The Bitter Three

The Bitter Three
Alwa Sedang Treatment


__ADS_3

"Kamu ini ... " tapi David bahkan kehilangan kata-kata. Mereka sedang dalam perjalanan menuju gym langganan David. "Buka biro jodoh saja gimana?"


"Ah! Kamu mainnya nggak cantik! Ada cara agar hidup mereka tetap terjamin, tetap memiliki suami, tapi juga tidak melanggar amanah Suleyman," sahut Susan sambil menebalkan lipglossnya.


"Kita tidak yakin mereka akan cocok atau tidak,"


"Aku masih memiliki kandidat lain,"


"Dasar," lalu David menghela napas. Percuma berdebat dengan Susan, pasti wanita ini tidak akan mau kalah.


Jalanan ibukota di pagi hari lumayan ramai. Para pejalan kaki menikmati keindahan kota di masa weekend, jalur mobil dialihkan, jadi jarak ke tempat tujuan memang lebih jauh. Namun banyak yang akan mereka perdebatkan, jadi kemungkinan tidak akan terasa membosankan.


"David," panggil Susan.


"Apa?"


"Apa kamu sedang merasa ditimpa kesialan karena dosa masa lalu?"


Terdengar kekehan pria itu, "Aku sering merasa begitu," ujarnya. "Aku berusaha memperbaiki tingkah lakuku sedikit-sedikit. Terus terang saja, aku belajar banyak dari Alwa dan Hanifah mengenai adab dan fiqih. Suleyman mendidik mereka dengan baik,"


"Mereka berdua," Susan menggelengkan kepalanya, "Sekilas terlihat menyedihkan, namun mengagumkan dengan caranya sendiri,"


David mengernyit. "Wah wah, ada apa ini? Seorang Susan memuji sesuatu?"


"Hey, walaupun begini aku bisa bersikap sportif, loh!" Protes Susan. David hanya tersenyum.


"Kamu nggak capek ya mendebat segala hal?" tanya David.


"Hm, sudah tabiatku. Buruk sih, tapi sering tidak terkontrol," gumam Susan.


"Hem,"


Perjalanan mereka di Sabtu pagi ini, terasa menyegarkan. Ada kelegaan yang mendera, yang sudah terpendam selama ini sudah dikeluarkan.


"Susan," gumam David.


"Apa?"


"Kamu wanita pertamaku,"


"Yah, coba lebih diperjelas,"


David menarik napas panjang. "Mulanya Aku kaget saat Suleyman menyerahkan Alwa dan Hanifah. Aku juga memiliki type wanita idaman dan mereka sama sekali bukan seleraku. Pemikiran mereka sederhana dan cenderung membosankan, Hanifah pendiam dan suram beraura gelap, Alwa ceria namun menyimpan kesedihan penuh kepalsuan, gaya mereka monoton khas orang desa, dan aroma mereka tidak sedap. Aku rasanya ingin lari saja waktu itu,"


"Tapi kamu tetap menikahi mereka,"


"Aku terlanjur berjanji dalam suasana panik. Hal itu sebenarnya gegabah. Setelah selesai masa iddah, Aku bahkan tidak konsentrasi saat akad. Dan hebatnya aku bertahan 1 bulan tinggal bersama mereka,"


"Selama 1 bulan kamu menghindari malam pertama?"


"Alasanku, aku masih berkabung. Tampaknya mereka berdua juga sangat kehilangan Suleyman. Namun masalah datang saat Papaku bertanya. Apalagi disertai wejangan bahwa batas waktuku 3 bulan untuk memberi mereka nafkah batin. Astaga! Aku nggak sanggup kalau harus membayangkannya!"


"Masalahnya, kamu tinggal di Amerika, dan standar kecantikan di sana lumayan tinggi," kata Susan.


"Begitulah," David mengangkat bahunya. "Lalu ada acara pameran itu, aku diundang Papa Kamu. Dan aku melihat kamu untuk pertama kalinya. Namun karena berstatus menikah, aku cuek saja. Apalagi pikiranku sedang tidak konsentrasi,"


"Bagaimana kita bertemu?" tanya Susan. Wanita itu benar-benar tidak ingat.


