
Hidup kadang tidak berjalan sesuai keinginan kita.
Namun hidup berjalan menyesuaikan kebutuhan kita.
Namun, apakah kita akan menerima keputusanNya akan hidup kita?
Ataukah kita akan mengeluh dan protes akan pemberianNya?
Yang mana pun KuasaNya yang paling mutlak.
(Septira, Januari 2022)
-----***-----
Alwa dan Raka, dua sahabat yang kini duduk dengan canggung di salah satu restoran di sebelah utara Jakarta.
Sedari tadi, perjalanan dari salon ke tempat makan dihujani dengan keheningan. Raka fokus menyetir dan Alwa duduk di sebelahnya sambil menatap mobil yang berlalu lalang di jalanan.
Namun sebenarnya di benak mereka masing-masing sejuta pertanyaan berkecamuk.
Setelah tiba di restoran yang ditentukan Raka, yang menurut pria itu makanannya lumayan enak, Alwa masih diam.
Mereka duduk berhadapan, tapi Raka tidak bisa melihat raut wajah Alwa karena tertutup cadar.
"Mbak,"
Alwa mengangkat tangannya, memberi kode agar Raka diam.
Baiklah, Alwa masih ingin diam karena shock. Bahkan suaminya belum melihat miliknya, yang melihatnya malah pria di depannya ini.
Raka menghela napas, karena menyesal. Tapi bagaimana lagi? Alwa berteriak sangat kencang.
Dan saat pesanan tiba, mereka juga makan dalam diam.
Ya ampun, risih sekali suasananya! Pikir Raka.
Namun pria itu makan dengan lahap karena ia mendapat intuisi sebentar lagi akan ada kejadian yang menghabiskan energinya.
Setelah makan, Raka kembali memberanikan diri untuk berbicara lagi. "Setelah ini mau diantar kemana? Dokter kulitnya di sekitar sini," kata Raka.
Alwa hanya mengangguk, namun tetap diam.
Raka jadi merasa semakin bersalah.
Saat tiba di dokter kulit langganan Susan,
"Mas Raka? Apa kabaaaar!" si resepsionis menyambut Raka.
Saking seringnya ia dan Galuh mondar-mandir di sana, mereka berdua jadi dikenal karyawan klinik itu.
Dan berikutnya makin banyak wanita-wanita berseragam klinik yang seksi mengerubungi Raka. Menanyakan kabar, menawarkan snack, sampai ajakan kencan.
"Mas Raka nggak pernah mau kalau diajak pergi, Ih!" rajuk salah satu wanita sambil bergelayut mesra di lengan Raka.
Alwa tiba-tiba maju sambil mendorong para wanita yang menghalangi jalannya, lalu menggandeng lengan Raka. Matanya memicing menatap tajam ke semua orang di sana.
Semua diam.
Mereka menatap bergantian antara Raka dan Alwa.
Dan karena penampilan Alwa cukup bersahaja, semua wanita dengan pakaian seksi langsung merasa ada yang tidak beres.
"Dokter Sisca ada kan? Kami antrian ke berapa? Kemarin saya sudah daftar via online, " tanya Raka.
"Eeeh, se-se-sebentar Mas," si Resepsionis bergegas ke konternya untuk memeriksa jadwal di komputernya.
"Atas nama Alwa ya, Fan," kata Raka lagi. Otomatis semua langsung menatap Alwa.
"Baik, Mas," Fani di Resepsionis memeriksa jadwal. "Eh, langsung masuk saja Mas, urutan pertama,"
Oke," Raka menoleh ke Alwa, "Yuk Sayang," Katanya sambil menggandeng tangan Alwa dan masuk ke dalam ruangan treatment.
Seketika hebohlah suasana di ruang tunggu, membicarakan Raka dan Alwa.
Dokter Sisca pun langsung tertegun saat melihat Raka masuk sambil menggandeng Alwa. Dokter Sisca adalah teman kuliah Susan.
"Udah tobat lu, Ka?" tembaknya langsung dengan mata terbelalak. Raka hanya cengengesan.
"Tobat? Memangnya Mas Raka segitu playboynya ya dokter?" tanya Alwa
Dokter Sisca melirik Raka dengan wajah jahil. Raka hanya mendengus.
"Pacarnya gonta-ganti setiap minggu Mbak, nggak tau ya kalau sekarang hehe,"
"Hem, apa termasuk Dokter Sisca?" tembak Alwa.
