
Galuh menarik napas karena tegang saat mendapati Indra sudah berada di cafenya, duduk santai di salah satu sofa lounge dengan secangkir kopi yang dicampur dengan wisky tercium dari aromanya yang kuat.
Pria berdarah Jawa-Arab-Belanda itu merentangkan tangannya menyambut Galuh dan Hanifah sambil menyeringai sumringah.
"Masih sore udah mabok aja, tobat bro, nenek buyut lo lagi sekarat," gerutu Galuh.
"Ya makanya gue mabok,"
"Ya ampun, grandma complex,"
"Cuma Eyang Amara satu-satunya yang gue percaya di dunia ini. Dan tadi malam dia kritis lagi. Entahlah besok pagi,"
"Sholat dong, jangan malah mabok di cafe gue! Sana raib!"
"Baru kali ini ada pemegang saham yang diusir sama managernya sendiri! Nyali lo gede juga ya!" Omel Indra.
Galuh mengambil sapu dari salah satu karyawan dan mengacungkannya ke Indra, "Awas lo ganggu calon bini gue, mati di tempat lo!" Ancam Galuh.
"Ha? Calon bini?" tanya Indra. Reflek pria itu menoleh ke arah Hanifah. "Coklatnya sudah kamu terima kan ya sayang?"
"Apa'an sayang-sayangan!" Galuh memukul pelan betis Indra dengan gagang sapu.
"Saya kerja dulu," jawab Hanifah pendek sambil melipir langsung ke dapur.
Masalah tidak berhenti sampai di situ. Saat Hanifah mengolah adonan, souschef dan salah satu pencuci piring memepetnya.
"Bu Hanifah, " desis mereka.
"Ya?"
"Mulai besok kami resign dari sini, ditarik Pak David, kami akan kembali ke kesatuan. Katanya sudah tidak perlu lagi mengawasi Bu Hanifah," bisik mereka.
"Alhamdulillah, jadi mereka sudah menemukan pembunuh mantan suami saya?" Bisik Hanifah.
"Dari awal juga sudah diketahui siapa tersangkanya, Bu. Tapi kalau diusik, bisa dipastikan nyawa semuanya ada dalam bahaya, karena kita tinggal di dalam lingkungan masyarakat multikultural," si Souschef bicara begitu.
"Jadi demi keamanan semuanya, Bu Hanifah tidak usah mencari tahu. Biar pengadilan akhirat yang membalasnya. Yang penting posisi ibu sudah aman,"
"Juga," si pencuci piring menambahkan dengan suara rendah, "Kami himbau sekali lagi, jangan dulu berdandan terlalu tertutup. Mereka sedang sensitif dengan golongan tertentu,"
"Tapi saya tidak harus berdandan seperti Mbak Susan, kan?!"
"Ya jangan sedrastis itu juga, Bu Susan sih sudah kelewatan," bisik para agen sambil terkekeh.
"Pak Galuh datang, bubar,"
"Terimakasih atas kerjasama kalian selama ini ya," sahut Hanifah.
"Tuhan memberkati," jawab Souschef sambil membentuk lambang salib di dadanya.
"Ya Bu, Assalamu'alaikum," jawab si pencuci piring sambil undur diri.
"Wa'alaikumsalam," bisik Hanifah sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Mbak Hani," sapa Galuh sambil menyerahkan daftar menu baru. "Kita ada produk baru. Tadi saya diskusikan dengan Indra. Boleh coba dibuat model awalnya? Mbak Hani akan bekerjasama dengan Pak Jaya,"
Pak Jaya adalah Chef Pastry di cafe itu.
"Ah, karena besok souschef akan resign ya?" Tebak Hanifah.
__ADS_1
Galuh melirik Souschef yang juga si agen. "Betul," senyumnya penuh arti. "Ini kesempatan Mbak Hanifah untuk menunjukan kemampuan,"
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin," Hanifah menatap Galuh dengan mata berbinar, wanita itu tampak bersemangat.
"Ini resep dari saya, saya berharap kalian bisa mengembangkan ide yang berbeda untuk display," kata Galuh.
"Mas Galuh ... Ujicoba resep sendiri?"
"Iya, si bejad di depan itu minta dibuatkan pastry bintang lima dengan rasa miras favoritnya. Dipikirnya gampang kali mencari rasa yang mirip tapi tetap halal, semalaman saya nggak tidur gara-gara resep ini," omel Galuh.
Galuh tidak tidur semalaman padahal paginya ia baru saja mengadakan konferensi pers.
Membuat Hanifah semakin terpukau dengan sosok pria itu.
"Ba-baik Mas, kami coba bikin model yang lebih variatif," kata Hanifah.
Galuh melanjutkan pekerjaannya dengan memeriksa pekerjaan karyawan lain dan stok barang.
Hanifah masih tertegun menatap pria itu. Kalau dipikir, Galuh yang low profile justru lebih banyak bisanya dibanding David. Pria itu tidak malu untuk belajar dari bawah, bahkan melayani keegoisan Susan. Dia bisa berbisnis, dia bisa menjadi karyawan handal, dia juga bisa memasak dan bahkan mengurus kedua putri kembarnya.
Tanpa sadar Hanifah malah membandingkan Galuh dengan David yang pada awalnya dijadikan role model suami idaman.
