
Alkisah perjalanan berliku dari Alwa dan Raka.
Sang wanita bersahaja, ceria, polos dan naif, sangat menghormati suaminya.
Dengan pria mantan preman, playboy tukang celup yang sudah sedikit bertobat, namun setia mengikuti bossnya kemana-mana.
Saat ini status mereka adalah sahabat. Raka menyukai Alwa namun hanya sebatas itu. Ada tersirat dalam hatinya ia akan mencari istri yang seperti Alwa, karena di pikirannya sudah saatnya mencari surga.
Hari ini, setelah 5 hari bekerja di kantor dengan tekanan kerja yang melelahkan, ditambah Galuh yang sibuk kesana kemari mengurusi serah terima jabatan, sehingga Raka juga kena imbas sindiran karena merupakan sahabat karib Galuh, Raka setengah bengong menatap hujan yang turun dengan derasnya dari jendela rumah kontrakannya.
Dia dalam kondisi standby mode, kalau diibaratkan komputer.
Sesekali menyeruput kopi panas dari cangkir putihnya, hanya memandangi titik air yang turun membentur jalanan gang depan rumahnya.
Ia baru bangun tidur, dan sekarang pukul 10 pagi. Rambutnya acak-acakan, telan-jang dada, hanya berbalut boxer putih tipis kesayangan yang robek sedikit di bagian bokongnya akibat terlalu sering dipakai.
Bukan apa-apa, dia banyak punya boxer bermerk. Tapi memang yang paling nyaman di hari libur adalah bahan tipis robek-robek.
Ia baru bisa tidur setelah sholat subuh karena harus mengerjakan laporan triwulanan. Pengerjaannya cukup lama, dua hari berkutat baru dapat pencerahan subuh tadi. Karena biasanya Galuh yang mengerjakan, dia hanya terima jadi dan memproses. Ternyata memang sangat sulit kalau dikerjakan sendiri.
Belum rekan-rekannya di kantor dalam kondisi tidak bisa diajak kerjasama karena Raka sedang dimusuhi. Antek Boss, katanya.
Boss yang mana? Yang baru atau yang lama?
Atau malah dia sebenarnya, tanpa sadar sudah jatuh ke dalam perangkap David Yudha buat jadi karyawan gratis dadakan?!
Jadi saat ini Raka merasa dibodohi, karena memiliki 3 Boss. Susan, David dan Galuh.
Dan pria itu pun menonaktifkan ponselnya selama weekend, minum kopi panasnya, dan memandang hujan sambil merenungi hidupnya.
Aku butuh istri, pikirnya sendu.
Tunggu, berapa usiaku? 29 tahun yang hampa! pikirnya lagi.
Aku butuh wajah sumringah di saat weekend, bermalas-malasan di sofa sambil menonton tv, main game sambil diomeli, dan ada suara merajuk 'Ayang, pulangnya bawain martabak ya!' kalau aku pulang kerja kemaleman, pikir Raka selanjutnya.
Mimpi seorang pria yang secara finansial sudah mapan, ternyata sesederhana itu.
Dan inilah Raka, pria yang sekujur tubuhnya bertato, dengan pengalaman hidup yang keras, baginya duduk di belakang meja mengutak-atik komputer lebih melelahkan dibanding harus berkelahi.
Ibu angkatnya sudah SMS minggu lalu, "Bang, cobalah kau telpon si Rodiyah, anaknya manis, kok!"
Siapa pula Rodiyah?! Kata adiknya, Rodiyah itu bunga desa anak Pak Camat.
Hih, kenapa jadi main jodoh-jodohan?! Memangnya dosa ya di usia 29 tahun menjomblo?!
__ADS_1
Raka terus berpikir sambil ngedumel dalam hati.
"Bapak sih tak masalah kalau kau jomblo, asal nggak mainin cewek aja!" itu kata bapak angkatnya, di saat yang berbarengan dengan SMS ibunya.
Suami-istri yang sangat kompak yaaaa. Kompak menyebalkannya! renung Raka sambil cemberut. Tahu saja bapaknya kalau ia suka gonta ganti pacar.
Belum adiknya kirim WA, sekitar 3 hari lalu, begini isi WA dari adiknya,
Adik Perempuan Raka : Bang, semua biayanya 60juta, udah mewah banget bisa pesta 3 hari 3 malem!
Raka : Kau ini ngapain sih 19 tahun sudah nikah-nikahan?!
Adik Perempuan Raka : Lah! Emang ngapa?! Daripada dipitnah melulu mending aku nikah!