Dokter Sisca tersenyum, "Yah, begitulah. Tapi hanya sebentar. Tidak perlu kuatir. saya akan pasang mata kalau dia main sana-sini lagi,"
"Sst! Aib orang disebar-sebar. Nggak bisa lihat gue hidup tenang, sih," gerutu Raka.
"Nggak, soalnya gue di ghosting. Kenapa mau sama dia sih Mbak? Lebih baik sama Galuh aja, lebih kalem,"
"Heh! Udah sana kerja!" sahut Raka sambil duduk di sebelah Alwa menghadap ke Dokter Sisca. "Dia bukan bini gue, tapi lo diem aja nggak usah umbar-umbar ke karyawan lain,"
__ADS_1
"Oh bukan? Wah, salah paham dong gue,"
"Ini istrinya David Yudha,"
"Yang keberapa?"
"Lupa,"
"Elah, macam bininya dia seratus orang, pake lo lupain urutannya pula," kata Dokter Sisca. "Kenapa lo yang dampingi? Nggak masalah nih? Gue mau ngomongin area pribadi loh!"
"Ceritanya panjang, udah lo santai saja,"
"Bener nih ya," Dokter Sisca menatap Raka curiga.
Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan yang dilakukan dengan santai, Alwa mendapatkan beberapa obat yang reaksinya ringan.
"Ini fungsinya mencerahkan ya Mbak, bukan memutihkan. Karena basic Mbak Alwa kulitnya kuning langsat jadi tidak bisa lebih cerah dari itu,"
"Dok, tapi di instagram ada tuh yang dari item bisa jadi putih kayak tembok," kata Alwa.
"Bisa, ada obatnya, tapi biasanya mengandung kimia berbahaya dan efeknya hanya sebentar. Efeknya, Kalau obatnya berhenti, kulit akan kembali jadi seperti sedia kala, bahkan jadi lebih hitam. Di beberapa kasus malah jadi seperti luka terbakar dan kanker kulit,"
Alwa langsung kuatir.
"Kalau untuk mencerahkan area lipatan dan areola gimana dok?" tanya Alwa.
"Kalau area lipatan bisa dicerahkan dengan salah satu obat dari saya Mbak, namun kalau areola tidak bisa, kecuali di tatto jadi pink,"
"Yah, nggak syariah,dong," keluh Alwa.
"Betul. Saya merekomendasikan yang BPOM dan Halal tapi tetap jaminan mutu, racikan kami sendiri bisa dipertanggungjawabkan,"
Alwa mendengarkan penjelasan Dokter Sisca sambil melirik Raka. Tampaknya wanita itu tidak merasa puas. Ia ingin seperti secantik Susan.
"Kenapa?" tanya Raka.
"Hem," gumam Alwa tak jelas.
Raka menghela napas, "Kalau ingin seperti Bu Susan yang dari lahir memang anugerahnya udah cetar begitu, ya operasi plastik, Mbak. Kayak Dokter Sisca tuh, made in Korea," kata Raka menyindir Dokter Sisca. Ia sudah tahu kenapa Alwa diam saja, karena wanita itu ingin perawatan yang lebih ampuh.
Alwa langsung berdehem, Dokter Sisca mencibir ke arah Raka.
"Ya, terkadang kami memang kurang puas dengan pengobatan yang biasa-biasa saja," Dokter Sisca menyeringai. "Mulai dari kulit, hidung, alis, bibir, sampai dada dan bagian tubuh sensitif, semua dirubah jadi rekayasa buatan manusia,"
Alwa hanya membatin, harus seperti itu untuk menarik perhatian suami? Kenapa metodenya jadi di luar batas begini?!
"Kalau menurut saya sih Mbak," Dokter Sisca angkat bicara, "Yang penting bersih dan terawat. Mbaknya juga harus percaya diri. Seperti bibir yang hitam, olesi lemon dan Bit sering-sering. Tidak perlu sulam bibir. Kulit yang kendur, seringlah olahraga dan yoga, tidak perlu tanam benang atau botox, juga, tergantung ridho suami. Yang penting permainan ranjangnya memuaskan, Iya nggak Raka?!"
"Hoyy!!" Dokter Sisca langsung merasa tersindir.
"Meledak sekalian, Bum!" sahut Raka sambil menggeret Alwa keluar dari ruangan.
