
David berlutut di sebelah sebuah pusara sederhana dengan batu nisan yang tertulis Suleyman Yudha Ravendale Bin Ahmad Ravendale. Makam kakaknya hanya berbentuk undakan tanah tanpa pagar dan tanpa keramik, namun bersih dan dikelilingi pohon rindang yang membuat sejuk udara di sekitar. Halaman di sekitarnya berupa rumput hijau tertata rapi, makam keluarga besar Ahmad Ravendale, Papa David. Namun saat ini hanya diisi oleh jasad Suleyman saja di sana.
Papa David menghampiri dengan sapu lidi di tangannya. Ia usai membersihkan dedaunan kering di sekitar. Sementara Mama David sedang sibuk di Yayasan Keluarga, ia sudah berkunjung minggu lalu. Tapi masih sempat titip kue cucur yang biasa dijual di kaki lima di depan pagar pemakaman.
Kedatangan David kali ini hanya ... entahlah. Sudah lama ia tidak ziarah. Dipikirnya untuk apa, toh berdoa bisa di mana saja dan dia sudah membayar pengurus pemakaman sangat mahal untuk sekedar membersihkan.
Tapi setelah menalak Alwa, dia malah ingin ke makam Suleyman.
“Biasanya di hari-hari tertentu banyak yang datang,” kata Papa David.
“Hem,”
“Orang-orang dari pengajian, teman-temannya, juga orang dari pemerintah dan organisasi Islam,”
“Saya tidak mau mendengar itu, Pah,” potong David. Ia tidak peduli siapa saja yang datang ke makam Suleyman, ia tidak ingin terlibat.
“Iya, Papa mengerti. Papa pun agak kewalahan kalau ditanya macam-macam, jawab saja sebisanya,” kata Papa David.
David sekali lagi menghela napas.
Dan ingatannya kembali ke masa lalu, saat ia dikabari dengan panik oleh Mamanya kalau Suleyman kritis.
3 tahun yang lalu,
David menegak habis Vodka di sloki keduanya sambil mengernyit, lalu menggunakan gelas itu untuk mendinginkan kepalanya. Ia tempelkan gelas berisi es batu berbentuk bulat itu ke dahinya sambil memejamkan matanya.
Sialan, Suleyman! Apa yang sebenarnya kamu lakukan!! Umpatnya dalam hati.
“More,” desis David.
“Nope, don’t do that,” Indra menjauhkan gelas itu dari tangannya. “We’re on a plane, you’re shouldn't get drunk like this. Tomorrow must be pengajian, and i don’t want to see you running around because of hangover,” sahut Indra.
“Just one more, please, i really need it,” keluh David.
“Errgh!” desis Indra. Dengan kesal ia melambaikan tangan ke pramugari meminta Vodka lagi. “Alcohol can increases fluid flow in the kidneys which results in dehydration. If we get caught at immigration because you're drunk, you'll take care of yourself.” Omel Indra.
“I don’t need exhortation,” desis David sambil menegak Vodkanya.
“Enough!” Indra merebut gelas di tangan Indra. “it’s Better we got fight and i will punch your face than i see you like this, Dave! Sh*it!”
“You don't know what I'm going to face,”
“I know, you know, i know your brother,and i know your Dad, and you know that i know,” desis Indra. “Dipikir cuma lu doang yang pusing? Kalo gue sampe kehilangan lo gue gagal kaya! Eyang Amara bakalan ngejek gue habis-habisan!”
“How do you know my brother? You never even meet him,”
“Dia terkenal di kelompok itu, kelompok yang ‘itu’, Keluargaku dari Arab, setengahnya dari Qatar, aku pasti tahu pergerakan kelompok yang itu, apalagi aku juga keturunan Deutsch,”
David mengerang mendengarnya, ia semakin pusing, “Shit! I need more drink,”
“No! No No No! Ish! Don’t do that! You will killed everyone if you drunk!”
“I will killed everyone, immediately,” geram David. “Start from you,”
“Ck! Sudah ah! Sudah cukup David Yudha, Sana tidur!” Indra menendang betis David.
Dan sampailah mereka, di rumah sakit, di ruang ICU yang letaknya tersembunyi. Rumah sakit itu milik keluarga Indra, jadi mudah bagi mereka untuk menempatkan Suleyman di tempat rahasia.
__ADS_1
“David, Kondisinya ...”