Raka : Abang kan jadi dikejar-kejar dateline nikah juga Julehaaaaaa!
Adik Perempuan Raka : Cepet nyusul Bang! Aamiin! (Emoticon julur lidah)
Dan Raka pun mengirimkan dana biaya resepsi sebesar 100juta ke adiknya sambil berharap semuanya bungkam terhadap kalimat sakti : Kapan Nyusul?!
"Itu abang lebihin, tapi mingkem ya! Awas nanya 'Kapan Nyusul' abang tarik lagi prasmanannya!" ancam Raka saat menelpon Juleha, adik angkatnya.
"Iyaaaa nanti di depan kantor balai kota ada baliho tulisannya : dilarang nanya 'Kapan Nyusul' ke Bang Raka, Ingat Para Warga Kampung Lestari! Ingaaat!!" ujar Juleha sambil terkekeh.
Sebenarnya Raka malas luar biasa datang ke resepsi pernikahan, tapi apa boleh buat, itu pernikahan adiknya.
Masalahnya, dirinya tidak memiliki pendamping. Kalau datang sendirian pasti jadi incaran para emak-emak yang mengajukan anak gadisnya buat jadi calon mantu ibunya!
"Apa kuajak Sisca aja?" gumam Raka.
Jangan, ah! Nanti malah bikin heboh. Sudah seksi, cindo, beda agama pula, bisa-bisa aku langsung diruqyah sama Bapak! Pikir Raka.
Harus wanita yang bersahaja, berhijab, santun dan manis, dengan senyum memikat dan tingkat kesopanan level tinggi.
Seperti ...
Siapa itu yang lari-lari di tengah hujan pakai gamis hitam-hitam?!
Raka memiringkan wajahnya melihat seseorang masuki gangnya sambil berlari. Sudah jelas seorang wanita dilihat dari pakaiannya.
Sosok itu tampak kebingungan melihat ke kanan dan kirinya, lalu bertanya ke para bapak-bapak yang sedang ngaso di pagi hari di pos ronda.
Dan, para bapak-bapak menunjuk ke arah rumah Raka.
Raka makin mengernyitkan alisnya.
__ADS_1
Siapa wanita itu?! Pikirnya.
Lalu wanita itu berjalan menuju ke rumahnya.
Saat sudah lebih dekat, Raka baru bisa melihat wajah wanita itu dengan lebih jelas. Dan seketika pria itu langsung meletakkan gelas kopinya dan menuju pintu.
Lalu membukanya dengan kaget.
"Mbak Alwa?" sahutnya kaget.
Alwa dalam keadaan basah kuyub, gemetaran, dan wajahnya terlihat sangat sedih.
"Mas Rakaaaaaa!! Huwaaaaa!!!" serunya merengek sambil langsung memeluk Raka.
"Haisss!! Buset," gumam Raka lebih kaget lagi.
Saking terlalu tiba-tibanya kelakuan Alwa, Raka sampai-sampai kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di lantai.
"Cieee Rakaaa, tumben cari pacar ukhti!" seru bapak-bapak dari pos ronda, di tengah derasnya hujan pagi itu.
"Pulang sono bantuin bini lo masak!" seru Raka membalas ucapan mereka.
"Jiah! Ke gep ngambek!" ejek para bapak-bapak di pos ronda.
Raka menatap tubuh basah kuyup yang sedang nemplok seperti bayi koala, memeluk erat tubuhnya tanpa peduli konsekwensinya.
"Mbak Alwa, kok di sini?" tanya Raka hati-hati.
"Semua sia-sia Maaas! Sia-siaaaaaaa! Huwaaaaa!!" jerit Alwa histeris.
Raka menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Mas Raka hapenya nggak aktif! Kenapaaaaa huwaaaaa!!" seru Alwa lagi.
Raka langsung mencibir. Di hatinya sedang merasakan firasat buruk, kalau sekali lagi dia akan terlibat dalam persoalan rumah tangga orang lain.
"Iyaaa, lagi tak ingin diganggu," desis Raka.
Alwa mengangkat wajahnya, matanya yang penuh air mata dan sudah bengkak menatap Raka dengan frustasi, "Jadi saya mengganggu ya Mas?"
"Mbak Alwa sadar tidak sih kalau lagi duduk di atas adek saya? Itu dia jadi bangun tuh," Gumam Raka.
"Adek? Mana?" Alwa tampak menoleh ke kanan-kiri mencari Sang Adik yang disebut Raka barusan.
Raka menarik napas panjang, berusaha mengendalikan kesabarannya, akal sehatnya, dan tentu saja hawa nafsunya.
__ADS_1