The Bitter Three

The Bitter Three
Ngeteh Cantik


__ADS_3

Minggu demi minggu dijalani dengan tenang.


Hanifah yang kikuk, mendapat tugas untuk mengurusi bagian pastry. Di lain hari saat cafe kekurangan orang, ia juga mengurusi bagian pelayanan.


Berbagai ilmu mulai dia serap, dan selama seminggu ini Hanifah menjalaninya dengan senang hati. Yang paling ia suka adalah wangi pastry di pagi hati dan pasta di siang hari.


Benar kata Susan, resep Galuh memang setingkat Chef dengan reputasi Michelin, dan karena Hanifah juga berminat di bidang kuliner sontak hal ini membuatnya merasa bahwa masih sangat banyak yang harus ia pelajari.


Namun, selama manusia masih hidup, pasti akan selalu ada masalah.


Dan masalah Hanifah biasanya datang saat ...


"Lihat deh, ada ninja,"


"Duh, padahal ini cafe favoritku, tapi ada ekstremis di sini, jadi nggak nyaman,"


"Iya ya jadi takut nongkrong di sini, tau-tau ada Densus 88 menggrebek gimana,"


"Ngapain pake cadar begitu? Ini bukan di Arab kali, sana balik aja ke negaranya sendiri! Tampang ndeso aja sok-sokan timur tengah,"


"Emang di Indonesia ada badai pasir ya sampe di tutup semuanya?"


"Biasanya yang begitu malah sebenarnya nggak terlalu cantik, cadarnya dibuka juga paling tampangnya standar,"


Dan begitulah pandangan julid orang-orang saat melihat Hanifah di cafe Galuh. Sebenarnya ucapan semacam itu sudah sering di dengar Hanifah. Dan tidak ada gunanya juga membela diri, hanya akan buang-buang tenaga.


Permasalahan tersebut juga di dengar oleh Susan.


Jadi,


Pada hari Sabtu yang cerah di kala weekend, minggu depannya, setelah melalui hari-hari dengan berbagai kecaman dan RUPS yang membuat Galuh semakin tidak bersemangat akan hidupnya,


Susan Tanudisastro yang seksi, cantik, kulit seputih tembok, belahan dada membusung, turun dari mercinya dan memasuki cafe Galuh.


Saat itu sedang banyak sosialita yang membicarakan Hanifah, si wanita bersahaja yang kalem.


Kedatangan Susan seketika mengalihkan perhatian mereka dari Hanifah.


"Sst, Jeng! Itu Susan Tanudisastro! Istrinya David Yudha!"


"Wow! Itu Dior yang kemarin dipakai Bella Hadid loh jeng!"


"Dada bisa mengkel gitu diapain ya, berapa liter silikonnya?!"


"Kayaknya kulitnya nggak ada pori-porinya jeng! Licin!"


"Kan dia istri konglomerat, ya ada yang bayarin buat perawatan lah!"


"Kebanting banget penampilannya sama si ninja yang di sana ya,"


Begitu bisik-bisik pelanggan julid di sana.

__ADS_1


Namun mereka langsung bungkam saat,


"HA-NI-FAAAAAH!" Susan menyapa Hanifah dan memeluknya lalu menariknya ke salah satu kursi disana.


Hanifah yang masih dengan kanebo kuningnya terseret-seret dan harus pasrah dengan tarikan Susan yang tanpa kompromi.


"Duh, Mbak! Assalamu'alaikum, Aku lagi kerja ini," keluh Hanifah.


"Salam. Break sebentar kenapa sih?! Kamu kan bukan kerja paksa!"


"Bu Susan, tolong jangan berisik," gumam Galuh yang berada di balik kasir, sedang cash count.


"Lah kenapa ngambekannya Ipah jadi nular ke Galuh?" desis Susan sambil duduk dan menyilangkan kakinya. Otomatis ****** ***** sutranya terlihat gara-gara roknya yang sangat pendek.


Hanifah menutupinya dengan kanebo.


"Woy! Pake taplak bersih dong! Masa pake kanebo sih Ipah!" Susan menepis kanebo dengan jijik.


"Buru-buru Mbak," kekeh Hanifah. "Mau ngemil apa, nyonya?" candanya.


"Mau croisant zaitun doooong, saya juga lagi nunggu Sisca. Kamu kenal kan dokter kulitnya Alwa?"


"Ya Mbak, kemarin sudah saling kirim WA, aku juga minta skincare dari beliau karena kulit Alwa jadi mulus. Aku jadi tergoda juga deh buat pakai,"


"Alwa lagi menuju ke sini ya. sekalian dia mau konsultasi sambil ngeteh can..."


"Kak HANIIIIIIII!" Sembur Alwa. Ia langsung menghambur ke pelukan Hanifah, "Gara-gara Kak Hani pulang malem terus, kita jadi jarang ketemu! Aku dijadiin bahan sindiran melulu sama nyonyah! Mana Abi nggak pernah belain lebih sering ngetawain!"


"Masakan kamu tuh nggak enak! Masa enakan masakan David sih! Payah kamu!" seru Susan sambil menoyor dahi Alwa.


