
David Yudha menghela napas mengumpulkan segenap kekuatannya. Sambil merapikan dasi dan jasnya dengan berkaca di ruangannya, ia melirik ke arah undangan dengan amplop hitam di mejanya.
Para petinggi dari 12 Naga, kini sudah berkumpul di ruangan meeting besar Yudha Mas Corp.
Di ruangannya, ia tidak sendiri.
Duduk di sofa yang menghadap ke jendela raksasa, Indra Yodhayasa. Pemegang saham mayoritas PT. Mangkubarata Nagarawan, juga termasuk salah satu dari 12 Naga dan rekan bisnisnya dari zaman pertama kali merintis usaha. Dua crazy rich di negara itu melejit saat pertama kali menampakkan diri.
Namun, mereka tidak bekerja sendiri.
Wajah Indra tampak kuatir. Ia bahkan menghela napas berkali-kali.
"Kenapa, Bro?" tanya David.
"Lo masih tanya kenapa?" gumam Indra, "Yang harusnya tanya itu gue. Lo masih tenang-tenang aja? Hebat lu!"
David terkekeh. "Susan Tanudisastro sudah di tangan gue, jadi gue bisa bilang posisi gue aman,"
"Dia bini lo sendiri," desis Indra.
"Iya, karena itu gue pilih dia jadi bini," David tersenyum. "Amethys grup dari dulu terlibat di bisnis haram. Club, karaoke, hotel mesum, dilain pihak mereka juga mengeluarkan produk retail seperti makanan minuman dan bahkan miras. Semua untuk dipasok ke bar dan club mereka. Jadi modal gue buat terlihat 'nakal' sudah cukup meyakinkan,"
"Lo kan emang nakal dari dulu. Mana ada adeknya Ustad jadi Raja Judi, selain elo?!" sindir Indra.
"Satu-satunya yang nggak gue sentuh cuma perempuan,"
"Kenapa sih bro?"
"Bikin miskin,"
"Sialan lo!" Indra terbahak.
"Kalo cuma kencan masih bisa gue ladenin, tapi kalau udah sek-s gue takutnya mereka nuntut yang lebih lagi, urusannya udah merambat ke hati jadi ribet,"
"Lo emang bang-sat yang beruntung. Dasar tengik!" gerutu Indra. "Habis ini gue juga mau minta saham Amethys punya Susan ya,"
"Kasus Suleyman selesai, gue kasih ke elo semua. Gue udah selesai sama Amethys, terlalu banyak borok di dalamnya," David memeriksa ponselnya.
"Oke, gue mau bikin perusahaan provider soalnya. Nanti gue ambil alih, soalnya bakalan lebih hemat kalau pakai perusahaan yang sudah dikenal namanya," Indra beranjak dari duduknya dan menuju pintu keluar, sudah saatnya pertemuan antar pengusaha besar. Topik kali ini mengenai kemungkinan David terlibat dengan kaum Khilafah.
Dan tampaknya David pun sudah mempersiapkan diri.
Ruangan itu besar dan mewah, dengan fasilitas yang serasa ruang santai di hotel berbintang. Beberapa orang asik dengan Chateau tahun 1900an, beberapa asik dengan cerutunya, tampak juga wajah-wajah tegang maupun kesal di pojok lainnya.
David masuk bersama Indra.
Kebanyakan pengusaha di sana segan dengan Indra. Keluarga Indra Yodhayasa adalah Mangkubarata, terkenal akan klenik dan berbagai cerita mistis terutama monster penghisap darah yang diceritakan turun temurun sebagai cerita seram anak-anak.
Ditambah, Indra berteman karib dengan David Yudha, pertemuan mereka terjadi saat mereka berdua mengambil gelar master di Amerika.
"Selamat Pagi," sapa David dengan wajah lembut khasnya dan senyum simpul yang sarat makna. "Mari kita mulai meetingnya,"
Setelah dua jam mereka berdebat dengan segala penunjukan bukti-bukti, sebagian dari anggota tetap tidak percaya kalau David bukan pihak yang terlibat. Masalahnya, Papa David juga merupakan mualaf dan pernah menjadi Imam Besar di Masjid Washington DC.
