
David dan Susan tiba di rumah sekitar pukul 21.00, saat itu kebetulan Galuh sedang berada di depan pagar dan mengobrol dengan beberapa sekuriti.
David mengernyit melihat Galuh. Hari Sabtu di jam semalam ini, mau apa Galuh di rumahnya?
Sontak hati David diliputi kekesalan karena pria di depannya itu telah melanggar batas teritorinya.
Susan menghentikan David saat pria itu mau keluar dari mobil dan melabrak Galuh.
"Galuh dan anak-anak sudah di rumah sejak sore. Dia memasak bersama Hanifah untuk anak-anak. Kalau menegur, jangan sampai terdengar Vini dan Vici,"
"Anak-anak? Apa lagi rencana kamu?" David memicingkan mata. Ia kali ini benar-benar tidak habis pikir mengenai cara Susan mengacak-acak teritorinya.
"Kamu tahu sejak sore? Dan tidak memberitahuku?! Susan! Kamu tahu mereka ada di dalam rumahku sekarang! Tidak bisa kamu seenaknya mengacak-acak privasiku!" seru David.
"Privasimu adalah privasiku, karena aku istrimu," sahut Susan.
"Bukan begini caranya, kamu pun pasti akan marah kalau kusuruh Hanifah mengacak-acak tas mahal kamu di lemari tanpa izin kamu," kata David.
Susan diam.
Kali ini David benar.
Yah, mungkin Susan agak diluar batas kali ini. Namun mereka bahkan tidak tahu apa yang terjadi sampai Galuh berada di rumah saat David tidak ada di rumahnya.
"Aku juga tidak tahu kenapa anak-anak sampai ada di rumah, tapi Hanifah sempat minta izin saat kamu sholat Ashar tadi. Aku hanya lupa memberitahumu," kata Susan.
David menghela napas.
"Aku ... "David menggigit bibirnya dengan galau. "Aku tidak suka hal ini. Maksudku bukan rencana perjodohannya, tapi secara tidak langsung kamu telah merendahkan aku di depan orang lain. Mungkin maksud kamu baik, ingin membantuku,"
"Aku mengerti, menjaga kehormatan kamu sebagai suami adalah tugasku sebagai istri. Oke, aku akui aku salah kali ini. Aku minta maaf, oke?!" Susan mengangkat tangannya.
David menatap Galuh yang kini menyadari kkehadirannya. Pria itu menatap David dari luar seakan sedang menunggunya.
"Aku akan berbicara dengan Galuh. Jangan kuatir, ini pembicaraan antar pria,"
"Jangan ada keributan," gumam Susan.
"Aku bukan kamu," balas David sambil masuk ke dalam gerbang dan memarkir mobilnya.
-----***-----
Susan membuka kamar Hanifah dengan hati-hati. Vini dan Vici tertidur pulas di atas kasur. Hanifah sedang mengaji di sebelah mereka.
Hanifah menghentikan bacaannya saat menyadari kehadiran Susan. Lalu menghela napas.
"Sudah pulang, Mbak? Mereka menunggu Mbak Susan dari tadi," desis Hanifah.
__ADS_1
"Iya aku tahu, makanya kami nggak jadi menginap di hotel," desis Susan berbohong. Ia hanya ingin tahu reaksi Hanifah. Padahal memang tidak ada niatan menginap karena Susan sedang haid.
Wajah Hanifah langsung tegang.
Susan tersenyum jahil, "Kenapa? Kan wajar kalau kami menginap di hotel. Kami kan suami-istri,"
"Ini bukan jadwal Mbak Susan,"
"Loh, kalau kamu tidak suka ya bilang saja sama David, minta sendiri jatah kamu,"
"Aku ... " Hanifah menelan ludah dan mengurungkan kalimatnya. Lalu ia membuang muka.
"Keberadaan kamu di sini malah bagaikan parasit. Siapa sebenarnya kamu? Istri atau pelakor? Kalau ragu, bukankah seharusnya cari pendamping yang bisa menerima kamu dengan tulus tanpa ada maksud tertentu seperti David?" desis Susan sambil keluar dari kamar Hanifah.
Lagi-lagi,
Lagi-lagi Susan menorehkan luka di sekujur hati Hanifah.
Bertubi-tubi serangan tanpa henti, seakan mereka berdua beradu berada di medan perang. Hanifah mendapat serangan berurutan. Susan selalu memukulnya mundur.
Secara terang-terangan Susan ingin Hanifah melepas David.
Lalu, apa maksud wanita itu ingin agar Hanifah belajar bisnis? Tadinya Hanifah mengira kalau Susan benar-benar mau membantunya agar seimbang dengan David. Tapi kenapa kini malah seakan ada rencana tersembunyi?!