"Setelah 1 bulan tinggal serumah aku mulai berani berbincang. Tidak lucu tinggal serumah tapi saling diam saling canggung. Mereka ternyata cukup menyenangkan. Dan setelah kami semakin akrab, Alwa menanyakan mengenai malam pertama. Aku tiba-tiba merasa takut dan kabur ke Amerika malamnya, dengan alasan bisnis,"


"Ya ampun," Susan mengelus dahinya. "Kamu beneran nggak sopan,"


"Wajah mereka memang manis dan alami belum tersentuh produk kimia apa pun, tapi aku tetap saja tidak sanggup. Apalagi aku tidak mengenal mereka sama sekali! Aku bukan jenis pria yang celup sana-sini walaupun sudah terbiasa melihat dada dan paha terekspose,"


"Astaga, David," Seharusnya Susan senang mendengarnya karena mereka sedang menggibah, namun nyatanya Susan malah lebih ke sedih saat mendengar curhatan David.


Kalau begini sih sudah parah. Apa perlu aku tambahi biaya perawatan Alwa?! Sejujurnya aku ingin mereka juga bisa tampil cantik, karena jadi cantik adalah impian setiap wanita. Pikir Susan bertekad.


"Dan saat pelarian kamu, kita bertemu," kata Susan.


"Iya. Untuk melupakan mereka, aku biarkan saja kamu menggodaku. Walaupun aku juga terbayang bagaimana wajah Papa kamu saat tahu putrinya sedang bersamaku, di casino pula, di Kota Dosa (Las Vegas dijuluki Sin City), bayangkan kalau Papa kita tahu, bisa-bisa aku langsung dipecat jadi anak!"


"Dan setelah kita bercinta? Bagaimana?"

__ADS_1


"Aku mulai bisa menghadapi mereka,"


"Dengan membayangkan aku,"


"Iya,"


Susan menghela napas sedih. "Itu sebabnya kalian tetap berpakaian saat bercinta?"


"Iya,"


Susan kembali menggelengkan kepala. Benar-benar miris.


"David, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Ada banyak taman kota untuk bersantai sambil jalan kaki sembari mengobrol," usul Susan.


"Hem, boleh juga," gumam David.


-----***-----


"Waaaahhhhh," Alwa memandang semuanya dengan mata berbinar. Orang-orang berlalu lalang berjalan sambil joging di Ecopark Ancol. "Indah sekaliiii, Ma syaa Allah!"


"Lumayan kan mbak sambil kita nunggu klinik buka, jalan-jalan di sini?" sahut Raka.


"Iya! Iya!" Alwa mengangguk bersemangat. Cadarnya melambai ditiup angin sepoi. "Selama ini saya hanya lihat di iklan, nggak nyangka sampai juga saya di sini! Ayo kita jelajahi!"


"Siap!" seru Raka bersemangat.


Dan mereka pun berjalan beriringan menikmati taman di dalam area joging track.


Raka bercerita macam-macam mengenai pekerjaannya. Dan Alwa juga bercerita mengenai kesehariannya. Mereka bertukar pikiran, sampai pada obrolan,


"Aku takut sama Abi, kadang aku iri melihat Mbak Susan bisa akrab dengan Abi," kata Alwa.


"Bu Susan akrab dengan siapa saja, Bahkan dengan Galuh yang sedingin biang es. Saya saja butuh penyesuaian lama agar bisa bersinergi dengan Galuh," Kata Raka.


"Tadinya saya pikir karena Mbak Susan cantik, jadi dia meluluhkan hati banyak orang. Namun ternyata saya salah,"


"Hem, kadang liciknya ngalah-ngalahin ular sih,"


"Hih! Mas Raka ini loh! Jangan kurang ajar begitu, dia banyak menolong kita!" kata Alwa.


"Mbak Alwa mencintai Pak David?" tanya Raka tiba-tiba.


Alwa hanya diam.


"Mbak Alwa, untuk menumbuhkan rasa cinta, perlu keikhlasan dan ... "


"Komunikasi. Iya Mbak Susan sudah pernah membicatakan hal itu," potong Alwa. "Bagaimana cinta saya bisa tumbuh kalau sikap Abi selalu dingin ke saya, Mas? Seandainya dia sehangat Mas Raka saya pasti sudah nempel kayak nasi keinjek di telapak kaki,"


Raka terbahak, "Ya ampun kiasannya," katanya di sela-sela tawanya.


"Saya ingin dandan tampil cantik, agar mencairkan kebekuan hatinya. Ya saya kan istrinya juga Mas, sudah kewajiban saya untuk menyenangkan hatinya. Saya ingin melihat Abi tersenyum karena saya. Seperti dia tersenyum saat bersma Mbak Susan,"


"Oh, jadi ini masalah 'pekerjaan', begitu? Karena sudah tugas Mbak Alwa sebagai istri?"


"Iya, begitulah,"


"Waktu sama Abi Suleyman juga begitu?"


Alwa menggeleng. "Abi Suleyman memperlakukan saya dengan mesra,"


"Walaupun kemesraan itu dibagi dengan Mbak Hanifah?"