Dan tanpa sadar juga, pipi Hanifah kembali bersemu kemerahan.
-----***-----
Alwa duduk di mushola setelah menunaikan sholat Ashar dan mengaji sedikit. Ia butuh curhat kepada Yang Maha Kuasa mengenai kegalauan hatinya. Sepanjang hari pikirannya dipenuhi dengan wajah Raka yang menyeringai khas.
Lalu, ciuman itu.
Begitu intens dan dalam. Rakus dan serakah.
Juga, tidak mudah dilupakan.
Alwa merasa sangat berdosa.
Memikirkan pria lain, selain suami sendiri. Sungguh hal yang diluar batas! Begitu pikirnya.
Tapi bagaimana? Setelah Alwa menutup mata, yang terbayang hanya Raka, Raka, Raka dan lagi-lagi sosok Raka di mana-mana, bahkan atas sajadahnya.
Alwa bersujud sambil menutupi mukanya yang merah. Lalu mengerang frustasi.
Dan Raka?
Yah, pria itu begitu menggebu-gebu dan tidak ada kata menunda dalam kamusnya. Ia sudah memikirkan hal ini semalaman.
Ia menginginkan Alwa.
Jadi, dia hubungi Bossnya, Susan, dan bertanya mengenai lokasinya.
Lalu meluncur kesana.
Raka sudah tidak peduli Susan dan David sedang ada kesibukan apa. Mereka suami-istri, mereka bisa melakukan apa pun lain kali. Dan uang mereka banyak, saat ini langsung jalan ke luar negeri saja mereka mampu.
Tapi urusan Raka bagaikan kelangsungan hidupnya di masa depan. Tidak ada kesempatan kedua, sebelum Alwa bimbang dan malah mundur.
Raka ambil langkah cepat. Dia bukan Galuh yang tarik ulur.
Saat tiba di lantai 15 sebuah hotel mewah, Raka diantarkan oleh salah satu room service yang sudah dititipi pesan oleh Susan ke kamarnya. Dengan tegas, Raka menekan bel.
__ADS_1
David yang membukakan pintunya.
Wajahnya tampak malas saat melihat Raka. Tampaknya pria itu sudah menerka-nerka apa yang akan terjadi. Penampilan David telanjang dada, hanya memakai celana trainingnya yang tampaknya dipakai dengan terburu-buru. Dilihat dari bahannya yang masih kaku, tampaknya celana itu pun baru saja dibeli.
Susan tampaknya sedang di kamar mandi karena terdengar suara shower dari dalam.
"Hem?" David duduk di salah satu sofa sambil menyulut rokoknya. Raka mengambilnya satu dan mereka berbagi api dari ujung rokok.
"Serahkan Alwa kepada saya. Secepatnya," desis Raka langsung.
"Kenapa? Kamu berzina?"
"Saya sudah menciumnya,"
"Apa dia menolak?"
"Dia tidak menyingkir, juga tidak mendorong saya. Saya tidak tega membiarkannya seperti itu," gumam Raka.
David bertopang dagu dengan sandaran sofa sebagai tumpuan, menatap Raka dengan muram.
"Apa yang bisa kamu berikan ke saya sebagai gantinya?"
"Terus terang, Pak, saya tidak punya uang sebanyak Pak David. Uang saya di rekening hanya 300jutaan, dan saya punya rumah petak di daerah Depok. Itu saja harta yang saya miliki. Jadi bapak bisa mengira-ngira uang panaik disesuaikan dengan kondisi saya,"
"Berapa uang panaik yang kamu ajukan, sayang? Aku bisa memberikannya untuk harga Alwa," Susan keluar dari kamar mandi dengan rambut terbalut handuk.
Hanya rambutnya saja, sedangkan tubuhnya telanjang tanpa sehelai benangpun.
Raka memutar bola matanya. Masih saja vulgar gaya bossnya itu. Tapi di matanya terasa tidak menarik karena terlalu CGI (apa,coba?), seperti melihat game por-no, mulus tanpa cela dan berbau fantasi.
"Kenapa jadi kamu?" David mengernyit.
"Anak ini berada dalam tanggunganku. Bisa dibilang, aku juga keluarganya," Susan mengacak-acak rambut Raka.
Anak ini, begitu sebutan Susan ke Raka. Padahal dari segi usia, lebih tua Raka 2 tahun. Apakah Raka begitu kekanak-kanakannya?!
"Aku tidak butuh uang," gumam David.
Susan mengenakan kimononya. "Kalau begitu, lepaskan saja. Aku bisa menjamin Raka,"
"Ada satu hal yang aku minta dari Raka," David menatap Raka dengan serius.
Raka menegakkan duduknya. Dia tegang.
"Kamu," desis David. "Bisa memiliki Alwa kalau dia sendiri yang minta ke saya, tanpa kamu mempengaruhinya,"
Raka mengernyit, "Jadi, harus atas inisiatif Alwa sendiri?"
"Ya,"
"Saya tidak boleh menyuruhnya untuk bilang ke Pak David?"
"Tidak boleh,"
"Bagaimana bapak tahu kalau saya tidak mempengaruhinya?"
"Saya akan menyadap ponsel Alwa,"
"Itu ilegal,"
__ADS_1
"Dia istri saya,"
Raka menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kesal, sambil berharap semoga perasaan Alwa sama seperti perasaannya.