-----***-----
Di mobil, Alwa membaca aturan pakai skincarenya dengan sungguh-sungguh. Sementara Raka menjalankan mobilnya menuju ke area Mall terdekat.
"Mas Raka,"
"Iya Mbak,"
"Saya cantik nggak?"
Raka menghela napas, "Memangnya percaya kalau saya yang bilang?"
"Huuummmm," Alwa tampak berpikir.
"Nggak cantik," jawab Raka.
Alwa langsung menoleh ke arah Raka dengan mata terbelalak. "Serius Mas? Saya nggak cantik?!" dia langsung panik.
"Nggak, daripada di sebut cantik, lebih ke manis, sih,"
"Apa bedanya cantik dengan manis?"
"Hem, menurut pendapat saya, cantik itu membosankan. Enak dipandang tapi sekilas doang. Sisanya hampa. Seperti boneka," Kata Raka sambil mencari tempat parkir. "Dan wajah cantik biasanya gampang dilupakan, memejakan mata sebentar, begitu buka mata juga sudah lupa cantiknya kayak gimana, susah menjabarkannya,"
"Kalau manis?"
"Kalau manis menurut pendapat saya, anggota tubuhnya memang tidak sesuai standar kecantikan. Yang hidungnya pesek, dahinya lebar, pipi tembem, mata sipit, tapi entah bagaimana dilihatnya menyenangkan, sinkron. Dan mudah diingat. Mungkin karena lebih alami kali ya,"
"Kalau Mbak Susan?"
Raka menghela napas berat, "Berhentilah membandingkan Mbak Alwa dengan Bu Susan, Pak David memang sudah suka beliau sejak lama. Kan selera orang beda-beda. Kalau Bu Susan ketemu Pak Suleyman juga belum tentu Pak Suleyman suka. Saya saja sudah sampai lihat dia telan-jang tetap saja tidak tertarik,"
"Kok bisa sampai lihat Mbak Susan telan-jang?"
"Dia itu kalau kerja, meeting, kondangan, menghadiri seminar, berkencan, outfitnya harus beda-beda. Kadang dalam sehari dia lakukan semua aktivitas itu. Otomatis ganti bajunya juga buru-buru dan sering juga ganti baju di mobil. Kalau ganti baju, karena model bajunya ribet, dia biasanya minta bantuan kami. Lalu baju dalam dan gaun, warna dan modelnya harus senada. Kalau gaunnya seksi pantynya harus yang gstring satu tali doang, branya harus yang pakai manik berlian, gitu lah, repot pokoknya!" Raka setengah mengomel.
Alwa mendengarkan dengan takjud.
"Belum kalau Bu Susan minta gaya rambut yang berbeda. Udah kocar-kacir lah kita, nggak bakalan sempat ke salon harus berapa lama, ya jalan satu-satunya saya dan Galuh dikorbanin. Biasanya Galuh jadi MUA dan hairstylish dadakan, saya yang milihin gaun dan onderdil dalam, sekalian ganti kuku palsu, masangin sepatu, milihin tas dan perhiasan. Nggak ada yang cocok? Berhenti di mall terdekat, beli, dandan ulang. Isi mobil udah kayak lemari,"
Alwa semakin terpesona.
__ADS_1
"Apa saya suka wanita yang begitu? TIDAK. Oke wajahnya cantik, tapi nggak praktis dan penuh perjuangan, bawel dan egois pula. Saya lebih suka yang alami, manis dan murah senyum dengan sifat yang ceria," Raka mengangguk yakin. Sepertinya dia sedang curhat masalah kesulitannya sehari-hari (hehe).
Alwa menggaruk kepalanya.
"Wanita manis dan ceria, seperti siapa?"
Raka diam.
Terus diam sampai mobil terparkir sempurna.
"Ngopi yuk!" desis Raka sambil tersenyum, seakan menyembunyikan sesuatu.
-----***-----
"Mbak Alwa," gumam Raka sambil menghirup kopinya. Alwa yang sedang menikmati minuman bobba dari balik cadarnya, menoleh.
"Saya minta maaf sudah main masuk aja ke ruangan," kata Raka.
Alwa memutar bola matanya, "Iya Mas, nggak usah diingat, bentuknya jelek,"
Raka menaikkan alisnya. "Kata siapa bentuknya jelek?"