David hampir merasa sebagian yang tidak percaya padanya ini memang ingin menggulingkan kekuasaannya. Karena, pada prakteknya, memang banyak pihak-pihak yang membenci penganut suatu agama untuk lebih maju dan berhasil di bisnis.
Yang membuat David kuat adalah etnisnya yang keturunan Tionghoa dan kemampuannya di bidang teknologi.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.
David menyeringai.
Senjatanya sudah datang.
Susan yang cantik, istrinya sekaligus kini rekan kerjanya, datang dengan wajah sumringah, dan gaya glamornya yang seksi.
Gaun one piece merahnya bergaya sangat seksi, dengan belahan rok sampai ke pinggul. Bahkan David tidak yakin Susan mengenakan panty di baliknya. Sementarra seperti biasa, dadanya yang putih mengintip dari belahan atasnya, membuat semua laki-laki di ruangan itu menelan ludah.
Apakah David suka pemandangan itu? Jelas tidak.
Namun, Susan adalah bukti kuat kalau saat ini David bersikap netral.
Jelas, Hanifah dan Alwa yang bercadar selama ini adalah faktor utama dia dituduh berdakwah di belakang layar. Namun Penampilan Susan segera menepis semua anggapan itu.
Susan berjalan dengan langkah percaya diri dan langsung mencium bibir David di depan semua orang. Tidak lupa jemari lentiknya sekilas menggoda kejantanan David dengan lancarnya.
Lalu wanita itu duduk di salah satu sofa sambil menyilangkan kakinya.
David duduk di sebelah Susan, di pegangan sofa.
"Nama saya Susan Tanudisastro, saya pemegang saham mayoritas Amethys Grup, yang sebentar lagi kepemilikannya akan saya serahkan kepada suami saya, David Yudha," Susan membuka perkenalan dengan bahasa Hokian.
__ADS_1
-----***-----
"Terima kasih," gumam David sore itu.
Komunitas akhirnya setuju untuk menghentikan pengintaian terhadap Hanifah dan Alwa dengan syarat gaya berpakaian mereka tidak seperti wanita di negara Timur Tengah.
Itu berarti dengan sangat terpaksa, Hanifah dan Alwa akan membuka cadar mereka mulai besok saat berhadapan dengan banyak orang.
David juga diharuskan untuk mengurangi sedekahnya sebesar 50% ke Mualaf Centre gagasan Papanya dan Papa Susan. Namun hal itu akan diakali dengan menginvestasikan lebih banyak dana ke Amethys Grup, lalu melewatkan investasi itu ke donasi untuk yayasan Papa David. Banyak jalan untuk beribadah, asalkan niat kita kuat.
David sebagai Crazy Rich yang pergerakannya tidak bebas, dikarenakan pangsa pasar terbesarnya adalah dari 4 negara Adidaya besar di dunia, pasti tidak terhindarkan dari berbagai ancaman pembunuhan. Baik itu berasal dari saingan bisnis, mafia, maupun dari pihak politik.
Sehingga, jangan sampai urusan agama, hal yang sangat sensitif, menjadikan keluarganya malah terancam.
Jadi, mau tidak mau, David harus bersikap netral.
Lebih baik lagi, ujar kaum itu, kalau David atheis sekalian.
Namun tidak bisa, mati dan hidupnya di tangan Sang Maha Pencipta. Harta dan jabatannya pun hanya titipan. Harus ia distribusikan sebaik mungkin untuk rakyat yang membutuhkan.
Yang penting untuk saat ini, urusan Suleyman sudah beres.
Kini, waktunya urusan cinta.
"Jangan lupa hadiahku," Susan duduk di tepi meja kerja David.
"Nggak mungkin aku lupa," desis David. Pria itu menghampiri Susan, lalu kembali mencium bibir dengan gincu merah menyala itu, "Mau pulang sekarang?" tanya David.
"Untuk apa?"