“Sst! Jangan bicara dulu, Papa. Biarkan saya masuk dulu,” sahut David sambil berjalan dengan langkah gontai ke ruang ICU.
Di sudut matanya ia melihat dua orang wanita yang menangis sesenggukan, Mamanya sedang memeluk mereka. Lalu beberapa orang dengan pakaian gamis putih-putih dan beraroma wangi khas parfum Arab, beberapa ulama, beberapa petinggi. Ia tidak mengenal mereka, jadi David mengacuhkannya dan masuk ke dalam ruangan tempat Suleyman dirawat.
Keadaan Suleyman,
Herannya, wajah kakaknya itu tidak tampak kesakitan. Mulutnya berkomat-kamit dan napasnya tersengal, tapi bibirnya tersenyum.
“Hei,” sapa David.
“Assalamu’alaikum, Bro,”
David tidak menjawab salam Suleyman.
“Dasar goblok!” dengus David.
“Aku sudah biasa dikatai begitu olehmu, suatu saat kamu akan mengerti,”
“Walaupun aku mengerti pun aku akan tetap mengata-ngataimu,”
Suleyman terkekeh sambil terbatuk-batuk.
“Tertembak di mana?” sahut David langsung,
“Di dada, menembus sebagian jantung,”
“Khalifahmu ada di depan?”
"Baguslah, kalau dia di depan aku akan meninju wajahnya,"
"Hehe,"
Mereka berdua tahu kalau David tidak bersungguh-sungguh.
“Lalu kau mau apa sekarang? Kalau meneruskan perjuanganmu, aku mundur. Aku golongan netral, bahkan hampir jadi agnostik kalau kau tidak panggil ke sini!” sahut David.
“Hehe, hanya kamu yang aku percaya di dunia ini,”
“Selain Khalifahmu?”
“Aku bisa saja menerima bantuannya tapi kau adikku, kau yang utama bagiku,”
“Omong kosong, Kalau kau menganggapku adik, kau tidak akan membahayakan posisiku,” gerutu David.
“David, Khilafah emas yang kami bangun ini ...”
“Jangan menceramahiku, aku akan habis-habisan menentangmu sampai kau mati. Aku golongan kapitalis, awas saja sampai kau jatuhkan harga sahamku gara-gara ideologi emasmu itu,”
“Iya iya, lagi pula aku memanggilmu untuk urusan lain, toh kau pasti akan segera mencari tahu mengenai diriku dan pergerakan kami,” Suleyman terbatuk. “David, dua orang wanita di depan itu, adalah istri-istriku ...”
“Hah? Sejak kapan kamu menikah? Sekaligus dua pula, kau pikir dirimu sehebat itu? Kamu bahkan tidak mengundangku, dan baru ingat padaku saat kau sekarat? Bagus sekali, Bro,”
"Kami sudah menikah sekitar tiga tahun, ini memasuki tahun keempat. Kami bertemu di panti rehabilitasi,"
"Panti ... Yang kamu maksud rumah sakit jiwa setempat ya?" tebak David.
__ADS_1
"Mereka adalah kaum yang disingkirkan masyarakat, dan keduanya belum siap akan jihad yang kujalankan. Aku sibuk dengan pergerakanku dan bahkan sering melupakan mereka. Seharusnya aku mengajarkan fiqih dengan lebih mendalam dan pelajaran lain, namun ternyata tidak sempat,"
Suleyman meraih tangan adiknya. dan menggenggamnya. Hangat dan terasa menenangkan hati David yang galau.
"Mereka tidak terlibat, tolong peristri mereka sampai mereka siap untuk mandiri,"
"Kamu gila? Mereka bukan seleraku, aku punya wanita yang kucintai,"
"Hanya kamu yang bisa melindungi mereka. Dari fitnah dan omongan masyarakat, dan dari kaum yang menentang kami,"
"Kamu minta bantuan ke anggota eksklusif dari kaum yang menentang pergerakan kalian,"
"Bagaimana? Brilian kan?"
"Sialan! Suleyman!! Kamu pikir nikah itu gampang?! Aku akan membiarkan mereka menggelandang di kolong jembatan saja! Enak saja kamu menyuruh-nyuruhku!"
"Makasih, bro. Aku sangat berterimakasih. Aku berdoa suatu saat kalian semua bisa memperoleh berkah yang melimpah dan bahagia selalu," desis Suleyman.
Darah di dadanya semakin deras mengalir.