"Kata therapistnya perlu banyak dirapihkan, makanya tadi saya minta obat pencerah untuk lipatan ke Dokter,"
"Hem, dirapihkan paling hanya rambutnya saja kali Mbak, kan memang anjuran dalam Islam. Takutnya kalau kebanyakan obat malah infeksi,"
"Biar wangi gimana caranya Mas?" tanya Alwa tiba-tiba.
"Hah? Tanya saya Mbak?!"
"Ah benar juga, harusnya saya tanya ke dokter tadi,"
"Memangnya baunya nggak sedap?"
"Menurut saya sih baik-baik saja, tapi theraphys waxingnya terus-terusan cemberut tadi,"
"Mbak Alwa kelewat sensitif, ah! Siapa tahu therapistnya lagi ada masalah hidup," Raka menyeruput kopinya. "Tapi, Bu Susan pernah menyinggung mengenai gurah vag-ina dan senam kegel. Katanya juga jangan makan junkfood dan gorengan, perbanyak buah dan air putih. Tapi sayang sekali dia belum bisa lepas dari cafein dan rokok. Mungkin beban hidupnya terlalu berat, hehe," Raka menyeringai.
"Berikutnya kita ke spa kan ya? Disana ada perawatan untuk itu?"
Raka mengangguk, "Ada kayaknya, kita dapat jadwalnya jam 3 sore mbak, biasanya agak lama kalo spa bisa 2 jam. Karena ada pijat dan berendam juga di air mawar,"
Mata Alwa langsung berbinar, sepertinya di balik cadarnya, senyumnya sangat lebar.
"Kayaknya saya juga mau pijat, mumpung senggang dan nggak diganggu Bu Susan," Raka mengelus tengkuknya yang tiba-tiba langsung pegal karena membicarakan Susan.
"Mas Raka, itu," Alwa tampak ragu. "Mas Raka pernah pijat plus?"
"Ih, mulai nakal ya tanyanya," goda Raka.
Alwa langsung melempar tissue padanya.
Raka terkekeh, "Saya bohong kalau bilang nggak pernah. Tapi lebih baik nggak usah dibahas,"
"Jadi, Mas Raka ini sebenarnya berpengalaman, kan, mengenai tubuh wanita?"
"Jangan tanya teknik se-ks ke saya ya mbak, nanti pikiran saya jadi travelling. Kami ini laki-laki. Mendingan tanya ke Bu Susan,"
"Mana mungkin saya tanya ke dia Maaas, saya malas diinterogasiiiii," keluh Alwa.
"Ya tapi kan habis itu pasti dijawaaaaab,"
"Ya tetap saja rasanya bertanya ke dia itu melelahkan, yang ada saya sport jantung teruuuus. Apalagi dia suka pakai istilah yang saya nggak ngerti,"
Raka kembali cengengesan, "Mbak Alwa tanya saja nanti ke Pak David, maunya pakai gaya apa,"
"Kalau Mas Raka suka pakai gaya apa?"
"Saya lagi?"
"Hem, habis saya mau tanya ke siapa? Tanya ke Abi nanti dimarahi, dia bakal ngomong : kamu diajari siapa tanya banyak begitu, gaya biasa aja, saya lagi capek," Alwa menirukan ucapan David.
"Mbak Alwa pikirannya negatif terus, ih,"
"Jawab aja Mas,"
"Hem, saya suka gaya ... " dan Raka menyerahkan ponselnya, menunjukan folder koleksi gambar terlarangnya.
Alwa mengangguk serius. "Ini gaya di video Mbak Susan waktu itu, sepertinya sulit,"
"Itu harus pro dulu mbak, kalau biasa olahraga dan berat badan tidak berlebihan, bisa pakai gaya itu,"
"Efeknya gimana sih?"
"G-s*pot langsung terasa, yang laki juga lebih cepat penetrasi,"
"G-s*pot itu apa mas?"
"Itu adalah ... "
Dan diskusi ala orang dewasa berlanjut sampai satu jam kemudian.
(Sesi curhat mengenai hubungan intim ke orang lain apalagi laki-laki tidak dianjurkan ya teman-teman, lebih baik curhat ke suami sendiri, atau cari informasi di Mbah G*oogle, karena berdampak signifikan bisa mengakibatkan terjadi hal-hal yang nyeleneh. Namun, novel ini memang nyeleneh. Jadi mohon dibaca dengan pikiran terbuka. hehehe, Salam Damai)
__ADS_1