"Untuk memberimu nafkah batin,"
"Ish bahasanya berat. Nafkah batin loh bro sebutannyaaaa," Susan terkekeh. Ia hanya tidak biasa dengan kata-kata itu.
"Udah selesai haid kan?" bisik David sambil mengecup leher Susan dengan lembut.
"Lakukan di sini," kata Susan.
David menghentikan gerakannya. "Di sini? Di kantor?"
"Iya," Susan mengangguk, lalu menarik dasi David dan melepaskannya. "Di ruangan ini, di atas meja ini,"
Denting sepatu Susan yang jatuh membentur lantai granit mewarnai sore yang sunyi itu. Wanita itu mengaitkan kedua kakinya ke pinggang David dan menarik tubuh pria itu agar lebih erat.
"Ayolah David, di sini tidak ada istri kamu yang lain," rayu Susan.
"Kalau ada orang yang masuk bagaimana?"
"Ya biar mereka keluar lagi, hihi,"
"Hem, aku tidak merasa nyaman,"
"Kamu sedang diragukan. Mereka pikir pernikahan kita hanya settingan untuk masalah Suleyman. Kalau kita ketahuan bercinta bukannya malah bagus?" kata Susan.
David mengernyit memikirkan kata-kata Susan. Istrinya itu memang pintar sekali dalam hal rayu merayu.
Sambil berpikir, ia sembari mengamati Susan dan polahnya. Terlihat wanita itu menyerangnya dengan belaian kuku lancipnya, membuka satu per satu kancing kemeja David yang berada di balik jas, lalu dengan lancar membuka kunci ikat pinggang pria itu.
Dan menggeser resleting celana David ke bawah. Untung saja itu celana slim fit sehingga tidak langsung jatuh ke lantai, masih bisa ditahan dengan paha.
Namun tetap saja butuh perjuangan untuk mempertahankan pakaiannya agar melekat di tubuhnya sehingga ketertelanjangannya tidak langsung terlihat dari belakang.
"Ini terakhir kalinya kamu memperlihatkan aurat kamu ke pria lain. Kamu harus berjanji padaku," gumam David sambil menikmati belaian jemari istrinya di tubuh sensitifnya.
"Setelah ini kamu harus hanya fokus padaku saja, aku mohon," kata David lagi.
"Hem ... Bagaimana yaaa? Hihi," kikik Susan menggoda David.
"Aku akan lebih mengutamakan kamu dibanding yang lain, pelan-pelan aku akan melepas mereka. Hanya, tidak sekarang. Tunggu mereka siap," David meraih jemari Susan yang tadinya bertengger di kejantanannya yang kini sudah siap sepenuhnya.
Pria itu mencium punggung tangan istri cantiknya itu dengan penuh kesungguhan.
"Jadi aku harus tahan banting terhadap amukan Alwa, dong? Hanya dia yang belum mengerti keadaan yang sebenarnya," kata Susan.
"Dia akan dihadapkan pada pilihan sulit. Namun aku tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap adil untuk mereka. Di pikiranku hanya ada kamu," bisik David sambil membelai dagu mungil Susan.
Sesaat mereka saling bertatapan dengan sendu.
Rasanya ingin mereka melarikan diri saja dari segala keruwetan dunia. Mungkin memalsukan identitas mereka dan tinggal di pulau terpencil berdua saja.
Namun mereka tidak sampai hati melepaskan semua beban ke orang tua mereka.
__ADS_1
Bagusnya, saat ini mereka bisa saling menguatkan. Saling menyemangati, setelah sebelumnya bersolo karier.
Terbukti, masalah mereka malah cepat selesai!
Amethys grup yang sudah lama membuat Susan muak akhirnya bisa ia lepaskan tanpa harus kehilangan kekayaannya, dan masalah Suleyman bisa berakhir dengan bantuan Susan sebagai penutup yang indah untuk meyakinkan Kaum Kapitalis.
David meremas dengan gemas dada Susan yang lembut. Lalu mengu-lum pu-tingnya yang berwarna muda dengan rakusnya. Manis.
Rasanya Susan, memabukkan!