"Lah sekedar ceplok telor mah bisa! Ini kamu ceplok telor sambil teriak-teriak kecipratan minyak! Padahal kamu pake hijab kan seharusnya terlindungi!"


"Tapi Mbak Susan juga aneh! Ceplok telor minjem helmnya sekuriti!" Seru Alwa


"Nggak lagi-lagi deh mending kecipratan minyak, bau ketombe dua kali krimbat nggak ilang-ilang baunya!" omel Susan.


"Taburi tepung terigu di minyaknya sedikit, lalu kecilkan apinya," sahut Hanifah.


Alwa dan Susan terdiam, lalu saling bertatapan.


"Tuh, Wawa! Dengerin tuh!"


"Mbak Susan bukannya cari info di google malah ngomelin aku, sih!"


"Ya itu kan tugas kamu!"


"Bantuin dikit aja kenapa sih! Baweeelll melulu kerjanya!"


Semua pelanggan cafe sibuk memperhatikan kedua sosok yang ganjil itu. Susan yang berpakaian seksi ala wonder woman bertengkar dengan Alwa yang berpakaian syar'i lengkap dengan niqabnya, perihal telor ceplok.


"Siang-siang begini cafenya Galuh rame juga yaaa," Sisca masuk ke cafe dengan gaya. Bajunya yang motif bunga-bunga menambah elegan sosoknya, namun yang paling mencolok adalah liontin berbentuk salib berukuran 5cm, dipenuhi berlian yang berkilau di dadanya.

__ADS_1


"Haishhh!! Silau! Aku minder maksimal!" keluh Alwa sambil pura-pura melindungi matanya saat Sisaca datang.


"Ceile, Lucifer juga kabur kali, ngeliat salib lo berkilauan begitu," dengus Susan.


"Dokter ini ternyata religius juga ya, sampai liontinnya panjang bisa buat nusuk orang," balas Alwa.


"Sugar Daddynya lagi loyal kayaknya," sahut Susan lagi.


"Ih, pada sirik aja deh! Minta sana sama David!"


"Mbak Susan, beliin dong yang berliannya banyaaak! Kalo Abi pasti bakalan bilang : lebih banyak mudharatnya Alwa, nanti kamu diincer perampok," rayu Alwa sambil ngusel ke Susan.


"Ya kamu mau pake dimana?! Di balik jilbab mana keliatan Wawaaaaa?! Kebanting sama Niqab!"


"Ih, kan ada yang versi bros Mbak. Aku suka yang bentuknya love-love gitu,"


"Sana beli sendiri! Makanya kerja kayak Hanifah! Lagian, kamu nih diajarin sapa sih jadi genit begitu," Susan mencubit area pipi Alwa tapi nyatanya hanya cadar yang nyangkut di kukunya.


"Meleset weeek," goda Alwa.


Sementara Hanifah sibuk mengamati liontin salib Dokter Sisca yang berkilauan sambil berulang kali membolak-baliknya. "Keren deh," pujinya. "Cocok dipakai Dokter, jadi tambah glowing,"


"Ya ampun Hanifah! Kamu ternyata manis yaaa, beda sama duo comel yang di sanaaaa,"


"Duh, menohok!" sahut Alwa sambil memegangi dadanya.


"Ini tuh kritik membangun! Lo tuh terlalu mencolok!" sahut Susan.


"Ini croissant zaitun dan teh mawarnya," potong Galuh. Pria itu mendekat sambil membawakan 4 croisant dan cangkir teh, lalu meletakkannya dimeja mereka.


"Astaghfirullah, aku lupa ambilkan, jadi merepotkan Mas Galuh!"


"Mbak Hani istirahat saja dulu, dari pagi kan kerjanya nonstop, belum sempat makan, kan?"


"Eh, i-iya Mas. Nanti biaya makannya dibebankan saja dari gaji saya,"


"Nggak papa, ini saya traktir," kata Galuh.


Sisca melirik Susan, Susan melirik Alwa, Alwa melirik Sisca.


"Bini orang tuh woi ... " gumam Sisca dengan suara pelan tapi masih terdengar Galuh.


"Ada apa sih ini? Kok aku seperti ketinggalan sesuatu?!" kata Alwa merasa aneh.


"Sudahlah, lebih baik kamu nggak tahu, Wa," desis Susan sambil bertopang dagu.


"Traktirnya buat jatah Mbak Hani aja, yang lainnya pada bayar ya! Nggak ada kasbon! Pada punya laki sultan, kan!" sahut Galuh sambil beranjak kembalinke balik konter.


"Ah, Sisca ember sih!" Omel Susan. "Udah tau sekarang Galuh tuh PMS tiap hari!"


"Yah Mas Galuh, aku kan dibagi tiga sultannyaaaaa, dispensasi keeeekk," keluh Alwa.

__ADS_1


Galuh hanya menyeringai jahil.


Keempat wanita di depannya ini, dengan gayanya masing-masing, mengobrol dengan santai bagaikan saudara, menampilkan silaturahmi yang menyejukkan.


__ADS_2