"Aku memiliki sedikit warisan untuk Hanifah dan Alwa, kamu tahu dimana, itu brankas rahasia kita," Sahut Suleyman.
David hanya diam sambil menarik napas. Ia tahu kakaknya sedang sakratul maut
"David, maafkan aku karena mendiamkan kamu. Kita berada di jalan yang berbeda, tapi aku selalu teringat padamu,"
"Jangan menyuruhku bertobat,"
"Tolong sering-sering bacakan istighfar untukku ya,"
"Bodo amat!"
"Hehe," Lalu lantunan ayat segera keluar daei bibir Suleyman. Sesaat suara mesin penyambung hidupnya mengeluarkan suara aneh yang panjang.
David hanya menitikkan air mata melihat kondisi kakaknya itu. Pintu ruang ICU terbuka dan jajaran dokter masuk ke dalam. Ia bisa mendengar suara Mamanya menangis histeris di luar. Namun semua bagaikan mimpi, waktu seakan berhenti hanya di sekitar David. pria itu hanya mampu berdiri mematung sambil menatap Suleyman yang perlahan memejamkan matanya sambil menyunggingkan senyum penuh kelegaan.
Dan ingatan David pun kembali ke masa kini.
“Dua orang istrimu akan segera kulepas saat mereka sudah bisa berdiri sendiri. Aku mencintai orang lain. Pernikahan tanpa cinta yang tumbuh, hanya akan membawa sengsara. Jadi aku tidak bisa mempertahankan mereka terlalu lama.” David berdiri sambil membersihkan tanah yang menempel di lututnya.
Senyum sedih tersungging di wajah David, “Aku berhasil meyakinkan mereka bahwa Alwa dan Hanifah tidak terlibat dalam pergerakanmu. Warisan darimu akan kuberikan sebagai nafkah terakhir saat talak telah disahkan pengadilan. Kudengar, teman-temanmu mulai memasuki pemerintahan. Jadi kami, kaum pengusaha harus mencari cara lain agar pundi-pundi rekening tidak terganggu. Alwa telah kulepas, tinggal Hanifah. Aku akan tunggu sampai dia siap. Aku melakukan yang kubisa untuk melindungi mereka, sesuai amanah darimu,”
Pembaca tercinta,
Kondisi mengenai pergerakan gerilya yang dilakukan Suleyman tidak akan dijelaskan lebih lanjut karena merupakan topik yang sensitif dalam keadaan politik dan ekonomi negara kita, sedangkan tema novel ini adalah komedi dan bersifat netral untuk semua agama dan kepercayaan.
Tentu saja Papa dan Mama Suleyman tidak mengetahui aktivitas anaknya ini sampai saat Suleyman dibawa ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Semua bilang Suleyman kecelakaan, tapi di akhiir jumpanya, Suleyman menjelaskan semuanya ke Papa Mamanya. Sementara David sebenarnya sudah lama tahu mengenai kakaknya, dan itu juga salah satu alasan kenapa David menjauhi keluarganya dan memilih tinggal di Amerika.
Untuk keamanan semuanya, baik pembaca maupun Author, kisah Suleyman akan terhenti di sini. Berikutnya saatnya cinta-cintaan absurd lagi.
Sekarang semua tahu kenapa Suleyman yang termasuk pejuang khilafah memiliki dua istri yang rasanya tidak terlalu dalam memahami agama Islam. Karena pernikahan mereka yang singkat, dan Suleyman disibukkan dengan organisasinya yang menuntut waktu 24 jam 7 hari. Belum lagi butuh waktu sekitar 2 tahun untuk pemulihan mental Alwa dan Hanifah sehingga mereka tidak bisa menerima informasi terlalu terburu-buru. Ketiganya bahkan jarang bertemu, namun ketiganya saling mencintai.
Karena itu, Alwa dan Hanifah lebih sering mempelajari mengenai Islam lewat internet. Semua informasi tumpah ruah di sana dan seringkali mereka kesulitan memilah-milah. Juga gaya hidup mereka yang tidak sepenuhnya syar'i karena pengaruh dari David yang menganut budaya barat.
Terlebih, usia mereka masih terbilang sangat muda. Mereka masih 23 tahun, masih ingin bersenang-senang, merasakan cinta, masih sering berangan-angan bergaya hedon ala sosialita, masih sering ngambekan, bahkan membaca novel romantis.
David hanya menjaga akhlak kedua istrinya dengan meniru kebiasaan Suleyman, tapi David bukan Suleyman.
__ADS_1