Susan mende-sah penuh kenikmatan. "Apa fantasi kamu terhadapku?" tanya wanita itu di sela-sela desa-hannya.
"Hem," David melepaskan kulum-annya dan mencium dahi Susan. Tangan pria itu bergerilnya masuk ke dalam panty tipis Susan yang khusus dijahit agar bisa menyesuaikan gaunnya. Panty itu model pakaian renang yang berbahan toples, namun tetap mudah digeser karena bahannya sangat strech.
"Seesssh," Susan mendesis saat David memainkan c-litnya. Wanita itu sedang dalam masa subur. Otomatis sedikit rangsangan dari David susah cukup membuatnya basah.
"Fantasi liarku ... " gumam David di dekat telinga Susan, "Kamu terikat tidak bisa bergerak, dan melihat kamu menangis tak berdaya karena menahan kenikmatan,"
"Ugh!" pekik Susan saat tubuh mereka bersatu.
"Oh, Susan ... " David membenamkan wajahnya di leher Susan, "Aku masih ingat rasa ini,"
Namun pria itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia semakin larut dalam gerakannya.
"Pelan-pelan, David," Susan sedikit mendorong David agar gerakan mereka selaras.
"Tega, kamu!" keluh David.
"Nanti kamu cepat keluar,"
"Kamu jangan samakan aku dengan pria lain dong," geram pria itu sambil kembali mendorong Susan.
"Haha," tawa Susan di sela-sela desa-hannya. Karena tubuh David entah bagaimana terasa pas di tubuhnya. "Begini ya rasanya halal," gumamnya sambil mengangkat pinggulnya.
Tanpa di duga, mereka malah melakukannya dengan santai. Tidak terburu-buru, tidak menggebu-gebu, saling menyesuaikan diri seakan mereka sudah saling mengenal sejak lama.
"Aku salah, ternyata rasa kamu lebih enak dibanding dulu," desis David.
"Kamu barusan nggak berdoa dulu," gumam Susan
"Lupa,"
"Dasar, setidaknya lakukan sesuai syariat dong, aku kan belum pernah merasakan yang sunah," gerutu Susan.
"Nanti malam, oke?! Kamu sudah meracuni tempat sakralku, apa sekalian saja kita telan-jang di sini?"
"Nakal kamu, nanti yang terpukau padaku bukan hanya kamu, bagaimana?!"
"Udah jangan bawel, aku mau keluar!"
"Ih kok kamu cepet? Aku belum sampe nih!"
"Masih ada ronde dua, masih ada sofa, masih ada lantai, masih ada ... Hehe,"
"Apa?"
"Jendela,"
"Nakal banget kamu! Hahahaha!!" Susan terbahak. Akibat dia tertawa, gerakan otot menjadikan himpitan wanita itu menjadi semakin erat. David mengernyit menahan hasratnya yang sebentar lagi meledak.
"Nggak bakalan ada yang melihat, ada anti matahari dan anti pecahnya," gumam David.
"Tetap saja kamu ingin menjemurku, namanya! Aow!"
David semakin mempercepat gerakannya, napasnya mulai memburu.
Terus begitu sampai beberapa detik kemudian dia menumpahkan benihnya di dalam tubuh Susan.
"Ya Ampun," gumam Susan sambil mengatur napasnya. "Banyak banget sayang,"
"Mudah-mudahan kamu hamil," sahut David sambil menyandarkan dahinya di bahu Susan.
Tak lama, Susan merasakan tubuh David membesar lagi, padahal masih tertancap di servi-ksnya. "Oh!" desah wanita itu.
"David! David, astaga...!" pekik wanita itu.
Tubuhnya langsung berkedut dengan hebat. Alat David kali ini terasa penuh, sepertinya jauh lebih besar dari pada kali pertama.
"Sip! Saatnya aku yang sebenarnya," David merobek panty tipis Susan, membopong wanita itu dengan kondisi masih bersatu dan meletakkannya di sofa kulit.
Lalu pria itu kembali bergerak.
__ADS_1
Kali ini tidak ada ampun untuk Susan.