang kemarin itu apa? Segala ciuman dan servis itu?!"


"Nafsu. Aku kan juga punya kebutuhan. Sejak menikah denganmu, semua laki-laki menjauh dariku! Status kamu itu membuatku ditakuti, dan aku bosan pakai alat pemuas. Lagipula, wajah kamu saat mencapai puncak terlihat menggemaskan,"


"Benar-benar wanita murahan," David semakin kesal.


"Terserah saja kamu mau memanggilku apa, David. Kau itu hanya mainanku,"


"Padahal aku benar-benar mencintai kamu!" David sewot, lalu merendahkan suaranya karena sadar si kembar sedang tidur di dekat mereka.


"Itu masalahmu," Susan mengangkat bahunya. "Buat aku terpesona, maka aku mungkin akan belajar cara mencintai kamu,"


David hanya bisa menarik napas panjang. Ini diluar prediksinya. Ia kira ia sudah meluluhkan hati Susan. Ternyata wanita itu sekeras batu.


Selama ini, upaya Susan untuk menjauhkan dua istri David, nyatanya hanya karena wanita itu benci kekalahan.


Sedikit rahasia, Susan pernah cemburu. Namun bukan urusan cinta.


Ia akan sewot, marah dan cemburu saat kedua anak buahnya, Galuh dan Raka, digunakan oleh orang lain. Entah itu disuruh-suruh, atau mereka lebih patuh terhadap orang lain dibandingkan terhadap Susan.

__ADS_1


Dan di episode berikutnya, David akan mempelajari hal ini. Cara menaklukan hati Susan yang ternyata sangat sederhana.


__ADS_2