Susam masuk ke kamarnya dengan perasaan kacau balau.
Susan yang sedari kecil memiliki kegigihan dan kebebasan menentukan masa depannya sendiri merasa risih.
Kalau Hanifah dan Alwa tidak juga mandiri, selamanya David akan berat melepaskan mereka.
Kalau rencananya tidak berhasil juga, Susanlah yang akan mundur. Dan ia tidak suka hal itu.
Bukan karena ia mulai menyukai David.
Tapi ini lebih ke arah kekalahan. Susan tidak suka kalah.
Mundur adalah pilihan terakhir di kamusnya.
-----***-----
"Malam, Pak," sapa Galuh.
"Hm," dengan muram David duduk di teras rumahnya. Galuh duduk di kursi yang bersebelahan. Di antara mereka ada meja kopi yang memisahkan.
"Maaf saya mengganggu di rumah Pak David saat bapak tidak ada. Saya dan Mbak Hanifah tidak sengaja bertemu di supermarket sepulang dari mengajak anak-anak liburan. Setelah tahu kalau Mbak Hanifah serumah demgan Bu Susan, anak-anak memaksa bertemu Bu Susan. Jadi kami menunggu beliau pulang,"
"Iya, Susan sudah bilang kalau Hanifah meminta izin," desis David.
__ADS_1
Tapi dia lupa bilang, batin David kesal.
"Lalu, di mana anak-anak?" tanya David.
"Setelah makan mereka mengantuk, lalu Mbak Hanifah mengajak mereka ke kamarnya. Saya- karena sudah malam saya akhirnya ke sini,"
"Terima kasih karena sudah tahu sopan santun dalam bertamu di rumah wanita yang bukan muhrim," terdapat nada sindiran di kalimat David.
"Mohon maaf, kami pikir Bu Susan tidak akan lama pulangnya," kata Galuh.
David mengamati para sekuriti dan beberapa intel yang mengelilingi rumahnya.
Sungguh menyesakkan!
Sampai kapan keadaan seperti ini berlanjut?
"Kamu," David berkata sambil menatap ke depan, "Sejauh apa kamu tahu mengenai Suleyman?"
Terdengar suara Galuh menghela napas.
"Saat berita mengenai pernikahan Pak David dan Bu Susan akan berlangsung, Saya dan Raka mengadakan penyeledikan kecil mengenai latar belakang keluarga kalian," kata Galuh.
"Info yang kalian dapat seperti apa?"
"Kami memiliki rekanan yang mengurusi investigasi dunia hitam. Hanya langkah prevensi untuk melindungi Bu Susan," Galuh bersandar dengan lebih santai ke kursinya, namun ia memastikan kalau perbincangannya dengan David kali ini tidak didengar orang lain.
"Yang kami tahu, Suleyman terbunuh karena mengutak-atik kaum kapitalis," tambah Galuh.
David mengangguk, "Saya tidak akan mengadakan penyelidikan mengenai pembunuhnya, hal itu hanya akan merambat kemana-mana. Saat akhir hidupnya, Suleyman juga melarang saya melakukannya. Kaum itu tidak bisa dilawan oleh perorangan, apalagi saya sedang terjun di dalam dunia mereka, Bisnis kapitalis. Dia hanya-" David seakan tercekat.
"Dia hanya mencemaskan keselamatan Alwa dan Hanifah yang dikhawatirkan tak sengaja akan terbawa-bawa,"
Galuh mengangguk mengerti.
David menghelus dagunya sambil berpikir, "Itu sebabnya saya sampai menikahi mereka berdua, walau berat rasanya. Karena status 'istri David Yudha' akan membuat mereka terlindungi dari serangan yang sama. Saya dan Suleyman berada di kubu yang berseberangan. Suleyman nyaman di kubu khilafah dengan mencoba menerapkan ekonomi Islam sesuai kaidahnya, sedangkan saya berada di kubu ekonomi global dengan segala intrik licik menjatuhkan lawan. Siapa pun pasti akan beranggapan kalau saya ini bagaikan mengambil sandera dari musuh untuk dijadikan selir. Namun tidak ada yang tahu kalau saya begitu menyayangi kakak saya," cerita David.
"Apa rencana Anda selanjutnya, Pak? Apa kami bisa membantu?" tanya Galuh
David menatap Galuh dengan sendu, tatapannya menyelidik namun seakan memohon.
"Saya mencintai Susan. Saya percaya kalian hanya karena Susan percaya kalian," katanya.
Galuh mengangguk perlahan.
"Jadi," David melanjutkan kalimatnya, "Apa yang bisa kamu bantu agar Hanifah bisa mandiri tanpa bergantung dengan saya?"
-----***-----
__ADS_1