"Saya ikhlas menjalani,"


Sampai sini, Raka tidak ingin masuk lebih dalam ke kehidupan Alwa. Karena rasanya dia sudah terlalu banyak bertanya mengenai kehidupan rumah tangga orang lain. Sudah bukan porsinya lagi.


Jadi demi kesopanan, dia mengalihkan pembicaraan


"Mau sarapan apa Mbak Alwa?"


"Di sini jual pecel nggak?"


-----***-----

__ADS_1


"Mbak Alwa, dengan saya tidak usah canggung ya. Kalau sakit atau lecet bilang saja jadi saya tahu obat apa yang harus saya beli," kata Raka sebelum Alwa masuk ke ruang khusus waxing.


"Mas Raka ini tahu hal-hal begini ya? Mbak Susan sering ke sini?"


"Bu Susan menghilangkan bulu di tubuhnya dengan metode laser treatment, namun harganya bisa buat DP Mobil dan itu tidak hanya sekali. Ada rangkaian lain yang ribetnya ngalah-ngalahin proses persidangan koruptor,"


"Mas Raka sendiri pernah masuk ke dalam?" tanya Alwa.


"Tidak. Buat apa? Saya tahu tempat ini juga dari internet," Raka menyeringai.


"Jadi, kita sama-sama tidak tahu prosesnya nih?!" Alwa mulai ketakutan.


"Mbak Alwa, pengalaman itu guru terpenting. Kalau tidak dicoba, mana kita tahu?" Raka menyeringai dan mendorong lembut tubuh Alwa supaya memasuki ruang khusus.


"Minum Mas?" seorang operator menawari Raka minum saat ia berada di ruang tunggu.


Raka hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Sedang nunggu istrinya ya Mas?" tanya si operator mencoba akrab.


"Hem, iya," Raka menjawab dengan simple agar tidak ditanya-tanya lagi.


"Oh, hehe, silahkan Mas diminum," dan si operator menjauh. Namun Raka bisa mendengar bisik-bisik di ruangan depannya,


"Yah, beneran bininya tuh! Yang pake cadar tadi,"


"Ah, gue pikir sodaraan doang, mana ganteng banget lagi,"


"Tapi dia pake tatto loh, bininya pake cadar. Kebanting banget nggak sih?"


"Mungkin lakinya bekas penjahat udah tobat, terus tobatnya gara-gara bininya,"


"Aaah so sweett banget tauuuu!"


"Kata orang treatmen, bininya tampangnya biasa banget. Ya manis tapi polos tampangnya, dan tingkahnya ndeso gitu kayak panikan,"


"Hem, aneh ya,"


Raka mendengar semua perbincangan dalam diam. Biar saja lah, ia sudah biasa digosipin. Ia berkali-kali disukai banyak wanita, atau laki-laki, dan sepertinya semua terasa tidak pas. Jadi di usianya sekarang, ia memutuskan untuk single saja dulu. Julukan Selir Bu Susan juga kerap menempel ke dirinya dan Galuh.


Karena keduanya memang memiliki paras diatas rata-rata dan mereka kerap berada di sekitar Susan.


"ASTAGHFIRULLAH!! LAA ILAHA ILLALLAH!!"


"Ohok!" Raka tersedak tehnya. Itu teriakan Alwa.


Jadi pria itu panik dan langsung masuk ke ruang treatment.


"Kenapa? Ada apa??" seru Raka.


Alwa, dalam keadaan absurb dan kedua paha membuka, memperlihatkan kewanitaannya dengan jelas terpampang. Dan posisi si therapyst sedang menarik kain waxing dari ...


GRETT!!


"ASTAGHFIRULLAH!! SAKIT MBAK! Mas Raka ngapain di siniiiiii???" jerit Alwa, namun ia sedang dalam posisi tidak bisa bergerak.


"Sori. Dikiranya Mbak Alwa kenapa-napa," Raka langsung keluar dari ruangan dengan wajah memerah.


"Ya ampun," terbayang bagian pribadi Alwa di benaknya. "Aduh! Gawat!" dan pria itu ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Sekitar 15 menit kemudian, semua bulu di tubuh Alwa sudah tercabut, dan diberi lotion khusus agar mengurangi rasa perih. Alwa keluar ruangan dengan canggung.


Raka meliriknya, namun sekilas. Setelah itu kecanggungan langsung terjadi.


"Lihat ya," tuduh Alwa.


"Maaf,"


"Sejauh apa lihatnyaaaa?"


"Semuanya,"


"Ergh!" keluh Alwa.

__ADS_1


Raka menghela napas.


__ADS_2